
Rindu! satu kata yang terkadang membuat seseorang tersiksa. Terbelenggu dengan rindu itu sangat menyakitkan. Terkurung dalam ruang kedap suara yang bernama Rindu. Menanti titik temu yang tak kunjung datang.
Tak cukup hanya sekedar kabar atau Vidio call. Namun, nyatanya itu tak sedikitpun mengobati rindu.
Rindu hanya akan sembuh dengan temu, entah kapan itu waktunya.
Hari-hari Queen telah lewati, menahan rindu yang menggebu.
Ini sudah satu bulan semenjak kepergian sang suami. Namun, masih belum ada tanda-tanda sang suami akan pulang. Bahkan akhir-akhir ini mereka jarang melakukan Vidio call. Hanya sebatas pesan dan itupun selalu berselisih.
Queen mengirim pesan dan selalu di jawab beberapa jam kemudian. Begitupun sebaliknya.
Rasanya hati Queen mulai gelisah, walau sang suami selalu memberi kabar dan meminta maaf akan kurang komunikasi karena pekerjaan yang begitu rumit.
Queen sudah berusaha melacak keberadaan sang suami dan meretas sistem keamanan di sana. Tapi, entah kenapa kali ini Queen cukup sulit untuk masuk seperti ada jaringan yang selalu mem blok nya otomatis.
Tapi semua itu tak membuat Queen menyerah. Queen juga meminta Riko membantunya. Tapi, hanya data biasa saja yang dapat Queen akses. Terlihat seperti tidak ada data-data mencurigakan. Seolah perusahaan di sana tidak terjadi apa-apa.
Walau Queen menangkap satu data dari bagian keuangan yang begitu sangat kacau dan nama-nama yang terlibat di dalamnya. Tapi ini tak membuat Queen puas. Queen yakin, ada sesuatu yang lebih besar lagi yang sedang suaminya hadapi.
Queen ingin menyusul, tapi resikonya sangat besar dan kemungkinan suaminya juga akan marah pada dirinya.
Apalagi usia kandungan Queen sudah memasuki bulannya. Bahkan dari HMl di perkirakan Queen akan melahirkan awal bulan atau pertengahan bulan Desember.
Rasa cemas membuat Queen sulit berpikir jernih. Dia mau melahirkan tapi suaminya masih belum bisa kembali.
Setiap istri pasti menginginkan suaminya mendampingi dirinya. Berjuang bersama melahirkan buah cinta mereka.
Walau Minggu kemarin Jek dan Melati berserta keponakannya berkunjung ke rumah. Begitupun dengan kedua orang tuanya yang tiga hari sekali selalu menengok dirinya. Tapi tak membuat Queen merasa cukup. Yang Queen inginkan suaminya cepat pulang.
Menjelang mau melahirkan, bukannya semangat Queen malah nampak cemas.
"Akhh .."
Queen meringis tertahan akan tendangan baby nya. Setiap kali Queen cemas memikirkan sang suami maka anaknya akan menendang ringan atau keras.
"Nak, kamu gak mau bunda cemas ya. Maafkan bunda ya, bunda hanya sedang rindu pada papa kamu. Apa kamu juga rindu pada papa,"
Lilir Queen mengigit bibirnya, karena masih merasa sakit akan tendangan kecil dari anaknya. Walau sekarang tendangannya tidak sekeras tadi tetap saja Queen meringis karena terkejut.
"Maafkan bunda ya,"
Jika Queen merasa tenang maka tendangan dari anaknya juga melemah. Seakan anaknya memang tak mau bundanya sedih.
Tok ... tok ...
Ketukan pintu membuat Queen terkejut. Buru-buru Queen menghapus air matanya takut yang mengetuk pintu mama Adelia.
"Nak, kamu sudah bangun!"
Dan benar saja, yang mengetuk pintu mama Adelia.
Cklek ...
Mama Adelia membuka pintu karena tak ada sahutan dari menantunya.
__ADS_1
"Nak .."
"Eh mama,"
Queen pura-pura terkejut akan kehadiran mama Adelia.
Mama Adelia tersenyum melihat menantunya nyatanya baru habis dari kamar mandi.
"Mama kira belum bangun, nyatanya sudah."
"Tadi kebelet pipis mah, jadi ke bangun he .. he .."
Queen memang paling jago menyembunyikan perasaannya.
"Ya sudah, ayo kita sarapan?"
Queen mengikuti langkah kaki mama Adelia menuju meja makan. Seperti biasa Queen akan bersikap antusias melihat menu sarapan yang tersaji.
"Malam ini jadi gak nginap di rumah mama Dinda?"
Tanya mama Adelia saat mereka sudah bersantai di ruang keluarga.
"Jadi mah, mama ikut juga kan?"
Entah kenapa Queen ingin menginap di rumah sang mama. Queen ingin tidur di pelukan sang mama.
"Kayanya mama gak ikut deh sayang, Alexa katanya mau nginap di sini. Karena Daniel mau pergi ke luar kota,"
"Gak apa mah, Alexa pasti kesepian juga di tinggal sendiri di rumah. Lebih baik di sini sama mama,"
"Terimakasih mah, tapi kayanya Queen sendiri deh. Katanya Daddy sih yang jemput,"
"Ya sudah kalau begitu, mama berangkat sekarang takut nanti macet,"
"Hati-hati mah,"
"Ok sayang,"
Mama Adelia langsung pergi di antar mang Danang.
Queen emang sempat kesal karena yang kembali adalah Daniel kenapa bukan suaminya. Padahal bisa juga Daniel yang menghandle pekerjaan di Jerman.
Bahkan ketika Daniel sampai dan memberikan sesuatu dari titipan sang suami tidak membuat Queen senang. Karena yang Queen inginkan hanya suaminya bukan hadiahnya.
Karena tak mau larut dalam kekesalan yang pasti akan membuat perutnya kontraksi. Queen memilih beranjak menuju kamarnya.
Bi Marni yang melihat nona nya hanya bisa mendoakan yang terbaik. Semoga Farhan cepat kembali.
Karena Fandi yang akan menjemput nanti siang. Queen memilih duduk malas sambil membaca artikel seputar melahirkan. Apa saja yang harus di lakukan agar persalinannya lancar.
Ya, Queen memang memilik ingin lahiran normal. Queen hanya ingin merasakan nikmatnya sebuah pengorbanan. Di mana dirinya akan melahirkan seorang malaikat kecil.
Queen ingin merasa dan memahami bagaimana berjuang ya mama Dinda ketika melahirkan dirinya.
Ekspresi Queen berubah-ubah membaca lembar demi lembar penjelasan di sana.
__ADS_1
Ting ...
Queen melirik ponselnya yang mengeluarkan bunyi notifikasi pesan masuk.
"Daddy sudah sampai!"
Queen langsung beranjak sesudah membaca pesan tersebut.
Dan benar saja, Fandi tersenyum melihat putrinya menghampiri dirinya.
"Sudah siap tuan putri?"
"Bentar dad, Queen ambil tas dulu."
"He'em,"
Queen langsung mengambil tasnya, Queen tak perlu membawa baju ganti karena di rumahnya masih terdapat baju-baju dirinya.
Hanya kurang sepuluh menit, Queen sudah sampai ke rumahnya. Padahal bisa saja Queen berjalan karena rumah keluarga Al-biru sangat dekat dengan rumahnya.
Tapi, Fandi melarangnya dan akan menjemput dirinya.
Queen turun dari mobil dan langsung di sambut oleh adik dan mama nya.
"Kakak ..."
Alam berhambur memeluk sang kakak, dimana Queen langsung berjongkok agar memudahkan Alam memeluk dirinya.
"Kata mama, kakak mau nginep ya?"
"Iya, Kakak nginap di sini!"
Alam menarik Queen masuk ke dalam, adik kakak itu nampak antusias dengan obrolannya.
Alam bak perangko yang selalu nempel pada kakak nya jika sudah dekat seperti ini.
Fandi dan Dinda tersenyum melihat interaksi kedua anaknya. Walau terpaut usia cukup jauh tapi obrolan mereka seperti orang dewasa saja. Tepatnya Alam yang bicara sok dewasa. Padahal dia entah mengerti atau tidak dengan ucapannya sendiri.
"Kakak nanti Baby nya buat Alam ya, biar Alam ada teman main,"
Celetuk Alam sambil mengelus perut buncit Queen.
"Jangan dong, nanti siapa yang temenin kakak tidur. Kalau Dede kan ada mama sama Daddy,"
"Iya juga ya, ya sudah buat kakak saja Dede baby-nya,"
"Tapi, kalau Dede ajak main baby nya boleh kan?"
"Iya boleh!"
"Hore ... "
Dinda, Fandi dan Queen di buat terkekeh dengan tingkah Alam yang sangat menggemaskan.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, dan, Vote Terimakasih...