
Acara ulang tahun ke dua Alam menjadi batal ketika mereka mendapat kabar bahwa Queen dan Aielin berada di rumah sakit.
Rasa cemas menggerogoti mama Dinda dan mama Adelia. Bagaimana tidak cemas, putrinya yang sendari tadi di tunggu kedatangannya ternyata sedang berada di rumah sakit.
Semua keluarga langsung bergegas menuju rumah sakit. Entah apa yang terjadi, kenapa putrinya bisa masuk rumah sakit.
Di dalam ruang VIP begitu hening, semuanya nampak diam menunggu penjelasan Queen.
Queen memang beberapa menit sebelum kedatangan keluarganya sudah sadar dari pingsannya. Queen tak tahu, harus memulai dari mana untuk menceritakan kejadian itu.
Bahkan dari tadi Farhan hanya diam saja, entah apa yang ada di dalam pikiran Farhan. Queen melihat suaminya diam, menyimpulkan bahwa suaminya sedang marah karena menyembunyikan kebenaran ini.
"Om Lukman yang selama ini ada di sekitar kita, sebenarnya dia bukan om Lukman melainkan Sam,"
Semua orang nampak terkejut begitupun dengan mama Adelia. Bahkan mama Adelia rasanya tak bisa bernafas.
"Waktu kejadian sebelum ledakan itu terjadi, om Gerry menemukan mama di sana. Dan di saat itu pula Riko menemukan seseorang yang mirip dengan om Lukman. Keadaannya begitu mengenaskan bahkan satu kakinya patah. Riko sempat bingung, apa lagi waktu itu om Lukman sudah ada bersama kita. Riko membawa orang itu ke markas untuk segera di tangani."
"Maaf jika Queen menyembunyikan ini semua. Tapi, ini adalah jalan satu-satunya untuk bisa menjerat Sam. Waktu itu Queen ingin memberi tahu Biru tapi om Gerry melarang. Dengan kondisi mama Adelia yang membutuhkan pemulihan, karena om Gerry tahu bagaimana kelicikan Sam. Apalagi om Lukman yang asli keadaannya sangat kritis."
"Ya Allah sayang, tapi ini sangat membahayakan kamu,"
Lilir mama Dinda memegang tangan Queen.
"Maafkan Queen mah, semuanya. Apalagi waktu itu emosi Biru tidak terkontrol. Queen hanya takut Biru tak bisa mengontrol emosinya,"
"Jika Sam bermain licik maka Queen bermain cerdik. Semakin sedikit yang tahu, maka semakin besar Sam percaya bahwa tak ada yang mencurigai dia. Kenapa Queen melakukan ini semua karena ini,"
Queen memperlihatkan beberapa berkas penting yang sudah di palsukan selama ini oleh Sam.
Ya, Queen meretas keamanan Sam selama ini. Queen menemukan beberapa berkas yang di palsukan. Tujuan Sam hanya satu, ketika Farhan lengah oleh banyak nya pekerjaan maka Sam akan menyelipkan sebuah berkas yang membutuhkan stempel yang ada di liontin yang Queen pakai.
Dan data perusahaan yang asli ada pada berkas yang Sam bawa.
Farhan terdiam, entah reaksi apa yang Farhan tunjukan. Semuanya di luar dugaan. Ternyata sang istri selama ini melindungi dan memantau pergerakan dirinya.
Rasa marah, kecewa, kesal bahagia menjadi satu membuat Farhan sulit untuk mengungkapkannya.
Begitupun mama Adelia shok melihat bukti-bukti yang ada. Tumpukan berkas dan sebuah rekaman kejahatan Sam selama ini.
"Terus sekarang dimana om Lukman?"
Lilir mama Adelia bergetar, jika Lukman masih ada apa kemungkinan suaminya masih hidup!
"Om Lukman di bawa ke Jerman untuk di tangani dalam perlindungan Uncle Smith. Karena Sam tahu, om Lukman selamat dari ledakan itu. Untuk itu, selama ini om Lukman juga jadi buruan Sam. Karena Sam takut suatu saat nanti identitas nya terbongkar."
Akhhh...
"Sayang kamu kenapa!"
Farhan begitu panik mendengar suara kesakitan sang istri.
__ADS_1
Queen langsung memegang tangan sang suami yang memeriksa perutnya.
"Bee, apa kamu marah dengan apa yang aku lakukan. Kenapa diam?"
Farhan menghela nafas berat, ternyata istrinya pura-pura kesakitan. Padahal Farhan sudah terkejut takut terjadi apa-apa pada anaknya.
Ya, Farhan memang belum memberi tahu pada semuanya termasuk istrinya sendiri kalau Queen sedang hamil. Karena Farhan ingin mendengar dulu penjelasan sang istri, kenapa menyembunyikan kebenaran ini.
"Tidak!"
"Terus kenapa diam dari tadi!"
"Siapa yang menyamar jadi mama?"
Bukannya menjawab Farhan malah balik bertanya. Kini Queen menyimpulkan kalau suaminya marah atas tindakannya.
"Aielin,"
Huh...
Sudah Farhan duga ternyata benar itu adalah Aielin. Pantas saja Riko begitu khawatir terhadap mama Adelia palsu ternyata memang Aielin.
"Aielin! maksudnya apa, kenapa Aielin di bawa-bawa?"
"Aielin ikut dalam rencana ini mah,"
Mama Adelia sungguh harus berkata apa, semuanya di luar dugaan.
"Aielin tertembak gara-gara menyelamatkan aku,"
"Apa!! "
Entah reaksi apa lagi yang harus mama Adelia tunjukan. Sungguh ini masalah serius tapi menantunya seperti sudah biasa menghadapi situasi seperti ini. Begitupun dengan keluarga yang lain. Mendengarnya saja mereka seakan jantungan tapi Queen seolah biasa-biasa saja. Luka seperti itu seolah hal biasa dia lakukan. Bahkan Mama Dinda, mama Adelia, Angga dan Murni begitupun Jek dan Melati hanya bisa membuang nafas karena terasa sesak mendengarnya.
Sedangkan Fandi bereaksi biasa saja, walau Fandi juga sedikit terkejut mengetahui fakta ini. Fandi memang tahu, kemana Farhan pergi tapi tidak tahu masalah penyerangan ini. Jika saja Queen tak bisa bela diri, mungkin Queen tinggal nama saja.
Tapi, sungguh Queen menunjukan bahwa dia mampu dan tak lemah. Bahkan mereka juga shok mengetahui bahwa Queen bisa meretas data-data kebohongan dan kekejaman Sam yang Farhan juga sulit menembusnya.
"Aduh.. "
"Sayang kamu kenapa?"
Kini mama Dinda yang bertanya, membuat Farhan yang tadi melamun langsung siaga.
"Queen tak tahu mah, tadi mendapat tendangan cukur keras. Tapi kenapa sakitnya terasa di lilit."
Ucap Queen polos, lagi-lagi membuat semua yang ada di ruangan itu menahan nafas. Antara kesal, marah dan ingin tertawa melihat kekonyolan Queen.
Tapi tidak dengan Farhan, Farhan malah mengepalkan tangannya kuat. Mendengar rintihan sang istri membuat darah Farhan mendidih. Farhan bersumpah akan menghabisi Sam. Karena sudah hampir membuat calon anaknya pergi.
"Aisstt ... kenapa dengan perutku!"
__ADS_1
"Sayang, kamu diam. Jangan banyak bergerak!"
Ucap Farhan sedikit meninggi karena merasa jantungan ketika sang istri mengeluh sakit.
"Kamu mau kemana, tetap di sini."
"Bee, aku mau lihat keadaan Aielin!"
"Tidak! aku bilang tidak!"
Semua orang sekarang nampak heran dengan sepasang suami istri ini. Entah kenapa Queen merasa sakit ketika Farhan membentaknya. Bahkan matanya melotot pada dirinya. Mata Queen mulai berkaca-kaca, baru kali ini Farhan membentaknya.
Semua orang di buat heran lagi, dengan perubahan sikap Queen yang malah meneteskan air mata.
"Bee membentak Rora.."
Farhan menjadi gelagapan melihat sang istri menangis. Jika Queen sudah menyebut namanya Rora berarti Queen dalam mode merajuk.
"Sa..sayang, bee tidak membentak ta.."
"Tapi matanya melotot!"
"Ti..tidak sayang, bee hanya taku..."
"Rora hanya mau ketemu Ai!"
"Jangan sekarang!"
"Bee!"
"Sayang jangan banyak gerak, ada janin di dalam perut kamu!"
Deg...
Dunia seakan berhenti berputar, semua orang yang ada di dalam Sanah membelalakkan kedua matanya. Sedang Queen sendiri terdiam dengan posisi yang ingin beranjak, Nafas Queen tercekat. Queen perlahan menatap suaminya lalu melihat perutnya.
"Ja..janin!"
"Ya, ada janin di sini!"
"Sayang bukan sekedar sakit akibat tendangan bajingan itu. Tapi, sayang tadi mengalami pendarahan. Jadi bee mohon jangan banyak bergerak dulu!"
"Ini mimpi!"
"Bukan!"
"Akhhhh ...."
Bersambung
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih....
__ADS_1