
Di tempat terpisah....
Seorang pria nampak duduk diam di dalam mobil mewah tumpangannya yang kini berhenti di pinggir jalan yang sepi.
Matanya menatap nanar ke arah layar ponsel miliknya. Di mana sebuah room chat berisi beberapa pesan dari wanita yang sangat ia cintai terpampang nyata disana.
Sang wanita menanyakan posisinya saat ini. Apa yang ia lakukan, menulis permintaan maaf atas nama dirinya dan keluarga, hingga mengajaknya untuk berserah pada Yang Maha Kuasa.
Puluhan pesan yang Aleta tuliskan, namun tak ada satupun yang Leon balas. Ia hanya membacanya, menatap nya dengan sorot mata sendu tanpa berniat menuliskan balasan apapun.
Entah apa yang ia rasakan saat ini.
Jangan tanyakan rasa sayangnya pada Aleta..
Perasaan itu tak pernah bisa ia singkirkan begitu saja. Rasa itu masih tetap tumbuh dan terus tumbuh sejak dulu hingga detik ini. Leon memilih pergi bukan karena menyerah. Namun lebih untuk menghindari konflik yang berkepanjangan. Ia sadar ia keterlaluan dulu. Tak memiliki etika, sopan santun dan tata krama. Menyakiti Aleta baik fisik maupun mentalnya selama beberapa bulan pernikahan mereka lima tahun yang lalu.
Ia sadar betul. Ia hanya bisa mencintai Aleta tanpa bisa membahagiakan nya. Dan kini saat ia ingin mencoba kembali memperbaiki hubungannya dengan sang wanita, restu dari sang jenderal justru tak ia dapatkan.
Mario, laki laki yang datang terlambat ke kehidupan Aleta namun mampu memberikan segalanya untuk wanita itu, tidak menghendaki Leon kembali meminang sang pujaan hati.
Mario kecewa, sakit hati dan belum bisa sepenuhnya mempercayai laki laki itu.
Leon bukan menyerah. Leon pergi hanya untuk membiarkan Mario kembali memberikan kebahagiaan bertubi tubi untuk Aleta. Ia tak mau jika kedatangan nya hanya akan merusak keharmonisan anak dan ayah.
Leon mengusap wajahnya kasar.
"*aku lagi sholat dhuhur....kata ibuk, saat ini hanya Dia yang bisa memberikan jalan keluar atas masalah yang rumit ini..."
"ibuk bilang, kalau aku masih punya nomor kamu, dia minta aku untuk hubungin kamu...ngajak kamu melakukan hal yang sama seperti aku, ibuk, dan papa lakukan saat ini...."
"kita minta petunjuk dari Yang Maha Memberi jalan keluar...."
"aku akan menyebutku dalam doaku....semoga Allah juga mendengar namaku dan untaian doamu" tulis Aleta di percakapan WhatsApp*.
Sudah hampir satu jam Leon menatap pesan itu. Matanya menatap nanar ke arah tulisan yang terlihat rapi itu sambil sesekali mengusapnya dengan ibu jarinya.
Apakah ia juga harus melakukan hal seperti yang Aleta sarankan itu? pikir Leon.
Leonardo Alfindo Ganada,
ia menatap lurus ke depan, tepat di ujung jalan sana, sebuah kubah besar terlihat jelas dari posisi di mana ia berada saat ini. Dua menara nampak berdiri gagah mengapit sang kubah, seolah melambai lambai meminta Leon yang tengah terombang ambing oleh perasaan itu untuk mendekat ke sana, datang pada padanya, masuk, dan bersimpuh disana.
Haruskah ia datang kesana?
...****************...
Sementara di tempat lain...
Sepasang suami istri itu baru selesai dengan ibadah Dhuhur nya..
__ADS_1
Mario yang berperan sebagai imam sholat nampak mengubah posisi duduknya, berbalik badan menatap ke arah sang istri yang berada di belakang nya sebagai makmum sholat.
Sarah menggerakkan tangan nya, meraih punggung tangan sang suami dan menciumnya sebagai tanda bakti.
Mario hanya tersenyum lembut. Ia lantas menunduk.
Sarah mulai melepaskan mukena nya.
"Sarah....." ucap Mario.
Sarah menoleh ke arah Mario.
"ya..." jawabnya lembut.
"apa menurutmu Aleta akan membenciku?" tanya Mario dengan sorot mata menatap datar ke depan.
Sarah tersenyum sambil kembali melipat kain besar berwarna putih itu.
"Aleta bukan anak yang seperti itu mas..." ucapnya.
"tapi aku sudah menjauhkannya dari laki laki yang ia sukai..." ucap Mario.
Sarah tersenyum lagi
"apa kamu juga membenci orang tua kamu sekarang?" tanya Sarah membuat Mario menoleh seketika.
"maaf....kalau boleh aku mengeluarkan pendapat ku...apa kamu tidak coba untuk menempatkan diri kita ini dalam posisi yang kini putri kita hadapi mas....?" tanya Sarah.
"aku dulu juga pernah berfikir untuk menyerah...sama...Leon mungkin juga sekarang seperti itu..."
"kamu berfikir Leon belum cukup pantas untuk Aleta...sama...orang tuamu juga dulu berfikir seperti itu tentang ku...tapi nyatanya kita bisa melewatinya bersama sama kan...." ucap Sarah.
"orang tuaku melakukan itu karena mereka tidak tau tentang kau, Sarah....dia tidak mau mengenalmu lebih dekat..." ucap Mario.
"sama....sama dengan Leon mas...." ucap Sarah lagi.
"aku yakin Aleta juga lebih mengenal mantan suaminya dari pada kita mas... "
"dipisahkan dengan orang yang dicintai itu berat...kita juga pernah mengalami nya mas..." ucap Sarah.
Mario menatap wajah sang istri....
"kau mendukung hubungan mereka?" tanya Mario.
"aku mendukung kebahagiaan Aleta dan kebahagiaan mu....apapun keputusan kalian aku mendukungnya...." ucap Sarah.
"kita ini hanya orang tua...tugas kita mengarahkan anak kita, tapi jika memang mereka punya pilihan hidup sendiri, kita bisa apa? mengekang dan memaksa untuk berpisah itu bukan yang terbaik mas...ingat...kita juga pernah berada di posisi mereka...."
"tapi aku tidak pernah melakukan kekerasan padamu Sarah... tidak seperti Leon...."
__ADS_1
"iya...aku tau....itulah bedanya kamu dan Leon..."
"tapi sekali lagi maaf, bukan maksud membela siapapun...jika boleh aku bertanya sama kamu mas...apakah tidak ada kesempatan untuk seorang pendosa memperbaiki kesalahannya di masa lalu?" tanya Sarah.
"bukankah tidak ada manusia sempurna di dunia ini?"
"bukan membenarkan pelaku kekerasan....tapi di dalam kisah ini, ada putri kita yang sedang berusaha memaafkan kesalahan seorang pendosa....memberikan kesempatan untuk seorang pendosa memulai kehidupan nya yang lebih baik lagi..."
"maaf....aku juga pernah berada di posisi seperti ini...aku berusaha memaafkan orang yang pernah menjauhkan ku dari suamiku dan melemparkan ku ke lembah pelacuuran...."
Sarah menatap sendu ke arah sang suami....
"mas....sadar atau tidak....Tuhan sedang membalikkan keadaan...apa yang dulu kita alami sekarang terjadi pada putri kita....kita di posisikan sebagai orang tua yang dihadapkan pada situasi dimana dulu kita juga pernah mengalami nya...."
"gunakan hati nurani kamu mas... apa yang menurut kita terbaik belum tentu juga dirasa baik untuk putri kita, pun sebaliknya...."
"Tuhan saja Maha Pemaaf...kamu saja mau menerimaku yang sudah buruk... kenapa tidak coba untuk memberikan kesempatan pada Leon..."
"toh kekerasan itu hal yang bisa dilihat secara kasat mata, kalau kamu masih ragu...bisalah mereka tinggal di sini dulu sama kita..kamu juga orang yang cerdas, bisalah kita buat perjanjian sebelum pernikahan...hal hal apa yang tidak boleh Leon lakukan pada putri kita nantinya dan apa konsekuensinya...."
"bukan bermaksud ikut campur urusan rumah tangga anak...tapi bukankah itu lebih baik....memberi kesempatan sekaligus mengawasi, dari pada harus memisahkan dan ujung ujungnya semua merasa tersakiti....? aku yakin sebagai ayah kamu pasti juga nggak tega melihat putri kamu terus terusan sedih kan mas?" tanya Sarah membuat Mario diam tak bersuara.
"kita hanya orang tua mas...anak anak kita yang menjalani...jadilah orang tua yang bijak,sayang..." ucap Sarah sambil mengusap lembut pundak sang jenderal.
Mario hanya menatap dalam wajah sang istri yang selalu bersikap lembut itu.
Hingga.....
drrrrttt..... drrrrttt.....
ponsel yang berada di atas meja kecil itu berbunyi. Mario meraih benda pipih nya itu dan membuka nya
Sean....
memanggil.....
Mario dengan segera mengusap tombol hijau disana.
"halo......."
....................
"apa?!!"
...----------------...
***Selamat siang...
up 12:57
__ADS_1
yukk... dukungan dulu π₯°πππ
othor cuma up 1 kali hari ini....ada kesibukan dikit.. insya Allah besok bisa 2x lagiπ₯°***