Istri Kedua Tuan Leon

Istri Kedua Tuan Leon
142 #post ulang


__ADS_3

Nb; untuk readers jika suatu saat sudah dapat notif dari NT dan kadang nggak nemu bab di barisan paling bawah, silahkan scroll cari ke atas" ya, karena kadang bab suka nyelip di tempat yang tidak seharusnya...


terima kasih..


....


"hah??!" ucap Leon kaget. Begitu juga dengan Aleta yang baru saja berbohong pada papanya.


"kenapa? kau tidak sungguh sungguh ingin menikahi putriku?" tanya sang jenderal.


Leon celingukan. Ia masih kaget dengan ulah Aleta, ditambah lagi kaget dengan permintaan sang jenderal yang meminta untuk segera menikahi putrinya, kini ia makin dibuat gugup dengan pertanyaan dari laki laki itu.


Leon terlihat bingung. Lidahnya kelu seolah bingung mau jawab apa. Sedangkan Aleta yang duduk di sampingnya sejak tadi tak henti menginjak injak telapak kaki Leon diam diam seolah meminta pria itu bertingkah sewajarnya agar sang jenderal tak curiga.


"Leon..?!" tanya pak jenderal lagi kini terdengar lebih tegas.


"aa....iya..! siap..! siap om..!" ucap Leon gugup.


Mario mengangkat dagunya lalu mengangguk.


"baguslah, jadi kapan? kau sudah terlalu sering membawa putriku pergi kesana kemari tanpa ikatan" tanya sang jenderal.


Aleta dan Leon saling pandang lagi.


Leon benar benar gugup. Kekuatan, karisma, dan wibawanya benar benar surut, hilang tak berbekas jika sudah berhadapan dengan jenderal ayah kandung kekasih hatinya itu.


"Leon..." ucap Mario lagi.


"emm... secepatnya, jenderal" ucap Leon.


"satu minggu lagi..!" jawab Mario tegas membuat Leon dan Aleta reflek menoleh.

__ADS_1


"apa?!" tanya Leon kaget.


"kenapa?! kau tidak sanggup?!" tanya Mario.


"sanggup om, sanggup..!!" ucap Leon setengah gugup


"bagus, untuk masalah pernikahan, resepsi dan sebagainya aku pasrahkan pada kalian berdua. Aku tidak mau ikut campur. Kalian sudah pernah menikah sebelum nya, mau seperti apa pernikahan kalian terserah kalian berdua. Aku hanya ingin kalian segera punya ikatan hubungan yang sah, agar tidak menimbulkan dosa dan fitnah" ucap Mario.


Leon mengangguk.


"ya sudah, aku mau istirahat, kalian lanjutkan ngobrol kalian" ucap Mario kemudian bangkit dari duduknya. Leon hanya mengangguk, sedangkan Mario kini berjalan menuju kamarnya di lantai dua untuk beristirahat.


Seperginya Mario,


Leon mengubah posisi tubuhnya menghadap ke arah Aleta. Pria itu melotot dengan raut wajah kesal ke arah wanita cantik yang sama sekali tak merasa bersalah tersebut.


"apa?" tanya Aleta.


"maksudmu apa?!" tanya Leon dengan suara pelan namun menahan kesal.


"Aleta, kita belum dapat restu mama..!" ucap Leon sambil terus menjaga volume suaranya agar taj terdengar oleh Sarah dan pak jenderal.


"bisa bisanya kamu bilang mama udah merestui kita..! kalau papa kamu tahu kita bohong gimana?!" tanya Leon dengan sorot mata panik.


Aleta menghela nafas panjang.


"tenang dulu..!" ucap Aleta mencoba menenangkan.


"tenang gimana? kamu yang bilang, kita udah berjalan sangat jauh. Kita tinggal selangkah lagi minta restu mama, kenapa sekarang malah kamu yang berbohong sama papa kamu..?!" tanya Leon tak habis pikir.


"bukan gitu, dengerin dulu, kita udah dapat restu papa. Itu aja dulu..! meluluhkan hati papa itu susah banget, sayang. Papa itu keras, terlebih lagi sampai saat ini pun sebenarnya dia juga belum terlalu bisa sepenuhnya percaya sama kamu. Sekarang bayangin aja kalau sampai kita jujur bahwa kita belum dapat restu, bisa bisa papa ragu lagi sama kamu. Dia akan mengira aku nggak akan aman sama kamu karena mama kamu masih belum menerima aku." ucap Aleta.

__ADS_1


"sekarang gini aja, aku tahu ini nggak sepenuhnya bener, tapi nggak ada salahnya kan kita nikah dulu. Restu mama kamu kita cari sambil jalan. Toh mama kamu masih di penjara, masih ada waktu cukup lama sampai dia keluar nanti."


"maaf, bukannya aku mau ngajak kamu durhaka. Aku cuma takut, kalau kita terlalu mengejar satu hal, nantinya kita hanya akan kehilangan hal hal lain yang lebih penting..."


"restu papa udah kita dapat, syarat udah kamu sanggupi semua. Tinggal satu, restu mama kamu, kita coba dekati lagi pelan pelan sambil jalan. Aku yakin kita bisa kok nanti, ya.... kamu ngerti kan maksud aku?" ucap Aleta lagi.


Leon menghela nafas panjang. Ia nampak mengusap wajahnya frustasi. Memang ada benarnya apa yang dikatakan Aleta. Jika menanti restu dari Renata, mungkin akan butuh waktu yang sangat lama lagi. Ditambah lagi kini hubungan Leon dan Renata justru makin memburuk.


Jika menunggu restu sang ibu, ia takut Mario jadi hilang kepercayaan. Sedangkan dari awal Mario sudah mengatakan untuk secepatnya pernikahan dilaksanakan agar tak menjadi fitnah yang berkepanjangan.


Leon menatap ke arah Aleta. Tangannya tergerak mengusap lembut pucuk kepala wanita itu lalu berkata,


"aku tahu kekhawatiran mu," ucap Leon.


"nggak apa apa kan, kita nikah dulu aja?" tanya Aleta.


Leon mengangguk.


"kita nikah dulu, restu mama pasti akan menyusul nantinya" ucap Leon.


Aleta tersenyum. Leon mencubit gemas pipi wanita cantik itu. Kini keduanya sepakat untuk menikah terlebih dahulu. Masalah restu Renata, mereka akan kembali berusaha mendapatkan nya nanti setelah hubungan mereka sah secara agama dan negara. Yang terpenting ada ikatan yang halal dulu diantara mereka.


Tanpa kedua nya sadari,


Di lantai atas. Dibalik sebuah pintu kamar disana. Sepasang mata nampak menatap lucu kearah pasangan itu. Senyuman tipis mengembang dari bibirnya.


"kalian pikir aku bodoh?" ucap pria paruh baya itu dari balik pintu lalu menutupnya dan bersiap untuk istirahat.


----------------


Selamat sore,

__ADS_1


.up 17:00


yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2