
Sang jenderal terdiam untuk beberapa saat. Dilihatnya disana seorang wanita cantik berambut panjang terikat, berusia kurang lebih sembilan belas hingga dua puluh tahunan nampak berdiri menghadap nya. Tinggi badannya yang setara dada sang jenderal membuat wanita itu mendongak untuk menatap wajah pria paruh baya itu.
Aleta memiringkan kepalanya.Sang jenderal diam tak bergerak menatap wajah wanita cantik yang serasa begitu mirip dengan mendiang istrinya yang sudah tewas sembilan belas tahun yang lalu.
"maaf pak... saya nggak sengaja..."ucap wanita itu,Aleta.
Sang jenderal tak bergerak.
"Aleta...." ucap seorang pria yang sejak tadi berdiri di belakang Mario.
Aleta dan Mario menoleh ke arah Sean.
"mas Sean...."ucap wanita itu.
"kau kenal?"tanya Mario.
Sean membungkuk hormat.
"dia penjual bunga di toko yang tadi kita datangi sebelum ke toko bunga sebelah jenderal..." ucap Sean.
Mario mengangguk paham.Aleta mengangkat dagunya sambil menatap ke arah Sean. Ia seolah ingin bertanya "ini siapa?"
Sean tersenyum,
"Aleta kenalkan, ini tuan Mario, atasanku, yang sering memintaku untuk membeli bunga lili putih di toko mu..."ucap Sean.
Aleta membulatkan bibirnya sambil mengangguk paham. Mario tersenyum, ia mengulurkan tangannya kepada wanita muda di hadapan nya itu.
"saya Mario..." ucap laki laki itu.
"saya Aleta tuan...." jawab Aleta sambil menyambut uluran tangan pria paruh baya tersebut.
Mario tersenyum lembut ke arah sang wanita. Dia sangat cantik. Parasnya ayu, membuatnya sejenak mengingat tentang sosok yang sangat ia sayangi hingga saat ini.
Andai istri dan anaknya masih hidup, mungkin paras sang buah hati akan mirip mirip seperti Aleta jika ia terlahir sebagai seorang perempuan. Dan usianya, pasti juga sudah sebesar gadis di depannya ini. Sayang,belum sempat malaikat kecilnya itu melihat dunia,ia sudah dipanggil sang Maha Kuasa. Batin sang jenderal berucap sedih.
Aleta nampak menatap tangan sang jenderal, laki laki itu tak kunjung melepaskan jabatan tangannya,sedangkan matanya sedari tadi menatap wajah istri Leon itu dengan sorot mata yang...entahlah, susah untuk di jelaskan.
Aleta merasa tak nyaman. Karena walau bagaimanapun juga Aleta sudah terbiasa hidup di lingkungan yang dikelilingi pria hidung belang. Melihat pria paruh baya itu tak kunjung melepaskan tangannya membuat Aleta jadi punya pikiran negatif pada pria itu. Sean yang berdiri di belakang sang jenderal juga merasa aneh dengan sikap sang jenderal yang seolah terpana dengan sosok Aleta yang cantik. Apa duda ini mengagumi Aleta? pikir Sean sang ajudan.
"jenderal...." bisik Sean seolah ingin mengingatkan sang atasan.
Mario tak bergeming, ia sibuk dengan pemikiran nya sendiri. Aleta mencoba menggerakkan tangannya, seolah ingin melepaskan nya dari telapak tangan pria berperawakan militer itu, hingga...........
__ADS_1
.
.
.
.
sreeeeeeeett........
Sebuah tangan besar melepaskan paksa dua kulit yang saling bersentuhan itu. Aleta kaget, begitu juga sang jenderal dan Sean yang langsung menoleh ke arah sosok pria yang tiba tiba datang tersebut.
"sayang...." ucap Aleta.
Ya....itu Leon...!.
Ia yang menemani Aleta membagikan alat sholat ke masjid masjid di kota ini merasa panas manakala ia melihat sang istri nampak berbincang dengan dua pria dewasa disana. Leon yang semula berada di dalam masjid pun dengan segera mendekati istrinya dan mulai memasang mode garang di hadapan Sean dan Mario.
"ada apa ini?" tanya Leon dingin dengan sorot mata tajam ke arah Mario.
Aleta mendongak.Ia mencium gelagat tak mengenakkan dalam diri suaminya itu.Ia pun meraih sweater abu abu yang dikenakan Leon.
"sayang....nggak ada apa apa..."ucap Aleta lembut. Suara yang dapat di dengar dengan jelas oleh Sean dan Mario.
Mario tersenyum,
"maafkan saya....bukan maksud saya kurang ajar..."ucap Mario.
"wajah Aleta mengingat kan saya pada seseorang, makanya tadi saya sedikit melamun... saya minta maaf...."ucap Mario.
"aku tidak butuh omong kosong mu..! aku tidak suka kalian dekat dekat dengan istriku..!" ucap Leon dingin dan terkesan tak sopan.
Aleta jadi tak enak.
"sayang, udah..."ucap Aleta sambil meraih lengan sang suami mencoba meredakan emosi laki laki itu.
Sedangkan Leon kini menatap tajam ke arah dua pria disana secara bergantian.Tak kalah dari Leon, Sean pun juga membalas tatapan mata itu dengan sorot netra yang tak kalah mengerikan. Keduanya nampak saling menatap untuk beberapa saat. Ada perasaan tak suka dari masing masing pria yang seumuran itu.
Mario tersenyum,
"sekali lagi saya minta maaf...saya tidak bermaksud kurang ajar..."ucap Mario masih terlihat tenang. Ia lantas menepuk pundak Sean, mengajak ajudannya itu untuk segera menuju tempat wudhu dan mengambil air suci yang mensucikan itu segera menjalankan ibadah solat lima waktu mereka.
Seperginya Mario dan Sean....
__ADS_1
Leon menatap tajam ke arah Aleta.Wanita itu mengernyitkan dahinya,
"kamu kenapa?" tanya Aleta.
Leon tak bergeming.
"apa?" tanya Aleta lagi seolah tak paham dengan maksud dari sorot mata pria itu.
"aku tidak suka....................."
"pengkhianatan....!"ucap Aleta memotong ucapan suaminya.
Leon masih diam tak bereaksi.Entahlah...ia begitu posesif pada istri keduanya itu.Ia seolah begitu takut jika Aleta bermain api di belakang nya sama seperti yang dulu di lakukan oleh wanita yang pernah ia sayangi sepenuh hati.
Leon sudah terlanjur mencintai Aleta.Wanita itu sudah terlanjur merajai fikirannya.Ia tak bisa membayangkan, bagaimana rasanya jika suatu saat Aleta mengkhianati nya, ia pasti akan sangat rapuh.
"udah ah....nggak ada pengkhianatan disini....! lagian kan aku udah punya kamu..masa iya aku khianatin kamu cuma demi bapak bapak itu?dia cocok nya jadi papa aku sayang....aku nggak sengaja nabrak dia...aku minta maaf.... udah selesai...."ucap Aleta menjelaskan.
Leon masih tak bergerak
"udah ah ...yuk ambil wudhu.... kita solat disini bareng sama yang lainnya..."ucap Aleta.
"kau saja ..aku menunggu di mobil..."ucap Leon.
"ya jangan dong....masak kamu ada di sini tapi nggak mau solat bareng....nggak enak sama pak ustad di dalem...." ucap Aleta
"tapi aku tidak bisa Aleta ..!"ucap Leon.
"udah...kamu cukup ngikutin yang lainnya aja...kan banyak temennya....."ucap Aleta.
"Aleta ..........."ucap Leon hendak menolak tapi istri keduanya itu terus memaksa. Ia menarik tangan Leon dan mengajaknya ke tempat wudhu membuat Leon mau tak mau hanya bisa pasrah dengan ulah sang istri kecil.
...----------------...
***Selamat siang...
up 10:25
yukk... dukungan dulu 🥰🥰🥰
yuk... pembaca baru...mampir juga ke novel author yang lain***...
__ADS_1