
Sore menjelang..
Di istana megah Leonardo Alfindo Ganada,
Di dalam sebuah ruangan luas berdesain ceria khas anak anak. Sebuah ruangan luas yang khusus Leon buat untuk tempat bermain dan belajar putra putrinya. Ruangan yang terhubung dengan taman belakang yang hijau, berisi berbagai macam mainan untuk Alka dan Ahsa.
Di tempat itu, empat anak manusia yang sebentar lagi akan menjadi satu keluarga itu nampak menghabiskan waktu santai mereka.
Terlihat disana, Aleta nampak begitu telaten mengajari Ahsa mewarnai sebuah gambar. Jiwa keibuan Aleta terpancar begitu jelas, membuat Ahsa merasa begitu nyaman dekat wanita cantik tersebut.
Sedangkan tak jauh dari tempat mereka, di luar ruangan, di taman belakang yang nampak begitu nyaman dengan hamparan rumput yang hijau, Leon tengah asyik berebut bola dengan Alka.
Pria itu nampak menghabiskan waktu bersama putranya dengan memainkan salah satu permainan kegemaran bocah sepuluh tahun itu.
Aleta nampak sesekali menoleh ke arah Leon. Pria yang baru saja di sakiti hatinya oleh sang ibu itu kini kembali bisa memancarkan senyumannya kala bersama dengan kedua buah hatinya.
Ahsa dan Alka benar benar penghibur bagi Leon. Kedua yatim piatu itu seolah bisa menjadi penawar bagi luka serta air mata pria matang empat puluh tahun tersebut.
"dah, istirahat dulu, capek.." ucap Leon pada Alka.
"iya, pa" jawab bocah sepuluh tahun tersebut.
Alka mengambil bolanya. Ia lantas mengikuti sang papa yang nampak masuk ke dalam ruang bermain rumah megah itu. Leon mendekati putri kecil dan calon istrinya. Di rebahkan nya tubuh tegap miliknya di samping bocah cantik berusia empat tahun itu setelah sebelumnya menciumi pipi gembul sang bocah.
"ih, papa..! bauk keringet..!!" ucap Ahsa sambil mengusap pipinya yang baru saja di cium oleh Leon.
Leon terkekeh. Tangannya tergerak mencolek pinggang Ahsa membuat bocah itu menggeliat kegelian.
"papa...!!" ucap Ahsa kesal namun sambil tertawa. Jahil sekali ayahnya itu.
Alka datang,
"nih, pa" ucap Alka sambil menyerahkan botol air minum untuk sang papa.
"thank you, boy" ucap Leon kemudian bangkit dan menenggak air minumnya.
Ia lantas kembali menutup botol itu. Wajahnya kemudian terangkat, menatap ke arah jam dinding yang tertempel disana.
"udah sore, kamu pulang sekarang?" tanya Leon pada Aleta.
"aku di usir?" tanya Aleta sambil memasang wajah kesal.
"bukan di usir..dari pada nanti bapakmu nyariin kamu, mending sekarang aku antar pulang" ucap Leon.
Aleta nampak menghela nafas panjang.
"yah, kok mama pulang, kan kita belum selesai gambarnya.." ucap Ahsa.
Aleta tersenyum,
"besok lagi ya, besok mama kesini lagi" ucap Aleta.
Ahsa nampak cemberut.
"sama kakak aja gambarnya, Sa" ucap Alka.
"nggak mau, kakak suka ngeledekin aku kalau gambarku jelek" ucap Ahsa.
"enggak.." jawab Alka.
Ahsa masih cemberut. Leon lantas bangkit.
"Ahsa selesaiin dulu gambarnya sama mama, papa mau mandi dulu" ucap Leon kemudian melangkah kan kakinya hendak pergi dari tempat tersebut.Namun,
"papa" ucap Ahsa membuat Leon menghentikan langkah kakinya.
"ada apa?" tanya pria itu.
"aku boleh nggak, ikut nganterin mama. Aku kan belum pernah ke rumah mama. Aku pengen lihat rumah mama" ucap Ahsa.
Leon tersenyum.
"boleh, kalau gitu mandi dulu, biar nanti kalau pulang udah nggak perlu mandi lagi. Alka juga kalau mau ikut ya .." ucap Leon.
"yeeeeeeeiiiii...!!"
dua bocah itu bersorak kegirangan.
"aku mai di mandiin mama, boleh kan ma?" tanya Ahsa.
__ADS_1
Aleta pun mengangguk. Ahsa pun menarik tangan Aleta mengajaknya ke kamar mandi kamarnya. Sedangkan Alka memilih untuk mandi di kamar mandi lain di rumah itu. Nungguin Ahsa mandi kelamaan. Bocah itu pasti main air dulu sebelum mandi. Dan itu tidak sebentar.
...****************...
18:00
Mobil mewah milik sang produser terkenal itu sampai di sebuah rumah megah milik sang jenderal. Leon, Aleta dan dua putra putri Leon nampak turun dari dalam mobil itu.
Kedua bocah itu nampak terkagum kagum. Rumah sang jenderal tak kalah besar dari rumah Leon. Bahkan mungkin malah lebih besar, megah dan terlihat sangat nyaman.
"yuk.." ucap Aleta pada dua bocah kecil itu. Si kecil Ahsa yang manja itu lantas berlari mendekati calon ibunya tersebut. Di gandeng nya tangan wanita cantik itu dan segera menuju pintu utama di susul Leon dan Alka di belakangnya.
ceklek....
pintu dibuka...
"assalamualaikum..." ucap Aleta dan Ahsa.
Sepi,
.
.
.
.
"wa alaikum salam..." jawab seorang wanita kemudian yang datang dari arah ruang keluarga.
Ya, itu Sarah.
"kalian.." ucap Sarah dengan senyum mengembang. Wanita itu mendekat. Aleta meraih tangan sang ibu dan menciumnya sebagai tanda hormat.
"Alka, Ahsa, salim dulu" ucap Leon.
Dua bocah itu pun menurut. Di raihnya punggung tangan wanita itu dan di ciumnya seperti yang Aleta lakukan tadi.
"kalian kesini?" tanya Sarah.
"iya, nek. Aku ikut nganterin mama pulang" ucap Ahsa menggemaskan membuat Sarah tersenyum gemas.
"papa mana, buk?" tanya Aleta.
"ada di dalam. Kalian duduk aja dulu, biar ibuk panggilin papa.." ucap Sarah.
Aleta mengangguk.
Wanita cantik itu lantas mengajak Leon dan dua buah hatinya untuk duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Sarah nampak masuk menuju ruang keluarga tempat di mana Mario kini tengah berada.
Tak lama, Sarah kembali ke ruang tamu bersama suaminya itu.
Leon, Alka dan Ahsa berdiri, berjabat tangan dengan pria paruh baya namun masih terlihat sangat bugar dan sehat itu.
"kalian dari mana?" tanya Mario sambil mendudukkan tubuhnya di atas sofa di samping istrinya.
"kami dari rumah.....om." ucap Leon sedikit kaku untuk memanggil om pada sang jenderal.
Mario mengangguk.
"kalian ikut kesini juga?" tanya Mario sambil tersenyum ke arah dua anak angkat Leon.
"iya, kek. Aku pengen lihat rumah mama" ucap Ahsa polos membuat Mario dan Sarah tersenyum.
"jauh nggak rumah mama dari rumah kalian?" tanya Sarah menanggapi celotehan bocah kecil itu.
"enggak, nek. Deket kok. Tapi........." ucap Ahsa menggangtung.
"tapi apa?" tanya Sarah.
"kok kakek tentara nggak pake baju tentara lagi? malah pakai celana pendek. Kan jadi nggak kelihatan tentara." ucap Ahsa polos melihat penampilan santai sang jenderal.
Mario dan Sarah terkekeh.
"Ahsa...Ahsa...masak tiap hari harus pakai serem tentara sih. Seragam tentara itu buat kerja. Kalau di rumah ya sama kayak kita. Kayak papa..pakai baju biasa" ucap Alka.
"oh gitu" ucap Ahsa.
"kakek..kakek..." ucap bocah itu lagi.
__ADS_1
"iya," jawab Mario sambil tersenyum.
"kalau kakek tentara, berarti kakek bisa perang dong?"
"bisa" jawab Mario lagi.
"bisa nyalain bom juga? terus itu, naik itu, mobil yang gede gede itu loh..apa sih kak namanya, yang ada tembakannya gede itu. Pernah juga kek?" tanya Ahsa.
"pernah," ucap Mario lagi.
"waaaaahh....hebat..! pasti seru ya kak kalau naik itu" ucap Ahsa nampak kagum.
Sarah tersenyum gemas.
"kalian lucu sekali." ucap wanita itu.
"oh ya, kalian mau kue nggak? nenek tadi bikin kue bolu. Mau cobain?" tanya Sarah menawarkan.
"mau nek.." jawab Ahsa.
"Ih, Ahsa..! yang sopan dong" ucap Alka menegur.
"maaf ya kek, nek, Ahsa nggak sopan" ucap Alka.
"enggak kok, nggak apa apa. Ayok...kita ke dapur. Kita makan kue.." ucap Sarah sambil bangkit dan mengajak dua putra putri Leon itu untuk ke dapur dan meninggalkan tiga manusia dewasa di ruang tamu itu.
Seperginya Sarah dan dua bocah tersebut,
Mario menatap kedua pria wanita di hadapannya itu.
"Leon," ucap Mario.
Leon mendongak.
"ya, om" ucap Leon.
"bagaimana kabar ibumu? aku dengar dari istriku kalian mengunjungi nya beberapa hari yang lalu. Bagaimana hasilnya? kalian sudah dapat restu?" tanya Mario.
degggghhhh....
Leon dan Aleta saling pandang sejenak. Keduanya nampak diam dan sedikit bingung. Entah bagaimana mereka harus menjelaskan nya. Alih alih mendapatkan restu, hubungan Leon dan ibunya kini malah makin memburuk setelah wanita itu masuk rumah sakit.
Leon menunduk. Ia bingung harus jawab apa.
"Leon, Aleta.." ucap Mario lagi dengan sorot mata menelisik.
Leon mencoba mengangkat kepalanya.
"aaaaamm....... begini, om....sebenarnya............." ucap Leon terbata bata hendak menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi pada sang jenderal, namun tiba tiba.
"sebenarnya udah, pa...!" ucap Aleta cepat membuat Leon reflek menoleh ke arah wanita cantik itu.
Mario mengangkat dagunya. Dilihatnya di sana Aleta nampak tersenyum manis.
"sudah?" tanya Mario.
"udah, kemarin kita udah kesana, udah ketemu sama mamanya Leon. Tapi beliau lagi sakit pas kita kesana. Aku juga mau ngasih tau papa" ucap Aleta berbohong
"Iya kan?" tanya Aleta lagi sambil menoleh ke arah Leon.
Leon nampak bingung. Ia terlihat gelagapan. Sebuah cubitan kecil diam diam mendarat di paha Leon melalui tangan Aleta membuat pria itu sedikit terjingkat di buatnya.
Aleta memberi kode melalui sorot matanya. Lalu....
Leon tersenyum kaku. Ia kemudian menoleh ke arah sang jenderal lalu mengangguk di hadapan pria itu.
Mario diam sejenak. Dilihatnya disana Leon nampak menggaruk garuk kepala belakang nya dengan raut wajah yang berubah tak seperti tadi yang terlihat tenang saat baru saja tiba di rumah itu.
Mario kemudian tersenyum simpul sambil mengangguk. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ditatapnya calon menantunya itu dengan sorot mata tenang.
"bagus kalau begitu. Jadi kapan kau akan menikahi putriku?"
"hah???!!!"
...----------------...
Up 12:38
yuk... dukungan dulu 🥰🥰😘
__ADS_1