
Tiga hari sudah keluarga itu berlibur kini sudah kembali kembali ke Bandung dan kerumah masing-masing Dan di sibukan kembali oleh aktifitas mereka.
Sedang Queen masih hari libur sehabis ujian selesai. Queen menghabiskan waktunya bersama sang mama menyiram tanaman dan membuat bermacam kue dan puding.
Entah kenapa Dinda ingin membuat puding mengingat sang suami pas waktu Di Puncak mengatakan ingin puding.
Ibu dan anak itu sibuk berkutat di dapur dan melarang bi Nani membantu mereka. Karena Dinda ingin membuatnya pakai tangannya sendiri.
"Mah, bikinnya rasa melon dong,"
"Iya, nanti mama bikinin. Ini mama buat kesukaan daddy dulu. Daddy sukanya rasa kelapa katanya."
Dua wanita generasi itu sendari pagi sampai siang berkutat di dapur bahkan dapur menjadi berantakan oleh ulah Queen yang usil bahkan wajah Dinda juga penuh dengan tepung ketika membuat kue.
"Sayang sudah dong,"
"Ha.. ha.. wajah mama lucu,"
"Awas ya, kau ini.., "
Dinda menarik sang putri tapi sayang Queen keburu lari sambil membawa wajan kue. Hingga membuat Dinda harus mengejarnya.
Tawa kedua wanita beda generasi membuat bi Nina tersenyum bahagia, akhirnya rumah ini selalu penuh canda tawa dan kehangatan semenjak ada Fandi di rumah ini bahkan hubungan Dindapun semakin dekat dengan Queen.
Sedang di kantor, Fandi nampak gelisah karena teleponnya tak di angkat sama sekali oleh sang istri. Padahal tadi Dinda akan ke kantor untuk mengantar makan siang tapi sudah jam satu tapi tak ada tanda-tanda sang istri datang.
Rasa cemas membuat Fandi beranjak dari kursi kebesarannya memutuskan pulang kerumah. Dua puluh menit Fandi sudah memasuki gerbang rumah karena memang jarak rumahnya dan kantor sangat dekat.
Pak Tono membukakan gerbang merasa heran kenapa tuannya sudah pulang.
Dengan cepat Fandi masuk kedalam rumah, entah kenapa hati Fandi sangat gelisah.
Cklek...
Deg...
Mata Fandi membola melihat rumah seperti kapal pecah. Terigu bercecer di mana-mana dengan kursi yang tak diam rapih.
"Queen berhenti..,"
Teriak Dinda mengejar Queen yang kembali masuk kedalam rumah. Fandi kembali membelalakan kedua matanya melihat Queen berlari kearahnya dengan keadaan seperti zombi.
"Daddy tolong, mama mengejar Queen!"
Burr...
Dinda melemparkan tepung kearah sang putri tapi sayang tepung itu malah mengenai Fandi karena Queen bersembunyi di balik punggung sang daddy.
Hening...
Seketika hening, Dinda terdiam dengan mulut terbuka karena terkejut lemparan tipungnya mengenai suaminya sendiri.
Bi Nina hanya bisa menahan nafas melihat adegan tadi. Bi Nina sempat teriak memberi tahu nyonya dan nona mudanya kalau ada tuan tapi kedua wanita ini tak mendengarkan hingga semaunya jadi seperti ini.
Dinda mematung di tempat sambil menelan ludahnya kasar melihat wajah dan baju sang suami penuh tepung.
Queen yang ada di belakang Fandi hanya terkekeh mengejek sang mama dan itu membuat Dinda melotot tak percaya dengan tingkah sang putri.
Queen memang sedikit mendengar teriakan bi Nina kalau sang daddy pulang. Untuk itu Queen sengaja lari kembali kedalam rumah berniat mengerjai sang mama dan usahanya berhasil.
__ADS_1
Huh...
Fandi membuang nafas kasar hingga tepung di dekat hidungnya berhamburan. Fandi menatap lekat sang istri yang sama seperti zombi dengan muka penuh tepung.
"Kaburrr...,"
"Mau kemana!"
Glek...
Dinda menelan ludahnya kasar ketika tangannya di cengkal oleh Fandi sedang Queen sudah berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Emm, Ma.. mas..,"
"Apa! harus tanggung jawab!"
Dinda hanya pasrah ketika sang suami menariknya masuk ke dalam kamar.
Bi Nani hanya terkekeh saja melihat semuanya lalu bi Nani beranjak mengambil pelaratan untuk membersihkan kekacaun yang di lakukan majikannya.
"Kamu tahu, mas sangat cemas menunggu kamu datang ke kantor. Katanya mau ngantar makan siang mas, tapi nyatanya malah membuat kekacaun. Mas Berkali-kali telepon karena takut terjadi sesuatu sama kamu tapi tak ada jwaban satupun. Bahkan mas sampai pergi dari kantor karena takut kamu kenapa-napa tapi..,"
Fandi tak bisa melanjutkan ucapannya karena kesal, cemas bercampur jadi satu.
Dinda hanya meringis melihat sang suami mengomel panjang lebar. Baru kali ini Dinda melihat Fandi mengomel bahkan wajahnya sampai memerah.
Dinda memutar otak bagaimana caranya supaya amarah sang suami reda. Ada rasa bersalah di hati Dinda karena lupa untuk mengantar makan siang sang suami dan pasti sekarang belum makan siang.
"Mas maafin Dinda ya..,"
Cicit Dinda mendekat sambil mengelus-elus dada sang suami supaya tenang.
"Ya sudah, mas jadi kotor begini kamu harus tanggung jawab. Mandikan, Mas. "
Pekik Dinda terkejut bahkan tupil matanya sampai melebar mendengar ucapan sang suami.
"Ayo..,"
"Mas, masa di mandikan. Mandi sendiri ya..,"
"Kamu nolak!"
"B.. bukan be.. begitu, Ma.."
Brak..
Dinda mengelus dadanya karena terkejut akan sura pintu yang di tutup kencang. Baru pertama kali Fandi marah seperti itu dan itu membuat Dinda semakin merasa bersalah. Bukan maksud Dinda tak mau memandikan sang suami tapi Dinda sungguh sangat malu.
Grep...
Dinda terkejut karena tangannya di tarik hingga masuk kedalam dekapan dingin sang suami. Dinda tak sadar dari tadi melamun hingga tak sadar sang suami sudah keluar dari kamar mandi.
Kesadaran Dinda kembali ketika Dinda mendengar suara isak tangis sang suami dan itu membuat Dinda bingung.
"Maaf..,"
"Hah,"
Dinda sungguh di buat bingung akan tingkah dan perubahan sikap sang suami. Tadik marah dan sekarang minta maaf sambil menangis.
__ADS_1
"Mas,"
Deg...
Dinda tertegun melihat air mata yang keluar dari pelupuk mata Fandi. Perlahan Dinda menangkup wajah sang suami lalu menghapus air mata Fandi dengan kedua ibu jarinya.
"Kenapa minta maaf, kenapa menangis!?"
"Maaf, sudah membentak kamu. Sekarang kamu mandi ya. Lalu kita makan, Mas lapar."
Sumpah demi apapun Dinda begitu bingung dengan perubahan sikap Fandi. Tapi Dinda tak banyak komentar karena tak mau membuat mood sang suami berubah lagi.
Dinda menurut dan langsung mandi buru-buru karena tak mau membuat sang suami lama menunggu apalagi Dinda mendengar samg suami bilang lapar.
Tak lama Dinda sudah beres mandi, Dinda hanya diam saja melihat sang suami sudah memakai baju dan terlihat sibuk dengan leptopnya.
"M.. mas,"
"Sudah selesai, ayo makan. Mas sudah lapar, "
Dinda hanya mengangguk saja mengikuti langkah sang suami yang menurut Dinda sangatlah aneh.
Dinda mengedarkan pandangannya ternyata bi Nani sudah membersihkan ke kacaun yang dia lakukan bersama Queen.
"Tadi buat apa sampai berantakan?"
"Buat kue kering dan puding kesukaan mas!"
"Ya sudah mas makan itu saja, pengganti makan siangnya!"
"Gak, makan nasi?"
"Gak!"
Dinda tak bertanya lagi langsung mengambil kue hasil dia buat bersama sang putri dan tak lupa puding kesukaan Fandi.
Dinda hanya bisa menelan ludahnya kasar melihat begitu lahapnya Fandi memakan kue dan puding buatannya.
Aneh! ada apa dengannya?
Bingung Dinda sangat-sangat bingung dengan sikap sang suami hari ini. Emosinya sangat mudah berubah dan itu membuat Dinda sedikit merinding.
"Kamu gak makan sayang?"
"Eh, gak. Itukan buat mas,"
"Aa..., ini sangat enak sayang."
Mau tak mau Dinda membuka mulutnya menerima suapan dari sang suami dengan mata menatap intens tingkah Fandi.
"Benar-benar aneh!"
"Kamu bicara sesuatu!"
"E.. enggak, e.. emang aku bicara apa!
Elak Dinda gelagapan, sungguh Dinda di buat pusing oleh tingkah sang suami.
Bersambung...
__ADS_1
Jiangan lupa like dan Vote...