
Sudah tiga hari Queen di rawat di rumah sakit. Hari ini Queen di perbolehkan pulang.
Queen sangat bahagia sekali karena bisa pulang. Rasanya Queen mati rasa berada di rumah sakit.
Walau Queen hamil tapi anehnya Queen tidak merasa mual atau semacamnya seperti ibu hamil pada umumnya. Namun, Queen cendrung sensitif dengan hal apapun. Pengen nya di manja dan di manja.
Bahkan Queen juga merasa aneh dengan dirinya sendiri kenapa dia tidak seperti sang mama waktu hamil baby Alam. Suka mual, muntah, sakit kepala dan seterusnya.
Walaupun begitu tapi Queen menikmatinya. Apalagi mama Adelia selalu melarang Queen ini itu. Walau hati sedang lara tapi tak membuat mama Adelia patah untuk tak memerhatikan menantunya. Justru kehamilan Queen sedikit bisa mengalihkan rasa sedih di hari mama Adelia. Apalagi Queen bawaannya terus menempel dengan mama Adelia. Bahkan Queen tak mau di dekati Farhan, banyak alasan yang selalu Queen keluarkan.
Belum mandilah, bau lah, harus mandi pakai tujuh bunga. Queen memang aneh-aneh saja. Bahkan membuat Farhan kesal sendiri karena tak bisa manja-manja dengan sang istri. Jika begini terus rasanya kepala Farhan mau pecah saja. Bahkan tidurpun Queen ingin sama mama Adelia bukan sama dirinya.
"Sayang, malam ini tidur sama bee ya!"
Farhan memelas pada sang istri, bagaimana tidak. Sudah tiga malam dirinya tak tidur dalam pelukan sang istri.
"No, Rora mau sama mama. Bee tidur sendiri saja!"
"Ayolah sayang, masa suami di suruh tidur sendiri lagi!"
"Bee takut. Masa laki-laki takut. Cemen.."
"Sayang.."
"Sudah-sudah jangan berdebat."
Lerai mama Adelia, menghentikan perdebatan menantu dan putranya.
"Biarkan Rora tidur sama mama lagi, kamu harus mengalah. Ibu hamil memang begitu, kamu harus banyak sabar."
"Mau sampai kapan mah.."
"Ya, kalau Rora sudah moodnya berubah, ayo sayang kita tidur. Calon cucu mama jangan bergadang!"
Huh...
Farhan membuang nafas kasar melihat kepergian mama dan istrinya. Lagi-lagi Farhan harus tidur sendiri.
"Nasib-nasib!"
Gerutu Farhan kesal, ngidam sang istri sangat aneh sekali. Masa suami sendiri di bilang bau, padahal sangat wangi, bahkan keringat Farhan gak bau, walau banyak keringat.
__ADS_1
Queen tidur dengan nyaman di pelukan Mama Adelia. Nampaknya Queen benar-benar sudah terlelap ke alam mimpi.
Jujur saja, kehadiran Queen membuat mama Adelia terasa terobati. Apalagi Queen tidur dengannya. Walau Mama Adelia sedikit kasihan pada putranya karena tak tidur dengan Queen.
Dulu, mama Adelia dan sang suami menginginkan seorang anak perempuan. Tapi, nyatanya tak di kasih. Kehadiran Queen sungguh seperti obat rindu yang begitu menggebu. Selalu menunggu titik temu walau semuanya hanya semu. Tapi, kehadiran Queen membuat semuanya terobati.
Mama Adelia harus bangkit demi anak, menantu dan calon cucunya. Mama Adelia harus sehat supaya bisa melihat dan menyaksikan cucunya lahir.
Jika Queen dan mama Adelia begitu nyenyak dalam tidurnya. Berbeda dengan Farhan yang tak bisa tidur. Dia terus bergerak ke kanan ke kiri mencari posisi nyaman tapi tak menemukannya. Biasanya Farhan akan tidur di pelukan sang istri. Ini sungguh menyiksa, padahal ini sudah larut malam.
"Oh sial .."
Gerutu Farhan mengusap wajahnya kasar sambil bangun dari tidurnya. Farhan beranjak keluar kamar. Tujuannya kamar sang mama.
Farhan mengendap-endap seperti maling masuk kedalam kamar sang mama. Di lihatlah sang mama dan istrinya yang sudah tidur dengan nyaman. Perlahan Farhan naik keatas ranjang, ikut berbaring di sana hingga posisi Queen menjadi di tengah.
Tadinya, Farhan ingin menculik sang istri lalu membawanya ke kamar. Tapi, melihat kedua wanita yang begitu berharga sedang terlelap nyaman. Membuat Farhan tak tega, terpaksa Farhan harus ikut tidur di sini dari pada tak tidur sama sekali.
Tiga malam Farhan menahannya, tapi kali ini Farhan tak bisa. Dengan pelan Farhan melepas tangan sang mama yang memeluk istrinya. Sudah berhasil, Farhan menarik sang istri ke dalam pelukannya.
Tidur ternyaman...
Batin Farhan ketika sudah berhasil membawa sang istri kedalam pelukannya. Entah sadar atau tidak, Queen memeluk erat Farhan. Bahkan kepala Queen mengendus-endus dada bidang Farhan seakan mencari tempat ternyaman.
"Emmz ..."
Erangan kecil terdengar di bibir Queen. Queen menggeliat dengan mata yang mulai terbuka. Tangan Queen meraba sesuatu yang aneh.
Queen langsung membuka kedua matanya ketika menyadari sesuatu. Mata Queen melotot tak percaya sambil menutup mulutnya agar tak berteriak.
"Kenapa bee ada di sini, mama!"
Queen membalikan tubuhnya ke arah samping. Tidak ada mama Adelia. Membuat Queen jadi bingung.
Queen kembali memandang suaminya yang terlihat nyenyak dalam tidurnya. Bahkan tak terusik sama sekali ketika Queen bergerak.
Di tatapnya dengan intens wajah sang suami, sangat damai. Seketika rasa bersalah menghampiri. Sang suami pasti begitu tersiksa tidur sendirian. Tapi mau bagaimana lagi, Queen tak suka bau keringat Farhan. Padahal dulu Queen sangat menyukainya.
Queen mendekatkan wajahnya ke dada sang suami. Mencium sesuatu!
"Aneh, kenapa sekarang gak bau. Dan, kapan Bee masuk ke sini. Dimana mama?"
__ADS_1
Monolog Queen merasa aneh pada dirinya sendiri. Dan, Queen tidak melihat keberadaan mama Adelia sama sekali.
"Apa aku benar-benar tidur di pelukan bee semalaman. Lalu dimana mama Tidur!"
"Sudah bangun sayang,"
Mama Adelia tersenyum melihat menantunya sudah bangun. Mama Adelia menyimpan nampan yang di atasnya ada segelas susu ibu hamil dan sandwich.
"Sepertinya Biru kesini malam, ya sudah biarkan saja dia tidur. Kelihatannya memang Biru tak bisa jauh dari istrinya."
"Kamu temenin saja dulu Biru, jangan sampai dia berteriak ketika bangun gak ada kamu. Dan, makan sarapan kamu,"
Mama Adelia langsung keluar kamar, membiarkan sang putra tertidur. Dan, supaya Queen terbiasa kembali.
Sekarang Queen baru sadar ketika mama Adelia membawakan dia sarapan. Ternyata ini sudah pagi.
Melihat damainya sang suami tidur membuat Queen tak tega untuk membangunkannya.
Queen memutuskan membiarkan sang suami tidur dan Queen meminum susu ibu hamil dan sandwich yang mana Adelia buat.
Ini sudah masuk jam tujuh, tapi tak ada tanda-tanda Farhan akan bangun. Queen memutuskan beranjak saja.
"Sayang ..."
Lilir Farhan memeluk perut sang istri dengan mata masih terpejam. Queen langsung diam tak jadi beranjak karena perutnya di peluk Farhan.
"Bee?"
Tak ada sahutan dari sang suami, membuat Queen terdiam. Apa se ngantuk itu suaminya. Dan, kenapa dia merasakan ketika Queen akan bangun.
Queen menghela nafas, memutuskan kembali menemani sang suami tidur. Walau Queen memilih duduk saja sambil menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Queen mengelus-elus rambut sang suami yang nampak sangat nyaman.
Lama kelamaan Queen merasa pegal dan ngantuk kembali. Queen membaringkan tubuhnya lalu memeluk sang suami dan kembali tidur lagi.
Kali ini Queen benar-benar tidak merasa sensitif di dekat sang suami. Entah karena kantuk atau nyaman.
Menurut reader apa???
he ... he ..
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih....