
Menjadi seorang ibu itu tidak mudah. Perjuangannya begitu sangat besar. Dia lera terbangun tengah malam ketika anaknya menangis meminta susu atau karena ada hal lain.
Dia lera melawan rasa lelah dan kantuk hanya demi anaknya. Berharap anaknya tidur dengan nyaman tak peduli dia kurang tidur.
Lantas kita sebagai anak, apa yang kita beri pada orang tua setelah kita dewasa. Membahagiakan nya kah? atau justru kita membuatnya bersedih!
Jasa yang begitu besar tak pernah bisa di ukur atau tuliskan oleh apapun. Bahkan sampai matipun kita sebagai anak tak akan pernah mampu bisa membalas jasanya.
Queen termenung menerawang jauh ke masa lalu. Mencoba mengingat hari-hari yang Queen lewati ketika Queen masih kanak-kanak hingga remaja. Kini Queen sadar! dan tak lagi menyalahkan kedua orang tuanya atas masa kecilnya yang kurang bahagia.
Justru pandangan Queen sekarang berbeda, Queen tahu betul apa yang di rasakan mama nya hingga Dinda sampai tega menelantarkannya dengan seorang pembantu yang selalu menemani Queen yang tak lain bi Nani.
Walau sendari kecil memang Queen tak pernah ke kurangan dengan yang namanya materi. Namun, bukankah anak kecil hanya butuh perhatian!
Rasanya kata maaf belum cukup bagi Queen membalas jasa sang mama.
Queen hanya menikmati menjadi peran baru bagi hidupnya. Dan, mungkin ini adalah babak baru bagi Queen dimana dia mencoba menjadi ibu yang baik.
Queen menatap Fatih yang tertidur setelah menyusu. Perlahan Queen meletakan putranya pada boks baby.
Cklek ...
Queen mengalihkan pandangannya kearah pintu kamar mandi yang terbuka. Di mana muncullah Farhan dengan rambut basahnya. Hanya memakai handuk yang melilit pinggangnya.
Queen segera beranjak guna membantu sang suami mengeringkan rambut.
"Duduk,"
Farhan duduk di sisi ranjang dengan Queen berdiri sambil mengeringkan rambut Farhan.
Seketika mata Queen menyipit dengan kening berkerut. Membuat pergerakan tangan Queen terhenti.
Farhan mendongak guna melihat wajah Queen.
"Kenapa berhenti sayang?"
Tanya Farhan heran dengan ekspresi istrinya. Queen langsung menatap suaminya dengan tatapan tajam membuat Farhan menyerngit.
"Kenapa?"
"Dari kapan tangan bee mendapat luka?"
Deg ...
Farhan gelagapan akan pertanyaan istrinya. Farhan lupa kalau luka tangannya belum hilang. Farhan merutuki kebodohannya karena tak langsung memakai baju.
"Sayang in-"
"Jangan bohong!"
"Ini hanya luka kecil sayang, ini luka gores. Bee pakai baju dulu!"
Queen menahan bahu Farhan agar tetap duduk. Bahkan Queen menatap tajam suaminya yang berbohong. Queen bukan orang bodoh yang tak tahu bekas apa di tangan suaminya.
"Bee Queen gak bodoh! katakan atau Queen cari tahu sendiri!"
Farhan menghela nafas berat, jika begini Farhan tak bisa mengelak lagi. Karena percuma sudah ketahuan.
"Hanya ke salah pahaman, bee jadi target pembunuhan. Mereka pikir bee orang nya padahal mereka salah masuk apartemen, padahal targetnya kamar sebelah bee,"
__ADS_1
Queen memicingkan matanya mencoba mencari kebohongan di mata suaminya.
"Bee!"
"Benar sayang, bee gak apa-apa. Bee kan bukan orang sembarangan. Mana bisa mereka melukai bee,"
"Tapi ini!"
"Ah, anggap saja bee lagi gak fokus,"
Jawab Farhan asal, Farhan Tak mau membuat istrinya curiga.
Queen duduk di atas pangkuan Farhan, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh sang suami. Queen memeluk Farhan membuat Farhan terdiam dengan apa yang di lakukan istrinya.
Tak lama Farhan mendengar suara isakan kecil di bibir istrinya. Dengan cepat Farhan mendorong tubuh istrinya agar Farhan dapat melihat wajah Queen.
"Sayang kenapa menangis?"
Farhan bingung kenapa istrinya menangis, tak biasanya Queen seperti ini.
"Berjanjilah bahwa bee tidak akan pernah terluka?!"
Deg ...
Hati Farhan teriris mendengar penuturan Queen. Lagi-lagi dirinya yang membuat sang istri menangis.
"Bee janji sayang, maafkan bee sudah membuat sayang bersedih."
Kini Farhan kembali menarik sang istri ke dalam pelukannya. Mereka hanyut dalam perasaan masing-masing.
Untung saja hari ini hari weekend kalau tidak Farhan pasti sudah sangat terlambat datang ke kantor.
"Mungkin mereka sedang melepas rindu!"
Gumam mama Adelia yang sendari tadi mengetuk pintu kamar anaknya.
Mama Adelia sangat khawatir karena anak dan menantunya sudah melewatkan waktu sarapan. Bukan cuma itu, mama Adelia juga ingin memberi tahu anaknya kalau Daniel dan Alexa pamit pulang ke rumahnya.
"Sepertinya mereka akan siang keluar kamarnya,"
Ucap Mama Adelia ketika sudah berada di hadapan Daniel dan Alexa yang sendari tadi menunggu.
"Emm .. kami pamit saja Tan, sampaikan saja salam pada kak Biru,"
Ucap Alexa karena suaminya hanya diam saja.
"Enggak sebaiknya kalian pulang malam saja, sekalian makan malam sama yang lain!"
Nanti malam memang sudah di rencanakan, akan ada makan malam keluarga besar.
"Maaf Tan, Lexa gak bisa ikut sama Daniel karena malam kami mau berkunjung ke Rumah ayah Lukman,"
"Ya sudah, hati-hati di jalan,"
Daniel dan Alexa langsung pamit karena tak mungkin Daniel menunggu Biru lebih lama lagi.
Di sepanjang jalan Alexa terus diam, entah apa yang sedang ia pikirkan. Daniel merasakan perubahan istrinya.
"Kenapa?"
__ADS_1
Alexa terkejut ketika tangannya di pegang oleh Daniel dengan satu tangan tetap memegang setir.
Alexa diam, dia begitu ragu untuk mengatakan kegelisahan hatinya.
"Kenapa?"
Ulang Daniel sekali lagi sambil memberhentikan mobilnya karena memang mereka sudah sampai rumah.
"Tidak apa-apa,"
Hanya itu yang keluar di bibir Alexa, sambil keluar dari mobil. Begitupun Daniel keluar mengejar langkah istrinya yang masuk ke dalam rumah.
Daniel yakin ada sesuatu yang mengganjal di hati istrinya.
Grep ...
Daniel memeluk Alexa dari belakang membuat Alexa langsung terdiam.
"Hubby yakin ada sesuatu yang mengganggu pikiran sayang. Tolong katakan, bukankah kita sudah berjanji, hal sekecil apapun harus saling terbuka!"
"Apa hubby menginginkan seorang anak?"
Tanya Alexa sambil membalikan badannya guna melihat reaksi sang suami.
Deg ...
Daniel begitu terkejut kenapa istrinya tiba-tiba membicarakan masalah anak. Daniel memang sudah sangat menginginkan kehadiran malaikat kecil antara mereka. Tapi, Daniel tak mau memaksa jika istrinya belum siap.
"Sayang bukankah kit--"
"Iya atau tidak!"
"Iya! tapi, hubby tak mau bila sayang belum si-"
"Lexa siap!"
"Sayang!"
"Lexa siap by, hubby mau berapa anak?"
Daniel di buat melongo dengar penuturan Alexa. Apa kepala Alexa ke jedot pintu, atau salah makan, pikir Daniel. Walau sejujurnya Daniel sangat senang akan keputusan sang istri.
"Sayang, kamu sakit?"
"Ih ... hubby. Lexa serius, Lexa ingin segera memberikan cucu buat mommy dan Daddy. Lexa gak mau hubby di salahkan terus sama Daddy, apalagi di ledek tak jantan. Padahal hubby sangat tangguh bahkan Lexa samp--"
"Sudah sayang jangan di teruskan!"
Daniel langsung membekam mulut istrinya yang absurd. Sungguh Daniel di buat tak percaya dengan perkataan istrinya. Untung saja mereka hanya berdua, kalau tidak mau di taruh di mana muka tampan Daniel dengan ucapan absurd sang istri.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, Dan Vote Terimakasih...
Starting from Facebook to be a match
Kelanjutan dari Novel Meraih keridhoan bersamamu.
__ADS_1
Tunggu updatenya ya, jangan lupa kasih Like buat novel Gadis dingin dan Meraih keridhoan bersamamu.