
02:35 dini hari......
Daaaaaggghhhh........
pria itu kembali sempoyongan masuk ke dalam kamarnya yang mewah.
Matanya merah, penampilan nya acak acakan dengan dasi yang sudah terlepas, jas di seret dan kemeja yang nampak terbuka beberapa kancingnya.
Leon mendekati ranjang, dimana disana Aleta nampak sudah terlelap sambil memeluk guling nya. Wajahnya yang penuh dengan lebam nampak tenang , tidur meringkuk membelakangi sisi kosong ranjang yang biasa menjadi tempat Leon untuk merebahkan tubuhnya.
Laki laki itu menjatuhkan tubuh tegapnya di atas kasur. Dengan sepatu yang masih melekat di kakinya ia menoleh ke arah sang istri, wanita yang biasanya ia peluk sepanjang malam namun kini tak lagi. Leon memejamkan matanya. Jauh dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia sebenarnya sangat merindukan wanita itu, tapi kenyataan yang mempertontonkan pengkhianatan yang Aleta lakukan terlalu menyakitkan baginya.
Kenapa wanita yang awalnya terlihat berbeda itu ternyata sama saja dengan istri dan ibunya...?
Aleta yang mencuri perhatian Leon sejak pertama kali laki laki itu melihatnya menjemput Sarah di club malam berhasil membuat pria beristri itu terpesona.
Wanita cantik nan sederhana, anak seorang perempuan malam namun terlihat sangat pendiam dan pemalu, tak seperti kebanyakan wanita wanita pengunjung club pada umumnya.
Sejak saat itu Leon tertarik padanya, ia ingin memiliki wanita itu.
Saat pertama kali menyentuh tubuh Aleta, rupanya wanita itu juga masih suci. Perhatian, kelembutan, dan kepatuhan Aleta selama bersama Leon perlahan berhasil membuat pria itu yakin bahwa Aleta adalah wanita yang istimewa. Ia berjanji akan menjadikan wanita itu satu satunya yang bertahta di hatinya.
Namun kini.......
semua sirna......
Ia menginginkan Aleta hanya untuknya, tapi nyatanya wanita itu tak cukup hanya dengan satu Leon.
Ia menginginkan anak dari Aleta, ia sabar menanti dan terus berfikir positif bahwa mungkin Tuhan memang belum berkehendak untuk menitipkan makhluk kecilnya itu di rahim sang istri, tapi nyatanya....
Lihatlah....
Pil KB di tas Aleta...!
Wanita itu diam diam menunda kehamilan nya tanpa persetujuan dari Leon..! apa maumu Aleta??
Leon mengusap wajah nya kasar...!
Ia sakit...! sangat sakit...! ia terlalu dibutakan oleh amarah hingga mungkin membuatnya menjadi sedikit lemah dan bodoh dalam berfikir dan mengambil tindakan dalam hal ini.
Leon mulai merebahkan tubuhnya. Perlahan mata tajam namun terlihat sayu itu mulai memejam, Leon mulai terlelap dalam tidurnya.
..
1 menit....
..
5 menit....
..
10 menit....
..
15 menit....
Aleta membuka matanya....
__ADS_1
Ia sedari tadi hanya pura pura tertidur itupun perlahan berbalik badan, di lihatnya sang suami. Laki laki itu sepertinya sudah terlelap.
Aleta menoleh ke arah jam dinding.
02:50
Aleta perlahan bangkit.Ia berjalan berjinjit menuju ke samping sofa tepat di pojokan ruangan, dimana disana sebuah ransel kecil berisi beberapa pakaian nya sudah ia siapkan untuk di bawa pergi.
Aleta meraih tas itu. Ia kemudian mengeluarkan sejumlah lembaran uang kertas dari dalam sana, uang yang dulu selalu Leon berikan untuknya setiap pria itu pulang malam. Diletakkannya uang uang itu di atas meja beserta sebuah surat kecil, lalu ditindih menggunakan asbak yang ada di sana.
Aleta menggendong ranselnya. Ia segera berjalan menuju pintu kamar itu lalu menyentuh handle pintu untuk membuka nya,namun.......
.
.
.
Aleta menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah pria dewasa yang kini tengah terlelap itu.
Dadanya sesak, matanya mengembun. Ia lantas berjalan kembali ke ranjang. Wanita itu mendekati sang suami, ia berjongkok di samping ranjang tempat dimana laki laki itu kini tengah terlelap dalam buaian mimpi mimpi indah nya.
"sayang....." ucap Aleta lirih.
"aku pamit...."
"maaf aku nggak bilang bilang....aku takut kamu marah..." ucapnya dengan air mata menetes.
Tangan putih itu tergerak mengusap lembut kening Leon.
"jaga diri kamu baik baik....maaf jika kehadiran ku sudah menoreh luka baru dalam kehidupan kamu...tapi satu hal yang harus kamu tau...aku sama sekali nggak pernah berkhianat ataupun berniat mengkhianati kamu...."
Aleta tersenyum getir....
"tapi sepertinya itu semua tidak cukup....kamu lebih percaya pada omongan entah siapa diluar sana tanpa mau mendengarkan penjelasan ku...."
"maaf.....tapi aku nggak sanggup....berumah tangga harusnya hanyalah tentang kita....tapi kamu masih melibat kan orang lain untuk masalah ini...aku nggak bisa sayang...."
"jika sebagai istri kamu ucapan ku masih kamu ragukan, kepercayaan mu terhadapku masih kurang....maaf....aku lebih memilih untuk mundur...aku nggak bisa...." ucap Aleta.
Wanita itu mengusap lelehan air matanya.
Ia lantas bangkit, diraihnya punggung tangan kanan Leon yang berada di atas dada, lalu menciumnya, sebagai tanda bakti, mungkin untuk yang terakhir kalinya.
Aleta menangis, air matanya jatuh membasahi punggung tangan itu.
"aku pamit sayang ...semoga kamu akan segera menemukan kebahagiaan mu setelah kepergian ku... assalamualaikum...." ucap Aleta pilu menyayat hati.
Wanita itu mendekat kan wajahnya, mengecup kening pria itu se pelan dan se lembut mungkin.
Aleta mundur. Perlahan ia menjauh dari raga yang kini tengah menyelami alam bawah sadar nya itu. Aleta sesenggukan keluar dari kamar itu. Ia melambaikan tangannya seolah mengucap selamat tinggal untuk pria tampan yang sebenarnya sangat ia sayangi itu.
...****************...
Sementara itu di pintu belakang menuju taman belakang rumah mewah itu.
Dua wanita yang hampir seumuran nampak berharap harap cemas menanti kedatangan Aleta yang hingga saat ini belum muncul juga.
Sarah mereemas jari jari tangannya sendiri, begitu juga seorang wanita yang berprofesi sebagai pelayan namun kini mengenakan pakaian serba hitam itu yang tadi mengirimkan secarik kertas secara diam diam untuk Aleta dan Sarah.
__ADS_1
Keduanya masih terlihat tidak tenang. Hingga........
Seorang wanita bertubuh ramping dengan balutan hoodie hitam nampak berjalan ke arah mereka.
Sarah melambaikan tangannya tanpa bersuara. Aleta yang terpincang-pincang pun berjingkat mempercepat langkahnya mendekati sang ibu.
"sudah...? mari nyonya....saya antar ke pintu keluar di belakang..." ucap si pelayan. Aleta dan Sarah mengangguk.
Mereka pun melangkah mengendap endap menuju pintu belakang yang dimaksud sang pelayan.
Kenapa pelayan itu membantu Aleta dan Sarah kabur saat dini hari? bukan siang atau malam saat Leon tak ada di rumah?
Kerena jika siang dan malam, para anak buah masih aktif bekerja. Mereka masih berjaga jaga sampai Leon pulang dan tidur.
Saat Leon sudah tertidur, saat itulah penjagaan di rumah itu di longgarkan. Biasanya hanya ada beberapa anak buah yang berjaga di pintu depan,sedangkan dibelakang kosong.
Ditambah lagi, jika Leon sudah tertidur biasanya para pelayan anak mematikan sebagian lampu dirumah itu, sehingga pencahayaan nya pun juga akan berkurang,itulah sebabnya mereka bertiga menggunakan baju hitam saat ini, agar sulit dikenali jika tertangkap kamera pengawas.
Sang pelayang membawa Aleta dan Sarah menuju gudang lusuh di belakang rumah itu, lalu berjalan berjingkat di samping gudang yang nampak becek karena adanya parit kecil disana.
Mereka sampai di belakang gudang. Sebuah pintu tralis menyerupai pagar yang lebarnya hanya cukup untuk dilewati satu orang terlihat disana.
"ini pintunya....tapi saya nggak bawa kuncinya... karena kunci pintu ini yang bawa salah satu anak buah tuan..."ucap sang pelayan.
"tapi saya akan bantu nyonya dan ibu buat manjat....biar nyonya bisa segera pergi dari sini..." ucap si pelayan.
"lalu bagaimana sama bibik? kalau tuan marah gimana?" tanya Aleta khawatir.
"nyonya jangan khawatir...saya bisa jaga diri...yang penting nyonya bisa keluar dari sini...cepat nyonya....kita nggak punya banyak waktu...." ucap si bibik.
Aleta sesenggukan. Mulia sekali hati si bibik.
"ayo nyonya..." ucap pelayan itu sambil membungkuk, mempersilahkan Aleta untuk naik ke punggung nya dan segera keluar dari tempat itu.
Dengan air mata banjir, Aleta pun naik juga di ikuti Sarah kemudian.
Sepasang ibu dan anak itu akhirnya bisa keluar dari rumah itu.
"bik....makasih banyak....saya berhutang budi sama bibik...."ucap Aleta.
"sudah nyonya....segera pergi dari sini ...lari sejauh jauhnya...."ucap si bibik.
"terimakasih banyak bik....bibik jaga diri baik baik disini ya...." imbuh ibu Sarah.
"iya buk ...saya pasti akan baik baik saja.... segera pergi buk....cepat..." ucap si pelayan.
Aleta dan Sarah mengangguk.
Mereka pun akhirnya berpisah. Aleta dengan langkah yang masih terpincang-pincang pun sekuat tenaga mencoba berlari di bantu sang ibu.
Keduanya sesenggukan sepanjang perjalanan. Tragis sekali kisah hidup mereka. Terombang ambing bak tahanan yang lari dari kejaran alarat. Mencari tempat hanya sekedar untuk berlindung dan menjauhi mara bahaya.
...----------------...
***Selamat siang....
up 12:55
.yuk... dukungan dulu 🥰😘😘***
__ADS_1