
"bagaimana jika aku memintamu untuk menjauhi putriku sebagai bentuk penebusan atas kesalahanmu di masa lalu?" ucap Mario tegas.
.
.
.
deeeeggghhhh......
Leon seketika itu menatap ke arah sang jenderal. Hal yang sama pula di lakukan oleh Sarah dan Aleta.
.
.
"paaa........." ucap Aleta lirih terdengar memelas.
Mario tak menoleh. Ia masih menatap Leon dengan sorot mata yang sama.
"kau tau, Leon...apa yang kau lakukan pada putri dan istriku dulu itu sangat menyakiti hatiku. Aku menemukan putriku dalam kondisi memprihatinkan...sakit, penuh luka dan tak terawat..."
"ya.... memang aku juga yang salah....jika bukan karena kesalahanku di masa lalu istri dan putriku pasti tidak akan se menderita itu, tidak akan hidup di tempat yang tak layak dan mungkin sampai kini Aleta tidak akan pernah bertemu denganmu...!" ucap Leon.
"asal kau tau Leon...kebencian ku padamu kala itu benar benar berada di ubun ubun....aku bahkan sempat berencana ingin mempolisikan mu dan membuatmu jatuh miskin untuk membalaskan sakit hatiku...tapi semua ku urungkan, atas permintaan putri kesayangan ku....."
"aku lantas membawanya pergi, menjauhi kehidupan nya yang mengerikan di negara ini, dan pastinya menjauhkannya darimu....!"
"mati matian aku dan istri ku mencoba menyembuhkan trauma yang putriku alami...membangkitkan semangat dan kepercayaan dirinya agar bisa kembali bangkit dan menatap dunia...aku menutup rapat semua identitas Aleta, agar tak ada satu manusia pun yang mengusik masa lalunya sebagai seorang gadis yang besar dan tumbuh di wisma prostitusi...aku tidak mau...ada manusia manusia lain sejenis mantan suaminya, yang selalu merendahkan...menghina...mengatai dan mengumpat serta memakinya dengan berbagai ucapan ucapan yang menyakitkan...!" ucap Mario dengan suara bergetar.
Leon menunduk tak berani menatap ke arah sang jenderal.
"anak jalaang, pelaacur, wanita rendahan, sampah, penerus bakat ibunya.... seperti itu kan?" tanya Mario
"paaa...udah...." ucap Aleta mulai meneteskan air matanya setitik demi setitik.
Leon makin tak berkutik.
"untuk masalah maaf...aku sudah memaafkan mu, Leon...aku belajar dari istri dan putriku....tentang bagaimana caranya menjadi orang sabar dan pemaaf...yang masih bisa memberi ampun meskipun raga dan batinnya sudah di obrak abrik sedemikian rupa...."
"aku memaafkan mu...tapi maaf.... sebagai orang tua , aku tidak siap jika harus kembali melepaskan putriku untukmu, Leon..."
__ADS_1
"jujur....rasa takut dan ragu itu masih ada...aku tidak mau putriku kembali menderita seperti yang dulu pernah ia alami..."
"aku tahu, memang dulu semua terjadi karena kesalahpahaman dan fitnah dari orang orang terdekatmu...tapi apakah kau memperlakukan putriku dengan baik sebelum kesalahpahaman itu terjadi?" tanya Mario lagi membuat Leon makin kicep. Ia tak bisa berkata apapun karena memang semua yang Mario katakan itu benar.
"ayah mana yang tega melepaskan putrinya kembali ke kandang singa yang dulu pernah hampir membunuh nya?" tanya Mario lagi.
"aku tidak mengizinkan Aleta kembali padamu, Leon..."
"paaaa....." ucap Aleta lagi memelas lagi.
"seperti yang sudah papa ucapkan semalam, Aleta...papa tidak bermaksud untuk mengekang mu...ikut campur urusan pribadimu...atau melarangmu berhubungan dengan laki laki pilihannu..."
"papa menyerahkan semuanya padamu...tapi untuk laki laki yang saat ini ada di hadapan papa....maaf....papa tidak bisa...." ucap Mario tanpa menoleh ke arah sang putri yang mulai banjir.
Leon makin menunduk. Ia menghela nafas panjang lalu mengangguk.
"ya.....saya mengerti maksud tuan...saya minta maaf....sebagai seorang laki laki dan suami Aleta saya memang sangat menjijikkan dulu...."
"saya terlalu bodoh, terlalu angkuh, terlalu sombong dan terlalu membanggakan atas apa yang saya miliki..."
"saya mengerti bagaimana ketakutan anda tuan....sekali lagi saya minta maaf...maaf untuk anda,nyonya, dan juga untuk Aleta..."
Leon menoleh ke arah Aleta.
"saya akan pergi menjauh dari putri anda....saya cukup sadar diri, saya terlalu buruk untuk putri sang jenderal yang terhormat....saya hanya anak pelaacur, saya tidak pantas untuk masuk kedalam keluarga ini..." ucap Leon terdengar menyedihkan.
"Leon bukan begitu maksudnya...." ucap Sarah mencoba untuk tak mematahkan semangat Leon.
"tapi memang begitu kenyataannya, nyonya... memang seperti itulah adanya...." ucap Leon menoleh ke arah Sarah.
"saya akan menjauh dari Aleta...saya pastikan saya tidak akan menemuinya lagi jika memang kehadiran saya hanya akan membuat putri anda berada dalam situasi yang gamang...." ucap Leon sambil kembali menatap Aleta.
Aleta menggelengkan kepalanya.
"aku tidak membencimu, Aleta, tapi jika menjauh adalah jalan satu satunya membuat hidupmu menjadi jauh lebih baik maka aku akan melakukan nya....aku tidak mau mengambil mu dari kedua orang tuamu yang jelas jelas bisa memberikan kebahagiaan yang sempurna untukmu...jangan menyalahkan siapapun, tidak ada yang salah disini... karena semua bertindak atas dasar ingin membahagiakan mu....jadilah putri yang patuh.... aku minta maaf, bukan maksudku menyerah, tapi bagiku sekarang restu orang tuamu adalah yang utama, tapi jika itu tidak ku dapat kan...aku akan mundur ....dosaku terlalu menyakitkan bagi mu dan keluarga mu....aku sadar sekarang bahwa aku terlalu buruk...sampai kapanpun aku tidak akan pantas untukmu lagi, Aleta...." ucap Leon.
Leon menatap sang jenderal.
"terima kasih sudah memaafkan saya jenderal, saya cukup tau diri....saya pamit.... assalamualaikum...." ucap Leon kemudian dengan segera bangkit dan pergi dari tempat itu.
"wa Alaikum salam...." jawab Mario dan Sarah pelan.
__ADS_1
Aleta menangis. Namun ia tak bergerak, ia tak berlari mengejar laki laki itu. Ia tak menahan pria itu untuk tetap tinggal.
Entah apa yang wanita itu rasakan.
Ayahnya menolak Leon. Ibunya tak membela, Leon melepaskan nya begitu saja. Apa apaan ini?!
Sakit sekali...!
Aleta memejamkan matanya dengan air mata yang terus menetes deras tak tertahan.
Mario menatap ke arah sang putri yang nampak di usap usap punggung nya oleh Sarah.
"Aleta, papa minta maaf, papa................."
"aku capek pa, aku mau tidur......" ucap Aleta memotong ucapan sang ayah dan dengan segera bangkit dari sofanya dan berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Pintu di kunci dari dalam. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dan menangis sejadi jadinya di sana.
Siapa yang salah?
Siapa yang bisa disalahkan?
Ayahnya yang terlalu takut Aleta menderita?
Atau Leon yang terlalu pengecut tak mau mempertahankan nya dan begitu cepat nya menyerah padahal ia sudah berjanji akan meluluhkan hati sang jenderal?
Atau dirinya yang terlalu bodoh, berharap bisa kembali menjalin kasih dengan laki laki yang jelas jelas sudah melukai nya fisik hingga batinnya dulu?
Coba tolong dijawab siapa yang salah??
Sedih sekali nasib percintaannya. Jika memang bukan jodohnya, kenapa Tuhan tidak menghapus saja rasa sayang yang mendalam itu dari hati Aleta?
Ini sangat menyakitkan...ini terlalu menyakitkan... hingga kini ia tak bisa membenci Leon, tapi disisi lain ia juga tak mungkin melukai hati ayah dan ibunya.
...----------------...
***Selamat pagi
up 04:48
yuk.... dukungan dulu 🥰🥰🥰***
Akan ku beri Leon dan Aleta jalan keluar.... tapi minta dukungan dulu yang banyakðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ˜‚
__ADS_1