Istri Kedua Tuan Leon

Istri Kedua Tuan Leon
173


__ADS_3

Satu jam perjalanan,


mobil mewah milik sang Leonardo Alfindo Ganada sampai di istana megah pak jenderal. Pria berkacamata itu nampak menghentikan laju kendaraan nya tepat di area halaman luas milik sang prajurit berbintang tiga ayah kandung Aleta Balqis Aqilah.


Bayu turun dari kursi kemudinya. Pria yang kini berusia tiga puluh tahun dengan lesung pipit di pipi nya itu dengan segera menuju pintu belakang mobil itu dengan setengah berlari. Dibukakannya pintu tersebut.


Leon dan Aleta pun turun dari kendaraan ber nilai fantastis itu.


Bayu segera menuju bagasi. Di ambilnya ransel besar berisi barang barang milik Leon dan Aleta. Pria yang belum menikah di usianya yang sudah cukup pantas itupun lantas berjalan di di belakang sang tuan menuju ke dalam rumah sang jenderal.


ceklek....


pintu rumah dibuka...


"assalamualaikum...." ucap Aleta.


"wa alaikum salam.." jawab Sarah yang nampak berada di ruang tamu, bersama sang suami serta dua orang prajurit berseragam loreng loreng yang nampak berbincang bersama sang jenderal di sana.


"Aleta, Leon, kalian udah pulang?" tanya Sarah sambil tersenyum dan mendekati anak serta menantunya itu.


Aleta dan Leon mendekat di ikuti Bayu di belakangnya. Diraihnya punggung tangan wanita baik hati itu lalu di ciumnya sebagai tanda hormat. Hal yang sama pun Leon lakukan sebagai menantu satu satunya sang ibu persit.


"iya, buk. Udah di bolehin pulang sama dokter" ucap Aleta.


Sarah tersenyum lembut.


Aleta melongok, melihat sang papa yang nampak sibuk dengan beberapa kertas di hadapannya. Sedangkan di hadapan sang papa, dua orang manusia, satu laki laki dan satu perempuan yang sama sama ber seragam loreng nampak tersenyum ke arah Aleta dan Leon.


"Al, tuan ..." ucap pemuda itu. Bobby...!


Aleta tersenyum seperlunya, sedangkan Leon nampak mengangkat dagunya menatap laki laki yang dulu pernah ia temui bersama Aleta itu.


Aleta dan Leon mendekati sang jenderal. Meraih punggung tangan pria itu dan menciumnya. Lalu tak lupa, keduanya pun juga bersalaman dengan dua prajurit yang merupakan anak buah pak jenderal tersebut. Bobby dan seorang prajurit perempuan, Wanda, nama yang tertera di dadanya.


"apa kabar, Al?" tanya Bobby.


"baik.." jawab Aleta.


Leon memasang wajah dingin.


"sayang, "ucap Leon kemudian.


"ya..." jawab Aleta.


"kamu harus istirahat, kan lagi hamil. Ke kamar dulu yuk..." ucap Leon seolah tak mengizinkan istrinya untuk berlama lama berbincang dengan laki laki yang sempat menjadi saingannya itu.


"oh, kamu lagi hamil, Al" ucap Bobby ramah.


Aleta tersenyum.


"iya, Alhamdulillah..." ucap Aleta seperlunya.


"em, ya udah, Bobby, aku ke kamar dulu ya..." ucap wanita hamil tersebut.


Aleta pun segera naik ke lantai atas di susul Leon kemudian. Bayu lantas menyerahkan tas ransel milik Aleta dan Leon pada seorang pelayan di rumah itu. Bayu lantas mendekati sang jenderal.


"tuan, nyonya, tugas saya sudah selesai, saya mau permisi dulu mau kembali ke kantor..." ucap Bayu sambil diam diam melirik ke arah wanita cantik berambut se pundak yang nampak menunduk tak menoleh sama sekali ke arah asisten pribadi Leonardo Alfindo Ganada itu.


Mario dan Sarah mengangguk.

__ADS_1


"iya, hati hati ya, Bayu.." ucap Sarah.


"iya, nyonya.." ucap Bayu.


Pemuda itu pun undur diri. Lagi, diam diam pria itu mencuri pandang ke arah sang prajurit wanita tepat saat gadis manis berlesung pipit itu mendongak. Membuat netra kedua anak manusia itu saling bertemu. Wanda tersenyum sewajarnya. Bayu membalasnya dengan sebuah senyuman yang sama namun sepertinya dengan arti yang berbeda.


Pemuda itupun berlalu. Pergi meninggalkan tempat tersebut sambil tak henti mengulum senyum.


...****************...


Sementara di tempat lain masih dalam bangunan megah tempat tinggal sang jenderal,


Aleta nampak mendudukkan tubuhnya di samping ranjang. Di raihnya ponsel di saku celananya. Lalu mulai mengisi daya benda pipih itu dan meletakkan nya di meja nakas.


Aleta menoleh ke arah sang suami. Dilihatnya disana Leon nampak melepas kaos putihnya. Hingga memperlihatkan tubuh tegap dengan sstu dua tato di beberapa bagian tubuh nya itu


"sayang,..." ucap Aleta.


Leon menoleh.


"apa?" tanya Leon.


"aku kok masih kepikiran ibu ibu yang aku lihat di rumah sakit tadi ya..." ucap Aleta.


Leon menoleh. Ia lantas berjalan mendekati wanita itu dan mendudukkan tubuhnya di samping sang istri. Di dekatkan nya wajahnya pada wajah Aleta. Di amati nya paras cantik milik sang istri tersebut dengan penuh cinta.


"kamu lihat dimana?" tanya Leon. Ia memang tak tahu jika Aleta pernah bertemu Rinjani sebelumnya bukan? mengingat pertemuan Aleta dan Rinjani di rumah sakit beberapa waktu lalu terjadi saat Leon baru sadar dari kritisnya setelah tidur panjang selama berhari hari. Sehingga baik Aleta dan Sean saat itu juga tak pernah bercerita pada Leon. Nggak sempet, dan udah keburu lupa juga🙈. Nih buktinya, sekarang saja Aleta tengah bersusah payah mengingat dimana ia pernah bertemu wanita itu.


Leon menatap gemas wanita itu. Wajahnya terlihat sangat lucu dan polos.


"dia mantan mertuaku.." ucap Leon kemudian, membuat Aleta reflek menoleh ke arah sang suami.


"namanya Rinjani." ucap Leon lagi.


"anaknya lagi sakit. Menurut info dari Bayu, perempuan itu di rawat di kamar kelas ekonomi di rumah sakit itu."


"aku nggak tahu kamu pernah lihat mereka dimana. Itu juga nggak penting selama mereka nggak ganggu kamu. Tapi akan lebih baik, kalau kamu nggak perlu berdekatan apalagi berhubungan dengan dia dan anaknya" ucap Leon.


"kenapa? aku lihat ibunya baik kok" ucap Aleta.


"aku akan lebih bahagia, dan sangat bahagia, kalau kita menjalani kehidupan baru kita tanpa melibatkan orang orang itu" ucap Leon tanpa melepaskan pandangannya dari wajah sang istri.


"mereka adalah bagian dari masa lalu buruk kita , Aleta. Aku sudah menguburnya. Aku tidak mau lagi berhubungan dengan mereka. Dan aku tidak peduli sama sekali dengan apa yang terjadi dengan mereka saat ini."


"biarkan mereka dengan kehidupan baru mereka. Dan kita dengan kehidupan baru kita. Kita nikmati apa yang kita punya sekarang. Kita petik buah dari perjuangan cinta kita yang nggak mudah. Semua pahit sudah pernah kita rasakan. Sekarang tinggal manisnya yang harus kita cicipi dan syukuri. Aku cuma mau, sekarang kamu fokus untuk aku dan anak anak kita. Nggak usah ngurusin yang nggak penting. Biar itu jadi masalah mereka. Buah yang mereka petik dari segala keserakahan dan keburukan yang mereka jalani dulu."


"Tuhan tidak tidur, sayang. Dia tahu balasan dan ganjaran apa yang tepat atas semua perilaku umat umatnya" ucap Leon.


Aleta tersenyum. Di sentuhnya wajah berjambang pria tampan itu.


"aku bangga deh. Kamu makin hari makin dewasa. Makin bijak. Makin bisa membimbing dan mengayomi aku serta anak anak." ucap Leon.


"aku akan memberikan apa yang dulu selalu kamu harapkan dari aku. Aku akan menebus semua kesalahanku dulu. Aku akan menjadikan kamu ratu di kehidupan ku. Memberikan apapun yang kamu mau. Bukan hanya materi, tapi juga cinta, kasih sayang, perhatian, pengertian, waktu, dan semuanya.."


"tegur aku jika aku salah ya. Redam amarahku juga aku mulai dikuasai emosi. Aku bukan manusia sempurna, tapi aku akan berusaha untuk menjadi suami yang terbaik buat kamu" ucap Leon.


Aleta tersenyum.


"kamu tetap suami terbaik yang aku punya. Kamu tetep suami sempurna buat aku. Aku menerima semua kekurangan kamu. Kita sama sama belajar,ya .." ucap Aleta

__ADS_1


Leon tersenyum sambil mengangguk.


Dua mata itu saling menatap dalam jarak yang sangat dekat. Jari jemari Aleta juga masih setia mengusap usap lembut rahang yang nampak di tumbuhi bulu bulu lebat itu.


"aku kangen, boleh nggak?" tanya Leon meminta izin untuk meminta hak nya pada sang istri.


Aleta menatap iba ke arah Leon.


"bukannya nggak boleh. Tapi aku takut. Kamu kan tahu, kandungan aku lemah, sayang.." ucap Aleta.


Leon menghela nafas panjang.


"maaf..." ucap Aleta.


Leon tersenyum.


"aku ngerti..." ucap Leon.


"tapi boleh dong aku minta bantuan" ucap Leon lagi membuat Aleta mengernyitkan dahinya.


"bantuan apa?" tanya Aleta.


Leon mengubah tatapan penuh cintanya menjadi tatapan nakal. Diraihnya sebelah tangan sang istri lalu di arahkan menyentuh benda yang sudah sangat mengeras tak tertahankan itu.


Aleta terkekeh..


"bantuin..." ucapnya manja.


Aleta tersenyum lebar.


"ya udah, sini aku bantuin." ucap Aleta sambil tersenyum.


Leon nampak girang.


Ia pun dengan segera mengubah posisi nya. Didudukkan nya tubuh tegap itu di atas ranjang dengan posisi bersandar di sandaran sofa. Sedangkan Aleta kini nampak membuka dress selutut miliknya. Ia yang kini dalam kondisi setengah telannjaang itupun lantas naik ke pangkuan Leon. Membiarkan pria itu untuk memainkan dua benda menggantung yang nampak begitu indah itu dengan lembut.


Leon memulai aksinya. Sangat lembut dan tenang. Sangat jauh berbeda dengan yang biasa Leon lakukan. Dimana ia selalu memburu dan menggebu gebu tiap kali berhubungan suami istri dengan wanita cantik itu.


Cukup lama Leon bermain main disana. Melumaat habis benda indah itu bak seorang bayi yang tengah menikmati minuman khas dari ibunya.


Cukup lama Leon berkutat dengan dua benda itu. Aleta lantas turun dari pangkuan Leon. Di raihnya ikat pinggang sang suami lalu dibukanya. Dengan gerakan tenang ia pun menarik celana itu turun. Membuat benda yang sudah terlihat berdiri tegak menantang itu kini terpampang nyata di hadapannya.


Aleta melewati benda yang sudah minta di lemaskan itu.


Aleta bergerak merangkak. Didekatkannya wajah nya pada dua bongkahan besar dada Leon. Nafas Leon mulai berat dan tak beraturan. Lidah itu bergerak. Menyapu bongkahan besar itu sembari memberikan gigitan gigitan di sana.


Leon memejamkan matanya. Aleta nampak asyik bermain main pada tombol kecil berwarna coklat yang nampak di kelilingi bulu bulu dada nan halus itu. Aleta melakukan hal yang sama seperti yang Leon pada benda menggantung miliknya. Menghisap, menggigit, menyapunya dengan lidah. Sama seperti yang Leon lakukan. Membuat pria itu memejamkan matanya sambil meremas sprei putih ranjang besar itu.


Wanita cantik itu terus beraksi. Ia menyusuri tiap inchi tubuh sang suami. Seolah tak mengizinkan satu inchi pun kulit Leon kering tak tersapu lidah indahnya.


Leon mulai bersuara. Ia meracau tak jelas mana kala kepala dan bibir itu bergerak lembut di perut bagian bawahnya. Membuat pria itu sekuat tenaga menahan hasratnya menerkam sang istri.


Aleta memang cukup pintar membuat Leon kelimpungan.


Waktu pun terus berjalan. Adegan panas itupun terus berlanjut. Aleta menjalankan tugas nya dengan baik. Menuntaskan hasrat sang suami walaupun hanya dengan bantuan bibir dan tangan wanita cantik itu. Membuat Leon puas walaupun tak bisa memasukkan pusaka nya ke tempat yang semestinya.🤭🙈


...----------------...


Selamat malam

__ADS_1


up 20:15


yuk, dukungan dulu 🥰😘😘😘


__ADS_2