
Hari terus berganti....
Satu minggu sudah Leon berada di rumah sakit. Memulihkan kondisinya pasca kecelakaan yang menimpanya beberapa hari yang lalu.
Hari ini, tepat satu minggu setelah sadarnya Leon dari tidur panjangnya. Hari ini pria itu di izinkan pulang oleh dokter yang menanganinya. Dengan kondisi yang sudah sangat jauh lebih baik, Leon dengan satu tangan yang masih di gips itu nampak duduk di atas ranjang. Menyaksikan Aleta dan putra putrinya yang nampak sibuk membereskan barang barang yang mereka bawa selama di rumah sakit. Seperti selimut, baju dan yang lainnya.
"mama.....hari ini kita pulang kemana? kerumah mama apa ke rumah papa?" tanya Ahsa riang sambil membantu Aleta memasukkan barang barang itu ke dalam sebuah tas ransel.
"ya kerumah papa dulu dong sayang...." ucap Aleta.
"hmmmhh....padahal aku udah nggak sabar pengen tinggal sama mama...." ucap Ahsa.
Aleta tersenyum.
"ikut mama aja mau nggak...?" tanya Aleta menawarkan diri.
"apa apaan..! nggak..! Ahsa harus tetap di rumah sama papa...!" ucap Leon tiba tiba menolak dengan tegas niatan Aleta itu membuat Aleta terkekeh.
Pria itu sudah terlanjur menyayangi dua buah hatinya. Ia seolah tak rela kalau sampai Aleta membawa Ahsa dan Alka pergi dari nya.
"aku maunya ke rumah mama juga bareng bareng sama papa sama kakak....nanti aku boleh ya ma...bobok sama mama..." ucap Ahsa.
"iya....terserah Ahsa aja..." ucap Aleta.
Mereka pun kembali membereskan barang barang mereka.
Tiba tiba...
ceklek....
pintu kamar rawat inap terbuka....
Seorang pria berseragam militer nampak masuk ke dalam kamar itu sambil tersenyum.
"assalamualaikum...." ucap pria tersebut, Sean.
"wa alaikum salam...." jawab semua yang ada di sana.
"om tentara....!!" ucap Ahsa girang.
"halo cantik..." ucap Sean.
Ahsa dan Alka mendekati pria itu. Diraihnya punggung tangan sang prajurit kepercayaan jenderal Mario tersebut.
"om tentara....om tentara ngapain ke sini? papa aku udah mau pulang..." ucap Ahsa polos.
Sean yang memang penyayang anak anak itupun mengusap pucuk kepala bocah cantik tersebut.
"iya...om udah tahu...makanya om kesini, mau jemput kalian....om anterin pulang...sesuai perintah calon kakek kalian..." ucap Sean.
"kakek jenderal?" tanya Ahsa.
Sean mengangguk.
"waaaahhh....kakek aku baik banget....perhatian..." ucap Ahsa kegirangan membuat semua yang ada di ruangan itu tersenyum gemas karena tingkah polah gadis kecil tersebut.
Sean menatap ke arah Aleta dan Leon bergantian.
"udah selesai beres beresnya?" tanya Sean.
"udah mas...aku tinggal ngurus administrasi sama nebus obat aja sih..." ucap Aleta.
"ya udah sini biar aku aja yang urus..." ucap Sean.
"nggak usah mas..aku aja..kamu duduk aja dulu, biar aku aja yang ke meja administrasi nya..." ucap Aleta sambil menutup resleting tas ranselnya. Diraihnya dompet di atas meja lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju meja admistrasi. Meninggalkan dua pria dewasa dan dua bocah yang kini nampak bercengkerama hangat.
....
Di meja administrasi yang berada di area lobby rumah sakit...
Aleta nampak berjalan tenang menuju tempat pengurusan administrasi dan pendataan pasien rumah sakit besar itu. Aleta nampak memicingkan matanya. Dari kejauhan dilihatnya dua orang wanita tengah terlibat perdebatan dengan seorang petugas loket pembayaran obat yang letaknya bersebelahan dengan meja administrasi. Seorang wanita paruh baya dan seorang wanita lagi yang nampak lebih muda nampak duduk di kursi roda. Keduanya terlihat tengah beradu argumen dengan seorang wanita berseragam serba putih disana.
"itu seperti.............".gumam Aleta menggantung.
"mbak....bisa lah kasih keringanan...seratus ribu doang...saya butuh obat itu buat anak saya..." ucap seorang wanita paruh baya itu.
"maaf ibu.... tidak bisa...saya hanya menjalankan tugas..." ucap petugas administrasi.
"seratus ribu doang mbak...nggak usah perhitungan deh...saya pasien di sini...! mana obat saya...!!" ucap seorang wanita yang nampak duduk di kursi roda itu.
"maaf mbak, tidak bisa. Ini sudah peraturan. Silahkan bayar sesuai nota baru anda bisa mendapatkan obat anda!" ucap sang petugas obat.
Aleta yang penasaran pun berjalan mendekati keributan tersebut.
"permisi..."
__ADS_1
Suara lembut wanita cantik itu berhasil membuat semua yang berada di sana menoleh. Aleta nampak tersenyum lembut. Sedangkan wanita yang kini berada di atas kursi rodanya itu nampak melotot dengan mulut yang terbuka.
Ya....itu adalah Mayang Anjani..! mantan istri pertama Leon, mantan madu Aleta, orang yang memberi andil besar atas hengkangnya Aleta dari istana megah Leon beberapa tahun yang lalu.
"kamu...?!!" ucap Mayang yang tak bisa bangkit dari kursi rodanya pada Aleta yang nampak tenang.
Rinjani, ibunda Mayang nampak mengernyitkan dahinya. Ia tak kenal wanita itu.
"kami kenal dia, May?" tanya Rinjani.
Mayang tak bereaksi.
Aleta menoleh ke arah petugas obat itu.
"sus, saya mau nebus obat. Atas nama tuan Leonardo..." ucap Aleta.
"oh, baik mbak....tunggu sebentar..." ucap sang petugas.
Petugas wanita berseragam putih putih itu pun kemudian menyiapkan obat obat untuk pasien atas nama Leonardo Alfindo Ganada. Aleta nampak tersenyum ke arah Mayang yang terlihat manatapnya tajam penuh dendam.
"ini mbak...atas nama tuan Leonardo Alfindo Ganada ya..."
"iya, sus"
Sang petugas pun menyebutkan total uang yang harus dibayar Aleta.
Wanita cantik itupun membuka dompet panjangnya yang nampak tak terlalu tebal, namun dipenuhi dengan black card dan kartu kartu kredit ber saldo fantastis disana. Uang memanglah bukan lagi barang yang sulit di cari oleh Aleta Balqis Aqilah. Jenderal Mario selalu memastikan bahwa putri dan istrinya tak akan pernah kekurangan stok uang dalam dompet mereka.
Aleta mengeluarkan satu kartunya.
"sekalian sama kekurangan mbak ini ya..." ucap Aleta.
"oh, baik mbak..mohon tunggu sebentar.." ucap sang petugas.
Aleta hanya tersenyum.
"maksudnya apa?!" tanya wanita di atas kursi roda itu dengan suara bergetar menahan amarah.
Aleta pun menoleh ke arah Mayang. Suara wanita itu terdengar tak begitu jelas. Mayang memang belum lama bisa bicara dengan fasih. Pasca kecelakaan di pesta ulang tahun lima tahun yang lalu, wanita itu nyatanya lumpuh total. Seluruh tubuhnya tak bisa di gerakkan. Bicara pun mulanya ia tak sanggup. Namun dengan berbagai terapi dan pengobatan yang ibunya usahakan, akhirnya Mayang perlahan pun mulai membaik kondisinya. Kini tinggal kakinya yang masih mati. Sedangkan tangannya sedikit banyak sudah bisa berfungsi lagi.
Aleta hanya tersenyum.
"ini mbak obatnya..." ucap sang petugas obat.
Aleta menerima satu keresek putih berisi obat obatan untuk Leon.
Wanita paruh baya itu pun menerimanya dengan suka cita. Baru saja ia hendak berterima kasih kepada Aleta namun tiba tiba dengan kasarnya Mayang menampik kresek itu. Hingga kantong plastik berisi obat obatan berjenis kapsul dan tablet itu terjatuh ke atas lantai marmer rumah sakit tersebut.
"Mayang..!! apa apaan kamu..?!" bentak Rinjani pada putri semata wayangnya itu.
Mayang kini nampak menatap bengis ke arah Aleta yang terlihat tenang. Seolah amarah kini memuncak menguasai dirinya. Ingin sekali ia menghantam wajah mantan madunya itu.
Lihatlah sekarang, Aleta dengan angkuhnya membayar kekurangan obat yang tak bisa di bayarkan oleh ibunda Mayang. Ia datang bak pahlawan dengan segala harta benda dan kemewahan yang ia punya. Ia juha datang menebus obat Leon.
Apa itu artinya Aleta kini kembali bersama Leon?
Begitukah?
Wanita yang dulu ia singkirkan itu kini berhasil mendapatkan laki laki idaman Mayang itu?
Tidak...ini tidak adil...!!
Batin Mayang makin bergemuruh...!
Rinjani memunguti obat obatan itu. Sedangkan netra dua wanita yang pernah menyandang status sebagai istri Leon itu kini nampak saling pandang. Aleta tenang, namun Mayang terlihat diliputi api amarah.
"Mayang...! kamu itu kenapa?" tanya Rinjani tak paham dengan sikap putrinya.
"aku nggak mau di bantu sama dia..! balikin obatnya ma...!!" ucap Mayang emosi.
Aleta tenang.
"kamu itu ngomong apa? mbak ini baik sama kita..." ucap Rinjani.
"baik?? Dia nggak baik ma...!! dia yang bikin aku kayak gini..! dia wanita yang berusaha ngambil Leon dari aku....! dia pelakor...! dia jahat...!! aku benci sama dia....!!!!" ucap Mayang histeris. Membuat semua menoleh ke arah para wanita itu.
Bisik bisik lirih sayuk sayuk mulai terdengar. Seorang wanita lumpuh histeris di hadapan wanita cantik. Ia menangis dan nampak begitu emosi. Tentu saja, bagi yang tak paham mungkin akan beranggapan Mayang adalah si wanita tersakiti, dan Aleta adalah si yang paling menyakiti. Namun kenyataanya tidak sepenuhnya seperti itu bukan..?
Rinjani menatap Aleta dan Mayang secara bergantian.
"maksudnya gimana? ada apa ini sebenarnya? kalian saling kenal?" tanya Rinjani.
"dia pelakoorr...!!!" ucap Mayang histeris.
Rinjani makin bingung.
__ADS_1
"pelakor?" tanya Rinjani.
"mama denger kan? dia tadi ambil obat atas nama Leon ma... mantan suami aku...!! dia udah ambil Leon dari aku ma....!!dia yang bikin Leon jauh dari aku ma...dia jahat...!!" ucap Mayang makin bersikap seolah dia yang teraniaya.
Ia benci Aleta..! karena Aleta lah hidupnya jadi hancur..!
Aleta tersenyum tenang.
"kamu?" tanya Rinjani menggantung.
"jadi benar Leon punya istri lain saat Mayang masih menjadi istrinya?" tanya Rinjani.
Aleta tersenyum.
"bisa nggak sih biasa aja nggak usah teriak teriak..." ucap Aleta santai.
"iya....memang benar...saya mantan istri keduanya Leon....tapi mohon maaf, ada satu hal yang perlu di garis bawahi dan ditekankan disini....saya... bukan.... pelakor..!" ucap Aleta tegas dan penuh penekanan di akhir kalimat nya.
Rinjani nampak menyipit kan matanya. Sedangkan Mayang masih terlihat diselimuti emosi.
"trus apa namanya..? sebutan apa yang pantas untuk wanita yang merebut suami orang?!" tanya Mayang murka.
Aleta menarik nafas panjang. Niat baiknya menolong Mayang malah berujung drama dari mantan madunya itu.
Nyesel banget udah nolongin🤦
"sebenarnya saya sangat malas buk, untuk menjelaskan masalah yang sebenarnya sudah saya lupakan sejak lama ini... saya sudah melupakan itu dan mengubur dalam dalam kenangan yang tidak layak untuk diingat itu .." ucap Aleta tegas. Sungguh...ia malas membahas hal tak penting ini.
Ia kemudian menoleh ke arah Mayang.
"jadi nyonya...berhenti untuk bertingkah seolah anda adalah korban... karena kalau saya sampai buka mulut...anda akan malu sendiri loh...."ucap Aleta tenang membuat Mayang makin bergemuruh.
"diam kau anak jalaaang ..! anak pelacuur...! anak haram...!!" bentak Mayang makin histeris.
"jangan panggil saya anak haram...!!" bentak Aleta mulai kesal.
"trus apa namanya kalau bukan anak haram..?! kamu itu anak yang nggak jelas siapa bapaknya...!!" ucap Mayang murka di atas kursi rodanya.
Aleta mulai emosi.
"maaf ya nyonya...tolong berhenti drama...! saya males ngeladeninnya...!" ucap Aleta kemudian berbalik badan hendak pergi dari tempat itu. Namun....
.
.
.
buuuuuggghhhh....
Aleta mengehentikan langkahnya. Sebuah tas selempang mendarat di kepala wanita itu. Mayang melempar tas nya dan menghantamkannya ke kepala Aleta saking kesalnya.
Aleta berbalik badan lagi. Kini ia terlihat mulai emosi karena tindakan Mayang. Di tatapnya wanita itu dengan sorot mata tajam penuh kekesalan.
"mau kemana kamu? mau pergi? kenapa? malu? malu karena kamu merasa bersalah? malu kalau semua orang tahu bahwa kamu itu hanyalah wanita penggoda mantan istri Leon yang sekarang kembali menggoda mantan suami saya?!! iya kan??!! dasar jalaang ..!!!" bentak Mayang kesal penuh emosi.
Aleta habis kesabaran. Dengan penuh emosi ia mengangkat tangannya. Hendak melayangkan pukulan ke arah wanita lumpuh itu namun.....
.
.
.
seeeeetttt....
Sebuah tangan kekar manahan pergerakan putri pak jenderal. Wanita itu lantas menoleh ke belakang, dan.....
.
.
.
.
.
.
dan Bersambung...🤭😁😁😁
...----------------...
Up 19:18
__ADS_1
yuk... dukungan dulu 🥰😘