Istri Kedua Tuan Leon

Istri Kedua Tuan Leon
119


__ADS_3

ceklek.....


pintu rumah megah itu terbuka.....


Aleta dan Leon bergandengan tangan memasuki ruang tamu rumah yang di penuhi barang barang mewah serta sejumlah foto dan lukisan bertemakan prajurit.


"kamu duduk dulu ya....aku panggilin papa sama ibuk di kamar..." ucap Aleta.


Leon hanya mengangguk. Wanita cantik itu kemudian berjalan menaiki tangga menuju lantai dua tempat dimana kamar kedua orang tuanya berada.


Duda yang baru saja mengangkat dua anak sebagai putra putrinya itu lantas mendudukkan tubuhnya di sofa single di ruang tamu tersebut.


Leon mengedarkan pandangannya. Matanya menatap ke segala arah. Mengamati ruangan luas dengan desain elegan itu.


Mata tajamnya lantas tertuju pada sebuah foto keluarga berukuran besar berbingkai yang tertempel di salah satu sudut dinding rumah itu. Di depannya terdapat sebuah bangku kecil dengan satu vas bunga yang nampak di penuhi bunga bunga lili putih berjumlah dua belas tangkai.


Leon tersenyum,


dilihatnya di foto itu Aleta nampak tersenyum sumringah. Ia dan Sarah nampak berdiri dan menyentuh pundak Mario yang duduk di sebuah sofa. Ketiganya terlihat bahagia. Senyuman lebar tergambar jelas di dalam foto itu. Sesuatu yang tak pernah Leon miliki seumur hidupnya. Ia tak pernah yang namanya punya foto keluarga.


Siapa yang mau di ajak foto, ibu dan ayahnya selalu sibuk sendiri dulu. Punya istri tak pernah disentuh. Anak tak punya. Siapa yang mau di ajak foto?


....


tak....tak....tak.....


Suara langkah beberapa pasang kaki terdengar menuruni tangga rumah megah itu.


Mario yang nampak mengenakan kaos oblong dan celana pendek khas nya ketika dirumah nampak menuruni tangga bersama seorang wanita berhijab dan seorang wanita cantik berambut panjang di belakang nya.


Ya....itu Sarah dan Aleta.


Ketiga manusia yang merupakan satu keluarga itu nampak berjalan mendekat Leon. Pria empat puluh tahun itu kemudian bangkit. Leon tersenyum lembut ke arah sepasang suami istri yang kini berdiri di hadapan nya itu.


"apa kabar tuan?" tanya Leon sambil mengulurkan tangannya. Mario hanya tersenyum lalu menyambut uluran tangan pria itu dengan tenangnya.


"baik" jawab ayah kandung Aleta Balqis Aqilah tersebut.


Leon menggerakkan tangannya, mengulur kan lengan kekar itu ke arah Sarah yang berdiri di samping Mario. Namun alih alih menyambutnya, Sarah hanya membungkuk singkat sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


Leon paham. Ia pun dengan segera menarik tangan nya dari wanita yang kini tampil lebih tertutup itu.


Mario menggerakkan tangannya, mempersilahkan mantan menantunya itu untuk kembali duduk di sofanya.


Leon menurut. Mario duduk di sofa single lainnya, sedangkan Sarah dan Aleta duduk di sofa panjang yang berada di sana.


"apa kabar Leon?" tanya Mario tenang.


Leon tersenyum.


"saya baik tuan...anda sendiri bagaimana?" tanya Leon basa basi.


Mario tersenyum.


"seperti yang kau lihat..." ucap Mario lagi.


Leon hanya mengangguk.


Aleta nampak menunduk. Sarah diam diam meraih punggung tangan sang putri dan meremas nya lembut. Wanita itu seolah mengetahui dan bisa merasakan ketegangan yang kini dirasakan sang putri.


"ada keperluan apa kau datang ke gubuk kami, Leon?" tanya Mario.


Leon tersenyum. Ia mulai membenarkan posisi duduknya.

__ADS_1


"iya.... kedatangan saya kemari, saya ingin bertemu dengan tuan...dan...istri .." ucap Leon sambil menggerakkan telapak tangannya yang rapat menunjuk ke arah Sarah.


Mario mengangkat dagunya.


"langsung saja ...saya datang kemari...ingin meminta maaf kepada tuan...dan istri....atas semua kesalahan saya di masa lalu..." ucap Leon.


"saya minta maaf, saya sudah melukai hati tuan dan keluarga...saya menyesal, sangat menyesal..." ucap Leon.


Mario tak bergerak.


Suasana hening.


Tak mendapati respon dari ayahanda Aleta, Leon nampak menunduk. Terlebih lagi saat sang jenderal kini menatap wajah pria berjambang itu tanpa berkedip. Sebuah tatapan yang sama sekali tak bisa Leon artikan, apa maknanya. Udara di ruangan itu mendadak panas. Leon di buat gerogi dengan sorot mata pak jenderal yang begitu terasa mengintimidasi.


Aleta meremas tangan sang ibu, Sarah menoleh ke arah sang putri lalu tersenyum seolah ingin mengatakan 'semua akan baik baik saja'.


Mario menarik nafas panjang...


"atas dasar apa tiba tiba kau datang dan meminta maaf?" tanya Mario.


Leon mulai celingukan, gugup..!


"saya....saya merasa bersalah tuan..." ucap Leon.


"bersalah? bersalah atas apa?" tanya Mario.


"saya sudah melukai perasaan istri dan putri tuan....saya datang untuk meminta maaf....saya juga merasa bersalah kepada tuan.... karena sudah menghina wanita yang tuan sayangi" ucap Leon tanpa mampu mengangkat kepalanya.


"kau tidak punya salah denganku... jangan minta maaf padaku...."


"minta maaflah pada putri dan istriku...dia yang sudah kau rendahkan...kau hina, kau maki maki, dan kau sakiti hati dan fisiknya...." ucap Mario.


"mereka semua adalah orang orang yang pemaaf, Leon..tanpa kau datang dan memohon ampun pun mereka sudah memaafkan mu dari awal..apalagi istriku....dia orang ter sabar dan ter ikhlas yang pernah ku kenal..." ucap Mario.


Leon mengangguk.


"ada lagi yang ingin kau bicarakan?" tanya Mario lagi.


Leon nampak meremas jari jarinya sendiri guna menyalurkan ketegangan yang kini ia rasakan. Seumur hidupnya ia tak pernah merasakan hal seperti ini. Ia datang awalnya sudah sangat percaya diri dengan segala persiapan yang ia lakukan untuk meminta Aleta kembali menjadi istrinya. Namun entah mengapa saat bertemu sang jenderal tiba tiba Leon mendadak gugup. Sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya akan menimpa dirinya.


"Leon?" tanya Mario lagi.


Leon diam sejenak. Memejamkan matanya lalu menarik nafas panjang seolah berusaha menetralkan degup jantungnya. Laki laki itu lantas mendongak, mengangkat kepalanya lalu menatap tenang ke arah pak jenderal.


"tuan..... kedatangan saya kemari, selain meminta maaf....saya juga ingin meminta izin pada tuan dan istri...." ucap Leon.


"saya ingin memperbaiki hubungan saya dengan putri anda....saya ingin meminta izin....saya ingin kembali meminang Aleta menjadi istri saya...." ucap Leon memberanikan diri.


Mario diam.


Tenang.


Aleta yang menunduk diam diam melirik ke arah sang ayah, ingin melihat raut wajah pria yang semalam sempat berbincang dengannya itu.


"kau ingin rujuk begitu?" tanya Mario.


Leon mengangguk.


"iya tuan...." ucap Leon.


Mario mengangkat dagunya.


"kau cukup berani, Leon..setelah apa yang terjadi pada kalian di masa lalu...kau kembali datang ke pondokku, menemuiku dan meminta putriku agar kembali menjadi istrimu....aku salut dengan keberanianmu..."ucap Mario tenang. Leon hanya menunduk.

__ADS_1


"sebenarnya aku sudah mendengarnya semalam dari Aleta....kami juga sempat terlibat perbincangan yang cukup serius mengenai hal ini...." ucap Mario.


Pria paruh baya itu lantas menarik nafas panjang sambil membenarkan posisi duduknya yang sebenarnya sudah benar. Ia lantas kembali berkata....


"sebagai seorang ayah yang pernah melihat putrinya di sakiti...aku hanya ingin bertanya padamu...apa yang mendasarimu melakukan kekerasan pada putriku...dulu....dan apa yang sekarang membuatmu tergerak dan yakin...untuk kembali meminang Aleta menjadi istrimu...?" tanya Mario terdengar tenang namun tegas dan tak main main.


"saya terlalu bodoh tuan...saya terlalu percaya pada orang orang disekitar saya....membuat saya buta dan khilaf hingga melakukan hal yang tak pantas pada putri tuan..."


"saya menyesal...saya sudah menyingkirkan orang orang itu, seperti yang tuan lihat lima tahun yang lalu...sejak saat itu saya bertekad untuk merubah hidup saya...saya ingin memantaskan diri untuk putri tuan...saya ingin menjadi orang yang lebih baik untuk Aleta...saya ingin menebus semua kesalahan saya pada putri anda..." ucap Leon yakin dengan dada bergetar mengingat kebodohan nya.


Mario masih terlihat tenang berwibawa.


"dan kau merasa sudah pantas sekarang?" tanya Mario membuat mental Leon drop.


"kau merasa sudah menjadi yang orang lebih baik?" tanya Mario.


Leon di sejenak....lalu....


"saya tidak tau ..apakah saya sudah di anggap cukup baik untuk menjadi suami Aleta atau belum....tapi satu yang menjadi keyakinan saya sekarang...saya datang kemari ingin menebus dosa saya....saya ingin membuat Aleta bahagia...saya akan melakukan apapun...agar putri anda bisa bahagia dan anda bisa memaafkan saya ..." ucap Leon.


"saya tau... kesalahan saya begitu besar terhadap keluarga anda...tapi dari lubuk hati saya yang paling dalam....saya benar benar ingin memohon maaf...izinkan saya untuk menebus kesalahan saya di masa lalu tuan...saya akan melakukan apapun untuk itu..." ucap Leon...


Mario tak bergerak. Satu jari telunjuk tangannya nampak bergerak mengetuk ngetuk sisi sofa tempat dimana lengannya berada. Lalu....


.


.


.


.


.


.


"bagaimana jika aku memintamu untuk menjauhi putriku sebagai bentuk penebusan atas kesalahanmu di masa lalu?"


.


.


.


deeeeggghhhh......


.


.


"paaa........."


...----------------...


***Yuhuuu.....


perjalanan masih panjang Leon....semangat ya mas....😁😁😁


yukkk...


dukungan dulu 🥰🥰🥰


up 19:55***

__ADS_1


__ADS_2