
"Apa! menikah!"
Pekikan keras menggema ke seluruh ruangan, bahkan Dinda nyaris berdiri jika Fandi tidak cepat menahannya. Bahkan kedua mata Dinda membola sempurna menatap putri tercintanya.
Queen yang melihat reaksi sang mama hanya mendelik sambil menutup kedua telinganya akibat pekikan sang mama yang membuat gendang telinganya sakit.
Farhan hanya diam takut Dinda tak menyetujuinya. Sedang Fandi dan Adelia bersikap biasa saja. Bahkan Adelia di sini yang begitu semangat mendukung keputusan Queen.
Sedang Angga yang di beritahu Queen supaya datang kerumah bersama Murni terjebak macet. Baru saja Angga dan Murni keluar dari mobil langsung berhenti ketika mendengar pekikan keras dari dalam. Bahkan Murni sampai terkejut, Entah apa yang terjadi membuat Angga dan Murni langsung berjalan cepat masuk kedalam bergabung dengan yang lain.
"Ini ada apa, kenapa kalian terlihat tegang?"
Tanya Angga terlihat bingung melihat semua orang berkumpul dengan wajah-wajah serius.
"Queen dan Biru mau nikah!"
"Hah!"
Kini giliran Angga yang terkejut begitupun Murni. Queen yang melihat reaksi kedua orang tuanya lagi-lagi menutup telinganya karena merasa sakit.
Huh...
Queen membuang nafas kasar, apa salahnya meminta izin mau nikah. Kenapa seaksi kedua orang tuanya begitu menyebalkan.
"Sudah-sudah jangan tegang,"
Ucap Adelia mencoba mencairkan suasana sebelum Adelia menjelaskan semuanya.
Adelia menarik nafas pelan sambil melirik pada Farhan dan Queen yang dari tadi terus saling menggenggam tangan.
"Farhan akan pergi ke Jerman selama satu tahun untuk belajar di sana sebelum memegang alih perusahaan keluarga Al-biru. Farhan dan Queen tidak mau berjauhan dalam keadaan hubungan mereka yang masih abu-abu. Jadi mereka memutuskan untuk menikah, supaya hubungan mereka jelas dan terikat. Queen maupun Farhan akan merasa lega menjalani harinya jika hubungan mereka benar-benar terikat. Pernikahan mereka hanya ingin memperjelas hubungan mereka. Queen akan tetap melanjutkan studynya di sini dan Farhan akan berangkat ke Jerman. Kalau Queen sudah lulus studynya maka Queen akan menyusul langsung Farhan ke Jerman!"
"Kenapa tak bertunangan saja!"
Protes Dinda dan Angga berbarengan membuat Queen Berkali-kali menghela nafas.
"Biru sudah mengusulkan itu tante, tapi Queen tak mau bertunangan dan meminta menikah!"
Jelas Farhan membuat Dinda menatap tak percaya sang putri begitupun Angga. Ada apa dengan Queen kenapa berubah pikiran. Katanya tak akan menikah sebelum dirinya hamil, pikir Dinda bingung.
__ADS_1
"Apa alasannya sayang, kenapa tak tunangan dulu saja. Nanti kalau kamu sudah lulus dan Biru kembali kalian boleh langsung menikah, inikan tanggung kalian juga pasti tetap LDR!"
"Pokonya Queen mau menikah! bagaimana kalau Biru di sana punya pacar, selingkuh. Queen tak bisa memarahinya dan melarangnya karena Queen bukan siapa-siapa Biru. Tapi kalau Queen istrinya, maka Queen berhak marah!"
Dinda dan Angga hanya melongo mendengar jawaban Queen. Suasana nampak hening, terlihat jelas Queen tak mau kehilangan Farhan.
Seulas senyum terukir di bibir Dinda, Dinda seakan baru faham apa yang terjadi pada putrinya. Rasa cemburu dan takut kehilangan selalu menjadi yang terdepan membuat Queen takut akan rasa sakit yang dulu terlulang lagi. Kenapa Dinda tak faham akan hal itu.
"Sini, Nak."
Pinta Dinda menyuruh Queen duduk di sampingnya membuat Fandi bergeser hingga Queen dengan ragu duduk di antara Fandi dan Dinda.
"Maafkan mama yang tak mengerti perasaan Queen. Sekarang mama setuju dan mama akan mendukung apapun keputusan Queen."
"Beneran, Mah!"
"Iya,"
"Tidak, ayah tidak setuju,"
Senyum indah di bibir Queen seketika menghilang mendengar ucapan tegas sang ayah. Entah kenapa Queen merasa sakit akan penolakan sang ayah.
"Queen masih kecil dan masih kuliah. Selesaikan dulu kuliahnya ayah tak mau nilai Queen jelek apa lagi Queen dulu banyak kasus. Dan, Queen harus menggantikan ayah di perusahaan. Baru kalian boleh menikah!"
Queen mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan sang ayah. Queen tak menyangka Angga akan menentang keinginannya. Tapi, Queen jauh lebih sakit ketika sang ayah mengungkit masa lalunya dan tentang nilai. Tidak tahukah Angga, kalau Queen selalu menjadi kebanggaan dosen-dosen di kampusnya bahkan kecerdasan Queen terkadang mengalahkan dosennya. Dan, tak sadarkah Angga, Queen mempunyai kasus karena salah dirinya dan sekarang masalah itu di ungkit dan di pertanyakan.
Dinda yang mendengar ucapan mantan suaminya menatap tajam Angga, Dinda tak menyangka Angga bicara seperti itu. Ucapan itu pasti menggores kembali hati Queen.
"Baiklah, tak akan ada pernikahan!"
Ucap Queen dingin membuat membuat semua orang terkejut akan ucapan Queen. Tapi tidak dengan Angga, Angga tersenyum karena sang putri menuruti keinginannya.
Queen berdiri sambil menatap Angga dingin, Queen benar-benar kecewa pada sang ayah yang sama sekali tak mengerti dirinya.
"Satu lagi, jangan pernah mengharapkan Queen menjadi pewaris Prayoga, jadikan saja Jek, putra kebanggaan ayah menjadi pewarisnya. Karena tak pantas seorang yang mempunyai catatan merah menjadi pewaris Prayoga!"
Deg...
Kini Angga yang di buat terkejut, bahkan rasanya Angga sulit bernafas mendengar ucapan tegas Queen. Murni hanya bisa membuang nafas kasar, lagi-lagi sang suami melakukan kesalahan.
__ADS_1
Angga tak sadar jika ucapannya melukai hati putrinya sendiri.
"Lagi-lagi kamu menyakitinya, Mas."
"Aku hanya ingin yang terbaik buat Queen, toh kalau Queen sudah sukses Farhan bisa langsung menikahi Queen. Queen masih kecil dan masih panjang perjalannanya, aku tak mau masa remaja Queen hilang!"
"Jangan samakan aku dengan putriku, aku benar-benar kecewa padamu!"
Geram Dinda langsung beranjak dari duduknya menyusul Queen yang tadi langsung pergi. Dinda tak menyangka Angga akan berkata sekejam itu pada putrinya sendiri. Dan, lagi-lagi tanpa sadar Angga menyamakan Dinda dan Queen.
Apa salahnya!
Angga tidak mau masa remaja Queen hilang sama seperti yang Dinda rasakan dulu. Angga tahu bagaimana Dinda tersiksa dan masa remajanya terenggut, Angga tak mau itu sampai terjadi. Tapi, satu yang Angga tak tahu, kalau keputusan itu Queen yang menginginkannya sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun.
Farhan hanya diam menatap Angga dengan penuh ketidak percayaan. Bahkan tatapan Farhan sulit di artikan. Berbeda dengan Adelia yang sudah geram dengan kelakuan Angga, seakan apa yang dia ucapkan sebuah kebaikan.
Sedangkan Fandi hanya bisa menggeleng tak habis pikir dengan apa yang Angga ucapkan. Ucapan Angga justru akan semakin membuat Queen menjauh darinya.
Tanpa kata Fandi beranjak pergi dari ruang tamu menyusul sang istri membuat Angga bingung sendiri, apa yang salah dengan ucapannya.
"Kenapa mereka malah pergi, emang salah ucapanku. Aku hanya ingin yang terbaik untuk putriku!"
"Terbaik untuk Queen atau untuk Om sendiri!"
Sinis Farhan langsung mengajak sang mama pulang. Bukan Farhan tak mau menyusul Queen untuk sekedar menenangkan, Farhan tahu Queen butuh sendiri dan Farhan yakin yang Queen butuhkan saat ini bukan dirinya tapi Dinda dan Fandi untuk mengerti hatinya.
"Kenapa semuanya malah pergi!"
Kesal Angga tak terima semua orang malah pergi. Angga ayahnya Queen, jadi Angga berhak menentukan pilihan.
"Jangan harap kalau Queen ingin bertemu dengan, Mas kedepannya!"
Ucap Murni menahan kesal atas kebodohan suaminya.
"Kenapa begitu sayang!"
"Pikir saja sendiri!"
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote....