
Tiga hari pasca kepergian Renata..
Sore menjelang,
Sebuah mobil mewah nampak melaju menembus jalanan ibu kota. Membawa satu keluarga yang terdiri dari suami, istri serta kedua anak anaknya yang masih kecil.
Suasana begitu hening. Tak ada satu pun suara yang terdengar dari mulut para manusia manusia itu.
Bayu, sang supir nampak melirik sejenak ke arah spion bagian dalam mobil mewah itu.
Dilihatnya di sana sang tuan nampak diam seribu bahasa dengan mata berkaca-kaca menatap ke arah luar jendela. Kepalanya tersandar pada sandaran jog bagian paling belakang mobil keluarga itu. Sedangkan di sampingnya, sang istri juga nampak diam, seolah ingin memberikan tempat bagi suaminya menyelesaikan dukanya pasca di tinggal sang ibunda.
Tak jauh berbeda dari kedua orang tuanya, Ahsa dan Alka juga nampak diam di jog tengah mobil itu. Meskipun sesekali terdengar suara lirih Ahsa yang nampak berbisik mengajak bicara sang kakak, namun itu tak lantas membuat suasana menjadi ramai dan ceria.
Alka si kakak selalu menempelkan jari telunjuknya di bibirnya tiap kali Ahsa hendak mengajaknya ber gibah. Bocah itu seolah ingin mengajak sang adik untuk menunjukkan rasa empatinya pasca kepergian sosok nenek yang sama sekali belum pernah mereka temui itu. Namun sepertinya si kecil Ahsa kurang bisa memahami maksud sang kakak.
Ya, mereka baru pulang ziarah dari makam Renata. Semenjak kepergian Renata tiga hari yang lalu. Keluarga kecil itu seolah kehilangan keceriaan nya. Sang ayah seolah tak pernah lagi menampakkan senyumannya. Semua terasa begitu berbeda. Membuat keceriaan yang biasanya selalu menyelimuti keluarga baru itu kini seolah sirna, lenyap tertelan duka sang ayah yang seolah berlarut larut.
Sepuluh menit perjalanan,
kendaraan roda empat nan mewah itu sampai di kediaman pribadi milik Leonardo Alfindo Ganada.
Ya, untuk beberapa hari kedepan mereka akan tinggal di rumah Leon. Beruntung, sang jenderal mengizinkan tanpa ada persyaratan apapun. Sebagai seorang ayah, Mario juga mengerti bagaimana kondisi menantunya saat ini. Ia mengizinkan Leon dan Aleta untuk tinggal sementara di rumah itu, namun tentu saja, jika serangkaian acara pasca meninggalnya Renata selesai, mereka harus tetap kembali ke istana pak jenderal sesuai dengan kesepakatan yang sudah Leon sepakati.
Mobil berhenti tepat di halaman luas salah satu rumah Leon. Keluarga kecil itupun lantas turun dari kendaraan nya dan bergegas menuju ke dalam rumah.
Ahsa berlari menuju lantai dua,
"kak..! kejar aku..!" ucap Ahsa.
"bentar..!!" ucap Alka tanpa mau mengejar bocah itu.
Alka justru memilih untuk segera menuju dapur dan membuat minum.
Sedangkan Leon kini mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Senyuman masih belum terbentuk dari bibirnya. Hatinya masih berduka. Matanya masih nampak merah menahan tangis yang seolah tak pernah mau ia tunjukkan pada khalayak ramai selain pada istrinya sendiri yang menjadi tempat ternyaman untuknya mencurahkan segala keluh kesahnya.
Aleta duduk di samping Leon,
"mas, ini udah sore. Mending sekarang kamu mandi, biar seger badannya. Aku siapin ya air mandi buat kamu" ucap Aleta lembut.
__ADS_1
Leon hanya menoleh, tersenyum singkat lalu mengangguk.
Aleta mengusap pundak sang suami. Lalu berjalan menaiki lantai dua dan segera menuju kamarnya untuk menyiapkan air mandi bagi sang suami.
Kini Leon sendiri di ruang tamu itu. Ditatapnya dinding dinding rumah yang nyatanya sama sekali tak ada foto baik dirinya ataupun ibunya yang bisa ia pandang.
Se sunyi dan se sepi itulah kehidupan keluarga Leon. Jangankan kebersamaan yang hangat, foto keluarga pun mereka tak punya. Ayahnya sibuk dengan pekerjaan dan rekan rekan bisnisnya semasa hidup. Ibunya sibuk dengan kehidupan sosialita nya, sedangkan dirinya, suka suka..!
Kerja, judi, mabuk, main perempuan..! Semua sibuk dengan urusannya masing masing.
Dan kini di saat kedua orang tuanya sudah tiada, barulah Leon merasakan, betapa sepinya kehidupan nya selama ini. Katakanlah seumur hidup ia tak pernah merasakan keakraban dan kedekatan keluarga. Semua serba sendiri. Keluarga nya utuh namun seolah mati.
Sungguh, suatu yang memprihatinkan bagi sebuah keluarga dengan harta yang berlimpah.
Leon masih sibuk dengan pemikirannya, hingga tiba tiba,
"pa..." ucap seorang bocah membuyarkan lamunan Leon.
"Alka.." ucap Leon.
Dilihatnya disana Alka datang mendekati nya sambil membawa nampan berisi secangkir kopi hitam kesukaan Leon serta segelas susu coklat favorit Alka.
"mau ngopi nggak?" tanya Alka yang kini menyodorkan secangkir kopi untuk sang ayah dan satu gelas susu untuk dirinya sendiri.
"kamu membuatkan kopi untuk papa?" tanya Leon.
Alka tersenyum.
"aku pengen jadi anak laki laki yang bisa jadi temen ngopi papa sambil main catur" ucap Alka mencoba menghibur ayah angkatnya itu.
Leon terkekeh di tengah dukanya.
"kamu bisa aja..!" ucap Leon.
Alka ikut tertawa ringan mendengar nya.
"pa," ucap Alka.
Leon menoleh.
__ADS_1
"ya.."
"jangan lama lama sedihnya" ucap Alka.
"papa nggak sendiri kok. Hidup harus terus berjalan." ucap Alka.
"ditinggal orang tua emang berat, pa. Tapi kalau terus terusan sedih, kayaknya juga nggak akan terlalu ada manfaatnya." ucap Alka.
Leon diam mendengarkan bocah yang seolah sudah bisa berfikir dewasa sebelum waktunya itu. Dari caranya bersikap, berbicara, hingga berfikir, tak seperti anak sepuluh tahun pada umumnya.
"papa cuma merasa bersalah aja, nak" ucap Leon.
"aku tahu. Hal yang wajar di rasakan orang orang yang merasa nggak bisa mencegah kematian orang orang tersayangnya atau melakukan suatu kekhilafan di masa lalu. Aku juga dulu gitu, pa. Andai aku nggak minta jalan jalan hari itu, mungkin bapak dan ibuk nggak akan ngajak kita naik angkot dan berujung kecelakaan waktu itu. Dan mungkin sampai sekarang, aku masih punya bapak dan ibu kandung" ucap Alka.
"tapi kata pak ustad di mushola samping rumahku bilang, katanya jodoh, rejeki, maut itu Tuhan yang menentukan. Daun jatuh aja udah Allah tentukan, itu artinya kematian orang tuaku juga sudah Allah tetapkan. itu bukan salahku" ucap Alka.
"Pa, jangan sedih terus. Katanya papa ngangkat aku sama Ahsa jadi anak papa karena biar kita bisa nemenin papa yang kesepian. Jangan buat kita merasa bersalah karena membiarkan papa terus terusan sedih di tinggal nenek" ucap Alka lagi membuat Leon tak bergerak.
"Papa adalah orang tua kami. Kami sayang sama papa. Kami juga ikut sedih lihat papa sedih. Kasihan juga mama. Mama juga pengen lihat papa bangkit lagi. Ayolah pa, coba senyum. Jangan terus terusan sedih. Dari pada sedih mending kita sama sama doain nenek. Mungkin ini juga salah satu cara Allah untuk menuntun papa agar makin dekat sama Allah. Papa diminta berbakti sama nenek melalui doa doa yang papa kirimkan buat nenek." ucap Alka bijak.
Leon tak bergeming.
"maaf ya, pa. Bukannya maksud Alka sok tau dan sok nasehatin papa. Alka cuma nggak mau aja papa terus terus sedih. Papa juga harus melanjutkan hidup papa kan? masih banyak orang yang sayang dan membutuhkan papa" ucap Alka.
Leon tersenyum mendengar kata kata bijak putra nya itu. Alka benar benar dewasa. Jalanan, didikan orang tua yang singkat dan kerasnya kehidupan berhasil membentuk karakter sang bocah menjadi sangat matang di usianya yang masih terlalu dini.
Leon mengacak acak pelan rambut sang putra
"makasih, sayang. Makasih sudah mau mengingatkan papa. Maaf, papa terlalu lemah. Papa harus belajar lebih banyak tentang kehidupan sama kamu. Papa bangga sama kamu" ucap Leon.
"aku cuma menyampaikan pendapat ku aja, pa." ucap Alka.
Leon tersenyum.
Ditepuknya pundak sang putra dengan bangga. Ini lah sosok yang nantinya akan menjadi penerus Leon. Laki laki berpemikirsn dewasa dengan bekal agama dan tanggung jawab yang kuat. Laki laki yang dibesarkan oleh lingkungan. Laki laki yang penyayang dan memiliki bakti yang tinggi terhadap orang yang lebih tua
...----------------...
Selamat siang
__ADS_1
up 10:42
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘