
Pria itu kembali dirundung duka.
Matanya merah mengembun. Setitik air mata nampak menetes dari pelupuk matanya namun se segera mungkin di hapus nya. Wanita berjasa yang membawanya terlahir ke dunia telah pergi meninggalkan nya.
Ya, beberapa saat yang lalu dokter menyatakan Renata tak tertolong. Wanita yang sempat terlihat tersiksa di ujung usianya itu akhirnya bisa pergi dengan tenang setelah sang dokter yang sepertinya memang sosok yang religius itu perlahan membimbingnya mengucap dua kalimat syahadat.
Renata pergi. Mungkin dengan tenang. Setelah menuntaskan kewajiban nya, memohon maaf atas segala dosa dosa nya pada putra dan wanita yang dulu pernah disakitinya. Ia juga sudah memberikan restunya. Setelah sempat menolak dengan keras pernikahan yang terjadi antara Leon dan Aleta.
Leon menyandarkan kepalanya di tembok rumah sakit yang dingin. Pria yang kini nampak terduduk di lantai rumah sakit itu menatap nanar ke arah pintu kamar jenazah dimana raga sang ibu yang sudah tak bernyawa kini tengah di bersihkan.
Sedih, pasti.
Merasa bersalah, iya.
Ia merasa bersalah karena secara tidak langsung ia lah yang menjebloskan ibunya sendiri ke dalam sel pesakitan. Tak berniat membantu sang ibu untuk terbebas dari hukumannya dengan dalih ingin wanita itu sadar akan segala kejahatannya. Ia tak mengira, jika tindakannya justru membawa sang ibu sampai pada ajalnya.
Salahkah pria itu?
Wanita cantik itu berjalan mendekati suaminya dari ujung lorong rumah sakit. Aleta yang baru saja mengabari tentang kepergian mertuanya kepada papa dan ibunya itu nampak menatap iba ke arah Leon yang terlihat begitu terpuruk.
Meskipun ia tetap berusaha tegar. Tak menunjukkan kesedihan nya namun Aleta masih bisa merasakannya.
Wanita itu mendekat. Ia bersimpuh di lantai yang dingin tepat di samping Leon yang sejak tadi hanya melamun.
"sayang," ucap Aleta sambil menyentuh pundak Leon.
__ADS_1
Leon menoleh. Ia kemudian tersenyum lalu menegakkan posisi duduknya.
"ya..." ucap Leon.
"kenapa duduk di sini?" tanya Aleta.
Leon tersenyum lagi.
"aku cuma pengen nunggu mama" ucap Leon.
Aleta menatap pilu ke arah pria itu.
Leon kembali mengarahkan pandangannya ke arah kamar jenazah.
"apa aku pembunuh mama, Aleta?" tanya Leon tanpa menoleh ke arah sang istri, membuat wanita itu seketika menoleh ke arah suaminya.
"mama ada di penjara karena aku. Aku yang menjebloskan nya, aku yang tidak mau membebaskan nya. Semua salahku, Aleta" ucap Leon dengan mata mengembun penuh penyesalan.
"sayang, nggak boleh ngomong gitu" ucap Aleta.
"andai aku tidak egois mungkin semua tidak akan jadi seperti ini, Aleta. Aku yang salah. Semua salahku dari awal..!" ucap Leon mulai tak bisa menyembunyikan emosinya. Leon menatap Aleta dengan sorot mata penuh luka. Seolah mengisyaratkan betapa pria itu sangat terpukul dan menyesali kepergian ibunya.
Bukankah ada yang mengatakan, jika kepergian seorang ibu untuk selama lamanya adalah sebuah luka dan patah hati yang paling berat bagi seorang anak di dunia ini. Dunianya seolah runtuh. Kebahagiaan nya hancur. Ketegaran hatinya luruh seketika. Ia seolah menjadi orang asing di kehidupannya yang baru tanpa adanya sosok wanita yang melahirkan nya. Sedih, pilu, lemah. Dan makin tak karuan rasanya kala penyesalan itu datang.
Leon merasa durhaka. Ia merasa egois. Ia merasa jahat pada ibu kandungnya sendiri.
__ADS_1
Aleta meringsut mendekati pria rapuh itu. Dipeluknya tubuh tegap sang suami yang kini nampak menangis tak terbendung. Sejuta penyesalan Leon rasakan. Sejuta kata maaf pria itu ucapkan namun seolah tak bisa memulihkan rasa bersalah yang kadung menancap dalam dirinya.
Ibunya pergi, dalam kondisi yang memprihatinkan. Dalam masa tahanannya sebagai seorang narapidana. Sungguh, sebuah akhir yang begitu tragis bagi seorang wanita angkuh pemuja dunia.
Aleta membelai rambut sang suami yang sesenggukan dalam pelukan wanita cantik itu. Di biarkan nya pria itu menangis guna menyalurkan emosinya. Mungkin dengan begitu Leon bisa lebih tenang setelah ini.
Satu tangan Aleta mengusap punggung sang suami. Di dekatnya wajahnya pada telinga Leon sambil berucap lirih.
"nggak ada yang bisa disalahkan disini. Sebagai seorang anak kamu sudah memberikan yang terbaik. Kamu tidak membiarkan mama kamu semakin masuk dalam lembah dosa yang selama ini dia puja puja" ucap Aleta.
"kamu nggak salah, sayang. Tuhan tahu akan hal itu"
"Tuhan tahu maksud baik kamu. Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin. Kamu sudah berusaha untuk menyelamatkan mama dari dosa dosa yang ia lakukan di dunia" ucap Aleta.
"menangis lah jika itu bisa membuat kamu tenang. Setelah ini, kita tatap masa depan. Bantu mama menuju jalan yang terang melalui doa doa yang kamu panjatkan untuknya. Saat ini, dia masih butuh kamu. Bantu dia. Tunjukkan kalau kamu sayang sama dia walaupun kalian sudah berada di dunia yang berbeda"
"kamu kuat, sayang" ucap Aleta sambil memeluk tubuh yang nampak rapuh itu.
Leon masih menangis. Di atas lantai dingin itu di dalam dekapan hangat sang bidadari. Aleta membiarkan bajunya basah karena lelehan air mata. Ia membiarkan Leon menumpahkan segala emosinya. Semoga setelah ini pria itu bisa bangkit.
Aleta tahu, pria itu butuh penyemangat. Butuh dukungan moril agar tak berlarut larut ia menyalahkan dirinya atas kepergian ibundanya.
...----------------...
Selamat sore menjelang malam.
__ADS_1
up 17:22
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘😘