
Keadaan Alexa dan Aielin mulai membaik. Mereka berdua sudah di perbolehkan pulang. Sebenarnya Alexa sudah lebih dulu bisa pulang. Tapi, Alexa mau tetap di rumah sakit menunggu sang adik pulang.
Dua Minggu sudah uncle Smith dan istrinya berada di Indonesia. Mereka harus segera kembali ke Jerman karena pekerjaan mereka sudah menunggu.
Uncle Smith memboyong istri dan anaknya pulang ke mansion Al-biru.
Di sana mama Adelia dan Queen sudah mempersiapkan kamar masing-masing untuk keluarga uncle Smith.
Farhan dan Daniel yang menjemput mereka. Sedangkan bodyguard yang sempat mengawal mommy Aielin dan Aielin datang ke Indonesia sudah terlebih dahulu kembali atas perintah uncle Smith.
Kedatangan keluarga uncle Smith di sambut oleh mama Adelia dan Queen. Queen memeluk Aielin dengan erat, Queen masih merasa bersalah karena sudah melibatkan Aielin dan Aielin harus tertembak.
"Maaf, aku membuatmu berbaring di rumah sakit,"
Sesal Queen benar-benar merasa bersalah.
"it doesn't matter"
Kejadian itu tak bisa di prediksi, Queen terlalu lengah saja. Tapi, untung Farhan juga datang tepat waktu. Kalau tidak mungkin dirinya juga dapat sasaran.
Farhan dan Daniel harus kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang mereka berdua urus.
"Daniel ..."
Daniel menghentikan gerakan tangannya ketika akan membuka pintu mobil. Daniel berbalik melihat uncle Smith sudah ada di hadapannya.
"Iya Tuan?"
"Lusa saya akan kembali ke Jerman, jika kamu serius dengan putri saya. Besok bawa ayahmu ke sini dan lamar putriku!"
Daniel terdiam, entah apa yang harus dia katakan. Sungguh, ini bukan mimpi bukan. Bahkan Daniel tak bisa berkata-kata untuk meluapkan rasa bahagianya.
"Hey, kenapa kau diam!"
"Ah ... ti.. tidak tuan. Ba..baik saya akan bawa ayah saya kesini!"
Daniel sungguh masih merasa gugup jika berdekatan dengan uncle Smith. Apalagi tak ada tatapan lembut sama sekali. Bahkan tatapannya masih sama, seolah tak menyukai dirinya.
"Daniel ..."
Daniel kembali menghentikan gerakan tangannya yang ingin membuka pintu. Daniel menatap uncle Smith, kini tatapan Uncle Smith sedikit berbeda. Daniel dengan setia menunggu apa yang akan uncle Smith katakan.
"Maafkan sikap saya selama ini, dan terimakasih sudah menjaga putri saya!"
Sudah mengatakan itu, baru uncle Smith benar-benar kembali masuk ke dalam.
Daniel tersenyum simpul mendengar kata maaf dan terimakasih dari uncle Smith.
"Niel cepetan, kita ada meeting!!!"
Teriak Farhan membuat Daniel langsung tersadar. Daniel dengan cepat masuk dan langsung melajukan mobilnya.
"Daddy tidak bicara yang tidak-tidak kan?"
"Ya Ampun .."
Pekik uncle Smith terkejut ketika masuk langsung di hadang sama anak dan istrinya.
Alexa dan sang Mommy menuntut penjelasan pada sang Daddy. Alexa memang sedikit curiga ketika sang Daddy mengikuti Daniel keluar. Alexa hanya takut sang Daddy berkata aneh-aneh pada Daniel lagi. Apalagi melihat wajah Daniel yang pucat.
"Daddy tidak bicara apa-apa!"
__ADS_1
Elak uncle Smith melewati anak dan istrinya. Membuat dua wanita berbeda generasi itu langsung mengikuti uncle Smith.
"Dad, Daddy tidak merencanakan sesuatu yang aneh lagi kan?"
"Ya ampun mom, mommy nuduh Daddy!"
"Mom tanya, dad?"
"Daddy ngantuk mau istirahat!"
Uncle Smith langsung pergi menuju kamar yang sudah di siapkan untuknya.
"Mom, Daddy jahat hiks ..."
Alexa menangis karena menyangka pasti sang Daddy menyuruh Daniel pergi lagi.
"Sutt ... jangan menangis, nanti mommy bicara sama Daddy. Lebih baik kamu istirahat saja ya,"
"Tapi mom!"
"Sudah, mommy yakin Daddy tak sejahat itu. Percaya sama mommy!"
Alexa mengangguk saja, lalu kembali ke ruang tamu dimana ada mama Adelia, Queen dan Aielin.
"Kenapa sayang, kok malah menangis?"
Tanya mama Adelia merentangkan kedua tangannya. Alexa langsung masuk ke dalam pelukan Mama Adelia.
Queen dan Aielin hanya saling pandang karena bingung apa yang membuat Alexa menangis.
"Cerita sama Tante, ada apa?"
"Yasudah kalau gak mau cerita, sekarang kamu istirahat ya?"
"Lexa mau tidur sama Tante .."
Queen ingin sekali protes, tapi melihat keadaan Alexa membuat Queen mengurungkan niatnya.
Mama Adelia membawa Alexa ke kamar yang sudah di siapkan. Mama Adelia tidak mungkin membawa Alexa ke kamarnya. Karena kamarnya khusus buat sang menantu yang boleh masuk.
"Ra, aku juga mau istirahat ya. Dadah ..."
Kini tinggal Queen sendirian di ruang tamu. Queen juga memutuskan pergi ke kamarnya.
Huh ...
Queen merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sudah beberapa hari Queen tinggalkan.
"Apa malam ini aku tidur sama Biru saja, tapi aku mual gak ya. Tunggu, pas waktu itu aku gak merasa mual. Mudah-mudahan hari ini gak mual."
Monolog Queen pada dirinya sendiri, lalu Queen memutuskan menunggu sang suami pulang.
Hari ini memang Farhan ada meeting, dan memeriksa semua berkas yang sudah Sam palsukan. Entah berapa tumpuk berkas yang Sam palsukan membuat Farhan pusing. Kenapa pamannya selalu saja serakah, dan tak pernah berubah.
Berkali-kali Farhan memijat pangkal hidungnya, masih ada satu tumpukan berkas lagi yang harus Farhan periksa. Tapi, ini sudah malam.
Farhan memutuskan menghentikan pekerjaannya. Masih ada hari esok, Farhan kerjakan lagi. Harusnya berkas itu selesai hari ini, tapi kepala Farhan sepertinya benar-benar sangat pusing.
Sesudah menelepon Daniel Farhan langsung membereskan meja kerjanya. Lalu keluar, di saat itu pula Daniel mau masuk. Mereka berjalan beriringan menuju lift.
"Tuan sakit?"
__ADS_1
"Cuma pusing, ini sudah di luar kerja. Panggil bisa saja!"
Daniel no komen, dia langsung menekan tombol satu, menuju lobi.
"Kamu tunggu di sini, biar aku yang ambil mobil,"
Farhan mengangguk saja, karena memang dia merasa sangat lemas sekali. Apalagi sudah berapa hari Farhan tak dapat suntikan tenaga.
Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh ketika Farhan sudah masuk. Tak membutuhkan waktu lama, kini mobil yang Daniel kemudi sudah memasuki pekarangan mansion Al-biru.
"Kau langsung pulang saja, aku bisa sendiri!"
Tolak Farhan, ketika Daniel akan membantunya masuk ke dalam rumah. Daniel menghela nafas, dia menurut saja. Walau Daniel sedikit khawatir melihat wajah Farhan yang pucat.
Farhan langsung naik ke lantai atas di mana kamarnya berada. Tiba-tiba rasa mual menghampiri membuat Farhan berlari dan membuka pintu kasar.
Brak ...
Queen terlonjat kaget mendengar suara pintu di buka dengan kasar. Queen langsung menyimpan buku yang dia baca. Queen memang belum tidur, entah kenapa matanya sulit terpejam.
Huek ... huek....
Farhan memuntahkan isi perutnya berkali-kali hingga membuat Farhan lemas.
"Ya Tuhan bee, kamu kenapa?"
Pekik Queen terkejut melihat keadaan suaminya.
"Sa..sayang keluar i..ini sangat jiji .."
"Bagaimana Rora bisa keluar, bee sedang muntah!"
Protes Queen langsung membantu sang suami. Dan menyiram muntahan yang Farhan keluarkan. Queen mendudukkan Farhan di kloset. Queen juga mengelap mulut sang suami karena masih ada cairan muntahan yang menempel. Terlihat sekali wajah Farhan begitu pucat.
"Apa yang bee makan, sampai bisa muntah seperti ini. Lihat wajah bee pucat,"
Queen begitu khawatir melihat keadaan suaminya yang lemas seperti ini.
"Tunggu, Rora mau ambil baju ganti dulu,"
Farhan tak menjawab, dia hanya diam saja. Tak lama Queen kembali membawa baju tidur sang suami. Dengan telaten Queen membuka satu persatu kancing baju Farhan lalu memakaikan dengan baju tidur. Sudah selesai, Queen langsung membawa sang suami keluar. Lalu menidurkannya di atas ranjang.
"Mau kemana?"
"Ambil air hangat, bee harus minum air hangat!"
Farhan menggeleng dengan wajah memelas, tak mau di tinggalkan.
"Ya sudah, bee tidur!"
"Peluk!"
Queen menurut saja, ikut berbaring. Lalu menarik kepala sang suami. Farhan mengendus-endus kepalanya mencari kenyamanan di dada sang istri.
Queen sedikit heran dengan dirinya sendiri kenapa gak merasa bau berdekatan dengan sang suami. Padahal Farhan baru muntah dan belum mandi. Kini malah hidung Queen mencium wangi maskulin rambut sang suami.
Kenapa dengan diriku, sangat aneh ...
Bersambung...
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih....
__ADS_1