
Masih di hari yang sama, saat malam mulai mengambil alih dunia....
Di sebuah rumah petak tempat persembunyian Aleta dan ibunya.
Wanita paruh baya itu nampak berada di dapur rumah sederhana tersebut. Ia nampak sibuk merebus dua bungkus mie instan yang akan menjadi menu makan malamnya dan sang putri malam ini. Tanpa telur seperti kebanyakan menu mie instan special lainnya. Ia hanya mengambil dua bungkus mie yang ada di dalam salah satu lemari kaca sederhana di rumah itu. Padahal sebenarnya Ayu juga sudah menyiapkan beberapa butir telur dan sayuran, tapi Sarah enggan memasaknya. Tak enak, ia sudah terlalu sering merepotkan sahabatnya itu.
Sarah masih sibuk dengan aktifitas nya, hingga.....
seeeeeeeett....
Sepasang lengan putih memeluk nya dari belakang. Sarah terdiam. Kepala itu tersandar di punggung nya. Sarah bahkan dapat merasakan suhu badan Aleta yang terasa sedikit panas.
"Al..." ucap Sarah sambil menyentuh telapak tangan sang putri yang mendekap erat tubuhnya.
"kamu sakit?badan kamu panas nak..." ucap Sarah.
"ibuk....." ucap Aleta lemah.
Sarah berbalik badan. Di tangkup nya wajah ayu itu. Aleta terlihat pucat dan lemah membuat Sarah merasa khawatir di buatnya.
"Ya Allah Al.....badan kamu panas...! kamu sakit nak?" tanya Sarah mulai khawatir.
Aleta tak menjawab. Wanita cantik berambut panjang dengan kaos biru muda dan celana pendek berwarna putih itu nampak tersenyum.
"buk...." ucap Aleta lemah.
"iya sayang...." ucap Sarah.
"ibuk jangan lakuin itu ya...." ucap Aleta dengan mata mengembun.
Sarah terdiam.
"ngelakuin apa?" tanya Sarah tak paham.
Aleta mulai sesenggukan.
"ibuk....Aleta nggak apa apa...kita bisa pergi dari kota ini....tapi ibuk nggak perlu balik lagi ke pekerjaan ibuk...aku nggak mau.....hiks...." ucap Aleta perih.
Sarah mengembun. Rupanya putri semata wayangnya itu mendengar percakapan nya dengan Ayu siang tadi.
Sarah membelai rambut Aleta.
"nak....kamu nggak usah mikirin itu...biar itu jadi urusan ibuk....sekarang kamu makan ya...trus istirahat, badan kamu panas nak..." ucap Sarah.
"buk..........."
"Aleta .... ibuk janji akan bawa kamu pergi dari kota ini dengan cara ibuk...kamu nggak usah mikirin yang aneh aneh..kita makan malam ya....."ucap Sarah.
"tapi buuuk....aku nggak mau....." ucap Aleta mulai terisak isak bak anak kecil.
__ADS_1
"sayang dengerin ibuk.... kamu masih tanggung jawab ibuk....yang penting kamu tenang.... semua akan baik baik saja...." ucap Sarah.
Aleta menunduk. Ia mengangkat kedua telapak tangannya. Satu tangannya tergerak melepas sebuah cincin emas yang melingkar di jari manisnya. Itu adalah cincin pernikahan nya dengan Leon.
Kini ia sudah pergi meninggalkan laki laki itu. Ia ingin mengubur dalam dalam masa lalunya dengan pria itu. Mungkin akan lebih berguna, jika cincin ini di jual saja sebagai modal untuk ia dan ibunya pergi dari kota ini.
"ibuk....Aleta masih punya ini...." ucap Aleta sambil menunjukkan cincin yang kini sudah terlepas dari jari jari tangannya.
"kita bisa pakai ini untuk pergi kan buk...?" tanya Aleta mengembun.
"Aleta nggak mau ibuk balik lagi ke pekerjaan ibuk....Aleta nggak mauu....." ucap wanita itu sambil sesenggukan.
Lagi.....Sarah menangis sesenggukan. Air matanya tumpah tak terbendung entah untuk yang ke berapa kalinya. Wanita itu meraih tubuh sang putri yang nampak kurang sehat. Ia mendekap buah hatinya erat. Betapa pilu ia mendengar ucapan sang putri. Aleta tak mengizinkan dirinya untuk berbuat dosa lagi. Membuat Sarah merasa teriris mendengarnya.
Sabar sayang.... kebahagiaan sudah menanti kalian di depan mata....
...****************...
Sementara di tempat lain......
Di sebuah ruang kerja milik sang jenderal.....
Mario menatap lap top yang ada di hadapannya dengan sorot mata tajam dan dada bergemuruh.
"Namanya Aleta Balqis Aqilah, sembilan belas tahun, putri dari seorang wanita penghibur yang biasa bekerja di club malam X dan wisma Y..." ucap Sean memberikan laporan.
"sedangkan suaminya bernama Leonardo Alfindo Ganada, dia seorang produser terkenal jenderal. Tapi menurut data yang tercatat secara negara, istri Leon bernama Mayang, usianya tiga puluh lima tahun ...bukan Aleta..." ucap Sean.
Mario tak menjawab. Ia masih fokus dengan layar ponsel yang menunjukkan rekaman cctv area sekitar toko bunga. Rekaman yang berhasil ia dan Sean kumpulkan dari beberapa toko dan bangunan sekitar tempat itu. Selain itu ia juga meminta Sean untuk mencari semua data kependudukan hingga data pribadi tentang Aleta, ibunya dan suaminya.
Dan....
inilah hasilnya. Sang jenderal dengan bantuan satu ajudannya itu berhasil mengumpulkan semua yang ingin Mario ketahui hanya dalam kurun waktu kurang dari dua belas jam.
Mario mengangkat dagunya. Dadanya naik turun. Pria itu mulai bergemuruh. Aleta diperlakukan tidak baik, ternyata bukan hanya oleh suaminya, tapi juga oleh orang orang di sekitar suaminya itu.
Dilempar telur busuk, hampir di tabrak, di ikuti diam diam dari belakang, di labrak mertua dan madunya, dan yang terakhir di seret oleh suaminya sendiri...!
Dan paling menyakitkan bagi sang jenderal, ia melihat sosok wanita paruh baya itu...! sosok wanita ibunda Aleta....!
Wajahnya tak begitu terlihat mengingat kamera pengawas hanya merekam kejadian dari jarak yang cukup jauh. Tapi entah mengapa, ia merasa yakin, bahwa Sarah ibu Aleta adalah Sarah si lili putih miliknya...!
Nama, tempat tanggal lahir, ciri ciri fisik serta pengakuan Sean tentang kemiripan bu Sarah dengan foto pernikahan Mario membuatnya makin yakin dengan pemikirannya itu.
Mario mengusap wajahnya kasar dengan mata yang mulai mengembun.
Benarkah ini?
Benarkah Aleta putrinya?
__ADS_1
Dan Sarah sang ibu adalah istrinya?
Mereka masih hidup?
Mario mulai menitikkan air mata sambil menopang dagu dengan tangan yang mengepal.
"jadi bagaimana jenderal?" tanya Sean.
Mario diam sejenak. Lalu...
.
.
.
.
"kita ke wisma itu...!" ucap Mario sambil bangkit dan meraih jaket tebal yang terselampir di kursi kerjanya.
Sean kaget.
"jenderal tunggu...!" ucap Sean.
Mario menghentikan langkahnya.
"ada apa?" tanya Mario.
"ini sudah terlalu malam Jenderal, dan tempat yang akan kita kunjungi bukanlah tempat biasa, ini area prostitusi...! akan sangat beresiko untuk citra anda jika ada orang yang mengenali anda...! biar saya minta anak buah saja untuk menjemput mereka jenderal..!" ucap Sean mengingatkan.
Mario menghela nafas panjang...
"dengar Sean... tidak ada yang lebih berharga untukku saat ini selain istri dan anakku...! aku tidak mau menunda waktu..! aku tidak butuh bantuan orang lain..! aku tidak peduli dengan citra dan penilaian...! yang terpenting bagiku adalah aku bisa bertemu mereka, dan memeluk mereka...! aku ingin secepatnya bisa mengambil peranku sebagai kepala keluarga untuk mereka...! menjadi ayah dan suami yang bisa melindungi mereka...! hal yang seharusnya sudah sangat lama aku lakukan...!" ucap Mario bergetar.
"jadi anda yakin Ibu Sarah dan Aleta adalah keluarga anda?" tanya Sean.
Mario mengangguk samar.
"aku akan membuktikan nya...! aku tidak peduli dengan predikat buruk yang pasti melekat dalam diri mereka....jika memang mereka adalah istri dan anakku...maka aku bertanggung jawab...untuk membawa mereka keluar dari lembah hitam itu...! aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi selama ini...! aku butuh penjelasan....aku butuh kepastian...! dan aku ingin mendapatkan nya malam ini juga... !" ucap sang jenderal
Sean membungkuk paham.
Mario tak berucap lagi. Ia lantas berjalan dengan langkah cepat dan terburu buru menuju keluar rumah mewahnya. Sean pun mengikuti langkah sang jenderal. Ia berjalan di belakang pria itu dan menemaninya menuju wisma tempat dimana Sarah dan Aleta kemungkinan berada.
...----------------...
***Selamat pagi...
up 06:20
__ADS_1
yuk... dukungan dulu 🥰😘😘***