Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 72 Aku tak menyangka kamu setega itu!


__ADS_3

Akhir-akhir ini sikap Farhan terlihat berbeda saat vidio call dengan Queen. Dan, bahkan akhir-akhir ini juga, Farhan jarang vidio call. Kalaupun ada menghubungi pasti via telepon biasa saja.


Entah, ini perasaan Queen atau apa, Queen tak tahu. Karena rasa ini baru Queen rasakan. Karena tak mau terlalu memikirkan sikap Farhan. Queen menyibukan dirinya dengan skripsi.


Queen mencoba tenang dan berpikir positif. Queen bukan gadis yang gampang terpengaruh oleh suatu keadaan. Karena Queen berlatih kuat sendari kecil. Walaupun perasaan Queen benar, entahlah Queen tak tahu harus bersikap apa. Queen juga bukan gadis yang suka merebutkan laki-laki. Jikapun Farhan berpaling pada wanita di sana. Mungkin, Queen cukup diam. Karena pantrang bagi Queen harus berseteru dengan orang lain.


Satu bulan kedepan Queen akan wisuda. Karena tak mau mengecewakan ketiga orang tuanya. Queen terus belajar dan belajar. Queen akan membuktikan bahwa dirinya yang terbaik, pada sang ayah.


Harapan Farhan pulang cepat ternyata tidak, Farhan sudah berjanji tapi kenapa ini sudah delapan bulan tapi Farhan tak kunjung pulang. Katanya mau pulang cepat tapi sampai sekarang Farhan belum memberi kabar ataupun memberi tahu kapan dia kembali.


Karena tak mau berlarut dalam memikirkan Farhan. Queen memutuskan main kerumah mama Adelia. Setidaknya rindu Queen sedikit terobati.


Besok Queen sidang pertam dan Queen ingin meminta doa pada mama mertua. Pada Angga Queen sudah memberitahunya walau ada sedikit kecanggungan melihat sang ayah akhir-akhir ini banyak diam. Tapi itu lebih baik dari pada harus membahas perusahaan yang ujung-ujungnya akan timbul pertengkaran.


"Semoga mama suka bolu pisang buatanku,"


Monolog Queen sambil menggayuh sepedahnya menuju rumah mama Adelia.


Sehabis pulang kampus Queen membuat bolu bersama sang mama, karena Dinda sangat jago sekali dalam membuat kue.


Dengan senyum mengembang Queen terus saja menggayuh sepedahnya.


"Eh non Rora, mau ketemu ibu ya?"


"Iya mang, mama Adel ada?"


"Ada non, baru pulang dari bandara,"


"Bandara!"


"Iya, tapi ibu gak bilang mau jemput siapa!"


"Ya sudah, Rora kedalam dulu ya mang,"


"Silahkan,"


Queen langsung melangkah menuju pintu utama. Queen memang sudah dekat dengan mang Diman, penjaga gerbang rumah Farhan dan beberapa pelayan di kediaman Al-biru.


Senyuman manis terus mengembang di bibir Queen. Hingga langkah kaki Queen berhenti dengan senyuman yang langsung menghilang. Jantung Queen berdetak begitu cepat melihat pemandangan di depan sana. Entah kenapa tiba-tiba dadanya sangat sakit dan sesak seperti ada bongkahan batu yang menghempit dadanya.


Perlahan Queen mundur dengan setetes air mata yang keluar. Sangat sakit, hingga Queen tak sanggup harus masuk kedalam.


"Mang, jangan kasih tahu siapapun ya, kalau Rora kesini. Rora tiba-tiba ada urusan mendadak. Tolong kasih ini pada ibu, bilang saja mamang bertemu Rora pas lagi beli roko di jalan."


"Tap.., "

__ADS_1


Mang Diman menghela nafas sambil menatap Queen bingung malah pergi.


"Ya sudah, mungkin memang ada urusan.. Saya kasih ini dulu aja ke ibu, sepertinya ini kue kesukaan ibu, "


Monolog mang Diman sambil berjalan masuk kedalam rumah.


Gelak tawa terdengar di ruang tamu, entah apa yang mereka bahas, sepertinya sangat seru.


Mang Diman mengerutkan kening, siapa yang mengobrol dengan majikannya. Pasalnya mang Diman hanya tahu Adelia pergi kebandara. Pas waktu datang mang Diman tak tahu karena memang tadi keluar untuk memberi roko. Jadi tidak tahu siapa yang Adelia jemput.


"Maaf bu,"


Suara mang Diman membuat semua orang terdiam. Mang Diman sedikit terkejut mendapati keberadaan Farhan. Karena memang majikannya tak mengatakan apapun. Makluk cuma penjaga gerbang jadi yang banyak tahu pasti supir pribadi.


"Ada apa mang, itu bawa apa?"


"Eh, maaf bu, ini ada titipan dari nona Rora,"


"Hah, Rora! di.. dimana dia sekarang!? "


Mang Diman sedikit tersentak akan reaksi Adelia dan Farhan tunjukan. Kenapa sepanik itu, pikir mang Diman aneh. Biasanya kalau kedatangan Queen pasti mama Adelia akan antusias.


Sedang wajah Farhan sangat pias takut kalau Queen melihat semuanya.


"Apa Rora tadi kesini? "


"Benar begitu!"


"Masa saya bohong, kan ibu pasti tahu tadi datang pasti bukan saya yang buka gerbang,"


Adelia membenarkan karena dia tadi pas waktu datang bukan mang Diman yang buka gerbang melainkan mang Topan, penjaga kebun.


Mang Diman memberikan kue itu lalu bergegas pergi.


Adelia membuka bingkisan itu, penasaran apa yang Queen kasih. Seketika Adelia berbinar melihat bolu pisang kesukaannya. Pasti Queen sendiri yang bikin, ah.. menantu idaman.


"Apa itu tan?"


"Bolu pisang, kesukaan tante."


"Mau dong tan,"


Adelia menikmati bolu pisang buatan Queen sangat enak, manisnya pas di lidah.


Sedang Farhan nampak termenung dengan pikiran entah kemana. Wajahnya terlihat cemas dan takut. Entah apa yang membuat Farhan bersikap seperti itu.

__ADS_1


"Sayang, kenapa melamun. Mau gak, bolu ini enak?"


"Mah, Farhan ke kamar dulu."


"Tan, kenapa dengan Farhan ko tiba-tiba jutek gitu?"


"Biarkan saja, mungkin Farhan cape,"


"Hm, "


Aielin dan Adelia kembali menikmati bolu buatan Queen bahkan sampai habis setengah.


Sedangkan Farhan di kamar uring-uringan karena teleponnya gak di angkat sama sekali. Hatinya sungguh tak tenang, dan itu membuat Farhan benar-benar prustasi.


"Apa Queen tadi datang kerumah, dan melihat semuanya. Oh, jangan sampai itu terjadi, bisa mampus aku. Oh.. sial sial...,"


Farhan terus saja menggerutu, apalagi teleponnya satupun tidak di angkat. Farhan putus asa. Ingin menghampiri Queen ke rumahnya tapi Farhan mengurungkan niatnya. Tidak mungkin tiba-tiba Farhan datang yang ada rencananya semua berantakan.


"Semoga kamu memang tak kesini!"


Batin Farhan menghempaskan tubuhnya di atas shopa.


...---...


Di kamar...


Queen membiarkan panggilan Farhan begitu saja. Queen tak peduli, kenapa Farhan membohonginya. Jika Farhan sudah pulang, apa yang sedang Farhan sembunyikan.


Dan, siapa wanita itu, kenapa nampak akrab dengan mama Adelia dan Farhan. Bahkan wanita itu menyandar di bahu Farhan.


Queen masih ingat jelas wanita itu memanggil Farhan sayang. Apa maksudnya!


Cairan bening kembali keluar dari pelupuk mata Queen. Mengingat apa yang terjadi di ruang tamu tadi.


Queen berusaha tak percaya dengan apa yang terjadi. Tapi, suara wanita itu sama persis seperti suara yang Queen dengar di ponsel Farhan.


"Apa kamu disana memang tinggal dengan wanita itu, lalu aku apa!"


Lilir Queen seakan tak percaya jika Farhan menyakitinya. Queen ingin menyangkal, tapi Queen melihat dengan mata nya sendiri. Apalagi Queen ingat dengan jelas, bagaimana mama Adelia memperlakukan wanita itu. Menatapnya sayang halnya mama Adelia menatap Queen.


Apa selama ini kecurigaan Queen benar, jika memang begitu apa yang harus Queen lakukan. Apa Queen harus marah atau diam. Dan, pergi membiarkan Farhan dengan pilihannya.


"Aku tak menyangka kamu setega itu! "


Bersambung...

__ADS_1


Jangan Lupa Like dan Vote...


__ADS_2