Gadis Dingin

Gadis Dingin
79 Serius!


__ADS_3

Akhir-akhir ini Jek di sibukan oleh pekerjaan. Entah sengaja atau tidak sang papa membuatnya hari ini lelah. Tapi, Jek tak mengeluh sama sekali. Mengingat bagaimana perjuangan gadis cupu untuk membantu perekonomian keluarganya walau dalam keterbatasan membuat Jek seakan tertampar.


Akhir-akhir ini memang Jek selalu iseng memerhatikan apapun aktivitas Melati di waktu senggang. Entah kenapa, Melati mencuri perhatian Jek. Jek sadar atau tidak sadar sekarang dia seperti penguntit setia Melati. Bahkan Jek rela pulang malam demi mengikuti Melati pulang kerja selamat sampai rumahnya.


Jek harus segera menyelesaikan pekerjaan hari ini. Karena kedua orang tuanya meminta Jek pulang cepat. Bagaimana Jek bisa pulang cepat jika sang papa memberi beberapa pekerjaan lain.


Huh...


Akhirnya Jek bisa bernafas lega karena pekerjaannya selesai. Tapi Jek sedikit lesu karena tak bisa menguntit Melati karena Jek harus segera pulang.


Tepat jam Lima sore Jek sudah sampai rumah. Jek merasa aneh, melihat sang mama begitu banyak mempersiapkan makanan.


"Mah, tumben masak banyak banget. Ada acara apa?"


"Eh putra tampan mama sudah pulang, ini buat makan malam, nanti Queen ke sini!"


"Serius!"


"Masa mama bohong, mandi gih badan kamu bau acem,"


"Idih si mama ngeledek. Papa belum pulang mah?"


"Mungkin sebentar lagi, sana cepet mandi,"


"Iya.. iya ibu ratu!"


Jek langsung pergi kelantai atas dimana kamarnya berada. Murni tersenyum melihat tingkah adaknya.


"Ternyata kamu semakin dewasa Jek,"


Monolog Murni lalu melanjutkan kembali masak di bantu beberapa pelayan.


Tak lama, setelah kepergian Jek, Angga datang. Seperti biasa jika sang suami datang, Murni langsung menghentikan aktivitas nya. Murni memberi arahan pada dua pelayannya untuk melanjutkan, sedang Murni langsung menghampiri Angga.


"Bagaimana hari ini, apa pekerjaan di kantor melelahkan?"


"Tidak sayang, cuma tadi cukup sulit membujuk Queen kesini."


"Trus bagaimana?"


"Ya walau sulit Queen mau, tapi Queen gak mau menginap,"


Keluh Angga sambil melonggarkan dasinya.


"Ya sudah gak apa-apa yang penting Queen mau datang, jangan terlalu di paksa. Biarkan Queen merasakan nyaman dulu berada di dekat ayahnya, ah... "


Grep...


Angga menarik pinggang sang istri merapat ketubuhnya. Dan, sontak membuat Murni terkejut.


Angga menatap lekat sang istri, bagi Angga Murni adalah wanita tercantik di dunia. Tanpa apalah Angga, laki-laki pengecut dan tak peka.

__ADS_1


"Terimakasih sayang, kamu selalu ada untuk aku. Bersabar akan sikap kerasku. Terimakasih kamu masih mau tetep ada di sampingku walau aku tahu sudah banyak luka yang aku berikan untukmu,"


"Sama-sama mas, terimakasih juga karena mas sudah mau berubah untukku dan anak-anak. Aku mencintai kamu, tak ada alasan bagi aku pergi ketika hatiku sudah kau kunci,"


Angga dan Murni tersenyum dengan sorot mata yang saling menyelami satu sama lain. Kobaran cinta terpancar jelas dari keduanya walau mereka sudah tak lagi muda.


"Sekarang mas mandi ya, sebentar lagi tamu kita datang!"


"Ok, "


Murni langsung menyiapkan baju ganti untuk sang suami dan menyimpannya di atas ranjang.


Tak lama Angga keluar lalu memakai pakaian yang sudah istrinya siapkan.


Murni tersenyum ketika semua hidangan sudah tersaji di meja makan. lalu Murni kembali ke kamar. Di lihatlah Angga sedang bersantai di atas tidur. Kini giliran Murni yang mandi.


Malam tiba, Murni dan Angga sudah menunggu di ruang tamu. Tak lama Jek menuruni anak tangga dan bergabung dengan orang tuanya.


"Mama dan papa kelihatan antusias banget, emang Queen jadi datang?"


"Jadilah, mungkin sebentar lagi mereka datang!"


Jek menautkan alisnya 'Mereka' kata yang menggambarkan lebih dari satu orang. Jek curiga sebenarnya siapa yang papa dan mama nya undang makan malam. Gak mungkinkan harus dengan Farhan.


Tid..


Murni tersenyum mendengar suara mobil tiba. Begitupun Angga sedang Jek masih saja sibuk dengan pikirannya sendiri.


Queen keluar dari mobil dengan wajah nampak cerah. Walau sebenarnya Queen sedikit risih jika harus memakai Dress. Tapi, demi sang ayah, Queen melakukannya apalagi Queen tak mau mengecewakan sang ayah.


Queen di sambut begitu hangat oleh Murni dan Angga bahkan Angga memberikan kecupan sayang di puncak kepala Queen.


Sedang Jek diam mematung di ambang pintu dengan mulut menganga. Menatap tak percaya. Bahkan mata Jek terus berkedip-kedip seakan apa yang dia lihat ini hanya hayalan.


"Nak, terimakasih sudah mau datang!"


Ucap Murni lembut pada seorang gadis yang berada di samping Queen. Ya, Queen tidak sendiri melainkan membawa seseorang yang sudah membuat kesadaran Jek menghilang. Bahkan Queen sampai bergidik melihat reaksi kakaknya yang tak berkedip menatap temannya.


"Tutup tuh mulut ilernya ke luar!"


Celetuk Queen sambil menyenggol lengan sang kakak.


Ha.. ha...


Murni dan Angga menertawakan tingkah Jek yang memerah. Sedang seseorang yang sendari tadi Murni rangkul hanya menunduk dalam.


Merekapun makan dengan khidmah. Jek sesekali mencuri pandang pada gadis yang duduk di sebelah Queen. Queen masa bodo dengan apa yang Jek lakukan pada temannya. Sedang Angga hanya tersenyum miring melihat kelakuan anaknya.


"Nama kamu siapa, Nak?"


"Melati tante,"

__ADS_1


Cicit Melati menunduk. Melati sungguh merasa tak nyaman dari tadi di tatap mulu oleh Jek. Sesudah makan memang mereka langsung menuju ruang tamu agar mengobrolnya bisa santai.


"Nama yang cantik seperti orangnya,"


"Tante juga Cantik ko,"


Sungguh, Melati tak tahu harus bersikap bagimana. Di hadapkan dengan orang kaya membuat Melati merasa kecil. Melati juga sungguh tak tahu apapun. Tiba-tiba datang Queen dengan Murni meminta dia datang kerumahnya.. Awalnya Melati menolak, karena tak tega melihat tante Murni memohon membuat Melati mengiyakannya.


"Jek, apa kamu menyukai Melati?"


"Hah!"


Jek gelagapan mendapat pertanyaan seperti itu dari sang papa. Begitupun Melati sangat terkejut, bahkan Melati sampai meremas dressnya karena gugup.


Queen hanya diam saja dengan wajah datarnya. Karena memang sebelumnya Queen sudah di beri tahu.


"Kenapa pah, kok nanya seperti itu!"


"Jawab saja, suka atau tidak sama Melati!"


Jek terdiam, sambil menatap Melati yang menunduk. Jek memang tidak tahu apa dia menyukai Melati atau tidak. Yang Jek tahu, dia hanya salut pada kegigihan Melati dalam bekerja.


" Aku tak tahu pah, emang ada apa. Kenapa tiba-tiba nanya seperti itu!"


"Papa ingin kamu segera menikah, cari pilihan kamu atau setuju akan pilihan papa,"


"Apa-apa ini! papa jangan gila, emang siapa pilihan papa?"


"Melati!"


Jek terperangah menatap tak percaya pada sang mama. Yang dengan entengnya bicara. Jadi ini alasan Melati datang kerumah, karena permintaan kedua orang tua Jek.


Bagaimana dengan Melati!


Jangan ditanya, Melati sungguh diam sambil menahan nafas mendengar orang kaya ini ucapkan. Apa gak salah mau menikahkan dirinya tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Tante, Om. Maaf, saya pikir saya di undang ke sini karena mau makan malam saja. Tapi, kenapa malah seperti ini. Saya tidak mencintai anak om dan tante dan saya juga tidak pantas jika harus bersanding dengan putra om dan tante,"


Melati memberanikan diri angkat bicara, kenapa orang kaya selalu semaunya saja tanpa bertanya terlebih dahulu.


Entah kenapa ada rasa nyeri di hati Jek mendengar Melati tak menyukainya.


"Siapa bilang kamu gak pantas bersanding dengan putra tante, kamu lebih dari pantas. Bahkan mungkin putra tante yang bodoh jika harus tak menyukaimu,"


"Tap..."


"Aku setuju! aku mau menikah dengan Melati!"


"Hah!!"


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Hadiah dan Vote...


__ADS_2