Istri Kedua Tuan Leon

Istri Kedua Tuan Leon
117


__ADS_3

Masih di hari yang sama saat malam menjelang...


Aleta kini tengah berada di dalam kamar pribadinya. Di atas ranjang king size miliknya, wanita dua puluh empat tahun itu terlihat sesekali terkekeh sambil memegang ponselnya.


Ya...saat ini ia tengah asyik berbalas pesan dengan seorang laki laki empat puluh tahun mantan suaminya, Leonardo Alfindo Ganada.


Sejak sore Aleta tak keluar kamar. Ia lebih memilih berada di ruangan kesukaannya itu sambil berbalas pesan dengan laki laki dengan pembawaan tenang dan berkharisma itu.


Ceklek.....


pintu kamar terbuka.....


Aleta menoleh ke arah sumber suara.


"papa..!" ucap Aleta saat melihat kedatangan seorang laki laki berbadan atletis yang kini nampak memasuki kamar pribadinya itu.


Ya...itu sang jenderal, Mario.


Aleta bangkit dari rebahan nya. Mario mendekat. Ia kemudian duduk di tepian ranjang putri kesayangan nya tersebut.


"papa udah pulang?" tanya Aleta pada sang papa yang baru saja pulang setelah dua hari pergi bertugas di luar kota itu.


Mario tersenyum.


"kamu di kamar terus...sampai nggak tau kan kalau papa udah pulang dari sore..." ucap Mario membuat Aleta tersenyum lucu. Ia benar benar tak menyadari jika papanya ternyata sudah pulang.


Diraihnya punggung tangan Mario, lalu menciumnya sebagai tanda bakti.


"lagi ngapain kamu di kamar dari tadi?" tanya Mario.


"nggak ngapa ngapain...cuma lagi chat an aja sama temen..." ucap Aleta.


Mario tersenyum lagi.


"Al...." ucap Mario.


"ya....."


"Beberapa hari lalu kan kamu sudah pernah menghabiskan waktu berdua dengan Bobby...papa lihat, walaupun baru sehari...kalian sudah terlihat akrab...." ucap Mario.


Aleta diam.


"apa kamu nggak mau...coba jalan berdua lagi dengan dia?" tanya Mario seolah olah tak tahu bahwa kini Aleta tengah kembali dekat dengan mantan suaminya.


"papa mau jodohin aku sama dia ya?" tanya Aleta.


"kalau kamu mau papa setuju setuju aja...!" ucap Mario.


Aleta menggelengkan kepalanya cepat.


"pa....." ucap Aleta.


"apa?" tanya Mario.


Aleta menunduk, meremas jari jari tangannya seolah ingin menyalurkan kegundahan yamg ada di hatinya.


"pa...."


"ya..."


"aku boleh ngomong sesuatu nggak sama papa?" tanya Aleta.


"apa?" tanya Mario.


Aleta nampak kembali meremas jari jarinya. Sesuatu yang dapat di tangkap oleh mata tajam sang jenderal.


Aleta mendongak memberanikan diri menatap mata pria paruh baya itu.


"menurut papa....laki laki yang baik buat aku itu...yang kayak gimana?" tanya Aleta.


Mario diam sejenak.

__ADS_1


"kenapa tanya begitu?" tanya Mario.


"enggak...cuma pengen tau aja..." ucap Aleta.


Mario menarik nafas panjang lalu menatap lurus ke depan.


"laki laki yang baik untuk kamu versi papa...satu...yang pasti dia harus punya dasar agama yang baik....dua....dia bisa meluluhkan hati kamu dan mengubah kamu menjadi Aleta yang dulu...." ucap Mario.


Ia kembali menatap wajah sang putri.


"nak...semenjak kejadian buruk yang menimpa kamu beberapa tahun lalu...papa seolah merasa ada yang kurang dari diri kamu nak. Meskipun papa menemukan kamu sudah besar, papa nggak menemani masa kecil kamu, tapi sebagai seorang ayah...papa bisa merasakan, ada sesuatu yang masih membekas dalam diri kamu..."


"apa kamu takut gagal lagi dan salah memilih calon suami?" tanya Mario


Aleta menunduk.


"aku cuma belum siap pa....aku belum menemukan yang tepat aja..."


"yang seperti apa yang menurutmu tepat?" tanya Mario lagi.


Aleta tak menjawab. Mario meringsut. Mendekat kan tubuhnya ke tubuh putri kesayangan nya itu. Tangan nya tergerak meraih kedua telapak tangan Aleta yang nampak saling meremas menyalurkan kegundahan hatinya.


"apa kau masih mencintai mantan suamimu?" tanya Mario.


Aleta mendongak menatap wajah sang papa. Sorot mata Mario menatap dalam ke netra indah sang putri seolah ingin mencoba menelisik apa yang kini Aleta rasakan.


"apa kau masih mencintai laki laki yang berhasil membuatmu se terpuruk dulu?" tanya Mario lagi tanpa mengubah cara pandangnya.


Aleta nampak mengembun.


"pa...."


"apa?"


"apa papa membenci dia?" tanya Aleta.


"iya...!" jawab Mario tegas.


"papa membenci dia yang sudah melukai kamu secara fisik maupun mental..!" ucap Mario.


"dalam hal apa?" tanya Mario.


Aleta tak menjawab.


"sebagai seorang ayah...papa masih merasa sakit mengingat betapa kamu dulu begitu mengenaskan saat papa temukan..."


"dia memperlakukan kamu tidak pantas nak...."


"dia tidak memanusiakan kamu dan ibumu yang notabene adalah mertuanya sendiri..!" ucap Mario.


"tapi semua terjadi karena kesalahpahaman pa..." ucap Aleta.


"itu yang harus ia benahi..!" ucap Mario.


"apa dia sudah bisa menjadi laki laki yang mau mendengarkan segala permasalahan bukan hanya dari satu pihak?"


"apa dia sudah bisa mengatur emosinya sebagai seorang laki laki?" tanya Mario.


"papa tidak pernah melarang kamu berhubungan dengan laki laki manapun nak, asalkan dia bisa membuatmu bahagia....tapi untuk laki laki yang satu itu, papa masih ragu" ucap Mario.


Aleta menunduk.


Mario makin menatap intens ke arah sang putri.


"apa kau sudah bertemu dengan laki laki itu lagi?" tanya Mario.


Aleta menatap sang papa lagi lalu kembali menunduk.


Mario mengangkat dagunya.


"sudah?" tanya nya lagi.

__ADS_1


Aleta mengangguk pelan.


"lalu?" tanya Mario.


Aleta menggelengkan kepalanya.


"kenapa?" tanya Mario.


"pa....."ucap Aleta sambil menunduk.


"lihat wajah papa jika sedang bicara nak..." ucap Mario terdengar pelan namun tegas.


"dia udah banyak berubah pa" ucap Aleta lirih.


Mario tak bersuara.


Aleta nampak menggerak gerakkan telapak tangan yang kini berada dalam genggaman tangan sang jenderal. Seolah mengisyaratkan ada sebuah kegundahan yang wanita itu rasakan.


"dalam hal apa?" tanya Mario.


"karena dia mengangkat dua anak yatim menjadi anaknya...?" tanya Mario membuat Aleta mendongak seketika.


"papa udah tau?" tanya Aleta


"papa mu bukan orang bodoh, sayang..." ucap Mario.


Aleta menunduk lagi.


"apa dengan hal itu kau yakin dia sudah berubah?" tanya Mario lagi.


Aleta tak berani menjawab. Ia sendiri juga tak tau, atas dasar apa ia bisa kembali menerima laki laki itu dan meyakini bahwa Leon sudah berubah. Mungkin atas dasar rasa cinta yang sejak dulu memang tak bisa pudar itukah?


entahlah.....


"apa yang bisa dia tunjukkan pada papa untuk meyakinkan papa bahwa dia sudah menjadi orang yang lebih baik?" tanya Mario.


Aleta diam...cukup lama, hingga....


"dia besok akan kesini pa....dia pengen ketemu papa sama ibuk buat minta maaf...." ucap Aleta


Mario mengangkat dagunya.


"atas keinginan nya sendiri atau kau yang meminta?" tanya Mario.


"dia sendiri yang mau pa..." ucap Aleta sambil mengangkat kepalanya menatap sang papa.


Mario mengangguk.


"oke...silahkan...suruh dia datang...! temui papa dan ibu besok...papa ingin melihat, seperti apa dia sekarang sampai kamu yakin bahwa dia sudah berubah..." ucap Mario.


Aleta mengangguk pelan.


Mario menggerakkan tangannya mengusap lembut pucuk kepala Aleta.


"dengar nak...papa tidak bermaksud untuk mengekang kamu....tapi sebagai seorang ayah...papa masih terlalu takut jika kamu kembali salah memilih pasangan dan berakhir dengan dilukai fisik dan batinmu.."


"ketahuilah sayang....papa melakukan ini semua hanyalah demi kebahagiaan mu..." ucap Mario membuat Aleta makin menunduk.


Mario tersenyum. Ia kemudian bangkit. Dikecupnya pucuk kepala sang putri singkat.


"sudah malam...tidurlah....papa juga mau istirahat..." ucap Mario.


Aleta mengangguk.


"selamat malam, sayang..."


"malam pa...." jawab Aleta lembut.


Pria paruh baya itu kemudian bergegas pergi meninggalkan kamar itu. Membiarkan sang putri untuk segera beristirahat.


...----------------...

__ADS_1


up 18:11


yuk... dukungan dulu 🥰😘😘😘


__ADS_2