Istri Kedua Tuan Leon

Istri Kedua Tuan Leon
101


__ADS_3

Malam menjelang, ba'da sholat Maghrib...


Dua pria beda usia itu kini tengah dalam perjalanan pulang menuju istana megah milik Leonardo Alfindo Ganada.


Sepanjang perjalanan, Bayu sang supir nampak sesekali melirik ke arah Leon melalui spion dalam mobil mewah berwarna hitam tersebut. Sejak siang setelah keluar dari mall Leon lebih banyak diam. Meskipun memang tiap hari pria itu tak pernah banyak bicara, tapi sepertinya kali ini lain. Leon terlihat murung. Sorot mata nya terlihat nanar mengguratkan kesedihan. Sepanjang perjalanan pria itu hanya melamun. Saat yang lain tengah menjalankan ibadah solat Maghrib laki laki itu juga lebih memilih menunggu di dalam mobil sambil melamun.


Ada apa dengan bosnya? pikir Bayu.


Setengah jam perjalanan, mobil itu sampai di kediaman Leon.


Bayu melepas sit belt nya lalu bergegas keluar dari dalam mobil dan setengah berlari hendak menuju pintu belakang mobil dan membukakan pintu untuk majikannya itu.


Namun belum sempat Bayu melakukan hal itu, Leon sudah terlebih dulu keluar dari kendaraan nya dan melangkah masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Bayu yang nampak bingung.


Dia kenapa? pikir Bayu.


Leon melangkah tenang dengan sorot mata sayu menatap lurus kedepan.


ceklek.....


pintu kamar terbuka.


Duda tanpa anak itu melepaskan kaos putihnya dan melemparkan asal. Ia lantas berjalan menuju kamar mandi, menyalakan shower yang tertempel di dinding dan memposisikan tubuhnya berdiri di bawah sana dengan posisi menghadap tembok. Kedua telapak tangannya mengepal, menempel pada dinding, menyangga tubuh tegap dengan beberapa tato di tubuhnya yang kini nampak tertunduk.


Lelah.....


Kecewa.....


Ia bertemu wanita cantik itu lagi. Ia kembali bisa melihat wajahnya dari jarak yang cukup dekat. Sesuatu yang selama lima tahun lamanya ia nanti nantikan.


Tapi....


Sedih....


Seorang pria nampak selalu berada di sampingnya. Mereka terlihat begitu akrab. Tawa dan senyuman selalu wanita itu sungging kan kala berdekatan dengan pria tersebut. Lebih perih lagi saat ia mendengar langsung dari mulut Sean, Aleta tengah memangku putra dari laki laki itu.


Apa mereka sudah menikah?


Apa bocah kecil itu adalah putra mereka?


Begitukah?


Leon memejamkan matanya merasakan guyuran air yang membasahi tubuh tegapnya.


Lima tahun ia memantaskan dirinya. Berharap suatu saat ia bisa bertemu dengan Aleta dalam kondisi yang layak untuk menjadi pendamping hidup wanita itu.


Tapi kenapa sekarang jadi begini?


Kenapa Aleta tidak memberi kesempatan untuknya dan malah memilih laki laki lain?


Semudah itukah ia melupakan Leon?


Apa perasaan yang begitu dalam ini hanya dimiliki Leon seorang tapi tidak dengan Aleta??


Di sela derasnya air yang mengalir. Setitik air bening menetes dari pelupuk mata duda empat puluh tahun.


"sebegitu buruknya kah aku untukmu, Aleta?sampai sampai tidak ada kesempatan untukku yang sudah berusaha memperbaiki diri ini untuk kembali mendekati mu?" ucap Leon begitu lirih nyaris tak terdengar bersahutan dengan suara gemericik air shower.


Leon tersenyum miris dengan wajah yang tertunduk. Dan.........


.


.


.


.


daaaaaaaggggggghhhhh......!!!


Leon meninju dinding kokoh itu dengan kepalan tangan kokohnya.


Laki laki itu frustasi..! ia lelah...! Ia muak...!


Hatinya hancur ..! Cintanya bertepuk sebelah tangan. Penantian nya sia sia...!


Sudah.....


Selesai sudah.....


Kisah cintanya dan Aleta hanya akan menjadi kenangan. Wanita itu sudah jadi milik orang lain. Tak ada ruang baginya lagi untuk mendapatkan wanita tulus itu.

__ADS_1


Selamat Sean...kau berhasil mendapatkan berlian paling indah di muka bumi ini.


.


.


.


.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah,


Di dalam sebuah mobil yang tengah melaju menembus padatnya jalanan ibu kota.


Seorang bocah kecil tengah terlelap dalam dekapan baby sitter nya yang duduk di kursi belakang mobil mahal tersebut.


Sedangkan di kursi di bagian depan, Sean tengah sibuk dengan stang bundarnya, sedangkan Aleta nampak duduk di kursi samping kemudi sambil sibuk memainkan ponsel di tangannya.


Aleta menegakkan posisi kepala nya, menatap ke arah jalan raya dimana kendaraan roda empatnya tengah melaju.


"langsung ke rumah kamu aja mas...kasihan mbak Siska pasti nungguin..." ucap Aleta.


"trus maksudnya kamu mau pulang bawa mobil sendiri?" tanya Sean.


"bisa di penggal palaku sama bapakmu Al....!" ucap pria itu lagi membuat Aleta terkekeh.


"apa sih mas....lebay deh....aku bisa kok bawa mobil sendiri....kasian tuh istri di rumah...perut lagi buncit kayak gitu harusnya di sayang sayang....ini malah ditinggalin mulu..." ucap Aleta.


"dia nya yang nggak mau....!aku juga heran deh....bisa ya....orang hamil jadi benci banget ama suami sendiri...!padahal dulu pas hamil Jason nggak gitu loh....." ucap Sean tak habis fikir.


Aleta tertawa lagi.


"itu bawaan bayi....! udah...aku pulang sendiri aja..." ucap Aleta.


"nggak...! kamu baru beberapa bulan bisa bawa mobil, papa kamu belum ijinin kamu bawa mobil sendiri...! nggak usah rewel...! nurut aja...!" ucap Sean tegas membuat Aleta cemberut.


"sama satu lagi...nggak usah ajakin Jason kemana mana kalau ada acara acara kek gini..! kamu itu sekarang makin di kenal banyak orang....bisa bisa mereka pada ngira kalau Jason itu anak kamu....terlebih lagi aku selalu ada di samping kamu kemana mana... bisa bisa kita di kira suami istri lagi...." ucap Sean sambil terus melakukan mobilnya.


Aleta hanya tertawa lagi.


Sean hanya menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya. Aleta memang susah di kasih taunya...!


Ya.....


Sean dan Aleta....


Orang yang tak mengenal mereka pasti akan beranggapan bahwa kedua nya adalah sepasang suami istri atau sepasang kekasih. Keduanya sangat dekat, kemana mana selalu berdua. Mereka seolah sudah tak punya jarak satu sama lain.


Sean adalah ajudan Mario dulunya, namun setelah sang jenderal menemukan istri dan anaknya, Sean dipindah tugaskan menjadi pengawal bagi Aleta.


Lima tahun kemana mana berdua, membuat keduanya kian hari kian akrab. Sean sudah menganggap Aleta seperti adik sendiri. Ia bahkan sering menceramahi wanita itu seperti adik kandungnya, seolah lupa bahwa wanita itu adalah anak jenderal atasannya.


Aleta pun juga demikian. Sosok Sean yang perhatian, penyayang, sabar, tapi juga tegas dan selalu melindungi membuat Aleta nyaman didekat pria yang kini sudah berkeluarga itu.


Ya..... kurang lebih dua tahun yang lalu Sean menikah dengan seorang gadis desa. Kekasih hatinya yang sudah ia pacari tiga tahun lamanya sebelum mereka memutuskan untuk menikah.


Awalnya, dulu Mario berencana ingin menjodohkan Aleta dengan Sean,namun keduanya menolak. Aleta menolak dengan alasan belum siap untuk menikah lagi. Sedangkan Sean beralasan ia sudah punya pacar di tempat kelahiran nya.


Ya sudah.... mereka tak jadi dijodohkan.


Kini Sean sudah memiliki satu putra yang berusia dua tahun. Ia dan sang istri, Siska, langsung di beri titipan malaikat kecil nan tampan itu setelah satu bulan menikah.


Dan kini, saat usia Jason baru menginjak dua tahun, Siska kembali hamil anak kedua dengan usia kandungan empat bulan.


Aleta yang memang suka anak anak pun begitu sangat menyayangi Jason. Bocah itu juga sangat dekat dengan Aleta. Wanita itu sering minta di antar ke rumah Sean hanya sekedar untuk bermain dengan Jason. Sean dan Aleta memang tak terlihat seperti ajudan dan atasan. Mereka justru lebih terlihat seperti kakak dan adik.


Lima belas menit perjalanan...


Aleta sampai di kediaman pribadi nya. Sebuah istana megah yang kini ditempati nya dengan papa dan ibunya.


Sean segera pamit undur diri setelah menghadap sang jenderal. Sedangkan Aleta yang justru berhenti di depan gerbang rumah dan menghentikan penjual sate itu kemudian masuk kedalam rumah setelah satu porsi sate pesanannya siap.


"assalamualaikum....!!" ucap Aleta sambil mendekati Mario dan Sarah yang kini berada di ruang televisi.


"wa alaikum salam..." jawab sepasang suami istri itu.


Aleta meraih punggung tangan kedua orang tuanya itu lalu menciumnya sebagai tanda bakti.


Aleta meletakkan kantong kresek berisi sstu porsi sate itu di atas meja. Ia lantas duduk di samping sang papa sambil bersandar manja di pundak laki laki yang kini berusia lima puluh dua tahun tersebut..

__ADS_1


"apa itu?" tanya Mario.


"sate....papa mau...?"tanya Aleta.


"boleh...." ucap Mario tanpa melepas dekapan nya pada sang istri yang kini berada di sampingnya.


"aku ambil piring bentar ya...." ucap Aleta lalu setengah berlari menuju dapur rumahnya.


Tak lama, wanita itu kembali dengan satu piring di tangan. Ia segera meletakkan sate sate itu di atas piring kosong tersebut dan menggesernya ke hadapan kedua orang tuanya.


"silahkan...." ucap Aleta.


"loh?kamu nggak makan, Al...?" tanya Sarah


"eeeemmmm..... enggak....udah kenyang...." ucap Aleta.


"terus ngapain beli..?" tanya Mario.


"ya....buat papa sama ibuk..." ucap Aleta lagi sambil tersenyum lucu.


Mario dan Sarah tertawa kecil melihat tingkah sang putri kesayangan.


"thank you baby...." ucap Mario.


"cama cama daddy...." ucap Aleta manja.


"udah...mandi sana....kalau capek istirahat....kamu udah makan belum?" tanya Sarah.


"udah... tadi udah makan bareng bareng di panti..." ucap Aleta


Sarah dan Mario hanya mengangguk.


"ya udah....kalau gitu aku ke kamar dulu ya buk, pa...." ucap Aleta


"iya sayang ..." jawab Mario.


Aleta pun berlalu pergi berniat menuju kamarnya. Namun baru beberapa langkah ia mengayunkan kaki, Aleta kembali berbalik badan. Ia setengah berlari mendekati ayah dan ibunya yang duduk di sofa panjang di depan televisi besar itu.


Dirangkulnya pundak sepasang suami istri itu dari belakang, lalu diciumnya pipi keduanya bergantian. Seolah ingin menunjukkan betapa ia sangat menyayangi kedua orang tua nya yang kini sudah kembali bersatu itu


Wanita itu kemudian berlari menuju kamarnya tanpa mengucap sepatah katapun.


Mario dan Sarah hanya terkekeh melihat aksi putrinya.


Ada rasa bahagia yang begitu besar dalam benak Mario dan Sarah. Akhirnya Aleta kini perlahan bisa kembali ceria. Tak seperti dulu saat pertama Mario menemukan gadis itu dan Sarah. Aleta terlihat begitu menyedihkan.


Namun kini, dengan segala yang Sarah dan Mario lakukan untuk memulihkan trauma sang anak. Kini Aleta perlahan kembali menjadi Aleta yang periang, yang ceria, yang selalu menebar senyuman dimana pun ia berada.


Sungguh ..usaha yang tak sia sia....


.....


Di dalam kamar luas milik wanita yang pernah menjadi istri kedua tuan Leon itu....


Aleta duduk di tepian ranjang. Seketika itu ia diam tak bersuara saat sudah memasuki ruangan yang dipenuhi dengan boneka Mickey mouse dan beberapa gitar dan sebuah piano di salah satu sudut ruangan itu.


Entah mengapa tiba tiba ia merasa sepi.


Aleta mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ingatannya langsung kembali pada momen beberapa jam yang lalu.


Hari ini dua kali ia bertemu laki laki itu. Setelah satu tahun ia menginjakkan kakinya di negara ini, baru hari ini ia kembali bertatap muka dengan laki laki itu.


Leon tak banyak berubah. Ia masih menjadi Leon yang penuh karisma dan berwibawa. Beruntung, Mario mengurungkan niatnya memiskinkan Leon kala itu. Leon pasti jauh lebih sukses sekarang.


Tapi ngomong-ngomong.....Leon sudah menikah atau belum ya???


Sean saja yang seusia Leon sudah mau punya dua anak....


Aleta tertawa ringan sendiri. Itu bukan urusan dia. Toh ia sudah melupakan laki laki itu bukan? Ia sudah tak pernah lagi mencari tahu tentang Leon sejak lima tahun terakhir.


Aleta sudah melupakan laki laki itu.


Ya....ia pasti sudah melupakan laki laki itu.


...----------------...


***Selamat malam.....


up 20:21


yuk ... dukungan dulu 🥰😘😘 8***

__ADS_1


__ADS_2