
Pagi menjelang,
Di sebuah ruang tamu rumah mewah milik pak jenderal...
Pria tampan dengan jas rapi membungkus tubuh tegapnya itu nampak duduk dengan gusar sambil sesekali melongok menatap jam tangan yang melingkar di salah satu lengan nya.
Lima belas menit sudah ia berada di tempat itu. Duduk bak orang bodoh menunggu wanita cantik yang katanya ingin mengambil tas di kamarnya itu.
Ya...Setelah selesai melakukan sarapan pagi bersama kedua orang tua, kedua anak serta suaminya, wanita cantik berkulit putih itu pamit ke kamar ingin mengambil tas. Katanya, ia ada jadwal manggung hari ini. Dan ia berniat ingin berangkat ke tempat acara bersama dengan Leon yang akan menuju kantor, biar sekali jalan.
Tapi entahlah, sejak tadi Aleta tak keluar keluar juga dari kamarnya. Leon sampai jengkel di buatnya.
"Aleta...!!" ucap Leon setengah teriak lagi. Entah sudah yang keberapa.
Ngapain sih itu perempuan di kamar? pikir Leon.
Pria berjambang lebat itupun kemudian bergegas menaiki tangga menuju lantai dua. Ia pun segera masuk ke dalam kamar mewah yang biasa ia tempati bersama sang istri.
ceklek.....
pintu terbuka...
"Astaga, Tuhan..! kamu ngapain??!!" tanya Leon kesal.
Di lihatnya disana Aleta justru rebahan di atas kasurnya sambil memainkan ponsel miliknya. Tas yang katanya hendak ia ambil juga sudah terselampir di pundak. Tapi entahlah, ia seolah sangat malas untuk keluar kamar. Ranjang empuk itu seolah menarik dirinya untuk tidur dan ber malas malasan di atasnya.
Leon mendekat.
"Aleta..! kamu kenapa?" tanya Leon.
Wanita itu menoleh.
"males kerjaaa...!!" ucap Aleta setengah merengek.
"Astaga, Sayang. Kamu dari kemarin aneh tau nggak. Semenjak pulang dari villa kamu tuh jadi pemalas. Jorok pula. Udah nggak mau mandi, seharian di kamar. Malam nggak makan. Pagi makan juga dikit..! Kamu kenapa? kamu sakit? nggak enak badan? kita ke dokter aja ya..." ucap Leon.
"nggak mau ah..! Aku cuma males aja mau ngapa ngapain" ucap Aleta.
"tapi hari ini kamu kan ada kerjaan? kamu nggak bisa males malesan di kamar terus. Ada acara yang harus kamu isi. Kasihan loh, mereka pasti udah nungguin kamu." ucap Leon.
Aleta nampak cemberut. Leon bangkit.
"ayo bangun. Ini udah siang ..!" ucap Leon.
Aleta berdecak kesal.
"iya, iya" ucap wanita itu kemudian. Ia pun dengan berat hati beranjak dari ranjangnya lalu mengikuti langkah sang suami untuk turun dan segera menuju mobil untuk berangkat bekerja.
Sesampainya di dalam mobil.
Aleta menyadarkan kepalanya di sandaran jog samping kemudi. Ia nampak memejamkan matanya namun tak tidur saat laki laki yang sudah satu bulan lebih menikahinya itu menyalakan mesin mobil mereka dan membawanya melesat meninggalkan istana pak jenderal.
Kendaraan roda empat itupun terus melaju. Sambil di iringi alunan musik yang mengalun samar, wanita itu terus memejamkan matanya sejak berangkat dari rumah hingga sampai ke tempat nya manggung hari ini.
Lima belas menit perjalanan, mobil sampai di sebuah pusat perbelanjaan, tempat dimana Aleta akan tampil menghibur masyarakat sebagai penyanyi profesional siang ini.
Aleta membuka matanya. Dilihatnya di luar mobil, sudah ada Lala manager nya dan Sean sang bodyguard yang sudah bersiap mengawal sang artis dalam pentasnya siang ini.
"sayang, aku turun ya.." ucap Aleta
Leon mengangguk.
"iya, hati hati. Jangan capek capek. Aku sebenarnya khawatir sama kondisi kamu, sayang. Kamu kelihatan nggak baik sejak kemarin" ucap Leon.
"aku nggak apa apa kok. Mungkin cuma capek aja. Udah, aku turun ya..." ucap Aleta.
"ya" jawab Leon sambil mengangguk.
Wanita itu kemudian meraih punggung tangan sang suami. Di ciumnya punggung tangan tersebut sebagai tanda hormat dan di balas dengan kecupan mesra dari sang pria sebagai bentuk rasa cinta nya.
__ADS_1
" assalamualaikum..." ucap Aleta
"wa alaikum salam" jawab Leon.
Aleta pun turun. Leon kembali melajukan mobilnya. Ia segera membawa kendaraan roda empat nya itu menuju PH miliknya.
Ini sudah sangat siang bagi dirinya untuk berangkat kerja. Untung yang punya PH. Coba kalau karyawan biasa. Sudah pasti tamat riwayatnya.
Leon turun dari dalam mobilnya. Dengan segera ia pun masuk ke dalam bangunan bertingkat itu, menuju lift dan menyentuh tombol bertuliskan angka dimana lantai tempat ruangan pribadi nya sebagai seorang pemilik PH berada. Leon berdiri dengan tenang. Kotak besi itu hanya di huni oleh dirinya saja. Tidak ada orang lain di sana. Mungkin semua karyawan tengah sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri sendiri.
tingg.....
pintu lift terbuka.
Leon melangkah keluar dari kotak besi itu. Lalu berjalan menuju ruangan miliknya.
"selamat pagi, tuan" sapa Tami yang kini nampak berdiri sambil membungkuk kan tubuhnya. Leon tal menjawab.
"tuan, selamat siang" ucap satu lagi, Bayu dari belakang mejanya yang bersebelahan dengan meja Tami.
Leon menghentikan langkahnya. Ia menyandarkan tubuhnya di meja Bayu, mengangkat tangannya rendah seolah memerintahkan Bayu dan Tami untuk kembali duduk di bangku mereka masing-masing.
"apa agendaku hari ini?" tanya Leon sambil mengancingkan kancing kancing jas mahal miliknya.
"ada beberapa tuan. Hari ini....................."
Bayu mulai menjabarkan kegiatan sang tuan di hari ini. Jadwal yang cukup padat, di penuhi berbagai pekerjaan yang mungkin akan sangat menguras waktu dan tenaga Leon.
Leon hanya diam mendengarkan. Namun tanpa ia sadari, tangan kekarnya sejak tadi nampak sibuk mengambil satu demi satu snack milik Bayu yang berada di atas meja. Tangannya bergerak aktif, sambil telinga nya mendengarkan semua penjelasan Bayu. Tami yang melihat tingkah aneh sang tuan nampak mengernyitkan dahinya. Sedangkan Bayu yang snack nya di libas Leon hanya bisa menatap heran sambil terus nyerocos menjabarkan berbagai kegiatan yang harus Leon jalani hari ini tanpa berani menegur sang atasan.
Leon manggut manggut.
"oke, atur semua. Ingatkan saya saat jam meeting tiba" ucap Leon sambil berlalu pergi memasuki ruangannya.
"baik, tuan" ucap Bayu.
Seperginya Leon,
Kosong.
Ia kemudian menoleh ke arah Tami yang juga terlihat bingung.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah seorang bos melibas habis makanan bawahan nya hingga tak bersisa sedikitpun.
Tami mengangkat dagunya seolah ingin mempertanyakan sikap aneh Leon. Bayu mengangkat kedua tangannya, seolah menjawab 'tak tahu'.
...****************...
Jarum jam terus bergerak. Aktifitas di PH itu terus berlanjut seperti yang sebagaimana mestinya. Leon masih sibuk dengan laptopnya. Namun tiba tiba,
"ck...!" ucap Leon tiba tiba berdecak kesal.
"sepi sekali ruangan ini" ucap Leon seorang diri.
"hoooaaaammm"
Leon menguap. Di lihatnya kopi di atas meja kerjanya. Sudah kosong, habis.
Ia kemudian mengambil gagang telepon, menghubungi Tami dan meminta wanita itu untuk memanggil seorang OB guna membuatkan kopi untuk dirinya.
Tami pun menyanggupi. Leon menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. Di raihnya ponsel di atas meja miliknya dan memainkan nya sejenak sambil menunggu kopi pesanannya datang. Iseng iseng ia membuka pesan WhatsApp barang kali ada pesan dari sang istri yang bisa membuat nya bersemangat. Namun sayang, kosong. Mungkin Aleta masih sibuk dsn belum selesai dengan pekerjaannya, pikir Leon.
tok... tok...tok...
pintu di ketuk,
"masuk," ucap Leon.
ceklek...
__ADS_1
pintu terbuka,
Seorang OB datang dengan sebuah nampan ditangannya.
"permisi tuan, ini kopi pesanan anda" ucap sang OB.
"heemmm.." jawabnya.
Sang OB kemudian meletakkan kopi pesanan Leon itu di atas meja, lalu mengambil cangkir kosong milik Leon yang berada di atas meja dan meletakkan nya di atas nampan. OB itu hendak mohon izin untuk keluar, namun tiba tiba,
"apa kau sibuk?" tanya Leon.
"oh, tidak, tuan" jawab sang OB.
"bagus kalau begitu" ucapnya sambil mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar uang seratus ribuan dari dalam benda berwarna coklat itu.
"tolong ke minimarket, belikan saya snack" ucap Leon.
Sang OB pun menerima uang tersebut.
"snack? snack apa, tuan?" tanya si OB.
"apa saja yang penting tidak beracun" ucap Leon tegas membuat sang OB langsung diam seketika.
"baik, tuan. Kalau begitu saya permisi dulu" ucap si OB.
"hemm.." jawab Leon singkat.
Sang OB pun berlalu. Leon kembali fokus pada laptop nya. Cukup lama, hingga....
drrrrttt... drrrrttt....
ponsel di atas mejanya bergetar.
Di raihnya ponsel miliknya itu.
"*Sayang"
memanggil*...
Leon tersenyum. Akhirnya si pembawa semangat itu menghubunginya juga, batin Leon berucap.
Dengan segera ia pun mengusap tombol hijau bergambar telepon di sana, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"halo, sayang" ucap Leon manis.
"halo, tuan, ini saya, Lala" ucap seorang wanita dari seberang sana dengan suara panik.
Leon mematung seketika.
"Lala? kenapa kamu yang bawa hp istri saya? Aleta mana?" tanya Leon.
"maaf, tuan. Begini,...............".
.
.
degggghhhh.....
"apa?!!"
...----------------...
***Selamat siang
up 12:55
yuk, mampir ke novel author lainnya. Gak kalah bikin tegang & yang pastinya menarik😁***
__ADS_1
Cover sedang dalam proses pengeditan ya. Karena cover lama harus diganti, nggak sesuai sama aturan noveltoon katanya🥰🥰