
Sah....
Sebuah kata yang begitu penuh makna. Menggambarkan bahwa Melati sekarang sudah sah menjadi istri dari seorang Jek Prayoga.
Pernikahan sederhana hanya di hadiri keluarga besar Prayoga dan Al-biru. Sesuai dengan permintaan Melati. Bahkan wali nikah Melati pun di wakili karena ayah Melati tak menganggap Melati anaknya.
Walau, ada rasa sesak di hati Melati. Tapi, Melati mencoba baik-baik saja. Karena Melati tak mau membuat ibunya sedih.
Intan menitikan air mata melihat putrinya sudah bukan miliknya lagi. Tapi, Intan sedikit merasa tenang karena putrinya berada di lingkup keluarga yang begitu lapang menerima Melati.
"Ibu titipkan putri ibu pada kamu nak, Melati adalah pelita hidup ibu. Ibu mohon jangan pernah sakiti hatinya, mungkin Melati terlihat baik-baik saja tapi yakinlah hatinya begitu rapuh. Ibu percayakan sepenuhnya Melati pada kamu. Sayangi dia sebagaimana kamu menyayangi ibu kamu. Tegor Melati dengan cara halus, jangan pernah sekalipun mengangkat kedua tangan kamu untuk menyakitinya. Bahkan ibupun tak mampuh berbuat seperti itu. Dia adalah lentera keluarga kecil ibu, jagalah baik-baik lentera ibu."
"Terimakasih, ibu sudah mempercayai Jek untuk menjaga lentera ibu. Mungkin Jek tidak bisa berjanji. Tapi, satu yang harus ibu tahu. Bahwa Jek akan menjaga lentera ibu semampuh yang Jek bisa, bahkan Jek akan mempertaruhkan nyawa Jek untuk selalu menjaga, melindungi dan menyayanginya. Tegor Jek, jika suatu saat Jek hilap akan tanggung jawab Jek. Jek hanya mohon, restu ibu supaya Jek bisa membahagiakan Melati!"
Melati tak bisa membendung rasa harunya mendengar setiap untai kata yang Jek ucapkan. Melati tak menyangka, Jek berkata seperti itu.
Sekarang Melati merasa yakin, bahwa keputusannya tidak salah. Jek adalah pilihan Melati untuk menjadikan Jek nahkoda menyebrangi luasnya samudra pernikahan.
"Nak, jadilah istri yang baik bagi Jek. Jangan sekali-kali kamu menentang keputusannya jika itu untuk kebaikan kamu. Bantulah dia meringankan beban tanggung jawab besar sebagai suami. Sebuah pernikahan tidaklah mudah. Jadilah pasangan yang selalu mengerti dan mengalah. Jika kamu ingin di cintai begitu besar, maka cintailah sepenuhnya suami kamu. Berbakti dan taatilah dia, karena itu kunci terbukanya surga untuk kamu,"
Melati memeluk sang ibu dengan erat, menumpahkan segala rasa yang tak bisa Melati jabarkan. Kini Melati sudah menjadi seorang istri pasti ada banyak batasan antara dirinya dan sang ibu. Melati pasti merindukan saat-saat berkeluh kesah bersama-sama, bahagia bersama dan sedih bersama karena Melati yang paling tahu akan isi hati sang ibu.
"Mama titip anak nakal mama sama kamu, mama percaya kamu bisa mengubah Jek menjadi lebih baik lagi. Bantu Jek untuk menjadi suami yang tanggung jawab. Jika dia menyakiti kamu, bilang sama mama. Kamu sudah menjadi anak mama. Maka mama tak akan pernah membiarkan putri cantik mama tersakiti. Berbahagilah nak,"
"Terimakasih atas kepercayaan mama sama Melati. Melati akan berusaha semampuh Melati menjaga putra mama."
"Kamu sekarang sudah menjadi putri kami. Papa harap kamu selalu bersabar jika suatu hari nanti Jek melakukan sesuatu yang kamu tak sukai. Bingbing Jek ke jalan yang benar. Papa percaya sama kamu!"
"Melati akan berusaha semampuh Melati pah, Melati mohon restu papa,"
Ada sebuah denyutan kasat mata yang berusaha Melati tahan. Pelukan Angga mampuh meruntuhkan perasaan yang sudah lama terpendam. Melati menangis dalam dekapan Angga. Pelukan seorang ayah pada putrinya. Apakah senyaman dan sehangat ini! sungguh Melati baru merasakan cinta tulus seorang ayah pada putrinya. Intan, faham apa yang sedang putrinya rasakan. Intan hanya bisa menggigit bibirnya menahan supaya tak ikut menangis.
Rizal, adik Melati hanya bisa memeluk sang ibu ketika merasa sang ibu tubuhnya bergetar.
__ADS_1
"Masih ada Izal yang akan selalu menjadi pelindung ibu dan kakak!"
Intan tersenyum kecil mendengar ucapan anak bungsunya.
"Nak, jagalah Melati semampuh yang kamu bisa. Mama hanya berpesan, jangan fatahkan hatinya. Jika saja suatu saat nanti mama mendengar kamu menyakiti hati Melati maka orang pertama yang hancur adalah mama. Jagalah putri mama!"
"Jek mohon restu mama, Jek berjanji akan menjadi putra yang mama banggakan. Jek akan menjaga putri mama sekuat yang Jek bisa."
"Jadilah laki-laki yang kuat, bukan kuat akan pisik tapi kuat untuk tak menyakiti hati istri kamu. Jangan jadi papa yang dulu sempat hilap, jadilah Jek Prayoga yang bertanggung jawab!"
"Iya pah, doakan semoga Jek bisa seperti itu."
Acara sungkemanpun sudah selesai di laksanankan. Semua orang begitu terharu melihat acara berlansung.
Begitupun yang dirasakan Queen, bahkan Queen sempat menitikan air mata melihat semuanya.
"Sayang, kita yang rencana mau menikah, kenapa kedahuluan sama kakak ifar?"
"Masih lama!"
"Cuma satu bulan!"
Farhan memberenggut sambil memeluk pinggang ramping calon istrinya. Queen hanya tersenyum tipis melihat kelakuan manja Farhan. Queen tak bisa membayangkan jika dirinya benar-benar akan menjadi nona muda Biru. Semanja apa Farhan nanti pada dirinya, membayangkannya saja sudah membuat Queen gemes.
Sesudah semua acara selesai. Semua keluarga pamit pulang.
Di dalam rumah sederhana Intan, tinggal Jek, Melati dan Rizal adik Melati.
"Nak Jek, apa rencana selanjutnya?"
Intan bertanya, memecah keheningan karena kecanggungan antara menantu dan putrinya.
"Kalau ibu mengizinkan, Jek akan langsung bawa Melati ikut Jek. Bukan kerumah keluarga Prayoga, karena itu bagian dari syarat dari Melati Jek harus melepas kemewahan yang papa mama beri. Jek akan membawa Melati pada kehidupan Jek sendiri!"
__ADS_1
"Ibu tak akan melarang nak, karena itu hak kamu. Melati sudah sepenuhnya jadi tanggung jawab kamu,"
Ingin sekali Melati perotes akan ajakan Jek, Melati ingin tinggal dulu bersama sang ibu dan adiknya. Tapi, tatapan sang ibu membuat Melati diam sambil menunduk.
"Kakak jangan kewatir, masih ada Izal yang akan jaga ibu!"
Rizal seakan tahu apa yang sedang sang kakak pikirkan. Untuk itu Rizal ikut bersua.
Bukan Jek tak tahu apa yang sedang istrinya rasakan. Tapi, Lebih cepat lebih baik. Apalagi Jek juga harus menyesuaikan statusnya sekarang siapa.
"Rizal, sekarang sekolah kelas berapa?"
"Kelas XI!"
Jek terdiam sejenak, lalu meraih tangan Melati yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
"Jangan kewatir, kamu sudah menjadi istriku maka tanggung jawab kamu juga menjadi tanggung jawab aku. Aku akan mengambil alih, membiyayai sekolah Rizal sampai lulus kuliah dan sampai dia bisa bekerja sendiri. Begitupun dengan ibu!"
Entah, harus beruntung atau apa! terlalu banyak kejutan yang Jek berikan pada dirinya. Melati tak menyangka dirinya seakan di cinta begitu besar oleh Jek.
Padahal, Jek semuanya tanpa sadar belajar dari Queen, adiknya sendiri. Selama ini Jek tahu Queen kurang kasih sayang dari sang papa begitupun Melati. Maka Jek akan memberikan apapun demi melindungi dan menyayangi Melati. Bahkan Jek akan mengganti seluruh rindu Melati untuk sosok ayah. Hingga rindu itu terkikis oleh hadirinya Jek di hidup Melati.
"Jangan menangis, belum genap satu hari aku di bilang KDRT,"
Melati terkekeh mendengar candaan Jek, sambil menghapus air matanya. Melati tak menyangka, dalam keadaan seperti ini Jek masih bercanda.
"Aku mencintaimu, entah kapan rasa ini datang. Aku berjanji, akan mengabdikan seluruh hidupku untuk kamu. Dan, aku akan menjadikan kamu laki-laki seperti yang mama papa kamu inginkan."
Bersambung...
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote..
Terimakasih...
__ADS_1