
Dinda terus melamun akhir-akhir ini memikirkan tentang permintaan Queen. Bahkan Dinda selalu mengurung dirinya di kamar ketika Queen sudah berangkat ke kampus.
Permintaan Queen sungguh membuat Dinda berpikir keras.
Bi Sumi yang melihat majikannya akhir-akhir ini melamun dan banyak diam tak bisa berbuat apa-apa. Karena bi Sumi sempat mendengar obrolan malam itu di mana Queen meminta seorang adik.
Bahkan Dinda sekarang jarang menyiram tanaman. Dinda akan terlihat keluar kamar jika Queen pulang kampus, sebisa mungkin Dinda akan bersikap biasa saja. Dinda tak mau membuat sang putri sedih jika melihat dirinya terus mengurung diri.
Permintaan sang putri membuat Dinda benar-benar dilema. Bagaimana kalau ucapan Qeen benar, dia tak mau menikah jika dirinya tak memberikan adik.
Dinda tahu, Queen anak keras kepala sama seperti ayahnya. Jika sudah begitu apa yang harus Dinda lakukan.
Dinda menatap nanar pil Kb yang memang sengaja dia konsumsi atas kesepakan bersama sang suami. Pikirannya bingbang antara mengabulkan permintaan Queen atau tidak.
"Sayang..,"
Dinda terlonjat kaget ketika sebuah kecupan mendarat di pipinya. Fandi duduk di samping sang istri dengan wajah lelahnya. Jam sepuluh malam Fandi baru pulang karena ada sedikit masalah di kantor.
"Mas, maaf aku tak menyambutmu pulang! "
Sesal Dinda, karena terlalu lama melamun memikirkan permintaan Queen. Fandi hanya tersenyum di balik wajah lelahnya. Fandi tahu sang istri akhir-akhir ini sering melamun dan tak pokus karena memikirkan akan permintaan Queen beberapa hari lalu.
"Sudah makan? "
"Belum!"
"Mau makan atau mandi dulu? "
"Mandi dulu!"
"Ya sudah, Dinda siapkan air hangatnya dulu."
Dinda langsung beranjak menuju kamar mandi menyiapkan air hangat untuk sang suami. Sudah selesai, Dinda keluar dan menyuruh Fandi masuk. Sudah Fandi masuk kedalam kamar mandi Dinda langsung menyiapkan baju tidur dan menaruhnya di atas ranjang.
Dinda keluar kamar menuju lantai atas memastikan kalau sang putri sudah tidur.
Cup...
"Mimpi indah sayang,"
Sudah memberi kecupan selamat tidur Dinda langsung kebawah lagi guna menyipkan makan untuk sang suami. Rutinitas Dinda sekarang memang seperti itu, jika dulu Dinda malam masih sibuk dengan tumpukan berkas maka kali ini Dinda akan mengecek apakah Queen sudah tidur atau belum. Lalu Dinda akan meninggalkan sebuah kecupan selamat tidur dan mematikan lampu kamar sang putri.
__ADS_1
"Makan dulu, Mas."
"Kenapa di bawa ke kamar sayang, gak di meja makan saja.".
"Kelihatannya mas leleh, jadi Dinda bawa ke sini saja. Jadi kalau udah selesai mas bisa langsung tidur, Ayo makan. "
Fandi tak bicara lagi langsung duduk dan makan, makanan yang sang istri siapkan. Jika awalnya Fandi makan sendiri tapi sekarang makan berdua. Karena Fandi memaksa Dinda untuk makan juga. Kini suami istri itu saling menyuapi satu sama lain hingga habis tanpa sisa.
Grep...
"Mas.., "
Pekik Dinda terkejut ketika Fandi menarik tangannya membuat Dinda terhuyung langsung duduk di pangkuan Fandi. Jika saja Dinda tak erat memegang piring, maka piring bekas makan tadi akan jatuh.
Fandi menyelipkan rambut sang istri ke belakang telinganya dengan satu tangan memeluk pinggang sang istri.
"Permintaan Queen jangan terlalu di pikirkan, akhir-akhir ini kamu banyak melamun. Biar nanti Mas bicara sama Queen. Mas yakin Queen waktu itu hanya bercanda, "
Dinda terdiam entah harus berkata apa, Fandi sendari dulu selalu mengerti dan bisa menenangkan pikirannya. Tapi, kali ini ucapan Queen seakan serius karena Dinda tahu ini adalah permintaan pertama Queen. Selama ini Queen tak meminta apapun darinya.
"Mas tak mau karena masalah ini kamu jadi sakit. Mas yakin Queen mengerti posisi kita,"
Ucap Fandi lagi karena sang istri malah diam. Fandi memang sangat lelah karena hari ini banyak pekerjaan. Tapi, Fandi tidak akan membiarkan sang istri bersedih karena permintaan Queen yang menginginkan seorang adik.
"Mas.., "
Fandi begitu tampan dan gagah di usianya yang matang. Perhatian dan cintanya sendari dulu tak pernah luntur. Kenapa Dinda dulu sempat berpaling hati pada ayah dari anaknya.
Dinda tak menyangka cinta Fandi sebegitu besar untuknya hingga lera menunggu dirinya belasan tahun. Dan, kini Fandi sudah menjadi suaminya.
Beruntungkah Dinda!
Iya, Dinda sangat beruntung mendapatkan sosok laki-laki seperti Fandi. Yang mencintainya setulus hati bahkan menyayangi Queen seperti anaknya sendiri. Bahkan Fandi berhasil memenangkan hati Queen dari pada dirinya.
Kedekatan Queen dengan Fandi tak seterbuka Queen bersama Dinda. Walau dengan mamanya sendiri Queen seakan masih ada benteng.
Bukan Queen tak terbuka melainkan keadaan yang membuat Queen seakan enggan untuk terbuka dengan sang mama. Baru akhir-akhir ini Queen bersikap manja dan merajuk padanya.
Dinda tak mau mengecewakan sang putri, jika seorang adik membuat Queen bahagia maka boleh buat.
Jika Queen memikirkan tentang Dinda, kenapa Dinda tak bisa mengabulkan hal sederhana sang putri.
__ADS_1
"Dinda sudah putuskan!"
"Keputusan apa?"
Bukannya menjawab Dinda turun dari pangkuan sang suami. Lalu mengambil beberapa lembar Pil KB, Dinda membuang pil itu ke tong sampah.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu? "
Tanya Fandi memastikan ketika Dinda kembali duduk di pangkuan Fandi.
Dinda membingkai wajah Fandi dengan kedua tangannya. Rasanya Dinda terlalu jahat jika tak mau seorang anak dari Fandi.
Berhari-hari Dinda berpikir maka sekarang Dinda sudah memutuskannya. Dinda memutuskannya bukan semata-mata karena permintaan sang putri tapi karena Fandi, sang suami. Fandi berhak mendapatkan kebahagiaan dan Dinda akan memberikan itu.
"Ya, aku yakin dengan keputusanku. Tapi, mas harus tahu, Dinda melakukan ini bukan karena semata-mata permintaan Queen. Akan tetapi, karena Mas. Mas berhak bahagia, sudah seharusnya Dinda memikirkan perasaan mas. Maaf jika selama ini Dinda egois, tak mau punya anak karena ingin pokus pada Queen tapi Dinda lupa ada hati mas yang teraakiti akan keegoisan Dinda. Walau Dinda tahu, apakah kita akan berhasil atau tidak di usiaku yang menginjak tiga puluh sembilan tahun. Walau kata dokter, perkiraan masih bisa."
Entah harus sedih atau bahagia mendengar ucapan sang istri.
Sedih karena di usia yang sudah kepala tiga Fandi baru bisa memperoses. Senang karena Dinda memikirkan perasaannya yang artinya hati Dinda mulai kembali pada pemiliknya.
Tanpa Fandi sadari dirinya menetesakan air mata dan itu membuat Dinda terenyuh.
"Apa mas begitu mencintai ku? "
"Sangat sayang,"
Cup..
Entah siapa yang memulai nyatanya bibir sepasang suami istri itu saling bertautan. Meluapkan segara rasa yang ada oleh ciuman panas yang menuntut lebih.
"Apa kita akan memprosesnya malam ini?"
Bluss...
Pipi Dinda memerah bak anak ABG yang baru merasakan jatuh cinta. Dan, itu membuat Fandi gemas.
"Bagaimana? "
"Lakukanlah..,"
Skip...
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like dan Vote..