
Hari berganti......
Hari ini semua berjalan tak seperti biasanya. Leon masih banyak diam dan bersifat lebih dingin pada Aleta. Hal itu membuat Aleta makin bertanya tanya, sebenarnya apa yang terjadi pada Leon? kenapa ia tiba tiba jadi berubah seperti ini? Apa yang terjadi semalam saat pria itu mengatakan ingin pergi sebentar dan melarang Aleta ikut dengannya?
Saat berangkat bekerja pun, Leon juga lebih banyak diam. Ia tak berucap sepatah katapun, raut wajahnya masih tak terbaca, sama seperti semalam saat pria itu pulang kembali ke kamarnya.
Siang ini........
Seperti biasa, Aleta tengah berjalan di trotoar guna membeli makan siang untuk nya dan sang ibu.
Jiwa sederhana nya kali ini membuatnya tergerak ingin makan bakso dan segelas es jeruk kesukaannya. Dengan langkah tenang ia pun mengayunkan kakinya menuju tepi jalan untuk menyebrang dan kembali ke toko kue miliknya yang berada di seberang sana. Tak lupa dua bungkus bakso panas dan dua bungkus es jeruk dalam plastik ditentengnya di dalam sebuah plastik kresek berwarna hitam.
Aleta berdiri di tepi jalan raya, ia menengok ke kanan dan ke kiri, merasa tak ada kendaraan yang lewat ia pun segera melangkahkan kakinya memijak aspal jalan raya itu, namun.........
tiiiiiiiiiiiiinnnn...........
aaaaaaaaaakkkkkhhhhhhhh........
seeeeetttt....
buuuuuggghhhh........
Lagi......
kembali terjadi....!
Sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan tinggi dan hampir saja mencelakai seorang manusia. Dan sepertinya itu adalah mobil yang sama dengan yang kemarin hampir menabrak Sarah.
Dan lagi lagi......
pria itu datang sebagai penolong. Sean yang kala itu tengah berjalan jalan di sekitaran komplek pertokoan itu langsung berlari dan menarik tubuh Aleta saat menyadari kedatangan mobil yang melaju dengan ugal ugalan tersebut.
Aleta meringis. Kakinya ter kilir akibat jatuh dalam posisi yang salah.
"aaaaawww....." pekik Aleta sambil memegangi pergelangan kakinya.
Sean mendekati wanita itu.
"kamu nggak apa apa Al...?" tanya Sean panik.
"sakit mas..." ucap Aleta.
"ya udah....aku antar kamu kembali ke toko ya....." ucap Sean.
Aleta mengangguk.
Sean membantu wanita itu berdiri. Ia lantas memapah Aleta dan membawa wanita yang kini ter pincang pincang itu menyeberang jalan dan masuk ke dalam toko bunga miliknya.
"pelan pelan Al...." ucap Sean saat mereka sampai di depan toko bunga.
Ia membawa wanita itu masuk kedalam toko itu dan mendudukkan tubuh ramping wanita cantik itu di atas sofa ruang tunggu.
Toko terlihat sepi. Ibu Sarah saat ini tengah berada di lantai dua untuk menjalankan ibadah dhuhur.
Sean memposisikan dirinya berjongkok di bawah kaki Aleta,ia meraih satu kaki jenjang yang nampak memar itu membuat Aleta merasa tidak enak.
"aduh nggak usah mas...." ucap Aleta.
"nggak apa apa....kaki kamu harus di urut Al, biar cepet sembuh... takut nya nanti bengkak loh...." ucap Sean.
"tapi mas............"
"udah tenang aja....aku cuma mau bantu kamu kok...aku nggak ada niat macam macam...."ucap Sean.
Aleta hanya tersenyum canggung.
"makasih ya mas...." ucap Aleta. Sean hanya tersenyum.
Laki laki itu mulai mengurut kaki Aleta dengan telaten.Aleta menggigit bibir bawahnya kala merasakan nyeri akibat pijitan pijitan Sean yang sepertinya mengenai tepat di pusat rasa sakit pergelangan kaki nya itu
"tahan ya......" ucap Sean.
"sakit mas....."jawab Aleta.
Sean hanya tersenyum. Laki laki dewasa itu terus melakukan aktivitas nya, hingga..........
.
.
.
.
daaaaaaaggggggghhhhh........
Pintu di buka dengan kasarnya membuat dua pria wanita yang bukan suami istri itu terjingkat kaget dan menoleh ke arah sumber suara.
Dilihatnya disana, Leon sudah berdiri di depan pintu dengan sorot mata tajam membunuh.
Aleta yang menyadari gelagat tak mengenakan sang suami pun segera bangkit. Begitu juga Sean yang kini berdiri masih dengan mode tenang.
"sayang....." ucap Aleta.
Leon tak berucap. Aleta yang sudah lebih baik itu perlahan berjalan mendekati sang suami. Leon tak bergerak. Ia kini menatap tajam ke arah Sean yang berdiri di depan sofa.
"sayang kamu kesini?" tanya Aleta.
__ADS_1
Leon menoleh ke arah wanita itu dengan raut wajah yang perlahan mulai terlihat mengerikan.
Aleta mencoba tetap tenang. Ia tau Leon salah paham. Ia kemudian meraih punggung tangan suaminya, berniat untuk menciumnya sebagai tanda bakti, namun.......
.
.
.
.
.
.
.
plaaaaakkkk.................
.
.
.
.
tamparan keras mendarat di pipi Aleta. Saking kerasnya wanita itu sampai jatuh terpelanting ke lantai.
Sean berteriak kaget. Begitupun Aleta yang terlihat syok dengan perlakuan kasar suaminya yang tiba tiba menamparnya.
"whoooee....!" pekik Sean.
Ia setengah berlari mendekati Leon dengan sorot mata tak suka. Di dorongnya pelan tubuh pria itu, berniat menjauhkannya dari Aleta yang kini terdiam tersungkur di lantai.
"jangan kasar dong sama perempuan...!!" ucap Sean tak suka.
Sean bergerak, sedikit membungkuk hendak membantu Aleta untuk berdiri, namun
"jangan sentuh istriku...!" ucap pria itu dingin sambil berbalik mendorong Sean menjauh dari Aleta..
"anda sudah melakukan kekerasan terhadap Aleta...!" ucap Sean mulai terpancing emosi.
"dia istriku...!" ucap Leon dengan gigi mengetat.
"siapapun anda...!anda nggak berhak melakukan hal seperti ini...! ini kekerasan....! anda bisa dituntut...!" ucap Sean.
Leon kembali mendorong tubuh Sean.
"jangan ikut campur urusan keluarga ku...!" ucapnya.
"saya nggak akan ikut campur kalau anda tidak melakukan kekerasan terhadap istri anda di depan mata saya...!"ucap Sean dengan suara mulai meninggi.
Aksi saling dorong dan unjuk kekuatan mulai terjadi di antara kedua pria itu.
Aleta bangkit...!
Ia mendekati dua pria itu dan mencoba untuk meredam emosi sang suami. Aleta berdiri di tangah tengah Sean dan Leon dengan kedua tangan terbentang melerai dua pria seumuran itu.
"cukup....!sayang ini salah paham...!" ucap Aleta sambil menatap Leon.
Leon berada dalam mode iblisnya. Ia menatap tajam ke arah Aleta seolah ingin membunuh wanita itu saat itu juga.
"diam kau anak jaalang...!!"ucap pria itu dingin membuat Aleta terdiam seketika.
Leon mengucap kata itu lagi. Ia kembali menyebut Aleta dengan sebutan yang menyakitkan itu lagi setelah beberapa bulan hubungan mereka mulai membaik.
Aleta menatap pilu ke arah Leon dengan mata mengembun.
Leon masih di kuasai emosi. Aleta mengembun, tapi sepertinya Leon tak peduli...!
"sekali jaalang tetaplah jaalang...!kau memang diciptakan untuk mewarisi bakat ibumu...! menyerahkan tubuhmu untuk siapapun yang bersedia membayar mu mahal...! menyarahkan tubuhmu untuk pria pria yang bisa memuaskan selaangkangan mu...! kau memang manusia rendah Aleta...! KAU PEREMPUAN MURAHAN.......!!!!!!!”
PLAAAAAKKKK.....
Telapak tangan putih itu mendarat mulus di pipi berjambang milik Leon. Dada wanita itu naik turun.
Sakit...!
Ia tak terima dengan ucapan pria itu. Ia selalu berusaha menjadi istri yang terbaik untuk Leon,tapi kenapa laki laki itu berucap sebegitu kejam padanya?
Jahat sekali dia...!
Sarah yang mendengar kegaduhan itu pun berlari menuruni tangga. Ia mendekati sang putri.
"ada apa ini?" tanya Sarah hendak mendekati Aleta namun Sean mencegah. Ia tak mau Sarah ikut menjadi sasaran amukan Leon yang tak jelas sumbernya itu.
Aleta masih menatap nanar ke arah pria yang perlahan mulai bisa ia terima keberadaan nya tersebut. Ia bertekat menjadi istri yang baik untuk Leon, mendampingi nya dan menerima segala baik buruk nya ia. Namun kini, semua seolah runtuh. Ia kecewa dengan Leon.
"jahat kamu..." ucap Aleta lirih.
Leon masih dalam mode buasnya. Ia tersenyum getir ke arah wanita itu
"kau tidak perlu menjual air matamu di hadapan ku anak haram...!!" ucap Leon dingin.
"Aleta bukan anak haram...!!" sahut Sarah.
__ADS_1
Leon menoleh ke arah mertuanya itu.
"diam kau pelacuur...!" ucapnya dingin.
"jangan sebut ibuku dengan sebutan itu...." ucap Aleta dengan gigi yang mengetat.
"sebenarnya kamu kenapa? dari kemarin kamu aneh? ngomong sama aku...! aku salah apa?!!" tanya Aleta berteriak sambil menangis.
"kau masih bertanya apa salahmu Aleta?? KAU MENGKHIANATI KU......!!" ucap Leon dengan suara menggelegar tetap di depan wajah Aleta.
"mengkhianati apa?! kamu salah paham....!!" ucap Aleta menangis.
Leon mengangkat dagunya.
"salah paham kau bilang? kau bilang aku salah paham...? lalu ini apa...?!!!" ucap Leon sambil merogoh saku jas nya dan melempar beberapa lembar foto dan sebuah strip pil KB yang sudah tak utuh pertanda sebagian sudah di konsumsi itu tepat ke arah wajah Aleta.
Aleta diam. Aleta membungkuk. Ia mengambil beberapa lembar foto dan strip pil KB itu.Ia menggelengkan kepala nya, melihat lembaran foto yang ternyata merupakan foto dirinya dan Sean yang diambil secara sembunyi sembunyi.
"kau mengkonsumsi pil itu agar kau tidak hamil..! kau tidak mau memberikan anak untukku agar kau bisa terus menjalin hubungan dengan bedeebah itu...!! benarkan...?!!" tanya Leon mengambil kesimpulan.
Aleta menggelengkan kepalanya samar.
"ini....ini bukan punyaku...aku nggak pernah minum kayak gini..." ucap Aleta sambil menunjukkan pil KB ditangannya...
"bukan punyamu? tapi aku menemukan nya di tas mu semalam...! dan kau masih mengelaknya...?!! " tanya Leon murka.
Aleta menggelengkan kepalanya.
"enggak...!aku nggak pernah minum ini...ini bukan punyaku...!!"
"berhenti memasang wajah sok polos Aleta...! kau sangat menjijikkan...!" ucap Leon mengerikan.
"sumpah demi Allah ini bukan punya aku....! aku nggak pernah minum pil seperti ini..!! ini bukan punya aku....!"
"lalu bagaimana ini bisa ada di tas mu?!!"
"aku nggak tau....!!!"
"kau memang wanita ular anak jaaalang...!"
seeeeetttt......
Leon menarik tangan Aleta kasar.
"kamu mau bawa aku kemana?!"tanya Aleta takut.
"kau harus mendapatkan hukuman...!" ucap Leon dingin.
Aleta menggelengkan kepalanya cepat.
Sarah mendekat.
"tuan jangan sakiti Aleta...!" ucapnya.
"diam kau pelacuur...!" ucap Leon.
Aleta menangis meronta ronta.
"kalau nggak mau jangan dipaksa...!" ucap Sean bergerak mencoba meraih tangan Aleta namun Leon dengan cepat menepis tangan Sean. Ia bahkan menunjuk wajah prajurit itu dengan sorot mata tajam membunuh.
"jangan ikut campur urusan rumah tangga ku...!" ucap Leon dingin.
Leon menyeret tubuh Aleta yang terus menangis meronta ronta. Sarah mengejar sambil berteriak teriak memanggil nam sang putri.
Leon sampai di samping mobilnya dimana Fathur dan beberapa anak buah lainnya sudah berdiri siap di sana.
"bawa pelaacur tua itu pulang..dan kurung dia di kamarnya!!" perintah Leon.
"baik tuan" jawab Fathur.
Leon membuka pintu mobilnya. Ia mendorong Aleta masuk ke dalam mobil mewah itu. Ia kemudian segera menuju kemudi mabil dan melajukan kendaraan roda empatnya itu dengan kecepatan tinggi.
Sarah dan Sean berusaha mengejar,namun dengan cepat Fathur menarik Sarah masuk ke dalam mobil lain yang juga terparkir di depan toko itu dan membawanya pergi. Sedangkan puluhan anak buah lainnya nampak mengepung dan menyerang Sean secara keroyokan.
Aksi baku hantam pun terjadi. Lima orang anak buah melawan satu Sean.
Namun bukan anggota militer namanya jika tak bisa melawan cecunguk cecunguk Leon itu. Tak lama baku hantam terjadi, para anak buah Leon lari bersama kendaraan roda empat mereka. Mobil itu melesat meninggalkan Sean yang kini nampak ngos ngosan disana.
Sean menghela nafas panjang sambil berkacak pinggang. Bagaimana nasib Aleta dan ibunya setelah ini.
Ia kemudian mengayunkan kakinya, berniat kembali ke seberang jalan dimana mobilnya terparkir di salah satu halaman toko disana. Namun tiba tiba.....
Sean menghentikan langkahnya. Dilihatnya di bawah kakinya,sebuah kalung baja bertuliskan institusi tempatnya mengabdi lengkap dengan logo burung garuda berperisai merah putih disana.
Diambilnya kalung itu. Sebuah kalung dengan gambar bunga lili dan inisial nam S&M di belakangnya.
"ini punya siapa?" monolog Sean.
"apa punya Aleta?jatuh pas dia ditarik tarik suaminya tadi?"pikir Sean.
Sean menggelengkan kepalanya. Mungkin ini memang punya Aleta atau ibu Sarah.
Ia lantas memasukkan kalung itu ke dalam saku celananya. Lalu bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.
...----------------...
***Selamat siang.....
__ADS_1
up 10:57
Yuk...dukungan yukk....🥰🥰***