Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 11 Permainan!!!


__ADS_3

Dari kejadian itu Queen banyak melamun,entah apa yang Queen pikirkan hanya Queen yang tahu. Bahkan pada Dinda pun Queen tak banyak bicara. Hanya anggukan dan gelengan yang menjadi jawaban Queen. Hati Queen kian membeku.


Queen selalu menghabiskan waktunya mengurung diri di kamar, sesekali keluar kalau mau makan dan balik lagi kedalam kamar.


Tingkah Queen membuat Dinda semakin kewatir takut anaknya menjadi gadis es yang dingin tak tersentuh. Seharusnya seusia Queen harus banyak bergaul dan berteman.


Bahkan Dinda terkejut mengerahui di kampus Queen tak mempunyai teman sama sekali.


Queen selalu sendiri membuat Dinda terkejut ketika Fandi melaporkan keseharian Queen di kampus yang di cap sebagai Ratu Es. Sedingin itukah Queen? sunggub membuat Dinda sedih.


Queen melangkahkan kedua kakinya kebalkon, menghirup udara segar yang menerpa kulitnya. Rasa sejuk itulah yang Queen rasakan. Lalu Queen mendudukan bokongnya diatas kursi yang berada disitu. Queen membuka buku dearynya.


”Sesak sekali hatiku, ingin rasanya aku tenggelam kedasar laut. Hingga aku tak merasakan apa itu nafas. Buat apa aku bernafas hanya ada kesesakan lebih baik tidak sama sekali. Sudah cukup aku terlalu lama menunggu, hatiku kian sakit. Kemana kamu yang selalu menggenggam tanganku,di saat aku terjatuh, di mana pelukanmu di saat aku terpuruk. Dulu senyum mu adalah alasan aku tersenyum, dirmu alasan aku bahagia. Tapi kenapa? kau enggan untuk menggenggamku lagi."


Tak terasa cairan bening lolos begitu saja membasahi kedua pipi Queen dengan tangan yang langsung menghentikan tulisannya.


Tok.. tok...


Ketukan pintu membuat Queen buru-buru menghapus air matanya dan berjalan kearah pintu.


Cklek...


Dinda tersenyum ketika sang putri langsung membuka pintu.


“Makan malam dulu, Nak.”


Queen mengangguk sebagai jawaban dan mengikuti Dinda dari belakang. Aroma ikan bakar menyengat di indra pencuiman Queen membuat selera makan Queen tiba-tiba bangkit. Queen menyelonong mendahului Dinda.


"Wah, ikan bakar!”


Ucap Queen berbinar sambil mendudukan bokongnya di atas kursi.


Dinda tersenyum melihat tingkah anaknya.


”Kamu suka, Nak? "


Queen tersenyum dan menggangguk sebagai jawaban. Begitu semangat Queen mengambil nasi dan ikan bakarnya. Queen makan seperti orang kelaparan. Padahal Queen tidak selera makan tetapi ketika melihat ikan bakar, selera makan Queen meningkat.


”Pelan-pelan nak, makannya?”


Tegor Sinda, Queen hanya nyengir kuda,sambil mengunyah nasi yang ada didalam mulut nya.


“Mamah seneng sayang lihat kamu lahap makan,”


Batin Dinda dan ikut mengambil nasi. Akhirnya Queen selesai juga, rasanya perut Queen ingin meledak, kekenyangan. Ikan bakar adalah makanan paporitnya, jadi wajar Queen menghabiskan dua porsi ikan bakar yang berukuran jumbo. Melihat ikan bakar,rasanya Queen sedikit melupakan sejenak perasaan hatinya.


“Bibi …bi?”


Lama Queen memanggil bi Nina tapi tak kunjung datang.


“Mah, kok bibi gak jawab panggilan aku?”


“Mungkin di belakang,”


“Ya sudah Queen mau samperin bibi dulu,”


“Mau apa cari bibi emang?”


“Mau bilang makasih, sudah masak ikan bakar. He.., ”


Jawab Queen sambil nyengir meninggalkan Dunda yang masih di meja makan. Queen berjalan kearah belakang rumahnya. Di situ terdapat kolam renang.


“Hiks … hiks…,”


Suara tangisan terdengar oleh telinga Queen,dia berjalan mendekati jajaran kursi untuk duduk bersantai.

__ADS_1


“Bibi kenapa nangis?"


Tanya Queen kewatir sambil berjongkok,mengelus-elus pundak bi Nina yang ada di samping kursi. Pantas saja Queen tak melihat, karena terhalang kursi.


"Bibi kenapa nangis?” tanya Queen lagi.


“Bibi kangen sama cucu bibi. Hiks ..,”


Queen terdiam, mencerna ucapan bi Nina.


“Yahsudah besok bibi boleh pulang dulu?”


Bi Nina hanya menggeleng membuat Queen mengerutkan kening bingung.


“Cucu bibi udah gak ada, jadi gak bisa pulang.Tapi bibi kangen, huaa … hua …”


Tangisan bi Nina semakin keras membuat Queen terlojat kaget dan bingung harus berbuat apa. Queen hanya terus ngengelus-elus punggung bi Nina semoga dengan cara itu membuat bik Nina tenang.


“Bibi jangan nangis ya, Queen jadi bingung harus berbuat apa?"


“Hiks, Non bisa temanin bibi gak?"


Ucap bi Nina memohon, Queen hanya mengangguk tanda setuju.


"Temenin bibi main ular tangga!”


Deg...


Queen terperanjat kaget mendengar permintaan bik Nina. Queen pikir memenin apa! ternyata mainan anak kecil.


“Bik, itu bedak untuk apa? ”


Tanya Queen bingung karena bik Nina sudah menyiapkan bedak.


“Permainan ini ada aturannya, non!”


”Siapa yang turun melalui ular itu, maka mukanya akan di kasih bedak. Gitu non aturannya,”


Ujar bi Nina menjelaskan membuat Queen memangut-mangut.


Permainan pun di mulai, bi Nina menggelindingkan dadu yang masing-masing halaman ada angkanya. Tepat gelindingan bi Nina di angka lima. Sekarang giliran Queen.


Semakin lama semakin seru permainan itu membuat Queen antusias.


“Ha..ha.. non turun!”


Seru bik Nina sambil mengoleskan bedak ke wajah Queen. Sehingga wajah Queen penuh bedak.


“Haa..ha.. non payah turun mulu,”


“Bibi curang nih!”


Keluh Queen karena kalah mulu dari bik Nina.


“Ha .. ha ..,”


Gelak tawa keluar dari mulut Queen, sesekali Queen melihat mukanya di depan kaca yang bi Nina pula sudah siapkan. Wajah yang sudah penuh bedak seperti badut ancol,sedangkan bi Nina hanya sedikit.


"Haa..ha..”


Queen menertawakan dirinya sendiri yang di mana wajahnya sudah di penuhi bedak.


”Eh, giliran bibi non jangan curang?”


Perotes bi Nina Queen hanya nyenger kuda.

__ADS_1


Tingkah Queen dan bi Nina dari tadi tak luput dari pantauan Dinda. Ternyata rencana yang sudah Dinda dan bi Nina susun berhasil,buktinya Queen tertawa sampai terpingkal-pingkal.


“H a..ha..”


“Teruslah tertawa nak, mamah bahagia melihat kamu begitu. Jangan ada kesedihan lagi rasanya mamah tak sanggup. Walau mamah tak tahu harus dengan cara apa lagi supaya membuatmu tetap tertawa. Tapi mamah janji, akan melakukan apa saja yang membuatmu bahagia, ”


Batin Dinda, sambil mengutak-atik ponselnya mencari nomor seseorang.


“Hallo”


Ucap seseorang di serbang sana.


“Terimakasih ikan bakarnya. Kamu benar, Queen begitu lahap hanya karena ikan bakar,”


“Sama-sama, Tan.”


“Ya sudah tante tutup dulu teleponnya,”


Tut..tut…


Dinda mematikan teleponnya, senyuman mengembang di bibir Dinda saat melirik lagi kearah Queen. Dinda tak tinggal diam,mengarahkan ponselnya kearah Queen dan merekam tak luput memotretnya,mengabadikan momen langka itu


Dinda pun beranjak pergi, sebelum Queen melihatnya. Dinda mencari nama kontak seseorang dan mengirim poto dan vidio tadi.


“Ha..ha.. bibi udah ya mainnya Queen gak kuat lagi,, ha..dari tadi ketawa mulu .., ha..”


Ucap Queen cekikikan, bi Nina pun langsung menyudahi permainannya.


“Ya sudah non langsung istirahat saja ya. Biar bibi yang bereskan ini,”


“Ok, bi!”


Cup...


Kecupan singkat mendarat di pipi kiri bi Nina. ”Terimakasih bi..dah..” Queen langsung lari meninggalkan bi Nina seorang diri. Bi Nina memegang pipinya yang masih basah karena kecupan Queen. Seulas senyum bi Nina keluarkan dan menggeleng-geleng kepala,mengingat tingkah Queen.


”Semoga non selalu bahagia," batin bi Nina.


"Mamah...., "


Panggil Queen sambil mengetuk pintu kamar sang mamah.


“Sebentar sayang ..,”


Sahut Dinda yang sedang bertukar pesan dengan seseorang.


Dinda mengerutkan kening bingung ketika mbuka pintu tidak mendapati anaknya.


Dorrr...


“Astagfirullah, Queen!"


“Ha…ha..ha…”


Queen ketawa terpingkal-pingkal melihat sang mamah terkejut oleh dirinya.


“Awas ya, mamah jewer …”


Dinda mengejar Queen yang berlari kearah ruang utama mengelilingi kursi. Gelak tawa terus menggema di ruangan tersebut. Ibu dan anak itu seperti kucing dan tikus malah main kejar-kejaran.


“Ha…ha.. mah ampun geli…ha…”


“Suruh siapa kerjain mamah,”


Ujar Dinda terus menggelitik perut anaknya.sampai mereka berdua kewalahan sendiri dan tertidur di atas shopa. Bi Nina yang melihat itu tersenyum dan berjalan dan menyelimuti dua majikannya.

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa Like dan Vote ok...


__ADS_2