
Sudah bangun tidur bee, jangan lupa langsung mandi, sarapan dan semangat kerjanya.
I Love You muachh ..
Farhan tersenyum melihat deretan tulisan di layar ponselnya.
Farhan baru bangun dan di suguhkan dengan kata-kata manis sang istri. Ah ... rasanya Farhan ingin cepat pulang memeluk dan merengkuh sang istri dalam kungkungannya.
Tak ada cinta yang seindah ini, walau jarak membentak tapi sihir cinta itu tembus menembus tembok jarak ratusan mil.
Seulas senyum terpancar indah di bibir seksual Farhan yang sedang mandi untuk bersiap. Ungkapan cinta sang istri mampuh menggetarkan hati sampai rasanya Farhan tak mampu berpaling.
Jarang sangat jarang Queen mengucap atau menulis sebuah kata cinta. Karena bagi Queen itu tak perlu. Queen lebih suka menyampaikannya lewat tindakan yang di jamin tak akan pernah mengecewakan suaminya.
Bukankah indah pagi hari ini di Jerman, Farhan seakan mendapat kekuatan alam yang begitu besar untuk menuntun dia cepat menyelesaikan pekerjaannya hari ini.
Sesudah sarapan, Farhan langsung bersiap menuju kantor dimana Daniel sudah menunggu di sana.
Ya, Daniel masih ada di Jerman. Rencanannya sekarang Daniel akan terbang ke tanah air mengurus perusahaan yang di tanah air. Tapinya, Farhan akan menyerahkan urusan kantor di sini pada Daniel supaya Alexa juga tidak terlalu jauh dengan kedua orang tuanya. Tapi, masalah begitu rumit membuat Farhan yang harus turun tangan langsung dan sementara bertukar posisi.
Ah ... rasanya Farhan tak mau mengakhiri Vidio call nya. Tapi, mau bagaimana lagi dia harus segera mengakhiri nya.
"Bee sudah bangun, sudah mandi, sudah sarapan Sekarang bee berangkat kerja. Jangan terlalu kecapean sayang, bee sayang kalian muach..."
Sebelum mematikan ponselnya Farhan mengirim pesan terlebih dahulu. Karena mungkin nanti Farhan tidak akan bisa berkomunikasi dengan sang istri saat dia bekerja.
Baru saja satu hari, rasanya bagai satu Minggu. Ini sangat menyiksa dan menyakitkan. Tapi Farhan sudah berjanji akan bekerja keras untuk cepat kembali sebelum sang istri melahirkan.
Jarak hotel yang Farhan tempati dengan perusahaan sangat dekat sekali. Jadi Farhan tak perlu repot-repot membawa mobil ke perusahaan. Cukup Farhan menggunakan sepeda saja. Apalagi di Jerman memang hampir 💯 % aktivitas menggunakan sepeda.
"Ini data-data dari berbagai divisi, yang lainnya sudah aku kerjakan walau belum sempurna tinggal nanti kamu periksa saja. Dan, ini bagian divisi keuangan, aku belum sama sekali mengerjakannya tapi aku juga sudah mempelajarinya. Banyak sekali data yang di manipulasi. Bagian ini lebih baik kamu saja yang kerjakan, mata kamu cukup teliti dalam angka."
"Ok, terimakasih. Sepertinya hari ini aku akan benar-benar lembur,"
Keluh Farhan menghela nafas berat melihat tumpukan berkas yang Daniel serahkan.
"Ini satu lagi, berkas list nama-nama yang selama ini mengacau di perusahaan. Tapi, kamu harus hati-hati dengan satu nama ini. Dia adik dari mafia bawah. Selebihnya semua data-data ada di dalam."
Farhan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas nama yang Daniel tunjuk. Bahkan nama itu ada pada list pertama. Seketika bibir Farhan tersenyum membuat Daniel merinding. Entah apa yang akan sahabatnya rencanakan. Sepertinya Farhan menang harus menyelesaikannya.
__ADS_1
"Oh iya, jam berapa kamu kembali?"
"Mungkin pulang dari sini akan langsung menuju bandara. Lexa sudah menunggu di sana."
"Jangan gunakan pesawat pribadi. Kamu masuk dari bagian pintu barat, di sana sudah ada om Gerry menunggu!"
"Dan satu lagi, nanti hidupkan komputer berlian. Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan!"
Daniel mengangguk sambil tersenyum seringai. Sahabatnya memang selalu punya rencana mematikan jika dalam situasi seperti ini.
Siapa sangka, orang terlihat datar dan dingin dia hanya cukup duduk saja tanpa menyentuh tapi bahaya sudah menyerang lawan.
"Kalau begitu aku pergi,"
"Baiklah, hati-hati. Jaga keponakanku, kalau kau tak mau uncle Smith mencincang mu."
Entah permasalahan apa yang terjadi di Jerman. Tapi, mendengar percakapan dua orang tadi sepertinya hal serius. Dan, masalahnya bukan masalah kaleng-kaleng.
Daniel melirik jam pergelangan tangannya.
"Oh sitt, aku terlambat!"
Daniel di antar anak buahnya, sudah sampai dia langsung menyuruh anak buahnya kembali ke tempat.
"Mampus aku!"
Daniel menelan ludahnya kasar melihat sorot mata istrinya yang tajam. Kenapa sekarang Alexa sangat menyeramkan. Sebelum menikah pasalnya dia gadis pendiam dan manja. Tapi, lihatlah. Dia bagai ibu macan betina yang siap menerkam.
"Lama banget, katanya mau menyerahkan berkas saja sama kak Biru. Ini udah telat sepuluh menit dari keberangkatan!"
Glek ...
Daniel hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Seketika mata Daniel melihat sosok seseorang.
Cup ...
Alexa membulatkan kedua matanya mendapat serangan dadakan dari sang suami. Ah ... rasanya Alexa ingin menendang suaminya. Ini di tempat umum bagaimana bisa Daniel melakukan hal senonoh seperti itu.
"Maaf baby, sudah jangan marah-marah. Ayo kita berangkat,"
__ADS_1
Bisik Daniel sambil menggandeng tangan istrinya langsung.
"loh .. loh .. honey kok pesawat nya sudah terbang. Kita kan belum naik,"
Panik Alexa menarik tangan suaminya. Tapi dengan cepat Daniel menarik balik tangan sang istri dan menggunakan jalan lain. Yaitu, pintu bagian barat dimana om Gerry sudah ada di sana.
"Minum dulu jangan panik!"
Potong Daniel menyerahkan botol minum pada sang istri. Dengan bodohnya Alexa langsung meminum minuman itu karena memang tenggorokan nya kering.
"Bom akan meledak sekitar satu jam penerbangan."
"Ok, obat bius ini bertahan sampai berapa jam?"
"Dua jam! sebaiknya kamu segera berangkat!"
Daniel yang tadinya mau melakukan penerbangan di Bandar Udara Berlin Tempelhof berubah arah menjadi Bandar Udara Hamburg.
Daniel dengan cepat menggendong istrinya yang sudah tak sadarkan diri.
Entah siapa yang ada di dalam pesawat pribadi uncle Smith. Semoga saja mereka bisa meloloskan diri sebelum kapal itu meledak.
"Maafkan aku baby, kamu terlalu polos jika tahu siapa diriku!"
Gumam Daniel langsung melesat menuju Bandar Udara Hamburg dimana mobil yang Daniel tumpangi sedang di kawal oleh anak buah om Gerry.
Alexa tak sadar di pangkuan sang suami. Bahkan dia tidak merasakan apa-apa. Entah bagaimana reaksinya jika Alexa bangun dia berada di pesawat yang berbeda.
Daniel yakin, istrinya akan terus mengomel panjang halnya rel kereta api. Tak akan padam jika Daniel tak melakukan sesuatu.
Entah sejak kapan Alexa menjadi cerewet, tentunya setelah dia menikah dengan Daniel. Sikap dan sifatnya yang dulu tersembunyi kini keluar mengeluarkan tanduknya. Bahkan jika sudah ngomong akan melebihi bar-bar nya Aielin.
"Welcome to Indonesia!"
Gumam Daniel tersenyum cerah sambil menatap wajah cantik sang istri.
Bersambung ...
Jangan lupa Like , Hadiah, dan Vote Terimakasih....
__ADS_1