Istri Kedua Tuan Leon

Istri Kedua Tuan Leon
121


__ADS_3

Beberapa jam kemudian,


di belakang rumah megah itu, tepatnya di pinggir kolam renang jernih yang cukup luas disana....


Wanita berhijab itu nampak mendekati suaminya yang kini tengah duduk di salah satu kursi kolam renang. Pria itu nampak melamun, diam tanpa suara menatap ke arah air kolam yang jernih dan tenang.


Dengan secangkir kopi di tangan, Sarah mendekati laki laki yang sempat terpisah lama dengannya itu. Diletakkannya kopi tersebut di atas meja, ia duduk di samping sang suami dan menatapnya dalam.


Mario masih menatap lurus ke arah kolam renang...


"apa aku kejam, Sarah?" tanya Mario tanpa menoleh.


"aku hanya ingin memastikan Aleta berada di tangan laki laki yang tepat..."


"apa aku salah?aku hanya ingin putriku aman, aku tidak mau dia menderita lagi" ucap sang jenderal dengan sorot mata nanar.


"aku paham mas....aku tau bagaimana perasaan mu sebagai seorang ayah...."


"aku juga merasakan hal yang sama...kita hanya ingin yang terbaik untuk Aleta..." ucap Sarah begitu lembut.


"tapi jika boleh aku bicara, apa tidak ada niatan dari kamu untuk mencoba memberi kesempatan untuk Leon, jangan langsung dinikahkan... setidaknya biarlah mereka melakukan pendekatan terlebih dahulu, agar kita juga bisa menilai, apa Leon benar benar sudah berubah atau hanya berpura pura..." ucap Sarah.


Mario menoleh ke arah Sarah.


"membiarkan mereka dekat, lalu perasaan Aleta makin tumbuh, dan dia makin tidak bisa menjauh dari laki laki itu? begitu maksudmu?" tanya Mario seolah tak setuju dengan ucapan Sarah.


Sarah menghela nafas panjang. Posisinya serba salah. Ia tahu maksud baik dari suaminya, namun ia juga tak tega dengan putri nya dan Leon. Ia adalah wanita yang sejak kecil selalu ada untuk Aleta, menemani tiap suka dan dukanya. Ikatan batin antara dirinya dan sang putri sudah tak perlu di ragukan lagi. Ia tahu, Aleta sebenarnya sangat mencintai Leon. Tapi masa lalu kedua anak manusia itulah yang kini seolah menjadi bumerang bagi hubungan mereka. Sang jenderal tak menurunkan restunya. Ia menentang hubungan kedua anak manusia itu. Ia tak mau.. Aleta kembali menangis karena laki laki tersebut.


Sarah menatap sendu kearah sang jenderal. Tangannya tergerak menyentuh punggung tangan suami nya membuat Mario menoleh ke arahnya. Wanita itu tersenyum manis dan begitu lembut penuh keteduhan. Ia lantas berkata....


"sholat Dzuhur dulu yuk....biar tenang...." ucap nya.


"jangan biarkan hati dan pikiran kita panas berlarut larut mas....kita punya Tuhan yang bisa membantu kita menyelesaikan semua masalah kita...." ucap Sarah.


Mario hanya diam menatap wajah wanita yang selalu bersikap lembut tiap kali berhadapan dengannya itu. Wanita yang tidak pernah mau berdebat. Lebih memilih diam dan mendengarkan ketika Mario mulai keukeuh dengan argumennya. Sarah lebih banyak diam, menenangkan dengan segala perkataan dan tingkah lakunya yang tenang dan keibuan. Baru setelah itu perlahan ia mulai mengajak laki laki itu berbicara dari hati ke hati saat sang jenderal mulai mereda emosinya.


"ayo...." ucap Sarah lagi.


Mario hanya mengangguk. Ia lantas bangkit.


"kamu ambil wudhu duluan ya...aku panggil Aleta dulu..." ucap Sarah.

__ADS_1


"iya..." jawab Mario.


Laki laki itupun bergegas mengambil wudhu, bersiap untuk menjalankan salah satu ibadah lima waktunya di sebuah mushola kecil di kediaman pribadinya.


Sedangkan Sarah, kini berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Ia mengayunkan kakinya mengarah ke arah kamar pribadi Aleta lalu mengetuk pintu kusen disana.


tok.....tok......tok......


"Al...." ucap Sarah lembut.


Tak ada sahutan.


tok....tok......tok.....


"nak, buka pintunya dong...ibuk boleh masuk nggak?" tanya Sarah lagi begitu tenang dan lembut.


ceklek...


suara gagang pintu bergerak naik turun pertanda Aleta sudah melepas kunci pintu itu dari dalam.


Sarah membuka pintu tersebut, lalu masuk ke dalam kamar sang putri kesayangan.


Sarah mendekat. Ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang tepat di samping tubuh ramping sang putri. Sarah menggerakkan tangannya, menyentuh kaki sang putri dan memberikan pijatan pijatan lembut disana.


"udah siang....sholat Dhuhur yuk..." ucap Sarah seolah tengah membujuk seorang bocah.


Aleta tak bersuara.


"nak....nggak baik loh, menunda sholat..." ucap Sarah lagi. Aleta masih diam dengan mata tak henti meneteskan butiran butiran bening dari pelupuk matanya.


"Al....yuk....papa udah nunggu di mushola" ucap Sarah lagi.


Aleta masih tak menjawab.


Sarah diam sejenak mengamati pergerakan tubuh sang putri.


"Al.....ibuk tau bagaimana perasaan kamu saat ini. Ibuk juga mengerti, bagaimana rasanya ketika hubungan kita dengan orang yang kita sayang di tentang orang tua... karena ibuk juga pernah merasakannya...hanya bedanya, dulu ibuk berada di posisi Leon..." ucap Sarah.


"nak....setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk putra putrinya. Mereka ingin melihat anak anaknya bahagia, aman dan selamat.."


"tidak ada orang tua yang berniat menjerumuskan anak nya sayang...."

__ADS_1


"papa melakukan ini semua karena papa terlalu sayang sama kamu...."


"papa, ibuk, Leon, semua sayang kamu nak...semua ingin melihat kamu bahagia...."


"nak.....ambil wudhu...tenangkan diri kamu, ngadu sama yang menulis kan takdirmu...berserah nak....minta yang terbaik...."


"tidak ada yang salah dalam kisah ini, karena semua sama sama berjuang untuk membahagiakan satu nama, kamu nak...."


"bangkit, sholat, minta petunjuk sama Allah...kalau kamu masih punya nomor hp Leon, bilang juga sama dia....minta petunjuk Allah....ibuk dan papa juga akan melakukan hal yang sama...."


"kita cari jalan tengah nya sama sama ya sayang...kita cari petunjuk...kita minta pertolongan, kita minta petunjuk semoga Allah memberikan jalan yang terbaik untuk kita..." ucap Sarah.


"ibuk tau kamu wanita yang dewasa, sayang.... bangun nak...tetaplah jadi anak yang bisa papa kamu banggakan, jangan buat dia bersedih di hari tuanya. Dia hanya ingin yang terbaik buat kamu. Jika memang Leon adalah jodohmu, berdoalah, semoga Allah membantu meluluhkan hati papa...jangan sampai kamu melukai hati orang tuamu hanya demi seorang laki laki yang belum tentu itu adalah jodohmu..."


"bangun yuk...sholat...." ucap Sarah.


Aleta perlahan mengusap lelehan air matanya. Ia bangkit dari posisinya lalu duduk di hadapan sang ibu dengan mata yang nampak sembab.


Sarah tersenyum, dibelainya lembut rambut panjang itu.


"kamu, ibuk, papa, dan Leon....kita sama sama berserah sama Allah...biar Allah yang menuntun kita nantinya....ya sayang....turun yuk....papa udah nunggu di Mushola...." ucap Sarah.


"aku sholat di kamar aja buk..." ucap Aleta.


Sarah tersenyum.


"ya udah....tapi jangan sedih lagi ya...jelek loh..." ucap Sarah sambil tersenyum.


Aleta mencoba tertawa di sela sela tangisan nya. Ia mendekat kan tubuhnya ke tubuh sang ibu. Keduanya saling memeluk seolah ingin menunjukkan betapa mereka saling menyayangi satu sama lain.


Tanpa keduanya sadari, dari balik pintu kamar luas itu, sang jenderal sejak tadi berdiri mendengar kan semua nasehat yang Sarah berikan untuk putrinya.


Sang jenderal menghela nafas panjang, entah apa yang pria itu rasakan saat ini.


...----------------...


***Selamat siang...


up 14:10


yuk... dukungan dulu 🥰😘😘***

__ADS_1


__ADS_2