Istri Kedua Tuan Leon

Istri Kedua Tuan Leon
153


__ADS_3

Leon mengayunkan kakinya dengan cepat dan lebar menyusuri lorong rumah sakit itu. Wajahnya terlihat sangat tegang. Sebuah panggilan telepon baru saja ia dapatkan saat ia tengah asyik menyantap makan siang nya bersama sang istri.


Ya, seorang anggota polisi mengabarinya perihal kondisi Renata. Polisi itu menyebut, wanita paruh baya tersebut kondisinya menurun hari ini. Wanita itu mendadak kejang dan tak sadarkan diri. Kini sang narapidana tengah dalam perawatan pihak rumah sakit di ruang ICU. Hal itu membuat Leon tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Ia takut terjadi hal hal yang di inginkan pada wanita paruh baya yang merupakan satu satunya keluarga kandung yang ia miliki tersebut.


Leon dan Aleta sampai di depan ruang ICU.


Dilihatnya di sana, di depan ruangan, dua polisi masih berjaga dalam posisi siap siaga. Leon yang nampak begitu gusar pun mendekati kedua polisi itu.


"pak.." ucap Leon.


"tuan Leon?" ucap seorang polisi di sana. Leon mengangguk.


"bagaimana keadaan mama saya?" tanya Leon.


"ibu anda tidak sadarkan diri tadi. Dokter sedang di dalam untuk menangani ibu anda. Silahkan tunggu di sana sebentar, tuan.." ucap sang polisi.


Leon merasa lemas. Tubuh tegap berototnya bergerak mundur ke belakang. Matanya nampak mengembun. Apa yang terjadi pada ibunya di dalam sana. Ia takut terjadi hal hal yang tak di inginkan pada wanita paruh baya tersebut.


Seburuk apapun perlakuan wanita itu, ia tetaplah ibunda Leon. Wanita yang melahirkan dirinya ke dunia. Wanita yang menjadi satu satunya keluarga kandung yang ia punya.


Leon mendudukkan tubuhnya di atas kursi tunggu yang berada tepat di depan ruang ICU. Leon mengusap wajahnya kasar. Ia mulai frustasi. Memang ia kecewa pada wanita itu, tapi sebagai seorang anak, ia tetaplah perih mendengar kondisi ibunya yang makin lemah.


Aleta yang berada di samping Leon nampak menyentuh punggung tangan pria itu. Di remasnya lembut jemari tangan sang suami seolah ingin memberikan kehangatan dan kekuatan bagi pria yang baru seminggu yang lalu menikahinya.


Leon tak menoleh ataupun merespon. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Renata, ibunya.


ceklek...


pintu kamar ICU terbuka. Seorang dokter pria keluar dari dalam ruangan itu.


Leon dengan segera bangkit dari posisi duduknya. Di dekatinya sang dokter dengan raut wajah tegang. Aleta pun mengikutinya dari belakang.


"bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Leon.


Sang dokter nampak memasang wajah sedih.


"maaf tuan, kondisi ibu anda sangat lemah. Kesehatan nya terus menurun sejak beberapa hari terakhir."


"saat ini beliau sudah sadar. Beliau sedang istirahat di dalam" ucap sang dokter.


"boleh kami menemuinya, dok?" tanya Aleta.


"silahkan, tapi saran saya, tolong jangan di ajak bicara yang serius serius dulu ya, kondisi beliau sangat tidak memungkinkan" ucap sang dokter.


"baik, dok" jawab Aleta.


......................


Beberapa saat kemudian..

__ADS_1


Dengan baju serba hijau khas rumah sakit, sepasang suami istri yang bisa dibilang masih baru itu terlihat memasuki ruang ICU di temani seorang perwira polisi di belakang mereka.


Seperti biasa, sang polisi bertugas untuk memastikan bahwa acara jenguk menjenguk tahanan di rumah sakit besar itu berlangsung aman tanpa ada aktifitas apapun yang menyalahi aturan.


Leon dan Aleta mendekati ranjang pasien tempat Renata terbaring.


Dilihatnya disana, wanita paruh baya itu tengah terbaring lemah dengan berbagai alat bantu yang menempel di tubuhnya.


Badannya terlihat lebih kurus, bahkan sangat kurus dibandingkan sebelumnya saat kedua suami istri itu menjenguk wanita tersebut.


Leon merasakan sesak. Aleta kembali meremas telapak tangan pria itu guna memberikan kekuatan untuk suaminya tersebut.


Leon dan Aleta mendekat. Renata yang sadar nampak menatap ke arah dua anak manusia itu tanpa pergerakan. Leon duduk di salah satu kursi di samping ranjang. Sedangkan Aleta berdiri di samping suaminya.


"ma.." ucap Leon lembut.


Renata menatap ke arah sang putra dengan sorot mata sayu.


"mama kenapa lagi?" tanya Leon.


Renata tak menjawab. Ia hanya diam sambil menggerakkan bola matanya ke arah Leon dan Aleta secara bergantian.


Diam...


Renata tak bersuara. Lalu....


"saya lelah" ucapnya begitu lirih.


Leon dan Aleta seketika itu mendongak menatap sang ibu.


"saya capek" ucap nya lagi. Leon meraih telapak tangan kurus itu. Digenggamnya tangan tersebut dengan sorot mata yang mulai mengembun.


"jaga dirimu baik baik" ucap wanita itu.


"saya minta maaf. Tidak pernah mengerti apa yang kamu inginkan." ucap Renata


"maafkan saya yang egois" ucapnya lagi.


"sudah, jangan bahas itu. Mama istirahat..." ucap Leon seolah tak berani mendengar kata kata yang keluar dari bibir wanita itu. Itu sudah seperti ucapan ucapan perpisahan. Leon tak sanggup mendengarkan nya.


Renata memejamkan matanya. Wanita yang biasanya terlihat angkuh dan jumawa itu seolah tak kuasa lagi menahan berbagai rasa sakit yang di deritanya. Badannya begitu lemah dan ringkih. Rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya seolah berhasil mengambil segala kekuatan nya. Yang membuatnya kini tak berdaya dengan bantuan berbagai alat kesehatan yang menempel di tubuhnya.


Renata kembali membuka matanya menatap ke arah Leon dan Aleta secara bergantian.


"Leon, " ucap Renata.


"saya minta maaf belum bisa membahagiakan kamu" ucap Renata lemah membuat Leon makin takut mendengar nya.


"cari kebahagiaan mu sendiri. Maaf, saya tidak bisa memberikan nya selama saya hidup. Saya minta maaf" ucap Renata lemah.

__ADS_1


"ma, udah ma" ucap Leon.


"jangan panggil saya mama. Saya tidak pantas mendapatkan nya" ucap wanita itu.


Ia kembali menatap Leon dan Aleta bergantian.


"hiduplah dengan bahagia bersama wanita pilihanmu. Jika dia wanita yang tepat menurutmu, saya merestui nya. Carilah kebahagiaan mu bersama dia" ucap Renata lemah.


"maafkan semua kesalahan saya. Agar saya bisa beristirahat dengan tenang tanpa ada hutang yang saya tinggalkan di dunia ini"


Renata menatap Aleta yang menunduk.


"saya titip putra saya. Saya tahu kamu wanita terhormat. Kamu wanita baik baik. Beri dia kasih sayang yang tidak pernah bisa saya berikan selama saya hidup. Saya percaya, kamu bisa menjadi pembimbing yang baik untuk dia" ucap Renata membuat hati Aleta bergetar.


"saya minta maaf sama kalian" ucap Renata begitu lirih.


Ya,


Sepertinya Renata mulai menyadari kesalahannya di saat raganya seolah sudah tak mampu melawan penyakit yang selama ini menggerogoti tubuhnya.


Ucapan sang jenderal beberapa hari lalu seperti nya berhasil menampar jiwa Renata. Membuatnya terus kepikiran hingga membuat kondisinya drop.


Renata kembali memejamkan matanya merasakan sakit di dadanya. Ia seolah sudah tidak kuat lagi melawan sakit yang dideritanya. Lelah, sangat lelah.


Nafas itu perlahan terlihat semakin berat. Dada itu bergerak naik turun. Renata kembali sesak nafas.


Leon dan Aleta panik.


Pria itu bangkit, memanggil manggil nama sang ibu sambil menyentuh pundak sang ibu.


"ma..! mama kenapa?!" tanya Leon khawatir.


Renata tak menjawab. Matanya terbelalak dengan mulut terbuka. Seolah nafasnya sudah berada di kerongkongan, namun begitu sulit untuk terlepas. Leon nampak meneteskan air matanya di tengah kepanikan yang mendera. Sedangkan Aleta kini sudah berlari ke luar ruangan tanpa aba aba mencari keberadaan dokter guna mencari pertolongan.


Leon makin panik. Digenggamnya tangan sang ibu seolah mencoba memberi kekuatan pada wanita itu bertahan.


Renata makin tersiksa. Nafasnya makin tersengal sengal.


Seorang dokter bersama seorang perawat kemudian datang bersama Aleta di belakangnya.


Namun sayang, seperti nya mereka sudah tak bisa berbuat apa apa.


Wanita itu sudah hampir menemui ajalnya. Matanya masih terbelalak. Mulutnya masih terbuka. Seolah sukma itu begitu sulit untuk tercabut dari raganya. Membuat si wanita pendosa seolah begitu tersiksa dengan apa yang kini di rasakan nya.


...----------------...


Selamat pagi


up 08:15 yuk dukungan dulu 🥰😘😘

__ADS_1


__ADS_2