
Subuh menjelang,
Setelah semalaman menghabiskan waktu untuk memanjakan suami tercinta dengan aktifitas panas yang keduanya lakukan, pagi ini Aleta sudah bersiap memulai aktifitas nya sebagai seorang istri.
Jam menunjukkan pukul setengah empat pagi,
Aleta dengan tubuh yang penuh tanda merah di bagian dada hingga kebawah itu nampak berdiri di bawah guyuran air shower. Membersihkan dirinya sebelum bersiap untuk menjalankan ibadah sholat subuh seperti rutinitas yang selalu ia laksanakan tiap harinya.
Aleta nampak asyik dengan tetesan air mandi yang membasahi tubuh rampingnya. Hingga...
seeeeetttt....
Sebuah lengan besar memeluk tubuh indah itu dari belakang. Membuat Aleta sedikit terjingkat kaget dibuatnya.
Wanita itu lantas menoleh,
"sayang..." ucap Aleta.
Dilihatnya disana Leon yang hanya mengenakan celana dalaam putih itu sudah berdiri di belakang Aleta sambil memeluk tubuh polos wanita cantik tersebut.
Leon tersenyum,
"butuh bantuan?" tanya nya.
Aleta menyandarkan tubuh nya manja di raga tegap bertato milik sang suami.
"nggak usah, aku mau sholat. Ntar kalau kamu ikut ikutan malah nggak jadi mandi lagi" ucap Aleta membuat Leon terkekeh.
"nggak..! aku janji, cuma mau bantu bersihin badan kamu aja, nggak akan macem macem" ucap Leon sambil terus mendekap tubuh indah itu dari belakang.
"serius?" tanya Aleta.
"ya..." jawab Leon.
Aleta tersenyum.
"oke.." jawab Aleta.
Wanita cantik itu kemudian meraih sabun yang berada di rak dinding kamar manding itu. Menyerahkannya pada Leon dan membiarkan pria itu untuk menjamah tubuhnya guna membersihkan raga polosnya.
...****************...
Sepuluh menit di dalam kamar mandi..
Aleta keluar dari dalam kamar mandi bersama sang suami. Keduanya hanya menggunakan handuk sebagai penutup tubuh masing masing. Leon melilitkan nya di bawah pusar sedangkan Aleta melilitkan nya di atas dada. Wanita itu kemudian mencari pakaian nya. Begitu juga Leon. Sesekali mereka nampak terkekeh dan tertawa lantaran aktifitas itu keduanya lakukan sambil bercanda ria.
Selesai berganti pakaian,
Aleta menoleh ke arah sang suami yang nampak mengenakan kaosnya.
"sayang .." ucap Aleta.
Leon menoleh,
"ya.." jawabnya.
"eemm...aku mau sholat, sama papa sama ibuk juga, mau ikut nggak?" tanya Aleta hati hati.
Leon diam tak bergerak.
Aleta nampak menunggu jawaban pria itu.
"gimana?" tanya Aleta lagi.
Leon tak menjawab. Ia melangkahkan kakinya menuju lemari besar itu. Di bukanya, lalu ia berjongkok dan mengambil sebuah benda yang terletak di dalam sebuah koper sedang yang kemarin di antar Bayu dari rumahnya.
Dibukanya koper itu. Ia lantas mengeluarkan sebuah paper bag dari dalam koper tersebut.
Aleta nampak mengernyitkan dahinya. Leon membawa paper bag itu menuju ranjang. Ia kemudian mendudukkan tubuhnya ditepi kasur empuk itu di susul Aleta yang duduk di samping nya.
__ADS_1
Di keluarkan nya dua benda dari dalam sana. Sebuah sajadah yang masih baru dan sebuah sarung?
Aleta mengernyitkan dahinya lagi.
Leon tersenyum dan menoleh ke arah Aleta.
"masih ingat benda ini?" tanya Leon membuat Aleta makin bingung.
Leon tersenyum manis.
"ini kan kamu yang beli buat aku" ucap Leon.
Aleta lupa lupa ingat. Di raihnya sajadah yang kini berada di tangan pria itu. Otaknya berfikir keras mencoba mengingat ingat kapan ia membelikan benda semacam itu untuk suaminya.
"dulu, kamu sempet ngajak aku buat bagi bagiin peralatan sholat untuk masjid masjid di kota ini" ucap Leon mencoba mengingatkan sang istri.
"dan kamu ngeyel, beli ini untuk aku. Kamu bilang, ini kwalitas nya yang paling baik. Khusus buat aku, tapi sampai sekarang aku belum pernah memakainya. Dia masih tersimpan rapi di paper bag ini lima tahun lamanya" ucap Leon.
Aleta samar samar mulai mengingat nya. Ditatapnya dalam wajah pria tampan itu.
"Aleta.." ucap Leon.
"sejak kamu pergi aku kehilangan arah. Aku sebatang kara di tengah tengah harta ku yang berlimpah.."
"sejak saat itu, aku bertekad untuk berubah. Aku bertekad untuk menjadi laki laki yang lebih baik. Yang bisa kau banggakan jika suatu saat takdir mengizinkan kita bersama sama lagi."
"aku menjauh dari perjudian yang menjanjikan ku banyak uang dalam satu malam. Aku menjauhi dunia malam, alkohol, wanita, semuanya"
"aku mendekat kan diriku pada orang orang yang mengabdikan dirinya untuk membantu orang lain. Aku merubah pola pikirku. Aku ingin memantaskan diri untukmu, agar aku bisa di sebut layak untuk meminang putri jenderal yang terhormat seperti dirimu" ucap Leon.
Aleta tak bergeming.
"Sayang, banyak perubahan dalam diriku. Aku selalu berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi di setiap harinya. Tapi, ada satu hal yang belum pernah aku lakukan selama aku berpisah darimu.." ucap Leon lagi.
Di tatapnya netra lentik Aleta dengan begitu dalam dan intens.
Aleta nampak memiringkan kepalanya menatap penuh tanya ke arah laki laki itu.
"kenapa?" tanya Aleta.
Leon kembali diam. Ia tak langsung menjawab. Sorot matanya nanar seolah menyimpan sesuatu yang membendung dalam dadanya.
"kau ingat siapa aku?" tanya Leon.
"aku pemuja maksiat..! **** bebas, perjudian, pembunuhan, semua ku kuasai"
"apa aku pantas datang pada yang Maha Suci? sedangkan aku terlalu kotor" ucap Leon membuat Aleta terdiam.
"Aleta, tubuh ini terlalu menjijikkan. Untuk masuk ke dalam rumah ibadah saja aku tidak mampu. Aku terlalu buruk. Bahkan saat aku kecelakaan, mereka menemukan ku di area depan masjid. Apa kau pikir aku selesai menjalankan ibadah? tidak, aku hanya berdiri menyaksikan orang orang menyembah pencipta nya, tapi aku tidak melakukan nya. Aku malu...aku tidak pantas" ucap Leon.
Aleta menghela nafas panjang.
Leon tersenyum.
"maaf, aku belum bisa menjadi sempurna. Satu lagi kekurangan yang ku miliki. Aku tidak bisa menjadi imam sholatmu.." ucap Leon.
Aleta diam tak bergerak. Seolah merasa begitu pilu melihat Leon yang seolah minder akan dirinya sendiri.
Aleta tersenyum,
"aku ingat, aku dulu pernah minta sesuatu sama kamu, tapi belum kamu kabulin sampai sekarang" ucap Aleta.
Leon nampak berfikir.
"apa?" tanya Leon.
"aku pernah minta imam sholat" ucap Aleta.
"aku sudah bilang aku tidak bisa, Aleta.." ucap Leon kembali mencoba menjelaskan
__ADS_1
"kalau gitu sekarang aku minta kamu jadi makmum sholatnya papa" ucap Aleta cepat.
Leon diam.
"disini papa yang biasa jadi imamnya..." ucap Aleta.
"kamu nggak perlu mimpin, kamu cukup mengikuti papa dan menemani aku"
"nggak ada manusia yang terlalu buruk di dunia ini. Begitu pun sebaliknya, nggak ada manusia yang terlalu suci"
" salah dan dosa itu sifat yang memang selalu melekat dalam diri manusia. Karena kita di memang bekali naffsu di dalam diri kita."
"aku bukan ahli ibadah. Tapi setidaknya yang aku tahu, semua orang punya masa lalu. Entah itu yang baik ataupun yang buruk. Dan setiap orang, punya hak untuk menentukan mau kemana ia di masa depannya kelak. Tetap menjadi pendosa, atau hijrah ke jalan Nya"
"menyesali bertaubat atas dosa dosa kita di masa lalu itu jauh lebih baik, dibandingkan mengagungkan ketaqwaan kita dimasa sekarang yang belum tentu itu di terima oleh Tuhan.."
"sayang, seburuk dan se kelam apapun kehidupan kamu di masa lalu, bukan menjadi alasan untuk kamu takut menghadap Nya"
"kita turun yuk, ambil wudhu, kita ikut yang lain sholat di mushola" ucap Aleta.
Leon diam.
"aku malu, Aleta"
"kenapa harus malu? beribadah itu bukan hal yang memalukan"
"tapi aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya" ucap Leon tidak percaya diri
"makanya kita lakuin sekarang. Semua orang pernah menjadi anak baru, yang baru belajar, yang belum terbiasa. Yuk, aku temenin, pelan pelan nanti kita belajar sama sama, biar suatu saat, kita bisa sholat berjamaah berdua di kamar ini. Ya....." ucap Aleta membujuk.
"Tapi Aleta....."
"udah ayok...! nggak apa apa!" ucap Aleta sambil menarik tangan Leon mengajaknya untuk bangkit.
"aku malu.." ucap Leon.
"nggak apa apa, sayang. Kamu cuma perlu ngikutin aja. Kamu dulu juga pernah kan waktu di mesjid itu. Ya udah, nggak apa apa. Ikutin aja dulu. Ntar lama lama juga bisa kok" ucap Aleta.
Leon nampak berfikir.
"ayo..! waktu subuh itu nggak lama..!" ucap Aleta sambil kembali menarik tangan Leon.
Laki laki itupun hanya bisa pasrah. Aleta menuntun Leon menuju pintu kamar, namun tiba tiba...
Aleta menghentikan langkahnya.
"kenapa?" tanya Leon.
"bentar, bentar..." ucap Aleta.
Ia dengan cepat berlari menuju lemari, membuka kotak besar itu dan meraih sebuah celana panjang disana.
Aleta mendekati Leon dan menyerahkan celana itu, sedangkan sarung yang berada di tangan Leon pun diambilnya.
"apa?" tanya Leon tak paham.
"pakai celana aja" ucap Aleta pada suaminya. Ia tahu, Leon pasti tak bisa pakai sarung. Daripada laki laki itu kebingungan dan malu nantinya, akan lebih baik jika Leon pakai celana saja. Lebih simpel bukan?
Aleta meletakkan sarung Leon di atas ranjang. Sedangkan Leon kini sudah selesai dengan celana panjang nya.
"dah, yuk..." ucap Aleta sambil menggandeng Leon menuju ke mushola rumah yang berada di lantai bawah. Dimana disana sudah ada Mario, Sarah, Alka dan Ahsa yang menunggu.
...----------------...
Selamat malam...
up 18:10
yuk, dukungan dulu..🥰
__ADS_1