Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 90 Baikan!!!


__ADS_3

Melati begitu cemas menunggu kepulangan sang suami. Ini sudah malam, tapi Jek tak kunjung pulang. Entah apa yang terjadi membuat Melati merasa takut.


Melati ingin menyusul, tapi merasa bingbang. Alhasil Melati hanya mondar-mandir di. ruang tengah sambil menunggu Jek pulang. Bahkan ponselnyapun tak aktif.


Tidak biasanya Jek seperti ini dan itu membuat Melati di landa kecemasan.


Grung...


Suara motor membuat Melati menyunggingkan senyum. Melati berlari kearah tangga menuju lantai bawah tanah dimana ruang tempat menyimpan motor.


"Bang kenapa pulang malam, apa yang terjadi. Apa ada masalah, abang baik-baik saja kan?"


Rasa cemas tak bisa Melati sembunyikan lagi. Berbagai rentet pertanyaan Melati layangkan. Namun, Jek hanya tersenyum sinis.


Melati membulak-balik kan tubuh Jek takut ada sesuatu yang terluka. Bahkan Melati memeriksa wajah sang suami berharap tak ada satupun luka.


Melati bernafas lega karena tak mendapati luka sama sekali di tubuh sang suami. Tapi, Melati sedikit merasa berbeda dengan sikap Jek yang hanya diam. Bahkan tatapannya terasa berbeda seperti menyimpan amarah.


Deg...


Hati Melati berdenyut sesak ketika Jek malah melewatinya dan meninggalkan Melati begitu saja.


Melati mencoba berpikir positif, mungkin Jek merasa lelah. Melati mengikuti Jek masuk kedalam kamar, berharap Jek hanya kelelahan saja bukan ada hal lain.


Melati duduk di sisi ranjang sambil memegang sebuah benda berharap Jek akan menyukai benda itu.


Cklek...


Jek keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya, walau tetap terlihat cuek. Jek mengambil baju ganti di dalam lemari. Seketika Jek memejamkan kedua matanya ketika merasa sebuah tangan melingkar di pinggangnya.


"Kenapa abang diamkan adek, apa abang terlalu lelah atau ada hal lain?"


"Tolong katakan, jangan diamkan adek. Dari tadi adek begitu cemas menunggu kepulangan abang, ada sesuatu yang harus abang tahu. Tadi juga mama nunggu abang sampai sore, tapi abang tak kunjung datang. Karena sudah sore mama pamit pulang. Mama juga nitipkan salam buat abang,"


"Sudah ngomongnya! diam dan jangan brisikkk.. aku lelah!"


Ucap Jek dingin sambil melepaskan belitan tangan Melati dari perutnya dengan kasar.


Melati tertegun melihat perubahan suaminya. Bahkan terkesan dingin. Dan tadi bilang apa, aku. Apa Jek benar-benar lelah hingga menyebut dirinya dengan kata aku bukan abang. Melati merasa Jek membuat jarak antara dirinya.


Melati menatap nanar punggung lebar sang suami yang berbaring sambil memunggungi bagian tempat tidurnya.


Apa kelelahan membuat sikap romantis Jek berubah! atau benar-benar ada hal lain yang menggangu pikirannya, tapi apa!


Melati mencengkram benda di tangannya dengan sangat erat.


Dua bulan lebih umur pernikahan mereka, apa dalam kurun waktu dua bulan ini pernikahan mereka mulai di terjal.


Fiuhh...


Melati menghembuskan nafas berat, mencoba memahami sikap sang suami. Mungkin Jek benar-benar kelelahan.

__ADS_1


Melati merangkak naik keatas ranjang, lalu membaringkan tubuhnya menghadap punggung lebar sang suami. Ingin rasanya Melati membalikan badan sang suami dan masuk kedalam pelukan hangatnya.


Mentari pagi menyapa di upuk timur, memancarkan senyuman keseluruh penjuru bumi. Seakan melambai untuk menyemangati aktivitas manusia.


"Emmz...,"


Melati menggeliat, perlahan kelopak matanya terbuka. Melati mengerjap-ngerjapkan kedua matanya menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya.


"Bang..,"


Melati langsung terlonjat bangun merasa sang suami sudah tak ada di sampingnya. Melati mengedarkan penglihatannya keseluruh penjuru kamar. Tapi, tetap saja Melati tak menemukannya.


Melati mencari keluar dan seluruh ruangan hingga terakhir Melati turun ke ruang bawah tanah. Melati tertegun melihat motor sang suami sudah tidak ada. Ada rasa sakit yang menyapa hati Melati.


Kenapa?


Ada apa?


Tapi dua pertanyaan itu tak ada yang bisa menjawab Melati karena orangnya sudah tidak ada.


"Sebenarnya kamu kenapa bang, apa ada masalah, tapi apa! kenapa kamu tak berbagi pada adek. Abang malah diam tanpa kata membuat adek bingung tak mengerti."


Huh..


"Bahkan abang tak membangunkan adek sama sekali."


Monolog Melati layu, kembali ke lantai atas. Melati mendudukan bokongnya di atas shopa. Berusaha berpikir jernih dan berpikir apa yang harus Melati lakukan untuk bisa mengurangi masalah sang suami. Bahkan Melati sendiri belum tahu masalahnya apa.


Tok.. tok...


Ketukan pintu membuat Melati urung melangkah ke meja makan. Melati langsung kearah pintu guna melihat siapa yang bertamu.


Cklek...


Melati membelalakan kedua matanya melihat pemandangan di depan matanya. Hatinya sangat sakit dan perih melihat sang suami.


"A-Abang kenapa? apa abang sakit?"


Lilir Melati mengambil alih tubuh sang suami. Melati menatap Bagas seoalah meminta penjelasan apa yang sebenanrnya terjadi.


"Jek dari tadi muntah-muntah bahkan tak bisa bekerja. Saya sudah menyarankan Jek pergi ke dokter tapi Jek malah meminta pulang!"


"Ya Tuhan abang, kalau abang sakit kenapa malah bekerja. Kak Bagas terimakasih sudah mengantar bang Jek pulang,"


"Sama-sama, kalau begitu saya pamit ke bengkel lagi,"


Melati memapah Jek menuju kamar lalu membaringkannya. Melati memeriksa suhu tubuh sang suami. Suhunya normal tapi kenapa wajah sang suami begitu pucat. Apa Jek mempunyai kelainan.


"Sial, kenapa aku merasa tenang di dekat Melati. Bahkan bau tubuhnya membuatku tenang tak merasa mual, "


Umpat Jek dalam hati menatap nanar sang istri yang melangkah keluar guna mengambil makanan.

__ADS_1


"Abang makan dulu ya, sini adek suapin Aaa..... "


Dengan terpaksa Jek menerima suapan dari sang istri. Jek mengutuk dirinya sendiri. Jek sedang marah dan kecewa pada sang istri tapi kenapa kondisi tubuhnya tak berpihak padanya, malah nyaman seperti ini. Kalau begini caranya Jek benar-benar tak bisa marah.


Sesudah makan Melati menaruh piring di atas naskah lalu memberi Jek minum.


Walau mereka sedekat ini dan Melati begitu perhatian tapi kenapa Jek masih saja diam tak mau bicara.


Melati tak mau seperti ini, mereka suami istri bukan musuh. Jika ada yang mengganggu harusnya di bicarakan dan di selesaikan baik-baik. Bukan malah diam-diam man.


Melati meraih tangan sang suami dan menatap sang suami penuh cinta tapi Jek malah memalingkan muka dengan mulut tertutup rapat.


"Apa adek melakukan kesalahan hingga abang tak sudi menatap adek. Tolong katakan, jangan diam. Diamnya abang tak akan menyelesaikan masalah. Coba katakan, jika masalahnya ada di diri adek sendiri, tolong katakan supaya adek bisa jelaskan dan memperbaiki diri!"


"Apa cinta adek hanya kebohongan?"


Melati menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan sang suami yang sedikit konyol. Tapi Melati tetap menjawabnya karena ingin tahu apa pakar masalahnya.


" Tidak ada kebohongan sama sekali, adek mencintai abang dengan tulus,"


"Lalu apa maksudnya perkataan adek kemarin sama mama. Adek berbohong akan syarat pernikahan kita. Adek menerima pernikahan ini atas dasar permintaan mama sama papa. Supaya abang berubah. Lalu jika abang sudah berubah tugas adek selesai begitu."


Melati sekarang faham apa yang membuat suaminya berubah. Jadi kemaren suaminya mendengar percakapan itu, Melati yakin sang suami mendengarnya hanya sepotong. Buktinya Jek marah.


"Maafkan adek, adek akui ade salah. Ade terlalu ragu akan menerima abang. Tapi, mama sama papa memohon untuk tetap menerima abang. Karena mereka ingin abang berubah. Tapi, tentang cinta, adek tak bohong adek benar-benar mencintai abang. Buat apa adek menyerahkan diri adek sendiri untu abang jika tak ada cinta. Justru yang adek takutkan adalah abang, takut abang membuang adek jika sudah bosan!"


Jek melotot mendengar akhir kalimat yang sang istri ucapkan. Tak ada sedikitpun di pikiran Jek untuk membuang Melati, justru Jek takut Melati pergi darinya.


"Siapa bilang abang akan membuang kamu, justru abang marah karena takut kamu benar-benar pergi."


"Jadi abang tak marah lagi akan dua syarat itu?"


Jek menggeleng...


"Tak akan diamkan adek lagi? "


Jek tetap menggeleng...


"Ini hanya salah faham!"


Jek mengangguk.


"Adek mencintaimu bang,"


"Abang lebih mencintai adek!"


Begitulah rumah tangga, kita harus selalu jujur apapun itu jangan sampai timbul kesalah pahaman yang akan menghancurkan semuanya.


Bersambung...


Jangan lupa like, hadiah, komen dan vote...

__ADS_1


__ADS_2