Istri Kedua Tuan Leon

Istri Kedua Tuan Leon
140


__ADS_3

Hari kembali berganti,


Siang ini di sebuah cafe yang cukup mewah di tengah kota.


Riuh tepuk tangan dari para pengunjung terdengar mengiringi turunnya seorang wanita cantik dari atas panggung rendah di sana. Beberapa orang nampak mendekat, mengerubungi wanita cantik itu, sekedar untuk berfoto dan meminta tanda tangannya. Sayuk sayuk sebagian pemuda pemudi itu terdengar memanggil manggil namanya, meng elu elu kan kecantikan parasnya yang kian hari kian terpancar makin mempesona.


Aleta selesai dengan para fans nya. Wanita itu kemudian berjalan menuju sebuah bangku, dimana disana sudah ada seorang pria matang berparas tampan dengan jambang cukup lebat mempesona. Pria itu nampak menyesap kopinya sambil tersenyum ke arah Aleta yang berjalan mendekat ke arahnya.


Leon meletakkan cangkirnya. Aleta duduk di sebuah bangku di samping Leon.


"gimana penampilan aku?" tanya Aleta seolah ingin mendengar pujian dari laki laki itu.


"biasa aja" ucap Leon santai membuat Aleta mengubah mimik wajahnya.


Leon tersenyum gemas. Tangannya tergerak mengacak acak rambut panjang Aleta dengan gemas.


"kamu selalu luar biasa, Aleta. Dalam kondisi apapun.." ucap Leon kemudian membuat Aleta tersipu malu.


Aleta meraih cangkir kopi Leon, lalu di sesap nya kopi bekas pria itu sambil tersenyum malu malu ke arah Leon.


"enak? bekasku?" tanya Leon.


Aleta hanya mengulum senyum.


"jadi mai kemana kita hari ini?" tanya Leon.


Aleta nampak berfikir sejenak.


"ke rumah sakit yuk..." ucap Aleta.


Leon diam sejenak.


"untuk apa?" tanya Leon.


"kita jenguk mama kamu," ucap Aleta.


"aku malas, Aleta" ucap Leon.


"bapak...." ucap Aleta lembut.


"aku bukan bapakmu..!!!" ucap Leon kesal.


Aleta tergelak.


"iya...oom..." ucap Aleta lagi membuat Leon menatap kesal ke arah wanita itu.


Aleta cekikan lagi.


"iya, iya, sayang, ayank... kita tinggal selangkah lagi loh, kita jalan udah jauh banget. Kita tinggal butuh satu lagi, restu ibu kamu, abis itu udah... selesai, kita bisa memulai kehidupan kita dari awal lagi.." ucap Aleta.


Leon diam menatap sang pujaan hati.


"apa tidak ada cara lain untuk mengganti syarat yang itu? aku malas, Aleta." ucap Leon.


Aleta tersenyum. Diraihnya telapak tangan pria itu dan di usapnya.


"perjuangan kamu udah sangat panjang. Kita hampir sampai di tujuan kita. Sayang kalau harus nyerah." ucap Aleta.


"aku tidak pernah menyerah, sayang. Andai ada cara lain yang bisa ku lakukan selain meminta restu wanita itu, pasti akan ku lakukan" ucap Leon.


Aleta tersenyum lagi.


"aku yakin kamu pasti bisa. Kita coba lagi ya..kita coba sampai berhasil."


"meluluhkan hati papaku aja kita bisa. Masak mama kamu enggak" ucap Aleta.


Leon tersenyum.


"kita ke rumah sakit lagi ya.." ucap Aleta.


Leon menghela nafas panjang. Lalu mengangguk ringan kemudian.

__ADS_1


Aleta tersenyum manis.


"aku minum dulu kopinya ya.." ucap Aleta sambil kembali menyeruput kopi Leon.


"itu punyaku..!" ucap Leon.


"segala sesuatu milik suami itu juga milik istri." ucap Aleta tak mau kalah membuat Leon makin gemas dibuatnya.


...****************...


Satu jam kemudian.


Sepasang calon suami istri itu sampai di rumah sakit tempat dimana Renata di rawat. Dengan sebuah parcel buah ditangan, Aleta nampak berjalan beriringan bersama laki laki tampan disamping nya itu, menuju sebuah kamar rawat inap yang dijaga dua orang polisi di depan pintu masuknya.


Leon mendekati dua polisi tersebut. Menyampaikan niatannya untuk menemui sang ibu yang kini tengah terbaring di dalam ruangan itu.


Sang polisi pun mengizinkan. Leon dan Aleta kemudian masuk ke dalam kamar itu di ikuti satu polisi di belakang mereka, guna memastikan tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan selama proses besuk yang Leon dan Aleta lakukan. Mengingat, status Renata masihlah seorang tahanan.


Leon dan Aleta masuk...


Dilihatnya di sana, Renata nampak duduk bersandar di ranjang menatap ke arah jendela yang tak terlalu besar di kamar itu.


Aleta berinisiatif untuk mendekat mendahului Leon.


"tante," ucap Aleta lembut.


Renata menoleh. Wanita itu nampak diam tak berekspresi.


Leon yang berada di belakang Aleta nampak diam tak bergerak seolah menunggu reaksi dari sang ibu.


"tante gimana kabarnya?" tanya Aleta lembut sambil meletakkan parcel buahnya di atas nakas.


"aku bawa buah buat tante, dimakan biar cepet sembuh" ucap Aleta namun tak di respon oleh Renata barang sepatah katapun.


Aleta memberanikan diri untuk mendekat. Di raihnya tangan terborgol itu, berniat untuk menciumnya sebagai tanda bakti. Namun,


seeeeetttt.....


Renata menarik tangannya dan dengan kasarnya mendorong tubuh Aleta dengan kedua tangannya yang terborgol. Beruntung Leon dengan sigap mendekat dan mengamankan tubuh Aleta agar tak jatuh.


Leon mendekap tubuh wanita itu. Sorot matanya kini menatap tajam ke arah wanita yang kini nampak murka di atas ranjangnya itu.


"pergi kau anak jalaaang..!!" umpat Renata penuh emosi.


Mata Leon makin menajam. Ia seolah sudah muak menghadapi ibu kandungnya itu. Ia seolah sudah habis kesabaran..!


"sudah cukup, nyonya Renata yang terhormat..!!" ucap Leon dingin.


Aleta mendongak menatap wajah Leon.


Lima tahun berpisah. Namun nyatanya Aleta masih bisa menghafali, Leon yang seperti ini adalah Leon yang tengah di kuasai amarah yang memuncak. Sorot matanya tajam mengerikan. Dadanya naik turun. Suara nya terdengar dingin dan menusuk.


"sayang," ucap Aleta lirih pada pria itu.


Renata masih terlihat murka di atas ranjangnya. Sedangkan Leon kini mulai dikuasai emosi.


"sudah cukup, Aleta. Jangan merendahkan harga dirimu di hadapan wanita tua ini. Dia tidak pantas untuk di hormati..!"


"sayaaang..." ucap Aleta.


Renata tersenyum sinis.


"hmmmh...! jaga bicaramu anak durhaka...! dasar anak tidak tahu diri..! tidak tahu di untung..!!"


"cukup..!!" ucap Leon menggelegar memotong berbagai umpatan yang keluar dari mulut Renata.


"saya sudah cukup bersabar menghadapi anda, nyonya. Saya masih mencoba untuk terus menghormati anda selayaknya seorang ibu. Tapi kian hari, sikap anda semakin keterlaluan..!"


"saya pikir penjara bisa merubah tabiat anda. Tapi nyatanya saya salah..! anda masihlah nyonya Renata yang angkuh..! yang mendewa kan uang dan harta sebagai tolak ukur kehormatan manusia..!"


"cukup, nyonya..! cukup..!! berhenti dengan pola pikir anda yang seperti itu...!" ucap Leon mulai habis kesabaran.

__ADS_1


"jangan menggurui ku Leon..! kau hanya anak kemarin sore yang belum tahu apa apa. Jangan hanya karena anak jalaang ini, kau jadi durhaka pada ibumu..!"


"cukup...! jangan panggil calon istriku dengan sebutan itu...!!!"


"memang nya kenapa? apa aku salah?!! bukannya memang dia anak jalaaanh..! anak dari pelacuur yang biasa menjajakan dirinya pada laki laki hidung belang...!! apa namanya kalau bukan jalaang...?!!"


"dia adalah wanita terhormat..! bukan ibu Aleta yang jalaaang tapi kau..!!!" ucap Leon murka. Ia membentak sambil menunjuk wajah ibunya.


"sayang, udah" ucap Aleta sambil mencoba menurunkan tangan Leon yang terasa kaku menunjuk ke arah Renata.


"jika kau bilang Aleta adalah anak jalaang, lalu bagaimana dengan aku?! anak apa aku ini?!!!" ucap Leon membentak lagi.


"Leon..."ucap Aleta mengiba namun tak digubris oleh Leon.


"aku lahir dari rahim pembantu yang menggoda majikan nya, sebutan apa yang pantas untuk ibuku?!!"


"Leon..!!"


"DIAM KAU...!!" bentak Renata murka. Wanita itu nampak kembali memegangi dadanya yang sesak.


Aleta mendekati wanita itu dan hendak menyentuh nya.


"tante nggak........."


"jangan sentuh aku..!!!" teriak Renata.


mendengar wanita itu membentak. Dengan segera Leon menarik tubuh Aleta menjauh dari Renata.


"berhenti merendahkan harga dirimu sendiri, Aleta..!" ucap Leon.


"sayang, tapi ....."


"cukup...!!! ada kalanya kau harus berhenti untuk berbuat baik pada manusia yang memang tidak pantas untuk dibaiki..!" ucap Leon.


Aleta menatap pilu ke arah Leon yang murka.


"dengarkan aku nyonya Renata. Aku datang kemari atas ajakan calon istriku. Jika bukan karena dirinya, sungguh..aku sangat malas untuk datang kemari dan menemuimu..!" ucap Leon dengan amarah yang tak terbendung lagi.


" awalnya aku datang untuk meminta restu mu. Tapi melihat sambutan darimu yang begitu memuakkan, maka mulai hari ini aku berubah pikiran.."


"ini adalah kali terakhir aku datang ke tempat ini. Aku tidak akan pernah menemui mu, sesuai dengan keinginanmu. Aku akan tetap menikahi Aleta, dengan, atau tanpa restu darimu..!" ucap Leon kemudian menarik tubuh Aleta pergi dari tempat itu dengan penuh emosi.


"pergi..! pergi saja kalian..! aku tidak butuh kalian semua...!! pergi kau anak sialan..! anjiiink kau..! baangsat..! baaa bii kau biaaadaaap....!!!!" umpat Renata murka memaki maki laki laki yang pernah tumbuh di rahimnya itu.


Leon bergetar menahan tangis sambil menyeret lengan Aleta pergi meninggalkan tempat itu.


Sakit bukan main..!


Apakah ibu yang seperti ini masih pantas dipanggil ibu? Adakah surga di bawah telapak kaki seorang ibu yang demikian?


Kurang sabar bagaimana ia?


Ia tak pernah bermaksud kurang ajar atau durhaka pada wanita itu. Tapi sikap, sifat dan tabiat Renata lah yang membuat Leon bersikap demikian. Bukan bermaksud melawan orang tua demi seorang wanita. Tapi bagaimana?


Harta, tahta dan kekuasaan adalah segalanya bagi Renata. Penjara tal bisa mengubah tabiatnya yang angkuh dan memuja duniawi.


Sekuat tenaga lima tahun lamanya ia mencoba mengubah tabiat sang ibu melalui jeruji besi. Alih alih taubat, sadar dan berubah. Sikap arogan Renata justru makin menjadi jadi.


Sudahlah...


Leon pasrah.


Ia tahu melawan orang tua itu tidak baik. Tapi bukankah membiarkan orang tua berada dalam jalan yang salah itu juga tidak benar?


Entahlah, biar Tuhan yang menilai. Baik buruknya, cukup Tuhan yang menentukan.


...----------------...


Selamat malam...


up 20:30

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘😘


__ADS_2