
Tak....tak....tak....
Suara ayunan langkah kaki itu menggema membuat jantung Aleta seolah kembali berdebar hebat.
Leon makin mengeratkan genggaman tangannya. Seolah melarang Aleta yang terlihat makin takut itu untuk menunduk.
Aleta menoleh ke arah Leon.
"semua akan baik baik saja" ucap pria itu tanpa menoleh.
Aleta menarik nafas panjang. Ia lantas mengangkat kepalanya, seolah bersiap untuk bertemu calon mertuanya yang sudah lama tak ia jumpai itu.
Seorang sipir wanita nampak memasuki ruang tunggu, menggandeng seorang wanita berseragam serba oren khas tahanan di sana.
Ya, itu Renata.
Aleta terdiam sejenak. Dilihatnya disana, mantan sekaligus calon mertuanya itu nampak begitu kurus tak terawat. Sebagian rambutnya nampak beruban. Kulitnya keriput, kantung matanya terlihat jelas dengan wajah pucat tanpa polesan make up. Sangat jauh berbeda dari sosok Renata yang Aleta kenal dulu. Yang anggun, yang terawat dan cantik bak wanita sosialita kelas atas.
Renata yang terus berjalan menunduk itu kemudian di duduk kan di sebuah kursi, berhadapan langsung dengan Leon dan Aleta, hanya terpisah sebuah bangku persegi di sana.
Leon menghela nafas panjang melihat sang ibu yang terus menunduk tak mau menatap Leon. Sedangkan Aleta nampak iba melihat wanita yang terlihat lebih tua dari usianya itu.
"waktu besuknya lima menit, silahkan tuan, nyonya.." ucap sang sipir kemudian sedikit mundur sambil terus mengawasi tahanan nya itu.
Leon menegakkan posisi duduknya yang semula bersandar di sandaran kursi ruang tunggu itu. Di letakkan nya satu lengannya itu di atas meja. Sedangkan satu tangannya masih setia meremas punggung tangan Aleta. Dilihatnya wajah sang ibu dengan sorot mata datar.
"ma," ucap Leon.
Renata mendongak.
.
.
degggghhhh...
Renata diam tak bergerak saat matanya yang terlihat lelah menangkap sesosok objek wanita cantik yang duduk di samping putranya. Wajahnya putih mulus cantik terawat. Senyuman tipis terbentuk dari bibir wanita itu.
Ya, Renata masih ingat wanita itu. Wanita yang dulu sangat ia benci. Yang dulu pernah ia singkirkan dengan berbagai rencana jahat nan busuk yang ia susun bersama sang mantan menantu idaman namun ternyata hanyalah seorang pengkhianat.
Ya, itu adalah Aleta. Anak wanita malam yang perlahan tapi pasti berhasil meluluhkan hati seorang Leonardo Alfindo Ganada.
Tapi bukankah wanita itu sudah pergi entah kemana? tapi kenapa ia bisa bersama Leon lagi? pikir Renata.
__ADS_1
"kau??" ucap Renata dengan dada naik turun.
Aleta hendak menunduk namun lagi lagi Leon mengeratkan remasan tangannya pada Aleta seolah tak mengizinkan wanita itu menunduk yang membuatnya terlihat lemah.
"mama apa kabar?" tanya Leon tenang.
Renata tak menggubris ucapan Leon. Fokus matanya tertuju pada Aleta. Amarahnya memuncak melihat kehadiran sosok wanita yang sangat tak ia sukai itu.
"ngapain kamu kesini?!" tanya Renata pada Aleta. Aleta nampak gugup sekaligus takut. Ia hendak membuka mulutnya, ingin menjawab pertanyaan Renata namun rasanya begitu berat untuk berucap.
"Leon..! ngapain kamu bawa dia kesini?!!" tanya Renata tak terkendali. Emosi mulai terlihat jelas dari wajahnya.
Leon tetap berusaha tenang.
"lebih baik mama tenang dulu" ucap Leon.
"gimana mama bisa tenang?! ngapain kamu bawa anak haram ini kesini?!"
Renata menatap tajam ke arah Aleta seolah ingin memangsa wanita itu hidup hidup saat itu juga.
"pergi kamu..! aku tidak sudi melihatmu disini..!" usir Renata.
"ma, aku yang mengajak dia kesini, kami ingin bertemu mama" ucap Leon masih sangat tenang dengan tangan yang tak lepas dari punggung tangan Aleta.
"kami akan menikah kembali, kami datang untuk meminta restu mama.."
.
.
braaaaaakkkk...!!!
Renata bangkit sambil menggebrak meja.
"kurang ajaar kalian..! terutama kau, Leon..!" ucap Renata sambil menunjuk ke arah sang putra.
"aku sedang di dalam penjara seperti ini, meringkuk, membusuk di tempat terkutuk ini..! bukannya kau menolong membantu membebaskan ku, malah sekarang kau datang bersama anak jalaang ini dan bilang mau menikah..! dasar anak tidak tahu diri! tidak punya otak kau...!" ucap Renata murka memaki maki putranya sendiri.
Leon tetap terlihat tenang.
"dimana baktimu sebagai seorang anak?! demi wanita menjijikkan ini kau rela membantah mama..!" ucap Renata membuat Aleta merasa sesak. Sebegitu bencinya Renata pada Aleta.
"sampai mati pun, mama tidak akan pernah merestui kalian..!" ucap Renata begitu dingin.
__ADS_1
Leon mengangkat dagunya. ia terlihat masih sangat tenang. Karena memang seperti inilah yang selalu terjadi tiap kali ia membesuk ibunya. Renata tak henti memaki dan menyalahkan dirinya atas terkurung nya Renata di penjara. Renata selalu menyalahkan Leon yang tak mau membantunya melepaskan nya dari sel pesakitan ini.
Leon sudah sangat terbiasa dengan hal ini. Lima tahun dalam sel rupanya sama sekali tak mampu mengubah tabiat buruk seorang Renata.
"rupanya penjara sama sekali tidak bisa merubah mama" ucap Leon.
"apa maksudmu? tidak usah menceramahi ku di sini, bocah..! bantu aku keluar dari sini..!" ucap Renata murka.
"kau benar benar tidak tahu diri..! anak kurang ajaar..! kau sama saja dengan bapakmu itu..! angkuh, sombong, tidak punya perasaan..!!"
daaaaaaaggggggghhhhh....
Renata tak terkendali. Ia terus memaki maki Leon yang diam dengan sorot mata pedih.
Seperti inilah Renata jika murka pada anaknya. Sejak Leon kecil hingga dewasa. Ia seolah berbicara pada musuhnya, bukan pada anaknya. Emosinya meletup letup. Ucapannya kasar. Sumpah serapah, cacian dan makian selalu ia layangkan.
Bagaimana perasaan Leon sebagai seorang anak?
Entahlah..hanya Leon dan anak anak lain yang memiliki tabiat ibu yang sama seperti Renata lah yang tahu rasanya.
"aku kesini hanya untuk meminta restu, aku tidak mau cari ribut" ucap Leon.
"anak setan kau ya..! sampai matipun aku tidak akan merestui kalian..! kalian yang membuatku mendekam di tempat terkutuk ini..! biadaaap kalian..! anj iing...! ka......................."
ucapan Renata berhenti seketika. Wanita itu nampak memegangi dadanya. Matanya terbelalak menatap ke atas tanpa berkedip. Tubuhnya kejang seolah kehilangan pasokan udaranya.
Sipir mendekat. Wanita itu ambruk jatuh kebelakang dengan tubuh kejang.
"mama..!!" ucap Leon sambil bangkit dan mendekati ibunya. Begitupun Aleta.
"seperti nya penyakitnya kambuh, bawa dia ke rumah sakit..!" ucap salah satu sipir di sana.
"siap..!" ucap sipir yang lain.
Renata pun di angkat. Leon dan Aleta mengikuti di belakang sipir. Wanita paruh baya itu kemudian dibawa ke rumah sakit guna mendapatkan pertolongan.
Selamat pagi...
up 05:00
yuk.. dukungan dulu yuk
__ADS_1