
Hari berganti hari....
Setelah pertemuan mengharukan yang terjadi dua hari yang lalu, kini kondisi Aleta perlahan mulai pulih. Sarah dan Mario tak pernah absen menemani sang putri. Keduanya yang sudah saling menceritakan apa yang terjadi selama mereka terpisah itupun kini sepakat, akan mencurahkan semua kasih sayang mereka untuk sang putri semata wayang kebanggaan mereka.
Seperti siang ini, Aleta tengah bersama ayah dan ibunya di taman rumah sakit. Dengan kepala yang terus bersandar di pundak sang papa, Aleta menerima se suap demi se suap nasi dari ibunya. Kini ia berada di tengah tengah sepasang suami istri itu. Sejak bertemu ayahnya ia seolah tak mau jauh dari Mario. Ia selalu ingin berdekatan dengan laki laki itu. Ia seolah menemukan tempat ternyaman nya. Tempat yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Sosok laki laki yang bisa mengayominya. Memberikan kenyamanan, ramah, lembut, penuh kasih sayang dan tidak pernah bersikap dingin sedikitpun padanya.
Sarah dan Aleta benar benar di ratukan. Membuat Aleta kini perlahan bisa kembali bangkit. Sedikit demi sedikit mulai bisa melupakan drama rumah tangganya yang memilukan. Fokusnya kini adalah pada papanya. Ia ingin menghabiskan waktu yang sudah lama terbuang itu bersama sang papa. Laki laki yang kini sangat memanjakan Aleta dan ibunya. Apapun yang mereka inginkan dalam sekejap mata pasti di turuti. Ia benar benar ingin menebus momen momen kebersamaan yang pernah terbuang antara dirinya dan keluarga kecilnya itu.
"satu lagi Al....ini terakhir...." ucap Sarah sambil menyodorkan sesendok nasi ke mulut sang putri. Aleta pun membuka mulutnya lebar. Ia lantas kembali merebahkan tubuhnya di pundak sang ayah yang setia merengkuh pundak Aleta. Wanita itu benar benar bersikap bak anak kecil setelah bertemu ayah kandung nya itu.
"makan yang banyak biar bisa cepet pulang....! papa nggak sabar pengen bawa kalian pulang ke rumah papa....biar papa nggak sendirian terus..." ucap Mario sambil mengusap usap pucuk kepala sang putri.
Keluarga kecil itu terlihat begitu asyik bercengkerama, hingga...
"jenderal...."
Suara itu berhasil membuat Aleta, Sarah dan Mario menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya disana Sean sudah berdiri di samping kursi taman tempat keluarga kecil itu bercengkrama.
"Sean...." ucap Mario.
" mbak Ayu...." imbuh Aleta yang juga melihat Ayu yang nampak berdiri di belakang Sean. Wanita yang kini tampil sedikit lebih tertutup dengan menggunakan kemeja lengan pendek dan rok selutut itu nampak melambaikan tangannya ke arah Aleta. Aleta yang masih nemplok di tubuh papa nya pun tersenyum manis ke arah Ayu.
"mobil sudah siap jenderal, kita harus segera ke markas..." ucap Sean.
Aleta cemberut. Ia mengeratkan pelukannya pada sang papa membuat Mario tersenyum lucu.
"dah....cuma sebentar doang kok....nanti setelah pekerjaan papa selesai, papa pasti kesini lagi..." ucap Mario.
Aleta hanya diam.
"mau dibeliin apa nanti kalau papa pulang?"tanya Mario membujuk bocah gede nya itu.
"nggak mau apa apa....yang penting papa cepet kesini lagi aja..." ucap Aleta sambil tersenyum.
Mario mengusap lembut pucuk kepala sang istri. Aleta benar benar sangat manja pada papanya. Ia seolah kembali menjadi seperti anak anak yang tak mau jauh dari sang ayah.
Mario bangkit, ia hendak berangkat ke markas prajurit untuk menjalankan tugasnya melatih anggota anggota baru.
"mau papa antar ke kamar?" tanya Mario.
Aleta mengangguk.
Sang jenderal pun bergerak. Ia membantu Aleta untuk naik ke atas kursi rodanya. Ia lantas mendorong benda yang kini di duduki Aleta itu menuju kamar rawat inap sang putri kesayangan.
Mario mengangkat tubuh ramping itu, membopongnya dan merebahkan nya di ranjang pasien di sebuah kamar vvip di rumah sakit besar itu.
"papa tinggal dulu... kamu di sini sama ibu sama mbak Ayu ya..." ucap Mario.
Aleta mengangguk.
__ADS_1
"papa hati hati ya...." ucap Aleta manis.
"iya sayang..." jawab Mario.
Pria itupun mengecup kening sang putri. Sarah mendekati sang suami dan mencium punggung tangannya sebagai tanda bakti. Baru saja Mario ingin mengajak Sean pergi, tiba tiba......
tok..... tok....tok.....
"permisi...nyonya Aleta..."
Suara itu mengalun dari bibir seorang wanita paruh baya berhijab dengan balutan seragam dokter yang menutupi tubuhnya. Ia berdiri di depan pintu kamar rawat inap yang terbuka sambil tersenyum.
Semua menoleh ke arah sumber suara.
Aleta memiringkan kepalanya.
"iya ..." jawabnya dari atas ranjang pasien.
Sang dokter mendekat. Aleta mengernyitkan dahinya. Ini bukan dokter yang biasa menangani nya, pikir istri kedua Leon itu.
Si dokter tersenyum.
"saya dokter Nita, dokter kandungan yang seminggu lalu memeriksa anda dan suami anda, tuan Leon" ucap sang dokter.
Mendengar nama itu disebut, Aleta nampak terdiam sejenak.
"Alhamdulillah udah mendingan, dok" ucap Aleta.
"Alhamdulillah..." jawab sang dokter.
"sebenarnya kedatangan saya kemari karena ada yang ingin saya sampaikan pada nyonya..." ucao sang dokter. Aleta dan yang lainnya masih diam mendengarkan.
"dari kemarin saya mencoba menghubungi nomor nyonya, tapi tidak aktif..." ucap sang dokter lagi, kini sambil merogoh saku seragam dokternya.
Aleta masih diam mendengarkan.
"jadi begini, maksud saya datang kemari, saya ingin menyampaikan hasil lab atas pemeriksaan menyeluruh yang kita lakukan seminggu yang lalu terhadap anda dan suami anda, tuan Leon..." ucap sang dokter.
Aleta menerima surat ber amplop itu dan membukanya.
"dari hasil lab menyebutkan, bahwa kondisi rahim nyonya sangat bagus, tapi.... masalah kesuburan justru ada pada suami nyonya, tuan Leon..."
.
.
deeeeggghhhh......
Aleta terdiam seketika. Ia mencoba membaca dan memahami isi dari secarik kertas yang merupakan hasil pemeriksaan dirinya dan Leon satu minggu yang lalu itu, sebelum insiden kekerasan dialami oleh Aleta
__ADS_1
Sang dokter kemudian berbicara panjang lebar, menjelaskan tentang gangguan apa yang dialami oleh Leon hingga menyebabkan sp**ma pria itu di katakan mengalami penurunan kuantitas dan kualitas.
Aleta sama sekali tak bisa mencerna ucapan sang dokter. Namun yang kini ada dalam pikirannya adalah.....
habis habisan ia disiksa, dimaki, dikasari..! di anggap bersalah karena di tuduh menunda kehamilan yang sama sekali tidak pernah ia lakukan.
Dan kini, lihatlah.....
fakta menyebutkan Leon lah yang bermasalah...! kesuburan pria itu bermasalah karena faktor keturunan, menyebabkan Aleta cukup sulit untuk memiliki momongan meskipun usia pernikahan mereka sudah berjalan beberapa bulan.
Aleta memejamkan matanya. Dalam hatinya ia tak henti mengucap istighfar. Si pria angkuh itu lah yang tak sempurna.
Tertundanya mereka memiliki momongan bukanlah dari wanita yang dianggap rendah dan sampah itu, melainkan dari pria dewasa yang merasa sempurna dengan harta, tahta, ketampanan, dan kemapanan yang ia punya.
Entahlah ..... miris....
Aleta masih diam tak bergerak. Ia bahkan sudah tak memperdulikan sang dokter yang kini mulai melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
Sarah mendekati sang putri...
"Al....kamu nggak apa apa?"tanya Sarah.
Aleta hanya menatap sendu ke arah sang ibu.
"aku nggak salah kan buk?iya kan....?" tanya wanita itu dengan mata mengembun.
Sarah mengangguk..
"kamu nggak salah.....Allah membuka semuanya hari ini...." ucap Sarah menguatkan sang putri.
Aleta sesenggukan.
Ia melepaskan kertas itu dari genggaman nya hingga terjatuh ke lantai.
Ayu yang berdiri tak jauh dari Sarah dan Aleta pun meraih kertas itu dan membacanya. Wanita itu mengangkat satu sudut bibirnya.
"laki laki itu harus tau hal ini..." batinnya.
...----------------...
***Selamat siang....
up 11:22
yuk .. dukungan dulu 🥰🥰🥰
mampir juga disini sambil nunggu up terbaru...dijamin semua rasa ada***....
__ADS_1