
"stop........!!!!"
Pintu rumah terbuka. Wanita cantik dengan celana pendek berwarna putih dan kaos lengan pendek berwarna biru nampak keluar dari dalam rumah sambil berlari
Semua menoleh ke arah sumber suara...
.
.
.
.
"Aleta...!!!" ucap Leon.
Dilihatnya disana, Aleta dengan wajah yang sudah tak lagi penuh memar berdiri di depan pintu yang terbuka dengan mata sembab. Ia yang sedari tadi menyaksikan adegan sang papa dan suaminya dari balik jendela rumah itu kini keluar menampakkan dirinya.
Leon melotot melihat wanita itu. Wanita inilah yang ia cari cari sejak dua minggu terakhir. Akhirnya ia bertemu juga dengan istri tercintanya ini.
"Aleta...!" ucap Leon sambil bergerak hendak mendekati sang istri dan mengabaikan Mario yang kini sudah sampai di puncak kemarahan nya.
Leon melangkahkan kakinya hendak mendekati Aleta. Namun....
buuuuuggghhhh.....
"papaaaa...!!!!!'
siku tangan sang jenderal terangkat. Dengan sekuat tenaga ia kembali menghantam wajah pria itu membuat Leon lagi lagi jatuh tersungkur ke lantai teras rumah mewah itu.
Aleta berlari hendak mendekat namun sang jenderal mengangkat tangannya seolah melarang Aleta untuk mendekat. Sean yang sedari tadi berdiri di samping Mario juga mengangkat lengannya. Menghalangi tubuh Aleta yang berlari hendak mendekati pria yang kini jatuh tersungkur di lantai itu.
"Aleta....!!" ucap Leon hendak bangkit lagi, namun......
buuuuuggghhhh.......
Sang jenderal kembali menghantam wajah pria itu kini dengan kakinya.
"paaaaaa....... udah....." ucap Aleta menangis.
"mas....udah maas....." ucap Sarah sambil berusaha memeluk pinggang sang suami berharap Mario bisa mengontrol emosinya. Namun sepertinya sia sia. Amarah sang jenderal sudah berada di ambang batas. Laki laki itu datang tengah malam, tak tahu etika dan tata krama. Membuat keonaran. Dan yang lebih parahnya lagi ia mengata ngatai istri nya dengan kata kata yang menjijikkan. Laki laki dan kepala keluarga mana yang bisa terima?
Mati matian ia mencari anak dan istrinya, dan Leon datang kemudian dengan santai dan lancangnya menyebut Sarah dengan kata kata yang begitu menyakitkan.
Mario tahu ini semua bermula dari fitnah orang orang terdekat Leon dan salah paham antara Leon dan Aleta, tapi tidak begini juga. Tabiat Leon yang tak punya etika dan tata krama yang Mario tak suka.
Ia tahu, ia juga pernah di bohongi oleh orang-orang terdekat nya. Harusnya Leon introspeksi diri. Lihat apa kurangnya. Sadar bahwa ia terlalu bodoh dan mulailah mencari Aleta dengan cara yang benar. Tidak sadarkah dia perilaku beringas nya itu membuat Aleta ketakutan dan trauma? tidak berfikir kah ia jika ia terlalu menakutkan bagi Aleta yang malang?
Wanita mana yang tak takut dan trauma jika punya suami se tempramen Leon....?
Dan sekarang Leon datang, tengah malam, bukan dengan cara baik baik tapi justru membuat keributan dan memaki maki sang empunya rumah. Walaupun ia tak tau siapa Sarah dan Mario, apakah harus dengan mengata ngatai orang dan merendahkan orang lain seolah dirinya lah yang paling suci dan terhormat???
.
.
.
Mario masih di kuasai emosi. Ia kembali menghantam tubuh dan wajah Leon bertubi tubi membuat Aleta makin menangis di tangan Sean yang sedari tadi menghalangi nya.
Entahlah ... ia tak tega melihat suaminya di perlakukan seperti itu. Sejahat jahatnya Leon, Aleta tak sampai hati melihat pria itu kini meringkuk di bawah kaki sang ayah yang punya tenaga tak main main.
__ADS_1
"papaaaa..... udaaahhh......." ucap Aleta menangis sejadi jadinya.
"maaas.....udah mas..... udaahh....." ucap Sarah sambil terus memeluk pria itu meskipun sedari tadi ia ikut terombang ambing mengikuti tubuh Mario.
Pria itu akhirnya menghentikan aksinya. Dadanya naik turun penuh emosi. Leon sudah terkapar babak belur, meringkuk di bawah kaki sang jenderal. Ia bahkan sampai terbatuk batuk di buatnya.
Mario menatap tajam ke arah Leon yang terkapar.
"dia istrimu?" tanya Mario sambil menunjuk ke arah Aleta yang berada dalam kuasa Sean.
Leon hendak bangkit.
"Alee......."
buuuuuggghhhh......
"paaaaaa ......!!"
"jangan pernah sebut nama putriku dengan mulut kotormu itu...! namanya terlalu berharga untuk keluar dari bibir pria biadaap seperti mu....!!" ucap Mario membuat Leon mendongak di sela sela rasa sakit yang menggerogoti hampir di seluruh tubuhnya.
"asal kau tau anak muda....orang yang sekarang berdiri di hadapan mu ini...prajurit yang kau bilang keparaat ..! kau bilang menjijikkan... kau bilang tidak pantas untuk disebut prajurit....! aku adalah ayah kandung dari istri siri mu...! wanita yang sudah kau pukuli, kau siksa mati matian bahkan sampai masuk rumah sakit ...ya.... kurang lebih sama seperti yang kau alami sekarang...!" ucap Mario.
Leon susah payah bangkit....
"jangan berbohong kau pak tua..! kau pikir aku percaya dengan ucapan mu itu?"tanya Leon meragukan.
Mario menggelengkan kepalanya. Laki laki ini benar benar keras hatinya..!
"kau benar benar batu Leon....! keluar sekarang dari rumahku...! aku tidak akan mengizinkan tanganmu yang kotor menyentuh berlian berhargaku....! keluar kau dari rumahku...!!!!" bentak Mario murka
"aku tidak akan pergi sebelum Aleta ikut denganku....!!!!!" sahut Leon tak kalah keras.
Leon tak peduli. Ia mencoba menerobos tubuh Mario dan mendekati Aleta namun laki laki paruh baya itu menghalangi pergerakan Leon.
"Aleta kemari...kita pulang sekarang....!"
"aku bilang keluar Leon....!"
"minggir...!!"
"keluar....!!"
"Aleta....!!!"
daaann.......
.
.
.
seeeeetttt........
"paaaaaa....!!"
Mario yang sudah dikuasai emosi menarik pistol yang ia bawa dari kamar nya. Dengan cepat ia menempelkan pistol itu di kening Leon membuat pria itu terdiam seketika. Sekali pergerakan jari saja, sudah dipastikan kepala pria itu akan pecah tak bersisa.
Leon dan Mario saling menatap bengis. Aleta berontak. Ia berlari mendekati sang ayah dan memeluk pinggang nya.
"paaa....jangaan...." ucap Aleta mengiba. Air matanya banjir. Ia memohon kepada pria yang sangat menyayangi nya itu.
__ADS_1
Mario tak bergerak. Ia masih menodongkan pistol nya tepat di kening Leon.
"Aleta ..." ucap Leon lagi kini mulai memelan.
Wanita itu berbalik badan. Matanya yang sembab dan banjir itu menatap sendu ke arah Leon.
"kita pulang sayang....." ucap Leon membujuk.
Aleta sesenggukan.
"kita bisa bicarakan ini di rumah...pulanglah denganku..." ucap Leon lagi.
Aleta menangis lagi. Ia menatap sendu ke arah Leon,lalu....
Aleta menggelengkan kepalanya samar seolah menolak ajakan pria itu.
Leon yang memang tak sabaran hendak mendekati wanita di hadapannya itu. Namun.......
"sekali saja kau mengayunkan kakimu....maka akan ku buat pecah kepalamu...!!" ucap Mario dingin sambil menggerakkan satu tangannya yang bebas untuk mendekap tubuh Aleta.
Leon tak bergerak lagi. Pistol masih menempel di keningnya.
"Aleta, aku sudah mencari mu kemana mana....! kita bisa bicarakan ini baik baik....!" ucap Leon lagi.
Aleta menggelengkan kepalanya lagi sambil menangis.
"tolong..... pergi.... aku mau disini...." ucap Aleta lirih sambil menatap pilu ke arah Leon.
Leon menggelengkan kepalanya.
"pergi...."ucap Aleta lagi sambil menangis.
Mario makin mengeratkan pelukannya dengan satu tangan. Aleta membenamkan wajahnya ke dada sang ayah. Leon makin tak terkendali. Ia abaikan pistol itu. Ia menggerakkan tangannya menyentuh tangan Aleta dan mencoba menarik nya yang justru membuat Aleta histeris.
Mario pun dengan cepat menepis tangan pria itu.
"Sean....!!!!" ucap Mario keras.
Sean mendekat.
"seret pria ini keluar....!!" ucap Mario.
"baik jenderal..!"
Sean pun bergerak. Leon meronta ronta minta dilepaskan sambil terus berteriak teriak memanggil nama Aleta. Wanita itu masih menangis. Mario membawa sang putri masuk ke dalam nya. Sean dan para anak buah lainnya melempar tubuh Leon yang sudah babak belur ke luar gerbang lalu menutup pintu gerbang itu
"Aleta......!!! aku akan tetap disini sampai kau mau pulang bersamaku...!!!" teriak Leon bahkan terdengar hingga ke ruang tamu dimana Aleta kini berada.
"ALETA....!!!! AKU AKAN TETAP DISINI SAMPAI KAU KELUAR....!!! ALETA....!!!!!!!!”
Wanita itu makin menangis dalam pelukan sang ayah. Batinnya abu abu. Ia tak tau harus berbuat apa. Ada rasa iba dalam dirinya namun ia juga takut bertemu dengan pria itu lagi.
Luka batin dan fisik sudah sangat sering ia terima dari Leon. Ia takut...! terlebih lagi Leon yang begitu mudahnya percaya pada ucapan orang lain dibandingkan dirinya. Siapa yang bisa menjamin Aleta akan aman jika kembali dalam pelukan laki laki tempramental itu?
...----------------...
***Selamat pagi....
up 06:38
yuk .... dukungan dulu 🥰😘😘***
__ADS_1