
Malam menjelang di dalam kamar mewah itu....
Ruangan itu sudah acak acakan bak kapal pecah. Semua berserakan tidak pada tempatnya. Ranjang sudah sangat berantakan dengan bantal guling dan selimut yang berserakan, vas bunga, alat make up dan sejenisnya jatuh ke lantai dengan kondisi sebagian sudah pecah tak berbentuk.
Di sana, di samping ranjang. Seorang wanita yang sudah babak belur dengan baju sobek kanan dan kiri nampak diam tak bergerak sambil memeluk lututnya. Wanita malang yang kembali diperlakukan kasar itu membenamkan wajahnya di antara lutut dan dadanya, menyembunyikan wajahnya yang sudah penuh dengan luka memar bekas kekerasan yang baru saja ia terima dari laki laki yang dulu menikahi nya secara paksa itu.
Ceklekk....
pintu kamar mandi terbuka.....
Pria berjambang lebat itu keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang membungkus tubuh tegap atletisnya.
Pria itu lantas mengedarkan pandangannya ke arah nakas di samping ranjang. Dilihatnya disana, sebuah nampan berisi makan malam untuk sang istri masih nampak utuh tak tersentuh. Sedangkan dibawahnya wanita itu masih duduk memeluk lututnya,tak berpindah dari posisinya sejak ia selesai menggagahi wanita itu dengan kasarnya.
Mata Leon menajam. Ia mendekati wanita itu dan berdiri di hadapan nya dengan mode angkuhnya.
Pria itu lantas meraih piring di atas meja. Ia berjongkok tepat di hadapan Aleta dengan mode dingin dan mengerikan.
"makan...!"perintah pria itu sambil meletakkan piring di tangannya dengan gerakan kasar tepat di hadapan Aleta.
Aleta tak menjawab. Ia tak bergeming, ia masih menyembunyikan wajahnya di antara lutut dan dadanya.
"apa kau mau memancing emosi ku lagi anak jalaang?" tanya Leon dingin.
Aleta mendongak. Mata bengkak, bibir berdarah di ujungnya dan pipi yang nampak merah dengan lelehan air mata yang masih terlihat membasahi pipinya. Ia menatap perih ke arah Leon membuat pria itu bergetar, tak tega, namun sekuat tenaga ia coba menahannya.
"kenapa nggak di bunuh aja?" tanya wanita itu pelan sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang justru membuat Leon tak kuasa menahan perih.
"katanya pengkhianatan harus dibayar nyawa? kalau menurut tuan saya berkhianat...kenapa nggak di bunuh aja...." ucap Aleta lagi. Masih dengan senyuman, namun matanya berair.
Leon sesak. Jauh dalam hatinya ia tak tega. Ia merasa kasihan dan tak sampai hati melakukan ini pada wanita yang perlahan mulai bisa menyentuh hatinya yang keras.
Namun bukti pil KB di tas Aleta, foto foto wanita itu dengan dua pria berbeda yang di ambil anak buahnya secara diam diam, serta pengakuan anak buahnya yang mengaku pernah di suruh Aleta untuk membeli pil KB ke apotik, semua berhasil membuat mata hati Leon buta seketika.
Wanita sama saja...!
Aleta sama seperti Renata dan Mayang yang berkhianat di belakang laki laki yang mencintainya hanya demi naffsuu dan mungkin juga harta...!
Apa semua wanita seperti itu??
__ADS_1
Leon menatap nanar ke arah wanita itu.
"apa kurang ku?" ucap pria itu pelan dengan sorot mata yang begitu sulit di artikan.
"kenapa masih saja tidak cukup untuk wanita seperti mu?" tanya pria itu lagi terdengar pilu.
"apa yang kau cari sebenarnya, Aleta?" tanya Leon.
"aku sudah memberikan mu harta, cinta, aku bahkan menempatkan kau di tempat yang utama di dalam hatiku...! masih kurang sayang?" tanya Leon.
Aleta tersenyum getir dibalik banjirnya air matanya.
"rumah tangga tidak akan pernah berjalan indah jika tidak ada rasa saling percaya di dalamnya..." ucap Aleta perih.
"anda bertanya pada saya, kurang apa? sekarang saya tanya kepada anda, sebagai seorang istri.... saya kurang apa?" tanya Aleta perih menyayat hati.
"saya gadis merdeka yang anda rampas kebahagiaan nya...! saya gadis merdeka yang anda paksa menikah... dengan laki laki yang usianya hampir dua kali lipat dari usia saya..."
"disiksa ..dikasari.. dihina .. dimaki maki... di ludahi.. di nafkahi dengan uang haram yang anda banggakan...!" ucap wanita itu sesak.
"saya diam tuan...." lanjutnya begitu lirih.
"saya diam....! saya terima semua yang anda lakukan pada saya ...! saya menyerahkan semua yang ada dalam diri saya untuk anda ..."
"kurang apa saya sebagai istri anda? kurang apa??"
Leon mengembun,ia memalingkan wajahnya tak mau menatap wajah istri kecilnya itu.
"saya lelah tuan.....jika memang anda lebih mempercayai apa yang anda pikirkan entah dari mana datangnya dari pada saya istri anda sendiri.....lebih baik bunuh saja saya ... atau talak saya ...biarkan saya kembali ke wisma menjijikkan itu, tapi saya masih dimanusiakan disana, dari pada saya tinggal di istana ini, tapi saya diperlakukan seperti binatang rendahan...!" ucap Aleta lagi.
Leon menatap nanar ke arah wanita itu.
"makanlah...!"ucap pria itu dingin.
Aleta kembali tersenyum miris. Ia menggelengkan kepalanya samar.
"aku tidak mau kau sakit dan menyusahkan ku...!" ucap pria itu lagi begitu dingin seolah tak peduli dengan ucapan pilu istri kecilnya itu. Tapi dalam hatinya...siapa yang tau?
"aku akan mati ..dan aku tidak akan pernah menyusahkan mu lagi...!" ucap wanita itu.
__ADS_1
Dengan cepat ia meraih piring di tangannya, menghantam kan nya ke lantai hingga pecah tak berbentuk. Di ambilnya satu serpihan piring keramik itu dan mengarahkan nya ke lengan sebelah kirinya.
"apa yang kau lakukan?!!" tanya Leon sambil menghalangi pergerakan Aleta
Wanita itu tak peduli. Ia ingin melukai dirinya sendiri.
"jangan gila...!!"
Aleta tak menjawab.Aksi berebut serpihan piring itu pun terjadi.
Leon mengambil paksa benda tajam itu dan melemparkan nya jauh.
Aleta marah...! ia lelah...! ia memukuli tubuh pria dewasa itu sekenanya namun tak berefek apapun untuk Leon.
Pria dengan dada yang terasa sesak itu meraih tubuh ramping istrinya. Didekapnya tubuh itu erat, Leon meraih ponselnya di atas nakas. Ia mencari nama Fathur disana dan menghubunginya, meminta sang asisten untuk masuk ke dalam kamarnya.
Leon terus mendekap tubuh itu kuat, Aleta terus berontak seolah tak mau berada dalam dekapan pria bertubuh tegap itu.
ceklek.....
pintu kamar terbuka...
Fathur datang mendekat....
"saya tuan....." ucap nya. Ia melirik ke arah sepasang suami istri yang sama sama terlihat kacau itu.
"bersihkan..."ucap Leon tanpa menoleh.
"baik tuan.."jawabnya.
Fathur pun berlalu pergi meninggalkan sepasang suami istri yang terlihat menyedihkan itu. Bergegas untuk memanggil pelayan guna membersihkan kamar sang tuan yang kacau balau.
Saat sampai di depan pintu kamar,Fathur menoleh ke arah Leon yang masih setia memeluk Aleta yang menangis.
"maaf" batinnya
...----------------...
****Selamat sore...
__ADS_1
up 14:44
yuk... dukungan dulu 🥰🥰🥰****