
Di sebuah rumah sakit,
Wanita tua dengan sebagian rambut yang mulai memutih itu menangis meraung raung,
dengan tangan penuh darah ia setengah berlari membantu petugas kesehatan mendorong ranjang pasien tempat di mana seorang wanita terkapar bersimbah darah di kepalanya. Ya, itu adalah putri nya. Putri yang beberapa hari terakhir ini nyatanya begitu hancur dan terpuruk saat mendengar kabar terbaru tentang mantan suami dan mantan madunya. Putri yang seolah hingga kini belum bisa menerima takdir yang sudah Tuhan tuliskan untuknya.
Rinjani menangis sambil terus berucap meminta Mayang untuk bertahan. Wanita empat puluh tahun yang mengalami lumpuh sejak lima tahun terakhir itu baru saja jatuh dari kursi rodanya. Kepalanya terbentur ujung meja dan tersungkur ke lantai membuat darah sejak tadi tak berhenti mengalir dari pelipisnya.
Rinjani terus menangis samb memanggil manggil nama sang putri. Hingga anak satu satunya itu di masukkan ke dalam ruang IGD, Rinjani masih terus menangis.
"saya mau menemani putri saya, dok" ucap Rinjani pilu.
"maaf, buk. Anak ibu harus secepatnya mendapatkan perawatan. Anda dilarang masuk. Lebih baik sekarang anda ke meja administrasi untuk menyelesaikan pembayaran, agar kami bisa secepatnya melakukan penanganan terhadap putri ibuk" ucap si perawat membuat Rinjani makin menangis di buatnya.
Bagaimana ia akan membayar administrasi rumah sakit sedangkan uang yang kini ia miliki hanyalah uang hasil berjualan kue yang baru saja ia lakukan. Mana cukup untuk membayar biaya rumah sakit yang pastinya mahal.
Rinjani menatap ia ke arah sang perawat.
"maaf, sus. Saya tidak punya uang." ucap sang perawat.
"tapi jika ibu ingin anak ibu segera mendapatkan pertolongan, maka ibu harus secepatnya membayar, kalau tidak, nyawa anak ibu bisa dalam bahaya" ucap si perawat.
"apa tidak ada keringanan untuk kami, sus? tolong selamatkan anak saya dulu. Saya akan membayarnya nanti.." ucap Rinjani mengiba
"maaf, bu. Ini sudah peraturan rumah sakit" ucap si perawat.
Rinjani menangis pilu. Sang perawat lantas masuk ke dalam ruangan IGD. Sedangkan Rinjani kini nampak menangis kebingungan kemana harus mencari pinjaman uang untuk putrinya.
Ditengah tengah kebingungan yang wanita tua itu alami, tanpa ia sadari, dua pasang mata polos dan sepasang netra berbalut kacamata nampak menatap ke arahnya tak jauh dari tempatnya menumpahkan segala air matanya.
Itu adalah Bayu, Alka dan Ahsa. Mereka baru saja sampai di rumah sakit itu untuk menjenguk Aleta.
"kasihan ya nenek itu" ucap Ahsa.
"iya, pasti dia bingung" ucap Alka.
Bayu yang juga berada di tempat itu tak bereaksi. Ia hanya menatap datar ke arah wanita yang juga ia kenali itu. Wanita yang merupakan mantan mertua bos besarnya.
"Ahsa, gimana kalau kita minta tolong papa aja? papa kan orang baik, pasti mau bantuin nenek itu. Kan kasihan, anaknya lagi butuh biaya buat berobat" ucap Alka.
"bener juga..! iya, kak..! kita minta tolong papa aja yuk..!" ucap Ahsa mengimbuhi.
Bayu hanya menatap datar tanpa ekspresi ke arah dua bocah itu. Mereka tak tahu saja, siapa wanita tua yang kini menangis tersebut.
"Alka, Ahsa, udah yuk, kita ke kamar nya mama. Mama pasti udah nungguin buahnya" ucap Bayu sambil mengangkat parcel buah di tangannya.
__ADS_1
"iya om, ayo kak..!" ucap Ahsa. Alka mengangguk. Mereka pun segera menuju lift yang akan mengantar mereka menuju ruang rawat inap dimana Aleta dan Leon berada.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah,
Aleta yang sejak kemarin hampir tak menyentuh nasi itu nampak menatap jengkel ke arah suaminya yang nampak asyik rebahan di sofa panjang ruang rawat inap itu sambil memainkan ponselnya.
Dilihatnya disana, Leon sejak tadi seolah tak ada hentinya mengunyah. Makanan yang tadi Lala belikan sudah ludes ia makan, dan sekarang ia masih saja sibuk ngemil setelah membeli satu kantong kresek berisi aneka snack dari sebuah minimarket di samping rumah sakit.
Laki laki itu seolah tak ada kenyang nya. Tak ada lelahnya mengunyah dan terus mengunyah.
"sayang..." ucap Aleta ke arah pria yang kini kembali memasukkan segenggam snack ke mulutnya itu.
"hmm..." jawab Leon tanpa menoleh.
"nggak capek apa makan mulu? aku aja yang dari tadi liatin kamu kenyang loh..!" ucap Aleta.
Leon yang nampak asyik dengan ponselnya itu menoleh ke arah istrinya sekilas lalu terkekeh tanpa menghentikan pergerakan mulutnya.
"kamu mau?" tanya Leon sambil mengangkat Snack di tangannya.
Aleta menggelengkan kepalanya cepat.
"apasih?" tanya Leon tak habis pikir.
"jangan makan terus..! ntar ilang roti sobeknya, ganti burger, mlendung, banyak lemaknya lagi..!" ucap Aleta kesal namun sukses membuat Leon tertawa.
"iya, iya, nanti abis ini aku olah raga..!" ucap Leon lagi
Aleta hanya bisa menghela nafas panjang mendengar ucapan laki laki itu.
Leon kembali sibuk dengan ponsel dan snack nya. Tiba tiba,
"assalamualaikum...!!"
suara itu menggema memenuhi ruangan. Dua orang bocah nampak memasuki ruangan itu bersama seorang pria berkacamata. Ya, itu Alka, Ahsa, dan Bayu. Kedua bocah itu datang dengan tas ransel di pundak masing-masing. Sedangkan Bayu nampak membawa parcel berisi buah buahan sesuai keinginan Aleta.
"wa alaikum salam.." jawab Aleta dan Leon bersamaan.
"papa...mama..." ucap Alka dan Ahsa riang. Kedua bocah itupun berjalan mendekati sepasang suami istri tersebut. Meraih punggung tangan mereka lalu menciumnya sebagai tanda hormat.
Aleta dan Leon tersenyum. Kedua bocah itu lantas meletakkan kedua ransel mereka di lantai di samping nakas.
"tuan" ucap Bayu yang nampak mendekati Leon.
__ADS_1
Leon pun menoleh.
"ini buah yang anda minta, tuan.." ucap Bayu.
"oh, iya, terimakasih, Bayu" ucap Leon.
"sama sama, tuan" jawab pria berkacamata itu.
Sementara di samping ranjang. Ahsa nampak mendudukkan tubuhnya di kursi di samping ranjang itu. Sedangkan Alka nampak berdiri di samping sang adik.
"mama, mama kenapa? kok sampai pingsan?" tanya Ahsa polos.
Aleta tersenyum.
"mama nggak apa apa kok. Cuma capek aja..." ucap Aleta.
"mama jangan capek capek kerjanya, ma. Kayaknya mama emang nggak sehat deh dari pulang liburan kemarin. Kayak pucet gitu" ucap Alka.
"iya, mama juga di kamar terus" imbuh Ahsa.
Aleta hanya tersenyum lagi. Leon meraih jeruk di dalam parcel bawaan Bayu. Mengupasnya lalu membawanya mendekat ke arah Aleta dan kedua buah hatinya.
"sebenarnya, mama itu nggak sakit, sayang.." ucap Leon membuat kedua bocah itu menoleh.
"terus? kok pingsan?" tanya Alka.
Leon menyerahkan sepotong buah jeruk itu pada sang istri. Wanita cantik itupun langsung melahapnya. Seperti nya ia tak mual jika memakan buah.
Leon lantas menatap ke arah dua buah hatinya.
"mama pingsan karena nggak makan. Ternyata, kata dokter, ada dedek bayi dalam perut mama. Calon adik kalian..." ucap Leon sambil tersenyum lembut ke arah Alka dan Ahsa.
"apa? dedek bayi??"
...----------------...
Bersambung dulu...
ππ
yuk, dukungan..π₯°π₯°π₯°
mampir juga ke siniππ
__ADS_1