Istri Kedua Tuan Leon

Istri Kedua Tuan Leon
85


__ADS_3

Waktu terus berjalan,


Mentari mulai naik memancarkan sinar teriknya. Seorang wanita cantik berwajah sembab dengan sweater abu abu oversize dan celana panjang jeans biru muda nampak duduk di depan cermin kaca kamar luas miliknya.


Wanita itu terlihat murung. Hari ini pukul sepuluh pagi ia akan segera pergi meninggalkan negara ini bersama ayah dan ibunya. Tapi sebelum nya sang ayah akan mengajaknya dan ibunya untuk berziarah ke makam nenek dan kakeknya.


Aleta menatap koper yang sudah siap di samping ranjang. Wanita itu menarik nafas panjang, ia kemudian bangkit dan berjalan menuju jendela kamarnya yang terhubung langsung dengan balkon.


Dilihatnya disana, laki laki itu masih setia menunggu di depan gerbang besi kediaman nya. Laki laki dewasa tersebut nampak sangat kacau. Tidak ada lagi kesan mahal dan berwibawa pada diri Leon. Ia terlihat sangat lusuh dengan kemeja lecek yang sebagian kancingnya terbuka serta beberapa titik darah yang nampak mengotori baju putih itu.


Matanya menatap nanar lurus ke depan. Ada gurat kesedihan dan penyesalan yang mungkin laki laki itu rasakan. Betapa ia sangat menyesali perbuatannya pada Aleta. Menyia nyiakan wanita itu hingga kini Aleta terancam terlepas dari genggaman tangannya.


Aleta diam tak bergerak menatap laki laki di bawah sana. Entah bagaimana yang Aleta rasakan saat ini, ia tak tahu.


Ceklek.....


pintu kamar terbuka.....


Sang jenderal masuk kedalam kamar putri tercintanya....


"nak...." ucap Mario membuat Aleta menoleh.


"pa...." ucap Aleta sambil tersenyum.


Mario mendekati sang putri, berdiri di samping Aleta dan menatap ke bawah di mana Leon tengah terduduk di tanah menunggu Aleta keluar dan menemui nya.


"semalaman dia nggak pulang .." ucap Mario.


Aleta menunduk.


Mario menoleh ke arah Aleta.


"apa kau masih mencintainya?" tanya Mario.


Aleta menitikkan air matanya lagi, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.


"sayang.... apa kau keberatan pergi ke luar negeri hari ini?" tanya Mario.


Aleta menggelengkan kepalanya.


"aku tau papa pasti pengen yang terbaik buat aku... aku nurut aja pa...." ucap Aleta.


"tapi sepertinya kau berat meninggalkan kota ini, apa kau masih mencintai laki laki itu setelah apa yang ia lakukan padamu nak?" tanya Mario lagi.


Aleta diam sejenak....


"pa..... Aleta udah pernah bilang kan.... ini semua cuma salah paham ...ada fitnah diantara aku sama Leon..." ucap Aleta .


"aku tau papa sayang sama aku....aku juga memutuskan akan mengikuti saran papa untuk pergi dari kota ini, aku akan menenangkan diri disana"


"tapi aku mohon sama papa....jangan lakuin apapun untuk dia pa.... dia udah terlalu sakit hidup dengan orang orang yang penuh kepalsuan di sekitarnya.."


"bukankah dia juga perlu diberi balasan atas sikapnya yang keterlaluan padamu nak?" tanya Mario.


"biar Tuhan yang membalas pa....aku nggak mau papaku jahatin orang....aku nggak apa apa kok....yang penting sekarang aku punya papa, aku bisa membanggakan diriku karena ternyata aku bukan anak haram..." ucap Aleta mengembun.


"kamu bukan anak haram nak....kamu anak papa.....kamu anak kandung papa...kamu terlahir dari sebuah pernikahan yang sah secara agama dan negara..." ucap Mario


Aleta mengangguk.


"pa...." ucap Aleta lagi.


"iya sayang ..." jawab Mario.


"aku boleh nggak...nemuin Leon sebentar sebelum kita pergi...." ucap Aleta.


"untuk apa...?" tanya Mario.


"ada sesuatu yang pengen aku omongin sama dia... bentar aja..." ucap Aleta.


"papa ikut..." jawab Mario.


"pa....."


"papa hanya ingin memastikan kamu aman...papa mau ikut..." ucap Mario lagi dengan tegas.


Aleta menunduk.


"tapi janji jangan marah marah..." ucap Aleta.


Mario tersenyum, lalu mengangguk.


Aleta pun membalas senyuman itu. Sepasang ayah dan anak itupun melangkah bersama sama menuju gerbang rumah mereka menemui Leon yang sejak tadi berada di sana.


....


Pria itu bangkit. Wajahnya nampak bersemangat saat melihat wanita cantik itu kini bersedia keluar dari istana nya dan menemui dirinya.


"buka gerbangnya...." ucap Mario memerintahkan pada seorang penjaga rumah disana.


Pria berseragam hitam itupun mengangguk. Dengan segera ia membuka gerbang besi nan tinggi menjulang itu.


Leon dengan semangat pun mendekati Aleta.

__ADS_1


"sayang ..." ucap Leon sambil menggerakkan tangannya berniat memeluk wanita itu namun Aleta reflek memundurkan tubuhnya saat melihat kedua tangan Leon terangkat.


Seperti nya ada trauma yang membekas dalam diri wanita itu. Mengingat tangan itu sudah berkali kali melayangkan pukulan demi pukulan terhadap nya.


Leon menghentikan pergerakan nya. Aleta mundur mendekat kan dirinya pada sang papa dan dengan sigap Mario pun memeluk pundak Aleta.


"jangan sentuh putri ku!" ucap Mario dingin.


Leon yang sudah compang camping hanya menatap sendu ke arah Aleta.


"Aleta....kita pulang sayang....kita bisa bicara baik baik dirumah kan? pulang denganku sayang..." ucap Leon.


Aleta menarik nafas panjang. Dalam hatinya mengucap istighfar, mencoba menenangkan hati dan perasaan nya untuk berbicara dengan pria dewasa suami sirinya itu.


Aleta lantas menoleh ke arah Leon sambil tersenyum, sedikit menjauhkan dirinya dari dekapan sang ayah.


"tuan...." ucap Aleta tenang.


"Aleta, aku tidak suka di panggil tuan..." ucap Leon.


"saya mohon maaf, jika saya banyak merepotkan tuan selama ini..." ucap Aleta.


"maaf, karena saya tidak bisa menjadi istri yang baik untuk anda...."


"Aleta...cukup...!" ucap Leon meminta Aleta untuk berhenti berbicara


"tuan.... anak jalaang ini sudah menemukan ayah kandungnya.... anak yang anda sebut haram ini sudah menemukan siapa bapak biologisnya...." ucap Aleta pilu. Leon menggelengkan kepalanya.


"saya mohon izin....saya ingin pergi, saya ingin ikut ayah saya...."


"nggak...! bukan begini caranya...! kita masih bisa memperbaiki semuanya, Aleta....!" ucap Leon mulai tak tenang.


"saya tau .... tapi saya lelah....saya juga butuh ketenangan...."


"aku mencintaimu Aleta...! Aku sudah tau semuanya...! aku akan memberikan pelajaran untuk para anak buahku...! tapi pulanglah Aleta, kita bangun lagi rumah tangga kita dari awal...! aku berjanji aku tidak akan melakukan kesalahan-kesalahan yang sama lagi seperti yang dulu ku lakukan padamu...!" ucap Leon.


Aleta sesenggukan....


"anda mencintai saya?" tanya Aleta.


"iya....aku mencintaimu sayang...." ucap Leon yakin.


"apa anda mau membuat saya bahagia...?" tanya Aleta.


"tentu ...kita pulang ya....pulang bersama ku sayang...." ucap Leon sambil hendak meraih tangan Aleta namun wanita itu menolaknya.


Leon terdiam.


"Aleta..." ucapnya lirih.


"talak aku....."


.


.


.


.


duuuuuuuaaaaaarrrrrr.....!!


Bak tersambar petir di siang bolong. Leon terkejut dengan ucapan istri keduanya itu. Laki laki itu mundur selangkah sambil menggelengkan kepalanya samar. Lemas, ia tak percaya dengan apa yang Aleta ucapkan barusan.


"nggak...jangan bercanda Aleta...."


"aku nggak bercanda...! aku serius...!" ucap Aleta menangis.


"BUKAN BEGINI CARANYA...!! APA KAU TIDAK MELIHAT PERJUANGAN KU...! AKU SAMPAI SEPERTI INI SEMUA DEMI KAU...! AGAR AKU BISA MEMBAWA MU PULANG DAN KITA MEMULAI SEMUANYA DARI AWAL...!! KENAPA SEKARANG KAU MEMINTA CERAI DARIKU ALETA...?!!" tanya Leon murka dengan otot otot leher yang tercetak jelas.


"aku nggak mau terlalu menumpuk dosa...! aku nggak mau pergi tapi masih terikat pernikahan dengan mu...!! aku ingin menyelesaikan semua urusan di antara kita sekarang juga...! tolong tuan.... lepaskan aku...!!" ucap Aleta.


Leon menggelengkan kepalanya.


"kau gila Aleta...! kau jahat...!" ucap Leon tak habis pikir.


"apa karena dia? dia memintamu untuk berpisah denganku...? iya...?! benar kan?!!" tanya Leon sambil menunjuk ke arah Mario.


"enggak...!! ini semua kemauan ku...! aku udah memikirkan ini matang matang...! aku tau aku pergi tanpa pamit darimu waktu itu sudah menjadi sebuah dosa, sekarang aku minta tolong, aku minta maaf, tolong lepas aku...." ucap Aleta menangis.


"bukan begini caranya...! kita mulai semua dari awal sayang...aku bisa membahagiakan mu...! aku akan menyayangimu...!!" ucap Leon.


"tapi orang orang disekitar mu membenciku...!! pernikahan bukan hanya tentang satu dua orang...! pernikahan adalah tentang satu keluarga...! cukup ayah dan ibuku yang terpisah karena restu yang tidak mereka dapatkan dari orang tua dulu....! aku nggak mau itu juga terjadi sama aku lagi....! aku takut....!! sudah cukup fitnah dan makian yang aku terima dari kalian..." ucap Aleta


"aku akan menyelesaikan semuanya...!" ucap Leon menggebu gebu.


Sarah dan Sean yang menyaksikan adegan itu dari teras hanya diam. Sarah bahkan nampak mengembun. Apakah apa yang ia dan Mario alami dulu juga menjadi ketakutan tersendiri bagi Aleta?


Aleta menangis lagi.


"tuaan.... aku capek...." ucap Aleta lirih. Sungguh, ia ingin segera mengakhiri drama rumah tangga ini. Ia lelah...! ia ingin pergi dengan tenang tanpa ada embel embel pergi meninggalkan suami.


Egois kah ia??

__ADS_1


.


.


"aku bisa menjamin kebahagiaan mu setelah ini Aleta...! aku akan membereskan semua nya...! aku akan menjamin kau tidak akan menangis lagi setelah ini...! mereka tidak akan bisa mengusik mu...!!" ucap Leon.


Aleta menggelengkan kepalanya.


Leon mendekat. Aleta mundur.


"aku harus apa agar kau mau memaafkan ku...?" tanya Leon.


Aleta menatap pilu ke arah Leon.


"talak aku jika kau mencintaiku....biarkan aku pergi...jika Tuhan mentakdirkan kita bersama, maka suatu saat Tuhan pasti akan mempertemukan kita lagi..." ucap Aleta.


Leon menggelengkan kepalanya lagi. Ia masih keukeuh tak ingin menceraikan Aleta.


"apa saya harus bersujud untuk meminta talak dari anda tuan?" tanya Aleta.


Leon masih menggelengkan kepalanya dengan mata merah berair.


Aleta menangis sejadi jadinya .


Lalu.....


buuuuuggghhhh.......


Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di hadapan Leon. Mario kaget, begitu juga Leon dan semua yang ada disana.


Aleta berlutut di hadapan Leon sambil menangis. Leon bergetar dibuatnya. Ia seolah tak sanggup untuk menatap wanita yang terlihat banjir air mata itu. Sebegitu tak inginnya kah Aleta kembali bersama Leon? sampai sampai ia berlutut di hadapan laki laki itu hanya demi sebuah kata talak??


"tuan...." ucap Aleta.


"sebegitu tidak termaafkan nya aku untukmu Aleta? sampai sampai kau rela bersujud di kaki ku demi bercerai dariku?" tanya Leon.


"kita butuh ketenangan satu sama lain tuan... biarkan kita introspeksi diri masing masing.... saya lelah...saya juga tau anda sedang banyak masalah... selesaikan masalah anda dengan orang orang terdekat anda terlebih dahulu...biarkan saya pergi dan menenangkan diri, jika Tuhan menghendaki kita bersama, suatu saat kita pasti akan bertemu lagi..." ucap Aleta.


Leon menggelengkan kepalanya.


"kau jahat Aleta...! kau jahat...!" ucap Leon terasa begitu menyakitkan.


"tolong tuan....tolong..." ucap Aleta.


Leon menarik nafas panjang.


"baik ...jika itu maumu...! aku akan mengabulkan nya...! pergilah.... setelah ini kau bebas...! kau bebas melakukan apapun, jangan pedulikan aku yang sendirian disini...! kau bebas...!" ucap Leon bergetar menahan sesak.


Leon mundur. Aleta menunduk dengan mata banjir.


"ku jatuhkan talak padamu...! mulai hari ini....kau bukan istriku lagi.....!!!"


.


.


.


.


deeeeggghhhh......!!


hancur...!


Sakit....!


bukan hanya untuk Aleta tapi juga untuk Leon...!


Dengan langkah gontai dan hati yang pastinya makin kacau balau laki laki itu berjalan menjauh meninggalkan wanita yang kini masih bersimpuh di tanah tersebut.


Aleta menangis sejadi jadinya. Ia yang minta talak, ia juga yang menangisi talak itu.


Mario bersimpuh. Sarah berlari mendekat. Sepasang orang tua itu mendekati sang putri yang menangis sejadi jadinya. Sebuah pilihan sulit yang pada akhirnya di ambil oleh sang putri jenderal.


Ia memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Leon. Melepaskan predikat istri kedua yang selama ini disandangnya.


Entah ini benar atau salah. Tapi bagi Aleta ia tak mau terus terusan di bayang bayangi oleh nama Leon.


Ia pasrahkan semua takdir cintanya pada Tuhan. Yang terpenting baginya sekarang adalah adalah pergi. Menjauh dari Leon dan melepaskan segala embel embel yang melekat padanya tentang pria itu.


Jikapun suatu saat mereka kembali bertemu dan dipersatukan oleh Yang Maha Kuasa, maka semoga mereka akan bertemu dalam keadaan yang lebih baik lagi. Entah itu dari status, mental maupun hatinya.


Berat memang, bukan hanya untuk Leon tapi juga untuk Aleta.


Namun bagi wanita itu, ini akan jauh lebih baik, dari pada meneruskan hubungan di atas kebencian banyak orang.


Biarlah Leon menyelesaikan dulu masalahnya dengan ibu, istri dan para anak buahnya. Sedangkan Aleta, biarlah ia menenangkan dirinya dulu, mencoba berdamai dengan kenyataan dan menikmati masa masa bahagia nya dengan keluarga yang utuh.


Setelah itu, biar tangan Tuhan yang bekerja.


...----------------...


***Up 19:41

__ADS_1


yukk... dukungan dulu 🥰😘😘***


__ADS_2