
Sebuah motor matic berwana merah nampak berhenti di depan sebuah rumah petak sederhana yang nampak sunyi itu.
Wanita berpostur boh*y dengan pakaian serba mini berbalut jaket tebal itu nampak turun dari motornya dengan tergesa gesa. Sementara dibelakang nya nampak sebuah mobil mewah ikut berhenti di halaman rumah yang tak terlalu luas tersebut.
Dengan helm yang masih bertengger di kepala, Ayu setengah berlari menuju pintu rumahnya. Ia merogoh tas selempang nya dan meraih kunci cadangan rumah itu yang dibawa nya. Dengan segera, ia berlari menuju kamar tamu dimana Sarah dan Aleta berada disana.
"Sar...!! Sarah....!!" ucap Ayu memburu sambil membuka pintu kamar tanpa mengetuknya.
Ayu terdiam.
Sarah belum tidur. Wanita itu nampak duduk di pinggir ranjang dengan mata sembab berair. Wanita itu terlihat memangku sebuah baskom kecil. Aleta terbaring lemah di ranjang sederhana itu dengan wajah yang begitu pucat serta sebuah kain putih basah tertempel di keningnya.
Ayu mendekat.
"Aleta kenapa?" tanya Ayu.
Sarah menangis lirih. Ayu ikut mengembun melihatnya.
Ayu menggerakkan tangannya, menyentuh pelipis wanita cantik itu, dan.....
"Astaga....!! ini badannya panas banget....!!" ucap Ayu.
"Aleta harus dibawa ke rumah sakit Sar....!!!" ucap Ayu.
Sarah hanya menangis. Ia seolah sudah kehabisan kata kata untuk mengungkapkan betapa ia sangat lelah dengan semua ini.
"Sarah ...." ucap Ayu lagi saat tak mendapati jawaban dari sahabatnya itu.
"aku nggak punya uang..." ucapnya lirih memilukan.
Ayu ikut mengembun. Betapa ia sangat iba melihat penderitaan sahabatnya itu. Seolah ikut merasakan derita yang wanita itu rasakan.
Untuk sejenak Ayu ikut larut dalam duka yang Sarau rasakan. Hingga......
"eh....bentar ...aku pulang karena ada yang mau aku sampaikan sama kamu Sar..." ucap Ayu
"apa?"tanya Sarah sambil mengusap lelehan air matanya.
"ada yang mau ketemu sama kamu...dia udah nunggu di depan..." ucap Ayu.
Sarah masih mengusap air matanya.
"supir yang akan bawa aku sama Aleta pergi? kamu udah nemuin orangnya...ya udah bentar....aku dandan dulu .."ucap Sarah sambil bangkit dan hendak meletakkan baskom ditangannya itu di atas meja, namun belum sempat Sarah melakukan nya....
"udah nggak usah dandan...! ini lebih penting dari supir truk...!!" ucap Ayu sambil menarik tangan Sarah dan membawa wanita itu keluar dari kamar tamu. Sarah setengah berlari mengimbangi langkah Ayu, meninggalkan Aleta sambil membawa baskom kecil di tangannya.
Sesampainya di teras....
Dua orang pria nampak berdiri membelakangi Sarah dan Ayu. Dua pria berpostur tinggi gagah itu nampak mengamati daerah perumahan yang tak terlalu padat di pinggiran kota yang menjadi tempat persembunyian Sarah dan Aleta tersebut.
Sarah mengamati seorang pria disana dari belakang. Entah mengapa ia tiba tiba merasa deg degan. Mungkin karena sudah lama ia tak berinteraksi dengan laki laki, pikirnya.
Ayu tersenyum.
"tuan....." ucap Ayu.
Dua pria yang mendengar suara Ayu itupun berbalik badan. Dann.............
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
daaaaaaaggggggghhhhh........
Baskom di tangan Sarah jatuh. Airnya tumpah terpercik kemana mana. Wanita itu seketika lemah bak kehilangan tenaganya. Ia mundur, hampir tumbang dengan sorot mata nanar sekaligus kaget menatap pria yang berada di hadapannya.
Ayu mendekat. Ia meraih tubuh sang sahabat, menjaganya agar tak terjatuh ke lantai.
Apa ini?
Ada apa ini?
Dini hari, saat jam menunjukkan pukul tiga pagi, seorang laki laki datang menghampiri tempatnya mengamankan diri.
Laki laki gagah berparas rupawan yang perlahan mulai tertutup kerutan. Pria tampan yang dulu pernah mengungkapkan rasa cintanya pada seorang gadis anak penjual kain di pasar. Pria tampan yang dulu pernah mengungkapkan rasa cinta nya tepat di tanggal dua belas. Laki laki tampan yang pernah ia jaga rasa cintanya bertahun tahun kala menjalani pendidikan militer di luar kota, bermodalkan sepucuk surat yang saling terkirim tiap minggunya.
Pria tampan itu kini kembali berdiri di hadapannya. Pria yang memperjuangkan dirinya di hadapan kedua orang tuanya, menikahinya dan selalu berusaha menjaga nya dengan sepenuh hati.Pria yang bahkan hingga kini masih bertahta di hatinya. Laki laki sejati yang selalu ia banggakan. Ia jaga cinta dan kepercayaan nya. Namun terpisah saat restu dan jarak mengalahkan segalanya.
Sarah sesak. Ia menangis namun tak bersuara. Rasanya sulit untuk mempercayai apa yang ia lihat kini.
Sementara pria itu,
Ia mengembun. Mukjizat itu nyata..! Lili putihnya lah yang kini berada di hadapannya. Meskipun wajahnya sudah tak semuda dulu namun ia masih sangat mengenali wanita yang tak pernah bergeser sedikit pun dari hatinya itu.
Mario mendekat...
"Sarah...." ucapnya lirih.
Sarah mundur sambil menggelengkan kepalanya.
Apa yang wanita itu rasakan kini?
Malu....!
Rendah....!
Sebagai seorang prajurit yang terhormat, seujung kuku Mario pun...itu terlalu berharga untuk menyentuh Sarah yang sudah terlanjur kotor...!
Sarah menggelengkan kepalanya, seolah ingin mengatakan "jangan mendekat"
Mario ikut lemah. Tak sesenggukan, tak menangis meraung raung. Dengan sikap tenang selayaknya prajurit ia mengusap setitik air mata di pipinya. Ia tersenyum lembut sambil mengangkat tangannya seolah meminta wanita itu untuk mendekat.
"Sarah ...aku suamimu .." ucap laki laki itu.
Sarah makin mundur, membuat raga yang kian hari kian terlihat kurus itu kini mentok membentur dinding.
Mario kembali mendekat, namun Sarah mengangkat tangannya seolah meminta laki laki itu untuk berhenti.
"Sarah ...aku suamimu..." ucap Mario.
Sarah menggelengkan kepalanya.
"saya hina...." ucapnya lirih sambil berderai air mata.
"saya kotor..." ucapnya lagi membuat Mario begitu sesak dan sakit di dadanya.
Sang Jenderal mengayunkan kakinya perlahan mendekati istrinya itu. Sarah terus menggelengkan kepalanya seolah meminta untuk berhenti.
"jika memang kau kotor....datanglah padaku....suamimu butuh penjelasan atas ini semua..." ucap Mario sambil terus mendekat.
"jika memang kau hina... jelaskan padaku...apa alasan mu hingga memilih menjadi wanita terhina di bandingkan menunggu kepulangan ku" ucap Mario lagi.
Sarah merosot. Ia bersimpuh di lantai. Menangis sejadi jadinya sambil meremas ujung daster murahnya.
Mario berjongkok, duduk di hadapan sang istri yang sudah puluhan tahun tak di jumpainya.
"kau masih istriku....kau masih berkewajiban untuk patuh padaku....!" ucap Mario tenang dengan sorot mata nanar.
Sarah sesenggukan sambil menunduk. Ia seolah tak berani menatap wajah pria itu.
__ADS_1
"lihat aku .." ucap Mario.
Sarah makin menangis sejadi jadinya.
Mario hanya menatap pilu wanita itu. Ia kembali mengusap air matanya dengan tenang.
"lihat aku...lili putih..." ucapnya lagi.
Sarah masih menangis. Perlahan ia mengangkat kepalanya, menatap sayu, sendu nan pilu ke arah pria berjaket hitam itu. Sorot mata yang mengandung kepedihan. Sorot mata yang mengandung luka dan duka yang seolah begitu berat dan menyakitkan. Kedua netra terkunci. Wanita itu menatap lekat mata sang pria yang dulu selalu ia ajak bercanda tiap malam sebelum tidur. Ia siapkan makan dan segala keperluan nya. Ia nantikan kepulangan nya dan selalu ia tunggu tunggu kabar darinya saat keduanya terpisah jarak yang membentang luas.
Mario tersenyum lembut di balik mata berair nya. Ia menemukan lagi wanita ini. Kini ia bisa menatapnya bukan hanya sekedar foto saja. Ia bisa merasakan hembusan nafasnya, aroma tubuhnya, sungguh.... sesuatu yang sangat ia rindukan dan hampir tak percaya akan ia dapatkan kembali.
Waktu seolah berhenti untuk sejenak, hingga........
"apa kau tidak ingin mencium tangan suamimu yang baru pulang bertugas ini?" tanyanya.
Tangisan pecah lagi....!
Sarah sesenggukan lagi. Perlahan ia menggerakkan tangannya, meraih punggung tangan laki laki itu lalu menciumnya, menghirup aromanya dan mengecupnya berkali kali.
Mario tak bisa lagi menahan perasaannya. Ia meraih tubuh berbalut daster itu. Dengan cepat ia memeluk wanita itu dan mendekapnya erat. Dihirupnya aroma sampo sang wanita. Kerinduan selama puluhan tahun lamanya kini terbayar tuntas. Sepasang suami istri itu saling memeluk satu sama lain. Begitu erat, hingga Mario tak bisa menahan keseimbangan tubuhnya. Ia yang berjongkok kini terduduk di lantai. Memeluk sang wanita yang kini menangis meraung raung dalam dekapannya.
Ayu dan Sean yang menyaksikan nya ikut menitikkan air matanya. Terutama Ayu.
Ia yang tau seperti apa kisah hidup Sarah seolah ikut terbawa suasana. Ia mengusap air matanya yang menetes di pipinya yang full make up itu.
Akhirnya sang jenderal bertemu lili putihnya. Sebuah mukjizat yang begitu nyata. Kisah cinta yang begitu dramatis. Terpisah jarak dan waktu yang begitu lama, namun rasa cinta keduanya nyatanya tak pernah padam.
Sungguh...dunia novel memang indah...😊ðŸ¤
Para manusia disana masih sibuk dengan aktifitas mereka. Pertemuan yang mengharu biru itu masih terus berlanjut. Mario masih memeluk wanita itu dengan sangat erat seolah enggan untuk melepaskan nya. Hingga.....
"buukk........."
Suara lemah itu berhasil membuat semua yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda nampak berjalan begitu lemah. Wajahnya terlihat sangat pucat. Ia menyandarkan tubuhnya di kusen pintu dengan mata yang seolah sangat berat untuk terbuka.
Sarah dan Mario melepaskan pelukannya.
"Al...." ucap Sarah sambil hendak bangkit dan mengusap air matanya.
"bukk....aku.............................."
.
.
.
.
buuuuuggghhhh......
"Aleta.....!!!"
...----------------...
***Yuhuuuu
udah crazy up loh ini....
tambahin kek hadiah,vote, like sama komennya.....
udah ketemu nih si pak jenderal ama anak dan istrinya....
yuk dukungan dulu.....
mampir juga di sini sambil nunggu. update an dari author***....
__ADS_1