
Rumah Farhan....
Adelia menatap bingung sang putra yang wajahnya sangat kusut. Adelia perhatikan semenjak Farhan pulang dari Puncak sikapnya sedikit berbeda. Lebih diam dan tak pokus dengan keadaan sekitar kadang juga tak nyambung jika di ajak bicara.
"Biru..,"
Panggil Adelia membuat Farhan langsung menghentikan langkah kakinya. Dugaan Adelia semakin menjadi ketika melihat Farhan membuang nafas perustasi. Karena Adelia yakin sang putra mempunyai masalah. Karena tak biasanya Farhan pulang dari kampus nyelonong begitu saja tanpa menyapanya.
Adelia menyuruh Farhan duduk di shopa, Farhan menurut saja apalagi hari ini memang begitu melelahkan.
"Apa kamu ada masalah, Nak? mama perhatikan sepulang dari Puncak kamu banyak diam?"
"Cerita sama mama apa yang membuat pokus kamu hilang?"
Farhan terdiam, haruskah Farhan bercerita pada sang mama untuk sekedar mengurangi beban pikirannya.
"Ko, malah diam!"
"Mah,"
Lilir Farhan, rasanya Farhan seakan berat menceritakannya. Tapi, Farhan juga butuh solusi untuk mengambil tindakan.
"Bolehkah Farhan egois!"
Adelia menyerngit heran mendengar ucapan sang putra yang nampak frustrasi mengatakannya.
"Katakan yang jelas, jangan buat mama takut!"
"Mah, hasil kemaren rapat, penasehat mengatakan. Sebelum Biru menduduki kursi CEO, Biru harus berhenti jadi dosen karena Biru harus menyemat pendidikan dulu di Jerman sesuai aturan turun temurun keluarga kita,"
Adelia menghembuskan nafas pelan karena lupa akan fakta itu. Adelia faham, pasti berat bagi putranya meninggalkan dunia yang sendari kecil sudah menjadi cita-cita nya. Aturan turun temurun dari keluarganya sampai sekarang tak bisa di ubah karena sudah dari sananya. Apalagi perusahaan keluarga Al-biru bukan perusahaan kecil, melainkan perusahaan besar menduduki kerajaan bisnis Asia. Karena itulah siapapun yang menduduki kursi itu harus meninggalkan propesi sebelumnya karena tuntutan harus pokus.
"Maafkan mama, mama lupa akan hal itu. Mama tidak akan memaksa kamu untuk meninggalkan jabatan kamu di kampus untuk pokus pada perusahaan. Tapi, jika bukan kamu siapa lagi, mama tak mungkin menyerahkan perusahaan yang sudah di bangun dari eyang kamu harus mama serahkan pada orang lain. Tapi, jika Biru berat mama tidak akan memaksa..,"
Sungguh Farhan harus di hadapkan dalam situasi yang begitu sulit dia tinggalkan. Bahkan perusahaannya saja yang Farhan dirikan di atas kakinya sendiri Farhan serahkan pada Fandi. Karena Farhan lebih suka dunia kampus, selain itu ada satu lagi yang membuat Farhan berat melangkah dan ini paling berat untuk Farhan putuskan.
"Jangan berpikir mama akan kembali ke kantor!"
"Terus apa yang harus bisa mama lakukan supaya tak membuat kamu seperti ini?"
"Bisa saja Biru pergi ke Jerman untuk menyemat pendidikan di sana. Toh, kampus juga Biru yang punya. Tapi, ada satu lagi yang tak bisa Biru putuskan...,"
__ADS_1
Lilir Farhan sangat berat mengatakannya membuat Adelia nampak semakin bingung harus berbuat apa. Entah apa yang membuat sang putra masih berat untk pergi.
"Apa ada hal lain yang begitu membuat putra mama seprustasi ini?"
"Biru tak Bisa jauh dari Rora, Mah.., "
Deg...
Queen diam mematung tak sengaja mendengar pembicaraan antara Farhan dan Adelia. Saking terkejutnya Queen mengeratkan genggaman pada kantung yang dia bawa.
Kenapa jadi seperti ini!
Yang awalnya Queen ingin mengantarkan pudding kesukaan Farhan dengan senyum mengembang di bibirnya. Apalagi memang Queen sangat kangen pada Farhan. Tiga hari tak bertemu karena kesibukan Farhan dan hanya bisa kumunikasi lewat ponsel. Tapi, siapa sangka Queen harus mendengar semua pembicaraan Farhan dan Adelia.
Jadi ini alasan kenapa Farhan ingin segera mengikatnya karena dia akan pergi. Tidak, Queen tak akan pernah membiarkan Farhan pergi jauh darinya. Sudah cukup sepuluh tahun mereka berpisah Queen tak mau di tinggalkan lagi.
Bolehkah Queen egois untuk menahan Farhan tetap tinggal.
"Mama faham apa yang kamu rasakan, Nak. Karena mama pernah di posisi itu. Apalagi kalian sempat berpisah cukup lama dalam situasi yang menyakitkan."
"Biru tak bisa meninggalkannya, Mah. Dan, Biru juga tak bisa memaksa Rora ikut, apalagi dia juga tahun depan lulus."
Memikirkan itu semua membuat Adelia jadi ikutan pusing. Adelia tak tega melihat wajah prustasi sang putra tapi Adelia juga tak bisa membantu apalagi di perusahaan banyak kekacaun yang di tinggalakn oleh Sam.
"Bagaimana kalau kamu sama Rora menikah dulu untuk memperkuat ikatan kalian. Nanti Queen menyusul kamu ke sana?"
"Itu sama saja mah, Biru harus jauh sama Rora!"
Lilir Farhan bingung, sebenarnya memang Farhan niatnya begitu satu pemikiran dengan sang mama. Tapi, Farhan tak bisa memaksa karena Queen sudah memberikan alasannya.
"Nunggu mama hamil bisakan?"
"Bagaimana kalau mama tidak hamil! "
"Tunggu tahun depan aku wisuda, bahkan di hari wisudapun kita nikah aku setuju!"
Farhan hanya bisa membuang nafas kasar ketika mengingat percakapan dirinya dengan Queen waktu di puncak. Farhan tak bisa memaksa karena Farhan tahu bagaimana sipat Queen yang tak suka di paksa dan di kekang. Queen akan turut jika tak ada tuntutan, bahkan Queen akan melakukan hal lebih jika itu harus di butuhkan.
"Em, kamu istirahat dulu saja. Jangan terlalu di pikirkan mama akan coba berbicara dengan Lukman."
Cup...
__ADS_1
Sesudah mengatakan itu dan memberi kecupan di kening Farhan Adelia langsung masuk ke dalam kamar untuk membicarakan hal serius ini dengan Lukman, asisten sang suami dulu. Karena Lukman yang paling tahu dan dekat dengan penasehat perusahaan dan jajaran direksi.
Dengan langkah gontai Farhan beranjak dari duduknya menuju lantai atas di mana kamarnya berada.
Drettt..
Suara panggilan membuyarkan kesadaran Farhan. Farhan tersenyum tipis ketika melihat siapa yang menelepon. Sebelum mengangkat telepon Farhan menarik nafas dulu lalu membuangnya perlahan mencoba menenangkan pikirannya.
"Kenapa lama sekali menjawabnya! sedang apa? apa sudah pulang dari kampusnya. Awas kalau bertemu perempuan lain!"
Farhan terkekeh mendengar celotehan Queen yang nampak posesif langsung mencercahnya dengan berbagai pertanyaan dan tuduhan. Setidaknya Farhan bisa mengalihkan pikiran kacaunya dengan tingkah Queen.
"Hey, kenapa ketawa. Awas saja ya kalau ketahuan aku potong satu kakimu! agar kamu tak bisa kemana-mana!"
Farhan terdiam mendengar akhir kalimat Queen seakan itu sebuah peringatan kalau Queen tak mau di tinggal pergi.
"Habis kamu lucu sayang, masa aku berpaling dari kamu. Bahkan satu detikpun aku tak bisa melirik perempuan lain karena pikiranku sudah Rora penuhi,"
"Bohong! "
"Mana ada aku bohong, Rora sedang apa di sana?"
"Lagi berdiri, kamu mandi dulu gih nanti malam telepon balik ya? "
"Siap tuan putri, I Love You!"
Tut....
"I Love You Too,"
Gumam Queen menatap nanar ponsel dimana teleponnya sudah mati. Bahkan Farhan tak mendengar jawaban ucapan dirinya sendiri karena memang itu sudah menjadi kebiasaan Queen membalas jawaban tidak langsung keorangnya.
"Kamu begitu pandai menyembunyikan masalahmu, bahkan dari suara kamu tak seperti suara kesedihan yang aku dengar langsung."
"Apa kamu akan berkata jujur padaku, bolehkah aku egois ingan kamu tinggal!"
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote....
__ADS_1