
Malam pun sudah tiba, seorang gadis dari tadi bingung harus memilih baju yang mana. Untuk acara makan malam, biasanya gadis itu tak peduli dengan penampilannya sendiri. Entah kenapa sekarang dia memerhatikan penampilannya, mungkin karena ini adalah makan malam khusus karna mamahnya mau memperkenalkan Queen dengan rekan bisnis sang mamah. Mungkin Queen tak mau membuat mamahnya malu dengan penampilannya.
Sudah puluhan dres Queen coba tapi tak ada satupun yang menurutnya cocok. Tingkah Queen tak luput dari perhatian sang mamah. Dinda hanya tersenyum melihat tingkah anaknya yang mengacak-acak lemari dan hampir seluruh bajunya di keluarkan.
“Mau mamah bantuin?”
Tawar Dinda mengagetkan Queen, membuat Queen malu tiba-tiba mamahnya datang. Dinda berjalan mendekati lemari Queen dan mencari dres yang membuat Dinda cocok untuk anaknya.
“Ini!”
Ucap Dinda memberikan dres berwarna hitam, dengan sedikit ragu Queen mengambil dres yang dipilihkan mamahnya. Queen langsung pergi keruang ganti tak butuh waktu lama Queen keluar. Dinda tersenyum ternyata pilihannya gak salah dres hitam di padukan dengan kulit putih Queen membuat mahakaryanya jadi kontras apalagi Dinda membiarkan rambut Queen di gerai dan tak lupa sedikit polesan makeup membuat Queen benar-benar bak bidadari.
“Sudah,”
Ucap Dinda sambil tersenyum melihat pantulan anaknya yang Dinda rubah menjadi gadis feminim.
“Mah, aku sedikit gak nyaman?”
Rengek Queen benar-benar tak nyaman memakai baju seperti ini dimana kaki jenjangnya terekspos.
“Gak pa-pa, ntar juga kamu terbiasa,” timpal Dinda santai
“Yuk kita berangkat takut telat,”
Sergah Dinda lagi Queen hanya pasrah menuruti apa kata mamahnya.
Mereka pun keluar menuju mobil yang sudah siap dari tadi. Entah kenapa Queen merasa gugup. Entah rekan bisnis mamahnya yang mana yang akan di perkenalkan pada Queen. Queen tidak terlalu tahu rekan-rekan bisnis sang mamah. Yang Queen tahu cuma Fandi sekertaris mamahnya. Queen bingung kenapa Fandi yang menjemputnya bukan di anterin sama pak Tono.
Dari pada pusing Queen mengikuti saja arahan mamahnya.
“Silahkan nona,”
Ucap Fandi membukakan pintu untuk Dinda, Dinda hanya tersenyum.
“Terimakasih, Fan. ”
Fandi hanya mengangguk, Queen masuk setelah mamahnya. Mobil pun berjalan membelah jalan yang ramai, Queen hanya memandang keluar jendela melihat suasana malam tak lama mobil yang Queen tumpangi terparkir indah di loby hotel berbintang lima.
Mereka pun turun dari mobil dan berjalan di sambut penjaga. Dinda, Queen dan Fandi masuk ke dalam lif, Fandi menekan tombol lantai lima belas dimana letak mereka akan makan malam.
Ting...
Pintu lif pun terbuka Dinda, Queen dan Fandi keluar lif dan berjalan kearah meja yang sudah di pesan.
“Emmz ..., Mah. Aku ke toilet sebentar?”
Ucap Queen meletakan tasnya di atas meja Dinda hanya mengangguk.
Queen berjalan kelorong arah toilet tak membutuhkan lama Queen keluar dan berjalan kearah tempat yang tadi bersama mamahnya. Langkah kaki Queen berhenti ketika melihat ayahnya yang sedang berbincang entah dengan siapa.
Enam bulan Queen tak melihat ayahnya dan sekarang sosok ayah yang selalu Queen tunggu kedatangannya ada tepat di depan matanya.
Deg...
Mata mereka saling bertemu, saling mengunci satu sama lain. Memancarkan tatapan rasa rindu, marah, benci, kehilangan bercampur menjadi satu jelas terpancar di mata Queen.
Rasanya Queen ingin memanggil Angga, tetapi Queen urungkan ketika melihat orang yang Queen kenal menghampiri Angga.
“Ayah!”
Ucap Jek mendekati sang ayah yang hanya diam mematung.
“Mas?”
Panggil Murni karena melihat suaminya tak bergeming saat di panggil oleh anaknya. Murni dan Jek melirik arah mata mana Angga menatap.
__ADS_1
Deg …..
Dada Queen begitu sesak melihat keluarga itu, harusnya yang ada di samping Angga adalah dirinya dan Dinda .
“Nak?”
Panggil Angga sambil mendekat tapi Queen perlahan mundur dengan cairan bening yang sudah lolos dari tadi.
“Nak?”
Panggil Angga lagi dengan gemetar, Angga tidak menyangka dirinya akan bertemu dengan sang putri.
“Stoppp ..., jangan mendekat!”
Bentak Queen menatap sakit sang ayah. Tapi Angga tak menghiraukan ucapan anaknya itu.
Bruk…
Angga menarik lengan Queen masuk kedalam pelukannya.
”Maaf,”
Hanya kata itu yang Angga ucapkan sambil memeluk sang putri erat. Membuat Queen terus memberonta di dalam dekapan Angga.
“Lepas ...,”
“Lepas!!! Aku benci ayah!”
“Aku benci Ayah!!!!”
“Lepas!!!”
Bentak Queen terus memberonta dan pada akhirnya Angga melerai pelukannya ketika mendengar ucapan kebencian anaknya.
Teriak Queen histeris mengundang pandangan semua orang yang ada di ruang itu.
Jek yang mendengar pertengkaran sang ayah dan Queen, wanita yang Jek benci. Seketika Jek mematung dengan apa yang dia dengar.Jek mengepalkan tangan ingin menghampiri ayahnya tapi langkahnya berhenti karena pergelangan tangannya di cekal oleh Murni .
“Lepas mah,”
Bukannya melepas tapi Murni malah mempererat cekalannya, mengisaratkan tetap diam. Jek melihat tatapan mamahnya yang memohon membuat pertahanan Jek luluh.
Sedangkan Dinda dan Fandi yang mendengar teriakan Queen langsung berlari kearah suara. Dada Dinda terasa sesak melihat anaknya memberonta ingin di lepaskan dari dekapan mantan suaminya tapi yang begitu menyakitkan melihat sorot mata anaknya yang memancarkan kebencian dan rindu bercampur jadi satu.
Melihat Queen pergi Dinda langsung mengejarnya.
“Nak tunggu!!!!”
Terik Queen tapi Queen tak mendengarkan teriakan Dinda. Queen terus berlari kearah lif Dinda tak bisa mengejar Queen karena lif sudah menutup kembali.
”Kenapa rencananya jadi hancur,”
Gumam Dinda yang prustasi.
Queen yang suda di loby hotel terus berlari keluar tepat di saat dosen Farhan keluar dari mobilnya. Dosen Farhan yang melihat Queen berlari dengan isakan begitu cemas tanpa pikir panjang langsung mengejarnya .
Quuen tidak peduli lagi dengan sakit kedua kakinya karena dari tadi berlari tapi jauh lebih sakit adalah hatinya hingga Queen tak sadar kalau Queen berlari kearah jalan yang sepi.
”Ah … ah ….,”
Teriak Quuen seolah ingin melepas para sesak di hatinya. Tapi teriakam Queen malah mengundang para preman yang sedang mabuk. Seperti ada angina segar para preman tersenyum dan menghampiri Queen.
“hay, gild mau di temani?”
Ucap salah satu preman menatap lapar, Queen yang mendengar suara seseorang langsung berbalik .
__ADS_1
"Mau apa kalian!!!”
Bentak Queen, bukannya Queen takut hanya saja suasana hatinya tak baik-baik saja .
“Ayolah jangan galak cantik, ”
Ucap pereman berbadan kurus sambil berusaha memegang tangan Queen tapi dengar kasar Queen menepisnya.
“Wow .., ternyata galak juga,”
Sikap Queen membuat para preman semakin bersemangat.
Buk...
Queen menendang salah satu preman yang terus berusaha meraih wajahnya. Melihat temannya tersungkur salah satu preman mengisyaratkan pada kedua temannya.
“Lepas ...,”
Terik Queen karena kedua preman itu mencengkal kedua tangannya. Preman yang berbadan gemuk langsung maju tersenyum penuh arti.
"Jangan mendekat ..,"
Bentak Queen sambil memberonta ingin melepaskan diri dan meludahi preman gemuk yang ada di hadapannya yang berusaha memegang dagunya. Queen sulit bergerak memakai baju sialan yang dia pakai sampai Queen mengutuknya.
Plak...
Kelakuaan Queen membuat preman gemuk marah dan melayangkan tamparan. Seketika membuat Queen memejamkan matanya, belum sempat tangan preman gemuk sampai di pipi Queen sebuah tangan menahannya kuat. Queen yang merasa tidak merasakan apa-apa langsung membuka matanya.
Bruk...
Farhan menendang preman gemuk itu hingga membuat preman itu tersungkur dan meringis kesakitan.
“Jika kalian tidak mau bernasib sama maka pergilah?”
Ucap Dingin Farhan kepada dua preman yang akan menghadangnya. Mendengar ucapan dingin Farhan membuat para preman langsung kabur. Farhan langsung berbalik melihat Queen yang diam mematung.
Spontan Farhan mendekat dan menarik tubuh Queen kedalam pelukannya.
Sedangkan di kediaman Prayoga Jek begitu marah menuntut penjelasan ke pada sang ayah.
Sekarang mereka ada di ruang keluarga karena Murni memutuskan untuk pulang menyelesaikan masalah keluarganya di rumah.
“Maaf kan ayah, Jek!”
Ucap Angga lilir diam atas kemarahan anaknya.
“Apa mamah tahu tentang ini?”
Tanya Jek menatap Murni, sang mamah hanya mengangguk. Anggukan itu benar-benar membuat Jek melemah, kalau mamahnya tak tahu kebusukan ayahnya mungkin Jek akan langsung mencekik Angga dengan tangan nya sendiri persetan dengan semuanya. Tetapi kedua orang tuanya benar-benar terlibat membuat Jek menatap tajam kedua orang tuanya tangannya sudah mengepal.
“Jek kecewa,”
"Jek benci Ayahhhh!!! "
Bentak Jek penuh luka langsung pergi, ketika Angga mau mengejar Murni mencengkal tangan Angga.
”Jangan mas, biarkan Jek menenangkan diri,”
Angga hanya bisa pasrah kalau saja Angga menuruti saran Murni mungkin kejadiaan ini tak akan terjadi.
"Maafkan ayah, Jek Queen? "
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote ya say...
__ADS_1