
Hari berganti hari, semua berjalan seperti biasanya.
Dua minggu pasca kepergian ibunda, Leon perlahan mulai bisa menata hati dan jiwa nya. Bangkit melanjutkan hidup barunya sebagai seorang anak yatim piatu.
Hari demi hari di lalui nya. Pria itu perlahan namun pasti terus berusaha memperbaiki dirinya. Dukungan dari orang orang terdekat seperti istri dan anaknya berhasil membuat jiwa Leon yang rapuh kini seolah kembali bergairah.
Leon memantapkan hatinya. Jika dulu ia hanya berusaha memantaskan dirinya untuk Aleta, maka kini ia kembali mengubah misi hidupnya. Memantaskan diri untuk menjadi makhluk Tuhan yang baik.
Ibadah wajib selayaknya umat muslim kini perlahan tapi pasti mulai ia jalankan dengan teratur. Dengan anak dan istri sebagai guru privat nya, Leon terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Beruntung, ia dikelilingi orang orang dengan bekal ilmu agama yang lumayan cukup, sehingga tak sulit baginya untuk belajar.
Hari terus berganti Leon pun mulai terbiasa hidup tanpa Renata. Toh selama Renata hidup pun mereka juga jarang berkumpul walaupun dalam satu ikatan keluarga.
Dan hari ini, tepat di hari minggu yang ceria. Leon mengajak istri dan dua buah hatinya untuk mengunjungi salah satu villa miliknya yang berada di luar kota. Hanya sekedar untuk melepas penat dari berbagai kesibukan yang padat di ibu kota. Atau mungkin juga sekalian honey moon kali ya..
Mengingat semenjak menikah dengan Aleta mereka seolah tak memiliki waktu untuk berlibur bersama. Maka hari ini hingga seminggu kedepan, Leon akan mencurahkan waktu dan pikiran nya hanya untuk istri dan kedua buah hatinya.
Mobil keluarga itu sampai di depan sebuah villa megah di sebuah kota berhawa sejuk dengan pemandangan yang di dominasi pegunungan hijau itu.
Leon memarkirkan kendaraannya di halaman luas bangunan megah bak istana yang di dominasi warna putih tersebut.
Leon mematikan mesin mobilnya. Pria itu kemudian menoleh ke belakang, menatap dua bocah yang nampak tertidur lelap posisi yang berbeda tersebut.
Ahsa nampak tertidur dalam posisi miring dengan kepala berada di pangkuan sang kakak. Sedangkan Alka nampak tertidur dalam posisi duduk sambil menjaga kepala adiknya agar tak jatuh.
Leon tersenyum. Begitu juga Aleta yang berada di kursi samping kemudi.
"hello..! wake up..! udah sampai nih..!" ucap Leon pada kedua putra putrinya.
"Alka, Ahsa, bangun nak..! udah sampai nih kita..!" ucap Aleta lagi.
Ahsa menguap lebar sambil menggeliat. Sedangkan Alka perlahan mulai mengerjab ngerjabkan matanya mendengar suara lembut dari kedua orang tuanya.
Alka membuka matanya. Menatap ke luar jendela dengan netra yang masih nampak sayu setengah sadar.
Ahsa menggeliat. Ia menguap lagi. Saking asyiknya ia meregangkan otot otot tubuhnya tangan mungilnya sampai tak sengaja mengenai wajah sang kakak membuat bocah sepuluh tahun itu pun memekik kaget di buatnya.
"ah...! Ahsa..!" ucap Alka saat tangan mungil itu tak sengaja menghantam wajah nya.
Ahsa menyipitkan matanya. Mencoba mengumpulkan ingatannya yang masih jalan jalan entah kemana.
Ahsa bangkit. Di kucek nya mata netra bulat itu. Muka bantal nya terlihat sangat lucu dan menggemaskan dengan rambut yang masih acak acakan.
"kita sampai mana?" tanya Ahsa.
"kita udah sampai di villa papa.." ucap Leon.
Ahsa menguap lagi.
Aleta terkekeh melihat tingkah polah putrinya yang kian hari kian menggemaskan itu.
__ADS_1
"udah yuk, turun.." ucap Aleta.
Ahsa dan Alka pun mengangguk. Kedua bocah itu pun turun dari mobil mewah tunggangan mereka. Hal yang sama pun Leon dan Aleta lakukan.
Alka terdiam. Mengamati bangunan megah yang merupakan salah satu aset milik ayah angkatnya itu. Tak seperti saat pertama ia melihat rumah utama Leon. Bocah itu nampak sudah terbiasa dengan berbagai aset serba mewah milik ayahnya.
Sedangkan Ahsa, bocah kecil dengan tas selempang bermotif kucing pink itu nampak celingukan. Seolah mencari cari sesuatu namun tak ketemu.
"Ahsa.." ucap Aleta yang berdiri di samping Leon dan Alka itu memanggil sang putri.
Ahsa pun menoleh.
"ya, ma" ucap bocah itu.
"kamu ngapain? nyari apa?" tanya Aleta.
Ahsa mendekati kedua orang tua beserta kakak nya i
tersebut.
"papa, papa.." ucap Ahsa.
"apa, sayang?" tanya Leon.
"villa nya mana?" tanya Ahsa membuat semua orang mengernyitkan dahinya mendengar ucapan bocah kecil itu.
"Ahsa...ya ini villa nya..!" ucap Alka sambil menunjuk bangunan berlantai tiga di hadapan mereka itu.
"papa, villa itu kayak apa sih?” tanya Ahsa lagi begitu polos.
Leon dan Aleta nampak tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya mendengar kepolosan sang putri.
"ya ini villa, nak. Villa itu rumah yang bisa di sewain. Buat kita yang pergi pergi, bisa pakai villa buat tempat tinggal sementara.." ucap Leon menjelaskan.
"oh....kontrakan..!" ucap Ahsa sambil manggut-manggut membuat Aleta tak bisa menyembunyikan tawanya.
Sedangkan Alka hanya menggaruk garuk kepala belakang nya mendengar ucapan bocah kecil itu.
"ngomong dong, pa. Bilang aja kontrakan. Susah banget.." ucap Ahsa tanpa dosa.
"udah yuk, pa. Ayo masuk, aku pengen lihat dalamnya..." ucap Ahsa.
Leon tersenyum lebar.
"ya udah yuk..." ucap Leon.
Pria itu pun mengajak anak dan istrinya untuk masuk kedalam villa tersebut. Tak lupa, ia meminta seorang penjaga villa yang merupakan salah satu warga sekitar yang ia percayai itu untuk mengangkat koper serta barang barang bawaan lain nya untuk di bawa ke dalam villa.
ceklek....
__ADS_1
pintu rumah terbuka.
Seperti rumah rumah Leon yang lain, seluruh ornamen dan furniture di dalam rumah itu tak ada yang murah. Semua serba mewah dan mahal khas seorang Leonardo Alfindo Ganada.
Ahsa dan Alka terlihat berbinar. Ia berlari menuju belakang rumah megah itu. Dimana di sana terdapat sebuah kolam renang luas dengan view pegunungan nan hijau sebagai latar belakangnya. Sangat indah.
"waaaahhh....bagus ya, kak" ucap Ahsa.
"iya, jadi pengen renang.." ucap Alka.
Ahsa menoleh ke arah sang papa.
"boleh, pa?" tanya Ahsa.
"ya boleh lah, masa nggak boleh.." ucap Leon.
Kedua bocah itupun bersorak riang.
Alka dengan segera melucuti pakaiannya hingga hanya tersisa sebuah boxer berwarna biru. Dengan segera, bocah sepuluh tahun yang memang sudah pandai berenang itupun langsung menceburkan dirinya ke dalam kolam. Sedangkan si kecil Ahsa..
Seperti biasa...ia selalu heboh dalam hal apapun. Ia sibuk melepas dress nya. Ganti baju renang, minta di ikat rambutnya, minta kaca mata renang, minta pelampung bebek dan lain lainnya. Untungnya Leon sudah meminta penjaga villa untuk mempersiapkan semua kebutuhannya dan keluarga kecilnya itu sejak jauh jauh hari. Sehingga apa yang Ahsa minta sudah pasti tersedia semuanya di tempat itu.
Kedua bocah itu pun asyik berenang. Leon yang kini juga telah melepaskan pakaian nya hingga hanya tersisa celana pendek saja itu nampak mendekati Aleta yang hanya berani duduk di tepi kolam sambil menjulurkan kakinya ke dalam air.
"nyebur yuk .." ajak Leon.
"nggak mau...!" ucap Aleta menolak.
Leon terkekeh.
Aleta menarik nafas panjang. Menikmati udara khas pegunungan yang terasa begitu menyejukkan itu.
Leon tersenyum.
"kamu suka tempat ini?" tanya Leon.
"suka..! suka banget malahan.." ucap Aleta.
"udaranya sejuk, pemandangan nya bagus.." ucap wanita itu lagi.
"kalau malem dingin. Coco buat bikin anak" ucap Leon membuat Aleta menoleh seketika. Leon pun mulai menyunggingkan senyuman nakalnya.
"emang kalau nggak dingin nggak cocok buat bikin anak. Cocok nggak cocok situ juga gaaasss teroooss...!! mau panas, dingin, hujan, badai, bledek, halilintar juga di trabas aja anda...!" ucap Aleta sinis.
Leon tergelak mendengar nya. Di rengkuh nya pinggang ramping itu. Lalu menciumi pipi dan ceruk leher Aleta dengan gemasnya membuat wanita itu pun tergelak merasakan bulu bulu halus di rahang sang suami yang bergesekan langsung dengan kulitnya.
...----------------...
Selamat malam...
__ADS_1
up 18:33
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘