Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 110 Aku lebih dari itu!


__ADS_3

"Emmmz.."


Erangan kecil terdengar di bibir gadis yang entah sudah berapa jam dia tidur akibat pengaruh obat.


Perlahan kedua matanya terbuka, putih! itulah pertama kali ia lihat.


Gadis itu samar-samar mendengar suara isakan. Lalu matanya melihat kearah samping. Ia sudah di kelilingi banyak orang orang. Matanya terpaku pada sosok yang menangis.


"Mom,"


"Anak nakal, apa yang adek lakukan hah. Adek mau meninggalkan mom!"


"Mom, maaf!"


Mommy Aielin mendekat memeluk sang putri lalu mencium seluruh wajahnya. Sampai air mata mommy Aielin terjatuh di pipi Aielin.


Mommy Aielin begitu sok mendengar kabar kalau sang putri tertembak dalam penyerangan Sam. Awalnya mommy Aielin bingung. Bukankah Sam sudah membusuk di penjara sekarang kenapa masih ada Sam lagi.


Mendengar cerita dari uncle Smith mommy Aielin jadi faham. Tapi, rasa cemas seorang ibu tetap saja. Jika saja terjadi sesuatu pada putrinya orang pertama yang mommy Aielin salahkan adalah suaminya sendiri. Karena uncle Smith yang mengizinkan Aielin masuk kedalam rencana ini.


Awalnya uncle Smith juga tak mengizinkan karena berbahaya. Tapi, Aielin memaksa, di akan baik-baik saja. Apalagi waktu itu posisinya memang sangat genting karena Sam ternyata bergerak cepat. Memanfaatkan kepergian Farhan dan Daniel dari kantor.


Padahal Sam tak tahu kalau Queen mengetahui rencananya. Maka dari itu Queen menjebak orang yang membuat jebakan. Hingga dia terjebak sendiri.


Queen juga tak habis pikir, bagaimana bisa ada orang yang begitu gila akan harta dan ingin menguasainya. Sampai rela menyingkirkan orang-orang yang menurut Sam menghalanginya.


Begitupun apa yang di pikirkan uncle Smith . Uncle Smith pikir, masalah kakaknya sudah usai, tapi nyatanya masih berlanjut.


"Jangan lakukan hal yang membuat mom khawatir dek?"


"Gak janji mom,"


"Ya Tuhan anak ini. Entah harus di apakan,"


Kesal mommy Aielin, dia sudah sangat takut,. marah,. sedih tapi anaknya masih bisa bercanda di saat seperti ini. Aielin memang seperti itu. Apapun sakit yang dia rasakan, tingkah menyebalkan nya tak pernah hilang.


Membuat semua orang terkekeh di balik haru yang menyelimuti mereka.


Jika seperti ini, mereka jadi ingat Aielin dan Queen kecil. Gadis ini sebelas dua belas kelakuannya. Walau Queen kecil manja dan Aielin bar-bar. Tapi, kekonyolannya begitu kompak.


Mama Adelia, keluarga Prayoga dan keluarga Mangku Alam ada di sana. Sesudah menjenguk Queen mereka semua menjenguk Aielin yang ternyata ada di rumah sakit yang sama dengan Alexa. Sedang Jek dan Melati pulang terlebih dahulu karena Jek tak mau membuat sang istri kecapean. Apalagi Melati saat ini memang sedang hamil juga.


"Bagaimana keadaan Queen, apa dia baik-baik saja?"


"Queen baik-baik saja, dan ada kabar gembira. Ternyata Queen sedang hamil."


Semua yang ada di ruangan Aielin bahagia akan kabar itu. Terkecuali mama Adelia yang terlihat banyak diam. Seperti banyak pikiran, entah apa yang di pikirkan mama Adelia.


Di Ruang Queen...

__ADS_1


Queen masih belum percaya bahwa di dalam perutnya sudah ada buah cinta dia dan sang suami. Ada rasa sedih dan bahagia secara bersamaan.


Bahagia karena dia sebentar lagi akan punya anak. Sedih karena Queen hampir saja membahayakan calon anaknya. Jika saja dia keguguran Queen yakin Queen tak akan memaafkan dirinya sendiri. Dan, pasti Farhan akan sangat marah besar padanya.


"Sayang bee mohon, jangan lakukan hal ini lagi. Bee tahu, kalian melakukan ini semua demi bee dan keluarga kita supaya jauh dari kelicikan Sam. Tapi, Bee tak mau sampai kamu tersakiti."


"Iya bee, Rora janji gak akan melakukan hal ini lagi. Tapi kalau ke Pepet gak apa ya,"


Queen terkekeh melihat suaminya langsung melotot padanya. Di mata Queen, ekspresi sang suami sangat menggemaskan.


"Apa bee bahagia?"


"Pertanyaan macam apa itu! yang jelas bee bahagia. Sebentar lagi bee akan menjadi papa dan sayang akan menjadi Bunda!"


Queen menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.


Sesudah kepergian keluarga Queen memang baru di periksa dan harus banyak istirahat dan jangan banyak gerak apalagi melakukan hal berat-berat.


Queen menyuruh Farhan untuk naik ke ranjangnya. Pantas saja akhir-akhir ini Queen begitu agresif ternyata dia hamil.


Ternyata orang ngidam memang selalu beda-beda. Dan, orang hamil manusia paling ajaib di dunia ini.


"Bee?"


"Hm,"


"Apa bee sudah mendapat jawaban dari bang Jon?"


"Maaf, waktunya tak tepat. Apalagi Roda takut Sam akan curiga jika bee sudah tahu kebenaran ini!"


"Lalu apa bee sudah memberi tahu mama?"


"Belum sayang, bee terlalu takut membuat mama terluka!"


"Rora yakin mama wanita hebat, dia pasti menerima kebenaran ini. Rora hanya tak mau mama terus seperti ini. Itu akan menggangu kesehatan mentalnya,"


"Iya, bee akan coba pelan-pelan memberi tahu mama!"


Lilir Farhan mempererat pelukannya. Sebagai anak, Farhan juga begitu sedih. Tapi, Farhan tak mau terlihat lemah di mata sang mama. Kebenaran ini begitu menyakitkan dan menyesakan.


"Menangis lah jika bee ingin menangis.."


Queen mengelus dada sang suami, Queen bisa merasakan tubuh sang suami bergetar. Apalagi Queen merasakan rambutnya basah.


Perlahan Queen mendongka berusaha sedikit bangun. Queen menangkup pipi sang suami lalu menghapus air mata sang suami dengan ibu jarinya.


Cup...


Queen mencium bibir sang suami. Berharap ini bisa mengalihkan rasa sedih sang suami.

__ADS_1


Kehilangan memang hal yang begitu menyakitkan. Siapapun pasti pernah merasakannya. Dan, sehebat-hebatnya dia yang bisa menyembunyikan kesedihannya.


Queen tahu, sang suami mencoba baik-baik saja dengan kepahitan ini.


"Apa sekarang lebih tenang?"


Farhan tidak menjawab ucapan sang istri, dia bangun lalu mengelus perut Queen dengan lembut. Sesekali Farhan mengecupnya.


Farhan kembali membaringkan tubuhnya lalu memeluk sang istri. Entah siapa di sini yang sakit. Suami istri ini terlihat saling memberi ketenangan dan mencari kenyamanan satu sama lain.


Sedangkan di Ruang rawat Alexa, Alexa hanya diam tak mau bicara sama sekali pada Daniel.


Sendari tadi Daniel bicara tapi Alexa tak menyahutinya.


Entah cara apa lagi yang harus Daniel lakukan untuk membujuk Alexa agar memaafkannya.


"Aku minta maaf!"


"Apa sesusah itu untuk pamit!"


Mata Alexa berkaca-kaca, Alexa benci pada dirinya sendiri. Kenapa dia bisa selemah ini. Kepergian Daniel hal yang sangat menyakitkan.


"Aku janji tak akan mengulanginya lagi, tolong lihat aku?"


Alexa perlahan membalikan badannya menghadap Daniel.


"Maafkan aku ya?"


"Hm,"


"Uncle bilang, kamu belum makan dari pagi. Sekarang makan ya aku suapin, aaaa .... "


Alexa perlahan membuka mulutnya menerima suapan dari Daniel. Rasa lelah tak Daniel hiraukan. Bagi Daniel yang penting Alexa mau makan dan tidak marah lagi padanya.


"Kenapa?"


Tanya Daniel ketika Alexa menahan tangannya. Dan, malah mengalihkan pada mulut dirinya.


"Aku tahu kamu lelah, tapi bisakah jangan pergi tanpa pamit. Sampai kamu belum makan juga!"


Alexa tahu, Daniel pasti belum makan. Alexa faham betul bagaimana Daniel.


"Kamu makan juga, tak ada penolakan!"


Daniel mengangguk saja dari pada mood Alexa kembali berubah. Hingga mereka berdua menjadi suap-suapan.


"Aku mencintai mu,"


"Aku lebih dari itu!"

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih....


__ADS_2