
Queen terdiam menatap sang suami yang menatapnya serius.
Farhan menunggu sang istri untuk jujur, akan ucapan Riko tadi siang.
"Mall itu memang milik Rora, tepatnya milik Rora dan Riko,"
"Apa bee marah! Rora tidak bermaksud menyembunyikan ini semua. Rora pikir ini hanya masalah bisa saja. Toh, Rora serahkan semuanya pada Riko!"
"Bee tidak marah sayang, bee cuma heran saja,"
Jelas Farhan tak mau membuat istrinya tersinggung. Apalagi raut wajah Queen mulai berubah. Tak mau mood istrinya menjadi buruk. Farhan dengan cepat mengangkat sang istri duduk di atas pangkuannya.
"Terus, pendapatan itu uangnya kemanakah. Bahkan uang yang bee kasih juga belum pernah sayang pakai?!"
"Rora sumbangkan pada setiap panti dan menjadi donasi juga untuk beasiswa bagi yang berprestasi atau orang yang kurang mampu!"
"Baiknya istriku!"
"Bee gak marah!"
" Gak ada alasan bee marah, terkadang bee juga mempunyai rahasia yang sang ketahui dari orang lain. Sayang memang istri bee yang the best,"
"Kirain Rora bee akan marah karena Rora tak jujur. Tapi, bee janji ya jangan kasih tahu siapa-siapa!"
"Termasuk mama Dinda?"
"Mama sudah tahu, karena Daddy yang ngasih tahu."
"Ya sudah, kenapa sayang bisa sebaik ini sih!"
"Rora hanya terinspirasi dari kak Cinta Laura saja. Dia wanita multitalenta, baik dan penyayang, dan sederhana,"
"Siapa kak Cinta Laura?"
"Itu bee, penyanyi yang ada di tv tv, walau Rora hanya sekali lihat tapi kata-katanya penuh inspirasi banget, Rora suka."
"Ya ... ya .. nanti coba bee lihat. Bee jadi penasaran!"
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Kak Cinta cantik, nanti bee suka. Gak boleh, bee milik Rora!"
Farhan mengulum senyum geli mendengar nada posesif sang istri. Sangat lucu dan menggemaskan. Apalagi ketika bibirnya manyun, seakan meminta di kecup.
"Ya sudah, gak jadi deh."
Pasrah Farhan memeluk pinggang sang istri lebih erat. Rasanya Farhan selalu di buat jatuh cinta oleh sang istri di setiap harinya.
__ADS_1
"Sayang!"
"Hm,"
"Besok peresmian pengalihan jabatan ayah Angga pada Jek. Apa sayang mau ikut?"
"Gak ah bee, Rora takut kehadiran Rora malah membuat kak Jek tak mau menerima jabatan itu. Kak Jek yang berhak mendapatkan itu, apalagi Queen juga gak terlalu ngerti tentang bisnis."
"Gak ngerti bisnis tapi punya mall!
Sindir Farhan membuat Queen terkekeh. Queen memang konyol sekali. Jika begini Farhan benar-benar di buat gemas.
Kadang kala Queen bersikap dingin, kadang kala manja, kadang kala merajuk dan kadang kala marah.
Tergantung pada sebuah situasi yang mempengaruhi mood Queen.
"Bee ngantuk ..."
Rengek Queen sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Farhan. Farhan hanya bisa terkekeh melihat tingkah istrinya. Bukankah baru beberapa jam Queen baru bangun tidur. Kini sudah makan dan nyemil dia malah ngantuk. Pantas saja badan Queen semakin gemuk, bawaannya bumil ingin tidur makan tidur makan. Padahal ini masih jam sembilan malam.
"Ya sudah ayo .."
Farhan menggendong sang istri lalu menidurkannya di atas ranjang. Begitupun Farhan ikut berbaring menemani sang istri.
Tempat ternyaman bagi Queen adalah di tertidur di dada sang suami.
Awalnya Jek tak setuju karena dia sudah nyaman bekerja di bengkel milik Bagas, sahabatnya. Apalagi dekat dengan rumah. Jek tak mau jauh-jauh dari Melati, apalagi Melati sedang hamil dan itu membuat Jek berkali-kali berpikir. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Melati, dan Jek harus pulang cepat sedang posisi rumah mereka ke kantor lumayan jauh.
Pada akhirnya Jek menyetujuinya dengan syarat harus ada yang menemani Melati. Tapi Melati menolak, karena tak mau ada ART.
"Bang, adek gak apa sendiri juga!"
"Pokonya harus ada yang nemenin kamu sayang, Abang gak mau ambil resiko!"
Tegas Jek tak mau di bantah, ini demi keselamatan istri dan calon anaknya.
"Pilih tinggal sama mama atau di sini tapi harus ada Art!"
Huh ....
Melati hanya bisa membuang nafas pelan, kenapa suaminya gak ngerti. Melati tidak bisa di urusi orang. Dia sudah biasa apa-apa sendiri. Rasanya Melati harus bersikap, bagaimana jika biasanya pekerjaan rumah jadi orang lain yang ngurusin.
Rasanya Melati gak enak dan tak terbiasa.
"Tinggal di sini saja, tapi Abang harus janji ya jangan pulang malam,"
"Kalau begitu Abang gak mau dek, kerja di kantor!"
"Jangan! kasihan papa, jika kerja sendiri. Abang harus bantuin,"
__ADS_1
Huh ...
Kini Jek yang membuang nafas kasar, mood istrinya mudah berubah. Jek jadi bingung sendiri. Di suruh bantuan sang papa tapi sang istri minta jangan pulang malam. Bagaimana Jek bisa menepatinya sedang Jek tahu, terkadang dia harus lembur jika ada pekerjaan darurat.
"Iya, nanti Abang usahain tidak pulang malam. Tapi, jika Abang harus pulang malam adek jangan marah ya!"
"Iya, asal telat pulang karena benar-benar kerja!"
Ketus Melati membuat Jek menautkan kedua alisnya. Bagaimana mungkin Jek selingkuh, menghadapi istri satu saja sudah kelimpungan apalagi dua. Yang ada Jek mati mendadak karena stres.
"Gak lah sayang, adek segalanya buat Abang. Bagaimana mungkin Abang berkhianat!"
"Tapi badan adek jadi gemuk begini, Abang pasti ilfil!"
"Astagfirullah ..."
Jek benar-benar harus sabar ekstra menghadapi mood istrinya.
Apa semua orang hamil begitu! mudah sensitif dan perasa. Salah ucap saja itu sangat berbahaya.
"Gemuk juga kan ada baby di sini. Tapi, di mata Abang, adek sangat seksi!"
"Gombal!"
"Serius adek, sayangku, cintaku, istriku, bidadari ku muahhh ..."
Jek mencium gemas pipi sang istri yang terlihat tembem.
Melati tersipu akan ucapan manis sang suami.
Jek bersorak dalam hati karena bisa mengembalikan mood sang istri lagi.
Perempuan memang sangat unik! kadang kala terlihat lemah padahal dia kuat. Kadang kala terlihat marah padahal dia memaafkan. Kadang kala terlihat benci padahal cinta. Dan, kadang kala tersenyum padahal dia hanya menutup luka.
Bagaimana di dunia ini tidak ada makhluk yang namanya perempuan. Pasti dunia ini akan sepi. Tak ada tempat bermanja, tak ada yang ngambek. Tak ada yang merajuk dan tak ada yang tersenyum melebihi indahnya dunia.
Dan tak ada keindahan di dunia ini kecuali seorang istri Sholehah.
"Sekarang tidur ya, ini udah malam. Adek harus banyak istirahat,"
"Peluk!"
Dengan senang hati Jek menarik sang istri ke dalam pelukannya. Jek bersyukur mempunyai istri seperti Melati. Baik, penyabar, penurut dan sangat menyayanginya. Tapi, jangan lupa satu hal. Jika sudah marah, jangan harap bisa lolos.
Marahnya orang pendiam memang menakutkan. Bahkan lebih takut dari pada singa. Betul apa betul???
Bersambung
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih.....
__ADS_1