Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 102 Sebuah kebenaran!


__ADS_3

Rasa rindu yang menggebu, sudah lama membelenggu hati yang selalu menanti akan titik temu. Namun, masih adakah temu dalam sebuah harapan semu yang berharap bahwa masih ada setitik pertemuan.


Nyatanya hanya sebuah kesia-siaan, yang masih berharap akan adanya keajaiban. Padahal dia tahu bahwa itu hanya sebuah harapan yang tak bisa kembali.


Setiap malam hanya bisa menangis memandang sebuah photo berharap hatinya akan baik-baik saja. Nyatanya masih rapuh, dan belum mampu untuk bicara merelakan.


Terlalu menyakitkan untuk di kenang, namun lebih terasa perih jika di lupakan.


Kepergian sang suami membuat mama Adelia terus terbelenggu oleh rasa rindu yang berharap masih ada titik temu.


Kejadian naas tuju belas tahun lalu masih terekam jelas di memori mama Adelia.


Dua mobil saling kejar mengejar hingga mengakibatkan sebuah kecelakaan. Mama Adelia masih ingat, dia di paksa keluar oleh suaminya supaya selamat dari mobil yang sebentar lagi masuk ke jurang. Dan, Lukman ikut adil membantu mama Adelia keluar dari mobil. Mama Adelia berhasil keluar namun dia tidak tahu apa suaminya berhasil keluar atau tidak. Mama Adelia hanya mendengar sebuah ledakan dahsyat saja ketika kesadaran dia mulai menghilang.


Jika Lukman masih hidup, mama Adelia yakin suaminya pasti masih hidup. Tapi, entahlah...


Kecelakaan di jalan itu sebenarnya hanya sebuah rekayasa untuk mengalihkan kekacauan. Karena sebenarnya mama Adelia kecelakaan di tempat yang berbeda.


Samuel sungguh licik waktu itu mengatur strategi.


"Papa ..."


Lilir mama Adelia mengelus wajah sang suami yang sedang tersenyum di dalam photo itu.


"Mama kangen, papa tahu. Biru kita sudah bahagia dia tumbuh jadi laki-laki seperti papa. Mama sangat bahagia melihat Biru kita bahagia, namun ke tidak kehadiran papa membuat kebahagiaan itu berkurang. Papa dimana, mama yakin papa masih ada,"


"Rasanya mama seakan mati rasa, tolong.. pulang.. mama kangen..."


Sekuat apapun seorang wanita mencoba baik-baik saja. Tetap saja dalam kesendiriannya dia akan terlihat lemah selemah lemahnya.


Mencoba baik-baik saja namun tak bisa, bayangan sang suami terus menghantui.


"Mama kangen pah.."


"Mama..."


Deg...


Mama Adelia terkejut mendapati putranya ada di ambang pintu dengan air mata yang keluar.


Hati Farhan seakan tercabik-cabik mendengar setiap kalimat yang meremas hatinya. Begitu bodohnya Farhan tak tahu kesedihan sang mama. Jika saja sang istri tak memberi tahunya mungkin sang mama akan terus tersenyum di depannya.


Farhan tersimpuh di hadapan sang mama dengan derai air mata. Farhan memeluk erat tubuh wanita yang sudah melahirkannya. Wanita yang selalu memberinya kasih Tampa henti. Bagaimana bisa Farhan Setega ini membiarkan sang mama bersedih dalam kesendiriannya.


"Maafkan Biru mah, maaf..."

__ADS_1


Hanya itu yang bisa Farhan ucapkan, Farhan marah pada dirinya sendiri kenapa tak peka akan isi hati sang mama.


"Maafkan Biru yang tak tahu kesakitan mama, maafkan Biru yang tak tahu akan kesedihan mama."


"Apa mama merindukan papa?"


Farhan dengan lembut menghapus air mata yang jatuh dari mata sang mama. Mama Adelia hanya diam dengan air mata yang menjadi jawabannya.


"Katakan yang sebenarnya, Biru dengar mama kecelakaan bukan di jalan tol tapi di area jurang. Lalu, siapa yang mereka makamkan?"


Perkataan Mama Adelia yang Tampa sengaja membuka sebuah benang merah yang nampak abu-abu kembali terlihat.


Kini mama Adelia yang menyerngit bingung, makam, jalan tol!


"Mah jawab Biru, apa mama tidak kecelakaan di jalan tol?"


"Mama kecelakaan di jurang ketika mama melewati jalan arah puncak dari Bandung,"


Deg...


Farhan terdiam seakan mengingat sesuatu, Farhan memang tak melihat jasad kedua orang tuanya karena mobil itu meledak. Polisi hanya mengatakan tubuhnya hancur jadi harus di masukan ke dalam peti.


Mama Adelia menceritakan kronologi yang sebenarnya terjadi. Dari awal sampai akhir, Farhan di buat diam dengan semuanya. Entah apa yang Farhan pikirkan hanya dia sendiri yang tahu.


Mama Adelia menurut saja, dengan Farhan membantu sang mama berbaring di atas ranjang.


"Selamat tidur, mimpi indah!"


Cup....


Farhan keluar dari kamar sang mama, lalu menutup pintu kamar sang mama dengan pelan.


Farhan terkejut melihat sang istri masih berada di meja makan menunggunya. Queen tersenyum ketika Farhan baru keluar dari kamar mama mertuanya.


"Sudah selesai bee, mau lanjut makan atau bagaimana?"


Tanya Queen lembut, Queen tak mau ikut campur dengan masalah apa yang membuat mama Adelia bersedih. Queen yakin, tanpa bertanya pun pasti sang suami akan menceritakan semuanya.


"Tidak! kita ke kamar yuk!"


Queen mengangguk saja, terlihat dari wajah sang suami yang seperti menahan sesuatu.


Queen duduk di sisi ranjang, sedang Farhan mengambil ponselnya.


"Dad, bisakah besok Daddy ke kantor pusat, ada sesuatu hal penting yang ingin Biru bicarakan?"

__ADS_1


".........."


"Terimakasih dad, Biru tutup."


Farhan langsung mematikan kembali teleponnya. Farhan membuang nafas kasar lalu menghampiri sang istri. Farhan duduk di lantai, lalu menaruh kepalanya di atas pangkuan Queen.


Tanpa bicara, Queen mengelus rambut sang suami. Menunggu apa yang akan di ceritakan. Queen hanya berusaha mengerti dan menenangkan sang suami lewat usapan tangannya.


Lama Farhan menikmati usapan tangan sang istri di rambutnya. Farhan mengangkat kepalanya menatap sang istri, lalu tersenyum tipis.


"Apa kemungkinan papa masih hidup?"


Ucap Farhan kemudian sambil menatap sang istri.


"Mama bilang, mereka kecelakaan dekat jurang arah Bandung-puncak. Lalu siapa yang kecelakaan di jalan tol, kenapa semuanya seakan mama dan papa. Aku pikir mereka memang sudah tidak ada, tapi nyatanya mama masih hidup, apa kemungkinan papa juga masih ada. Jika mama dan paman Lukman masih hidup lalu papa di mana! dan siapa yang mereka kuburkan!"


Kini Queen bisa menebak apa yang membuat mama Adelia menangis. Mengingat suaminya yang mama Adelia yakini suaminya masih hidup. Ikatan batin mereka sangat kuat dan itu karena cinta mereka yang begitu suci.


"Jika mama merasa papa masih hidup, berarti besar kemungkinan dia masih hidup. Apa bee dan Daddy akan membahas ini dan menyelidiki tempat kejadian?"


"Iya sayang, ternyata bajingan itu sangat licik. Aku tidak tahu bagaimana nasibnya sekarang. Terakhir aku dengar dia semakin sekarat dengan keadaannya. Jika ada seseorang di balik bajingan itu yang membantu tapi sampai saat ini aku tak melihat ada satu orangpun yang menjenguk dia."


"Berhati-hatilah bee, aku merasa akan ada musuh yang lebih besar lagi. Selidiki tanpa melibatkan polisi, kita tidak tahu mana polisi kawan mana lawan."


Farhan faham akan ucapan sang istri, sekarang pikiran Farhan mulai sedikit tenang. Walau di dalam lubuk hatinya masih merasa was-was. Jika masih hidup, dimana dia sekarang. Kenapa tak kembali! jika sudah tak ada, Farhan tak bisa membayangkan jasad sang papa ada di jurang itu. Apa dimana hewan buas atau apa.


Tak terasa, membayangkannya saja membuat Farhan tak mampu.


Queen faham apa yang dirasakan sang suami. Saat ini pasti hatinya hancur.


Queen menghapus air mata yang keluar dari pelupuk mata sang suami.


Cup...


Queen mendaratkan sebuah kecupan di kelopak mata Farhan yang terpejam. Lalu turun ke pipi, Queen seakan sedang menghapus jejak air mata sang suami.


"Yakinlah, semua akan baik-baik saja!"


Cup...


Kini kecupan itu Queen mendaratkan di bibir sang suami. Berharap dengan ini hati suaminya tenang.


Bersambung...


Jangan Lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote Terimakasih.....

__ADS_1


__ADS_2