
Malam semakin larut,
dua bocah anak angkat Leon dan Aleta itu kini sudah terlelap di tempat tidur masing masing. Leon nampak menyelimuti tubuh kedua bocah tersayang nya itu. Sedangkan Aleta kini terlihat menutup jendela dan pintu menuju balkon kamar luas bermotif angkasa tersebut.
Leon mendekatkan wajah nya pada sang putra. Di kecup nya kening bocah sepuluh tahun itu dengan lembut, begitu sebaliknya, ia lakukan juga pada Ahsa yang kini mulai mendengkur lembut dengan mata terpejam itu.
Aleta mendekat.
Diamatinya wajah kedua yatim piatu beruntung yang kini menjadi buah hati mereka tersebut sambil tersenyum.
"udah malem, kita juga harus istirahat.." ucap Aleta.
Leon menoleh lalu tersenyum.
"ya" ucapnya sambil mengangguk.
Kedua pasang suami istri itupun keluar dari kamar kedua bocah itu lalu masuk ke dalam kamar mereka yang letaknya bersebelahan.
Aleta masuk terlebih dahulu, di susul Leon dibelakang kemudian mengunci pintu kamar luas itu dari dalam.
Aleta duduk di tepi ranjang. Sedangkan Leon nampak melepas kaos hitamnya dan merebahkan tubuh kekarnya itu di atas ranjang, tepat di samping sang istri yang kini nampak memasang charger ponsel.
Leon memposisikan tubuhnya miring. Netra tajamnya menatap ke arah punggung Aleta yang berbalut kaos putih lengan pendek tersebut.
"Aleta," ucap Leon.
Aleta menoleh, dilihatnya si pria kini sudah bertelanjang dada di belakang tubuhnya.
Aleta tersenyum. Ia meletakkan ponselnya, lalu meringsut dan ikut merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Di samping Leon, dengan posisi miring saling berhadap hadapan.
"ya," jawab Aleta.
"boleh aku bertanya?" tanya Leon.
"apa?" tanya Aleta lembut.
Leon mengangkat tangannya. Di belainya rambut panjang sang istri dengan lembut tanpa melepaskan pandangannya.
"Aleta, apa kau masih menginginkan anak dari ku?" tanya Leon.
Aleta diam sejenak. Di amati nya wajah berjambang itu dengan sorot mata intens.
__ADS_1
"kenapa nanya kayak gitu?" tanya Aleta.
Leon tersenyum.
"aku hanya takut kau kecewa..." ucap Leon.
Aleta tersenyum. Ia meringsut lagi, makin mendekat kan tubuhnya ke tubuh Leon yang tegap berotot, membuat dua raga itu kini menempel seolah tanpa jarak. Aleta memeluk tubuh kekar itu. Menempelkan kepalanya di dada sang pria dengan manjanya. Sedangkan Leon kini nampak membelai rambut panjang itu sambil sesekali menciumi pucuk kepala Aleta dengan penuh cinta.
"aku udah tahu kondisi kamu dari awal. Aku udah tahu semua tentang kamu. Kita kenal bukan baru sehari dua hari, sayang" ucap Aleta.
"tujuan utama pernikahan bukanlah seorang anak. Anak itu hanya titipan kan? buat aku menikah itu mencari pelengkap. Mencari teman, pasangan hidup yang bisa kita bawa sampai tua dan menghembuskan nafas terakhir kita" ucap Aleta.
Wanita itu kemudian mendongak.
"kita juga udah punya Alka dan Ahsa. Kalaupun Tuhan tidak mempercayakan rahimku terisi dengan calon penerus mu, setidaknya sekarang Tuhan sudah mempercayakan kita untuk merawat dua yatim piatu yang kehilangan sosok orang tua mereka sejak kecil." ucap Aleta.
"Udah lah, nggak usah terlalu di pikirin. Yang penting sekarang kita udah bisa bersama sama. Papa kelihatan nya juga udah mulai nyaman dengan keberadaan kalian. Padahal ini baru sehari loh. Sekarang PR kita tinggal satu, restu mama kamu" ucap Aleta.
Leon tersenyum. Di usapnya wajah ayu itu dengan satu jari jarinya.
"iya, kamu bener. Makasih sayang, kamu masih mau memberi kesempatan kedua untuk laki laki seperti ku" ucap Leon.
Aleta tersenyum.
Leon tersenyum lagi. Di gerakkan nya kepala itu. Ia mengecup lembut bibir merah muda milik sang istri dengan penuh cinta.
"i love you, baby. Aku akan menjadi sosok baru untukmu. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi" ucap Leon.
Aleta tersenyum manis sambil mengangguk.
Leon kembali melancarkan aksinya. Dikecupnya lagi bibir itu singkat namun berkali kali. Aleta tersenyum di sela sela aktifitasnya.
Leon meringsut. Mensejajarkan wajahnya dengan wajah sang istri. Bibir itu masih memberikan serangan bertubi-tubi pada wanita berkulit putih itu.
Kecupan kecupan lembut perlahan berubah menjadi sebuah ciuman yang dalam. Leon enggan melepaskan benda merah muda itu. Di tekan nya kepala sang istri. Ia memperdalam penyelamannya ke area mulut wanita cantik tersebut. Mengajak lidah yang berada di dalam sana untuk beradu dengan penuh naffsu.
Cukup lama adegan itu berlangsung. Nafas keduanya mulai memburu. Aleta menggerakkan tangannya mengusap usap punggung pria itu dengan dada yang mulai naik turun pertanda mulai merasakan panas
Hal yang sama Leon rasakan.
Tanpa melepaskan paguutannya, Leon membalik tubuh Aleta hingga terlentang. Membuat tubuh kekarnya kini berada di atas raga ramping wanita cantik yang terus mengalungkan lengannya ke leher pria matang itu.
__ADS_1
Puas dengan peraduan lidahnya,Leon melepaskan bibir itu.
Diamatinya wajah cantik itu lagi. Di tatapnya mata itu dengan intens namun penuh naffsu
"manis banget" ucap Leon lirih berhasil membuat Aleta tersipu mali.
Leon bangkit, ia mengangkat tubuhnya. Laki laki itu kini duduk di pinggul sang istri yang nampak pasrah. Diamatinya wajah cantik itu. Tangannya kembali tergerak mengusap wajah, leher hingga dada wanita itu membuat Aleta menggeliat di bawah sana.
Leon tersenyum. Ia menggerakkan tangannya membantu Aleta untuk melepaskan seluruh kain yang menutupi tubuh indahnya. Membuat kini raga ramping dengan berbagai gundukan indah itu nampak polos tak tertutup sehelai benangpun.
Leon melepaskan celana pendeknya. Hingga hanya menyisakan sebuah boxer putih dengan merk ternama dunia itu.
Leon menatap garang ke arah wanita yang terlihat pasrah itu. Matanya tak lepas dari wajah Aleta, namun tangannya kini mulai merayap. Mengusap telapak kaki, naik ke betis, paha bagian dalam hingga terhenti pada seonggok daging yang berada di tengah tengah kakinya.
Jari itu bergerak begitu aktif. Seolah menemukan mainan baru yang begitu menarik bagi Leon.
Gerakan nya cukup kasar, membuat sesuatu yang kering perlahan mulai basah di buatnya. Pemiliknya makin tak terkendali. Dadanya naik turun, nafasnya berat, kedua tangannya meremas sprei, bibir bawahnya di gigit guna menahan suara suara yang seolah memaksa keluar dari mulutnya.
Leon makin bersemangat. Wanitanya terlihat makin cantik dan menggoda jika sedang seperti ini.
Aleta makin tak terkendali. Tanpa sadar kedua belah kakinya makin terbuka lebar membuat Leon makin bersemangat memainkan mainan nya.
Aleta makin menggila. Leon makin panas.
Dengan satu gerakan cepat dan cekatan. Di mangsanya benda yang sudah basah kuyup itu.
Aleta tersentak. Matanya melotot. Tangannya reflek menutup mulutnya sendiri. Wanita itu makin tak terkendali manakala si laki laki makin brutal di bawah sana. Pinggul itu sesekali terangkat. Leon makin bersemangat.
Pria itu mulai naik, menggerakkan kepalanya menyusuri tiap jengkal tempat yang belum tersentuh bibirnya. Makin naik dan terus naik. Tak lupa tangan kekar itu seolah tak mau berhenti bekerja. Melakukan apapun yang ingin ia lakukan pada tubuh si wanita cantik pujaan hatinya itu.
Malam pun terus berlanjut. Sepasang suami istri itu kembali larut dalam permainan panas yang mereka ciptakan sendiri. Dalam hati Leon seolah terus berdoa, semoga apa yang ia lakukan ini bisa menghasilkan sebuah nyawa yang nantinya akan tumbuh di rahim Aleta.
Meskipun Aleta tak mempermasalahkan hal itu. Namun, sebagai seorang pria, tak dipungkiri, ia juga ingin ada calon penerus nya yang bisa terlahir ke dunia. Semoga....
...----------------...
Selamat pagi
up 05:55
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘😘
__ADS_1