
Akhir-akhir ini Farhan begitu sibuk mencari keberadaan sang papa tanpa memberi tahu sang mama. Karena terlalu takut membuat sang mama berharap yang tak pasti. Walaupun begitu Farhan tetap mencari dengan rencana awal yang sudah di sepakati Daddy Fandi dan Daniel. Hari ini rencanannya Farhan akan ikut Daniel menuju lokasi kecelakaan itu. Jika memang papa Farhan meninggal setidaknya Farhan menemukan tulang belulang sang papa dan ingin memakamkan sang papa dengan layak.
"Bee, entah kenapa aku merasa tak rela bee pergi?"
Farhan menghentikan kegiatannya ketika mendengar suara sang istri yang menatapnya sendu.
"Sayang aku akan usahakan sore juga sudah pulang, paling lambat habis isya. Jangan cemberut dong,"
Queen hanya diam saja, hatinya begitu risau ingin mengatakan sesuatu namun urung. Hatinya tak tenang dan tak mau jauh dari Farhan.
Setiap hari Farhan sibuk jarang menghabiskan waktu bersama. Entah karena ingin di manja atau ada hal lain yang mengganjal.
Farhan duduk di samping sang istri lalu menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga Queen.
"Bee janji, akan segera menyelesaikan masalah ini. Tolong jaga mama ya,"
Grep...
Farhan menghentikan langkahnya ketika Queen memeluknya dari belakang. Semenjak menikah sikap Queen memang semakin manja pada dirinya. Wajar jika Queen tak mau dirinya pergi karena Farhan juga merasa bahwa dirinya kurang perhatian pada sang istri karena sibuknya pekerjaan.
"Sayang, di bawah Daniel pasti sudah menunggu!"
Lilir Farhan karena tangan Queen tak bisa diam. Queen tak peduli, di hadapan Farhan Queen akan selalu manja dan manja.
Queen membalikan tubuh sang suami, seketika Farhan terkejut melihat pemandangan di depannya. Sejak kapan istrinya tak memakai baju.
"Bee, aku menginginkanmu..."
"Sayang nanti saja ya, bee harus segera berangkat."
Tanpa bicara lagi Queen langsung melahap bibir sang suami. Jika begini mana bisa Farhan menolak. Ini memang salah Farhan yang terlalu sibuk sampai istrinya merasa terlantar.
Pada akhirnya Farhan tak bisa menolak kenikmatan yang sang istri berikan. Persetan dengan Daniel yang menunggu, Farhan tidak peduli. Yang terpenting istrinya puas dan tak merajuk lagi.
Sedangkan Daniel masih di jalan, dia terjebak macet. Berkali-kali Daniel melirik jam tangan takut Farhan marah jika dia telat datang.
Daniel merutuki kebodohannya karena tidur terlalu malam. Dia jadi kesiangan, apalagi Daniel harus bertemu uncle Smit dulu sebelum menjemput Farhan. Daniel tidak sempat bertemu Alexa karena memang waktunya tidak banyak. Daniel hanya menitip pesan saja.
Harusnya Daniel tahu, Jakarta tak bisa di ubah dengan yang namanya kemacetan. Mungkin jika menciptakan kendaraan terbang tingkat kemacetan akan berkurang.
Tapi ya sudahlah, memang ini resiko yang harus Daniel tanggung. Bahkan mau puter balik pun Daniel gak bisa.
Jika Daniel hanya mampu sabar menunggu kapan jalanan lancar. Berbeda dengan Farhan yang harus sabar dengan kemanjaan sang istri. Entah ada apa dengan sang istri tiba-tiba agresif seperti ini. Walau Farhan tak menampik, bahwa dirinya juga tak bisa menolak dari pesona sang istri.
Sudah satu jam mereka memberi kenikmatan satu sama lain. Ungkapan cinta tak pernah bosan Farhan utarakan. Dan, Queen hanya membalas dengan senyuman atau anggukan.
Queen memang tak terlalu suka membalas ungkapan cinta seperti itu. Queen lebih suka membalasnya dengan tindakan seperti sekarang yang Queen lakukan.
"Terimakasih bee,"
cup...
__ADS_1
"Hey, harusnya bee yang berterimakasih. Maaf jika akhir-akhir ini bee jarang perhatikan sayang,"
"Iya, aku ngerti ko. Tapi, entah kenapa ingin selalu dekat bee,"
"Ya sudah, bee bersiap dulu. Bee janji gak akan pulang larut lagi."
"Rora bantuin ya,"
Farhan hanya mengangguk saja, lalu mereka berdua beranjak dan mandi cepat. Queen benar-benar berubah, dia berusaha menjadi istri sempurna.
Queen membantu memakaikan baju sang suami.
"Sudah tampan!"
"Terimakasih sayang, kamu juga cantik."
"Hm,"
Farhan hanya tersenyum saja gemas akan jawaban istrinya. Di pancing bagaimana pun Queen sulit mengucap kata cinta atau sayang.
Sekarang Queen bukan gadis dingin lagi, melainkan Istri dingin. Tapi, Queen akan tetap hangat jika sudah menyangkut keperluan dirinya.
Tinggal Queen memakai pakaiannya sendiri, lalu mengantar sang suami turun ke bawah.
Farhan menautkan kedua alisnya melihat Daniel yang penuh keringat. Entah apa yang di lakukan Daniel sampai keringetan begitu bahkan nafasnya naik turun.
"Daniel ada apa dengan kamu, sampai keringetan begitu?"
"Maaf tuan, tadi saya terjebak macet dan sialnya ban mobil kempes. Saya tadi buru-buru ganti karena takut tuan lama menunggu."
"It's okey Niel, biar saya yang bawa. Kamu duduk manis sambil istirahat,"
"Tapi tuan.."
"Kalian gak sarapan dulu.."
Suara mama Adelia membuat ketiga manusia itu berbalik. Mama Adelia membawa keranjang karena habis dari perkebunan belakang rumahnya. Di mana ada beberapa macam buah yang Farhan tanam.
"Gak mah, nanti saja di jalan. Biru takut telat, klien sudah menunggu!"
Bohong Farhan membuat mama Adelia mengangguk saja.
"Ya sudah sayang aku berangkat,"
"Hati-hati bee,"
Sesudah mengantar Farhan sampai teras Queen menghampiri mama mertua di dapur yang sedang mencuci buah-buahan.
"Queen bantuin mah,"
"Gak usah, nak. Kamu duduk saja. Sarapan belum, kalau belum sarapan dulu,"
__ADS_1
"Sudah mah tadi di kamar, ini boleh Queen makan mah?"
"Boleh sayang, oh iya nanti anterin mama ke rumah sakit ya. Mau bawa buah ini buat Alexa!"
"Ok mah,"
Queen begitu lahap memakan buah apel, bahkan sudah habis dua.
Queen memerhatikan mama Adelia, Queen seakan ingin bicara sesuatu namun seakan enggan.
Mama Adelia yang merasa di perhatikan langsung berbalik menatap Queen yang sedang mengunyah buah.
"Apa ada sesuatu, nak!"
Queen berhenti mengunyah, entah kebetulan atau apa. Kenapa mama Adelia bisa menebak apa yang ada di pikiran Queen. Bahwa dirinya ingin bertanya sesuatu.
"Mah, apa Queen boleh bertanya?"
Mama Adelia menghentikan kegiatannya sejenak. Lalu duduk di samping Queen sambil mengelap buah.
"Ada apa sayang, apa Biru menyakiti kamu?"
"Tidak mah, ini bukan soal Biru!"
"Lalu!"
"Maaf sebelumnya mah, apa mama begitu mencintai papa?"
Mama Adelia tersenyum mendengar pertanyaan sang menantu.
"Mama begitu mencintai papa Biru, sangat. Kami saling mencintai, walau awalnya tidak!"
"Ma..maksudnya!"
"Dulu kami sama-sama di jodohkan, waktu itu mama belum mengenal cinta tapi papa Biru sudah. Waktu kami di jodohkan papa Biru mempunyai pacar bahkan sangat cantik. Tapi entah kenapa papa Biru malah memilih mama bukan memperjuangkan cintanya bersama pacarnya dulu. Mama jatuh cinta karena papa Biru sangat baik dan perhatian. Walau ada sedikit masalah!"
"Terus.."
"Mama pikir awalnya papa Biru menjalani pernikahan ini karena terpaksa dan tak akan berpaling. Tapi nyatanya mama salah, entah apa yang membuat papa Biru jatuh cinta pada mama. Hal itu membuat pacar papa Biru marah besar karena papa Biru memutuskan hubungan. Mama tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya di antara mereka hingga ketika mama dinyatakan hamil mantan papa Biru mencoba ingin mencelakai mama. Alhamdulillah Tuhan baik pada mama hingga mama selamat dari tangan mantan papa Biru. Cuma setelah kejadian itu mantan papa Biru tidak muncul lagi, entah kenapa dan kemana. Sampai sekarang mama tidak tahu,"
"Apa yang membuat mama menerima perjodohan itu. Bukankah mama awalnya tak mencintai papa?"
"Mama menerima karena wasiat Daddy mama sebelum beliau pergi!"
"Ma..."
"It's okey sayang gak apa-apa. Mama baik ko,"
"Sudah, nanti mama cerita lagi. Sekarang kita berangkat ke rumah sakit!"
Queen pasrah, padahal Queen masih banyak yang ingin di tanyakan.
__ADS_1
Bersambung
jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih....