
Semua orang terdiam menunggu Fandi atau Dinda bicara. Siapa nama baby tampan ini, rasanya mereka juga penasaran apa nama baby tampan ini.
"Ayolah dad, mah siapa nama adik tanpanku ini?"
Desak Queen tak sabaran, Queen menggendong adiknya seperti sudah biasa dalah hal menggendong. Bahkan semua orang nampak terkejut melihat Queen begitu santai menggendong baby mungil itu tanpa takut jatuh.
Bahkan Angga sendiri sedikit meringis melihatnya pasalnya Angga belum pernah menggendong baby bahkan saat Jek dan Queen lahir Angga tak berani menggendong katanya tahut jatuh.
"Ki.. "
"Hay semuanya. Lihatlah apa yang aku bawa, ini makanan untuk kalian dari tadi kalian belum sempat makan di rumah."
Queen mendengus kesal karena kedatangan Aielin membuat sang daddy tidak jadi menyebut nama adiknya.
"Wow, dade bay nya ganteng. Aku mau gendong."
"Stop Linlin jangan mendekat!"
"Apa! ta.. tadi kamu bilang aku apa?"
Tanya Aielin memastikan, Aielin dengar Queen memanggilnya Linlin tandanya Queen sudah mengingatnya.
Tapi, Queen malah acuh dan kembali membelakangi Aielin. Aielin mendengus kesal, teman masa kecilnya sungguh sudah berubah 100%. Tak ada Queen yang manja, bar-bar dan sok imut. Lihatlah tampangnya yang datar dan penuh aura intimidasi.
Queen memang sudah mengingat siapa Aielin ketika Queen pingsan. Ingatan itu seakan terekam kembali di ingatan Queen. Tapi, Queen masa bodo, siapa suruh dirinya mengerjai Queen. Sekarang giliran Queen yang acuh.
"Siapa nama baby Dad?"
Tanya Queen lagi seakan tak sabar ingin tahu siapa nama adik gantengnya. Queen merasa tak menyangka dia mempunyai seorang adik yang sangat tampan. Bahkan semua garis wajahnya mirip sekali dengan Fandi. Cuma bibirnya saja yang mirip sama Dinda, terlalu seksi jika ukuran laki-laki.
"Laskar Sky Mangkualam!"
Jawab Fandi mantap membuat Queen membola sambil menatap adiknya. Sebuah nama yang indah hampir sama dengan makna nama Queen. Seperti menggambarkan kerajaan raja langit.
"Wow, baby Laskar!"
Pekik mama Adelia menghampiri Queen.
"No, baby Sky, tante!"
"Laskar!
"Sky!"
"Laskar!"
Mama Adelia dan Aielin terus saja berdebat akan panggilan baby mungil itu, hingga menggeliat di gendongan Queen seakan tak suka akan perdebatan orang dewasa.
Angga dan Murni hanya diam, mereka sedikit enggan untuk sekedar ikut memanggil panggilan baby mungil itu.
"Mama Aielin, sudah jangan berdebat, malu tahu. Panggilannya baby Alam saja, bagaimana om tan?"
Dinda menatap sang suami penuh cinta, nama itu mengingatkan Dinda pada Fandi ketika Dinda pertama kali dekat. Dulu Dinda memanggil Fandi dengan nama Alam, di ambil dari akhir mana Fandi Mangkualam. Kata Dinda biar, berbeda dari yang lain.
__ADS_1
"No, mama sukanya Laskar!"
"Sky, pokonya Aielin suka panggilan Sky!"
"Alam!"
Mama Adelia dan Aielin terdiam mendengar suara Murni. Hingga semua mata tertuju pada Murni yang sendari tadi diam.
"Queen setuju sama tante Murni, panggilannya Alam. Baby Alam..,"
"Sudah mah, jangan protes. Panggilannya Alam!"
Potong Farhan mencegah mamanya protes lagi. Adelia hanya mendelik kesal pada anaknya kenapa tak mendukung panggilan yang dia berikan. Satu lawan tiga yah mama Adelia akan kalah.
Sedangkan Fandi dan Dinda tersenyum tak berkomentar apa-apa karena panggilan itu memang ingin Dinda sematkan. Panggilan Dinda pada Fandi dulu, Fandi mangkualam. Alam dunia Dinda yang penuh warna, tapi semenjak kejadian naas itu, Dinda merubah segalanya. Karena Fandi bukan Alamnya lagi, ketika dunia Dinda hancur.
Akan tetapi, kini seakan kembali mengulang kisah yang tertunda. Gebuan cinta yang dulu sempat padam kini berkobar kembali. Apalagi hadirnya baby Alam di tengah kebahagiaan mereka.
"Bo.. boleh ayah menggendong baby Alam?"
Queen tersenyum ketika sang ayah ingin menggendong adiknya. Sebelum memberikan Queen melihat dulu pada daddy dan mama. Melihat Fandi mengangguk, Queen perlahan memberikan baby Alam pada sang ayah.
Tubuh Angga menegang dengan tangan gemetar. Baru kali ini Angga menggendong seorang baby dan itu membuat Queen tertawa.
"Ha.. ha... ayah jangan tegang gitu dong. Masa gendong baby kaku begitu. Padahal ayah sudah punya anak dua,"
Bagai tamparan keras bagi Angga mendengar ucapan sang anak. Ada rasa nyeri yang tak bisa Angga gambarkan. Apa reaksi Queen dan Jek jika tahu saat dirinya lahir bukan ayah mereka yang pertama menggendong mereka melainkan orang lain. Bahkan Angga sendiri tidak tahu siapa orang yang pertama menggendong Queen, sedangkan Angga tahu orang yang pertama menggendong Jek adalah ayah Angga sendiri, Kakek Jek.
Dinda dan Murni terdiam mendengar candaan Queen yang seperti bahagia mengejek ayahnya sendiri. Jika Murni menanggapinya biasa saja tapi tidak dengan Dinda, mengingat itu membuat Dinda teringat akan luka yang entah kenapa tiba-tiba basah kembali. Fandi yang menyadari perubahan raut wajah sang istri langsung memeluknya erat sambil berbisik.
Dinda membalas pelukan sang suami, rasanya berada di samping Fandi Dinda benar-benar merasa terlindungi.
Queen terus saja menggoda Angga hingga membuat Angga kikuk sendiri. Baru kali ini Angga menggendong seorang baby dan itupun tubuh Angga gemetar. Rasa takut baby Alam akan ada yang patah atau apa Angga dengan cepat memberikan kembali baby Alam pada Queen karena baby Alam mulai menangis.
"Aduh dek, paman jahat ya. Sini sama kakak cup.. cup... "
Semua orang nampak geli dengan apa yang Queen lakukan. Tak menyangka bahwa Queen bisa sepandai itu menggendong baby. Tapi bukan tingkah Queen yang membuat mereka geli tapi panggilan yang Queen sebutkan. Ayah kakak, paman bagi adiknya lucu bukan. Entah bagaimana hubungan dua keluarga ini.
Bagi Queen Fandi adalah paman dan ayahnya tapi bagi baby Alam, Angga adalah pamannya dan ayah bagi kakaknya. Silsilah keluarga yang unik namun memang itu adanya.
"Sayang kamu pintar banget gendong baby Alam, kamu kursus ya?"
"Sembarangan mana ada kursus!"
"Tapi itu, kaya yang udah biasa saja gendong baby Alam!"
"Dulu aku suka ke panti asuhan ketika mama sama ayah sibuk. Di sana aku sering bermain sama anak-anak dan sesekali mencoba menggendong baby. Tapi, aku pernah merasa menemukan baby dan menyimpannya di panti asuhan Kasih Ibu, tapi aku lupa!"
"Wow, baiknya calon istriku!"
"Mah, sepertinya dede Alam ingin mimi?"
Celetuk Queen melihat baby Alam terus bergerak tak nyaman seperti mencari sesuatu.
__ADS_1
Queen memberikan baby Alam pada sang mama. Namun, Dinda masih diam. Semua orang keluar mengerti dengan kecanggungan Dinda. Dinda butuh privasi akan hal itu.
"Tuan putri kenapa gak keluar?"
"Queen mau lihat mama mimi-in dede Alam!"
" Ayolah nak, mama malu,"
"Huh, ya sudah. Dadah dede, jangan nakal ya,"
Cup...
Setelah memberi kecupan Queen lantas keluar ruangan. Tinggalah Fandi dan Dinda yang mulai memberikan mimi pada anaknya. Dinda sedikit meringis ketika baby Alam melahapnya rakus.
"Sayang sakit ya?"
"Ini sudah biasa mas, nanti juga sakitnya hilang!"
"Tapi mas sedikit heran!"
"Heran! heran kenapa?"
"Saat mas yang di situ kamu gak kesakitan malah ka.. "
"Mas!!!"
"Memang iya!"
Plakk...
"Aduh sayang ko mas, di pukul sih!"
"Habis bicara sembarangan!"
"Sembarangan bagaimana orang mas bicara pakt.. "
" Ya, jangan di perjelas kali!"
"Apanya?"
"Massss!!! "
Ha.. ha...
Fandi terkekeh melihat wajah sang istri yang memerah bak tomat matang. Sangat menggemaskan dan Fandi ingin
Cup...
Bersambung....
Jangan lupa Like, Komen, Hadiah dan vOte
.
__ADS_1
Terimakasih....